
Waktu bergulir begitu cepat, tanpa terasa meninggalkan orang- orang yang berleha. Manfaatkan waktu yang berharga setiap detik agar kita tidak menyesal melepaskannya begitu saja. Seperti Elang yang sibuk dengan persiapan taman bermain dilokasi perumahannya yang lumayan luas. Syafirpun membangun sebuah rumah pusat pendidikan Islam Usia Dini sekitar 500m dari rumah Utama. Tanah bekas kebun sawit tua yang ia beli dari seorang teman tiga tahun yang lewat. Gedung sekolah tiga pintu dengan fasilitas lengkap dan halaman luas dilengkapi taman bermain anak- anak sudah selesai dibangun dalam waktu empat bulan.
Bau Cat masih sangat terasa ketika bangunan itu dipindahi. Bangunan itu cukup nyaman untuk ditempati. Saat ini paman Aswardi selaku kepala sekolah sementara sudah menerima 30 siswa yang dibagi dalam tiga kelas, masing- masingnya dibimbing oleh seorang guru Umum dan satu orang guru Tahfiz. Satu Minggu sudah berlalu kegiatan PBM disekolah baru ini.
Selama sepekan, tiap hari Suci ikut membagikan makanan untuk anak- anak setiap jam istirahat sembari bermain dengan anak- anak Syafir. Hubungan mereka sudah sangat erat, seiring dengan perut suci yang mulai membuncit. Syafir sudah mempersiapkan pesta Syukuran untuk semuanya, tinggal menunggu Elang balik dari kota S.
" Kak...Kenapa Abang betah sekali ia disana ya, padahal empat bulanmu sudah terlewat. " Ujar Syafir pada Suci disuatu sore.
" He...He....Katanya ia sibuk menyiapkan sesuatu untuk menyambut kami, sepertinya Minggu ini semuanya selesai, katanya ia akan sudah sampai disini Minggu sore." Balas Suci dengan wajah berbinar.
" Kak Suci saja tenang sayang...kok malah kamunya yang resah." Sela Syaffana begitu bergabung diruang tamu dengan menggendong Sila dan Sifa diiring pengasuhnya.
" Tentu aku resah, karna aku ingin melihat wajah gembiranya melihat betapa sehatnya istrinya dalam perawatan kita. " Ujar sarkas Syafir yang membuat tiga wanita tersenyum saling pandang. Sedang para baby juga tersenyum melihat orang tua mereka tampak senang.
" Kalau dokter Susi mendengar ucapanmu ini, ia pasti akan mencibirmu, karna yang ada ia yang merawat kak Suci, sedang Abang dan yang lain hanya sibuk dengan persiapan sekolah baru." Ujar Syaffana.
" Tanya pada yang punya badan merasa lebih diperhatikan mana sama tuan rumah atau dokternya. " Balas Syafir tak mau kalah.
" Mhem...Sepertinya tuan rumah yang paling istimewa, karna berkat kebaikan hatinya dokter atau siapapun tak ada yang sungkan kerumah ini, jadi aku dapat perhatian dari semua orang berkat kelapangan hati empunya rumah. " Ujar Suci menengahi, lagian memang itulah kenyataannya, bahkan tukang urut saja betah berlama- lama memanjakan Suci karna dirumah ini mereka betah, apalagi makanan enak selalu disediakan untuk menyambut tamu.
Hari yang dijanjikan pun telah tiba, begitu Elang sampai dirumah utama Minggu Sore. Rumah sudah ramai dengan orang menghias tenda. Dua tenda besar sudah berdiri dengan megah dilokasi parkir yang luas. Elang cukup terkejut karna kedatangannya langsung disambut keramaian.
" Om Jhon, kok acaranya langsung gitu, padahal aku baru nyampe." Tanya bingung Elang begitu melihat kediaman keluarganya sudah rame.
" Itu tadi nak Syafir habis memberi makan anak yatim piatu nak, dan baru saja selesai. Acara tahlilannya nanti malam. Dan nak Elang tenang saja, semua sudah ada panitia yang mengurus, anggota keluarga hanya menyambut tamu saja. " Jelas paman Jhon security yang sekarang menjelma jadi tetua rumah.
Acara Syukuran three in one yang digelar Syafir melibatkan IOnya sendiri yang sekarang sepenuhnya dikelola oleh Andrea. Sedang Untuk makanan disediakan oleh Herlin Catering. Sejak tiga tahun terakhir Lin berjaya dengan Jasa catering pesta yang dimodali oleh sahabat sekaligus mantan Bosnya itu. Hampir semua pesta orang kaya dikota ini Syurga makanannya disiapkan oleh Herlin Catering.
__ADS_1
Orang kaya yang sukses sebenarnya adalah dirimu dik. " Ujar Elang begitu melihat Lebel mobil BOX yang mengantar makanan untuk acara.
" Abang datang- datang kok ngukur kekayaan orang, lihat sana istri dan calon Jagoanmu, mereka nampak sehat, dan barusan selesai USG." Ujar Syafir.
" Aku memang kangen pada mereka, tapi apa salahnya singgah sebentar mengagumi adikku yang sangat berhasil bukan hanya membangun diri sendiri tapi berhasil membuat orang - orang terdekatnya kaya bersama."
" Hanya kebetulan saja sih bang, mereka orang- orang yang mudah dibawa berfikir kedepan. " Elak Syafir seperti biasa tak suka dipuji.
" Kalaupun orang- orangnya berfikir kedepan, tanpa ada dorongan moril, materil dan sipiritual dari sang Bos kami bisa apa?. " Timpal Lin Dan Heri bersamaan. Mereka sengaja mendekat karna melihat dua abang adik ini terlihat berbincang hangat.
" Ahhh...Tetap saja semua karna izin Allah, kita semua hanya menjalani usaha, Allah yang memberikan Rezki. " Pangkas Syafir yang tak dapat dibantah lagi oleh semua.
" Oke deh...Dengannya ngak asyik berdebat, sebaiknya aku pamit dulu, menemui Suci dikamar. " Ucap Elang.
" Ya sana! putranya sepertinya sudah tak sabar pengen ditengoki papinya ! " Ujar Syafir yang membuat langkah Elang terhenti.
" Bisalah, tingal usir aja kak Susi dari kamar, terus kalian masih bisa main sampai ashar, siap itu baru mandi dan bersiap untuk acara syukuran. " Bisik Syafir.
" Dasar adik konyol, tapi sepertinya boleh juga ya, sekalian aku ingin coba, apa aku masih ingat jalan kesyurgaku." Batin Elang. Ia sampai senyum- senyum sepanjang lobi menuju kamarnya, bahkan orang yang menyapa hanya ia angguki saja.
Begitu Elang tiba, Suci yang sedang berdandan habis mandi ditemani Susi langsung menghambur kepelukan suaminya. " Bang....Datang kok diam- diam..." Rengek Suci memeluk suaminya Erat.
" Sebaiknya aku pergi Ci...Karna sepertinya ada yang ingin melepas kangen. " Ujar Dokter Susi keluar dari kamar.
" Kalau mau ngapa- ngapain jangan lupa nipintu diurus dulu! " Teriak Susi sambil menutupkan daun pintu.
Sekali lagi Elang mematuhi ipar kesayangannya itu. Dilepasnya sejenak pelukannya dari istri, lalu ia mengunci pintu. " Orang rame diluar, kok pintunya dikunci bang..." Tanya Suci dengan kedua alis menaut.
__ADS_1
Elang tidak menjawab, setelah merasa pintunya benar- benar terkunci, ia segera mendekati istrinya yang masih memakai piyama mandi dengan rambut tergerai indah.
" Sayang...Kau sangat seksi dengan tonjolan yang baru nampak ini. " Ujar Elang mengusap perut Suci.
" Di_ Tak sempat Suci meneruskan kalimat protesnya, karna detik berikutnya bibirnya sudah dibungkam oleh ciuman panas dan menuntut dari Elang.
" Lihatlah betapa hitamnya papi karna berjemur dibawah mentari hanya untuk mengalihkan rasa rindu." Ujar Elang mulai menyingkirkan penutup tubuh istrinya, sekalian buka penutup tubuh sendiri.
Seiring dengan sibuknya panitia acara menyiapkan syukuran untuk ntar malam. Elang sibuk membuat istrinya mengerang. Elang cukup percaya diri mengerang bersama dengan wanitanya menjelang sore ini, karna selain kamar ini kedap suara, siempunya rumah sendiri yang menyarankan permainan asyik ini, itu artinya mereka tidak akan diganggu selama main jungkit- jungkit sampai batas waktu yang disarankan oleh tuan rumah.
Kerinduan empat bulan dibayar Cas dalam waktu dua jam. Suci sampai menangis saking senangnya menikmati madu cinta bersama suaminya.
" Setelah ini kita akan melakukannya sampai Raja lahir, aku tak kuat berpisah lagi. " Ucap Suci setelah pergulatan ranjang yang fantastis bagi keduanya.
" Ya...Abang juga takkan mau lepas dari sarang ini lagi, begitu kita kembali kekota S. " Ujar Elang yang Sangat enggan keluar dari sarangnya.
" Tapi kali ini kita harus bergegas mandi, karna ntar siap Ashar akan datang kerabat dari perbatasan, ngak lucu kalau kita tetap berkurang disini." Ujar Suci mencubit hidung Elang.
Elang tersenyum dan menghujani Suci dengan kecupan, lalu ia segera keluar dari istrinya. Dalam hitungan beberapa detik ia sudah membalut tubuhnya dengan sarung, dan siap menggendong istrinya kekamar mandi.
Siap Ashar keduanya keluar kamar dengan senyum paling cerah sepanjang masa. Siap menyambut tamu keluarga jauh.
Tamu- tamu dari jauh sudah berdatangan, berkumpul dirumah menunggu malam tahlilan bersama nantinya.
" Kapan rombongan anak pasantren tiba?" tanya Suci pada Syafir sekedar menandakan mereka sudah bergabung.
" Siap magrib, Isyanya disini berjamaah kita semua, mereka dalam perjalanan dengan mobil jemputan kita. " Jawab Syafir tenang, walau ia tahu kalau suci tahu sendiri jawabannya, karna sang kakak ipar bertanya hanya sekedar menunjukkan keberadaannya saja.
__ADS_1
" Mereka benar- benar mengikuti saranku." Batin Syafir menatap abangnya yang terlihat masih berbunga- bunga dengan rambut yang belum kering sempurna.