
Setelah memadu kasih dipagi hari atas permintaan istri. Syafir membimbing Syaffa kekamar mandi. " Abang mandiin ya manis..." Bisiknya mesra membujuk Syaffa yang sedikit malas dan nampak ingin tidur lagi.
Syafir juga mencium pipi Syaffa beberapa kali, bak membujuk balita satu tahun.
Setelah melihat senyum tipis dari bibir babby Girl besarnya, barulah ia mulai mengguyurnya dengan air sampai semua tubuh istri basah dan yakin tak ada yang tidak dialiri air, lalu Syafir menggosok tubuh mulus Syaffa dengan spons khusus perontok daki.
Syaffa mengerjap senang, menikmati serfis suaminya, tatkala Syafir memijit lembut kepalanya sembari menyampoi rambut sepinggang milik Syaffana.
Syafir melakukan semua ritual mandi istrinya dengan sigap, namun kesan lembut tidak berkurang sedikitpun.
Sayaffana sampe berfikir, bagaimana sentuhan Syafir begitu ajaib.
" Baru tahu punya suami seperti ini ternyata sangat istimewa. Kupikir tidak semua orang bisa seperti ini." Batin Syaffa girang.
Namun selesai mandi, ia teringat lagi pada pekerjaan yang mengharuskan ia jauh dari hari- hari istimewa seperti ini. Wajah Syaffana kembali muram.
Menunggu suami mandi, Syaffa bermenung didepan cermin.
Begitu menyelesaikan mandinya, Syafir segera berpakaian dengan sigap, lalu menghampiri istrinya dengan tersenyum.
" Rasanya masih pengen manja- manja dibalik ketek suami. Eh, malah wajib piket pula. " sungut Syaffa.
Syafir merapikan rambut Syaffa. Memasukkan anak rambut kebalik kupingnya. Kemudian mencium- cium Syaffa didepan cermin.
" Jangan mayun begitu dong... mending lakukan sesuatu untuk suami sebelum pergi. " Ujar Syafir yang membuat Syaffa melongok wajah suami.
" Emang mau apa? " tanyanya lirih.
" Buat suami kenyang sebelum pergi." Jawab Syafir ringan.
" Kan sudah makan, belum kenyangkah?
" tanya Syaffana curiga.
" Abang ngidam masakan istri." jelas Syafir sembari menggulung rambut istrinya.
Sadar tadi hanya mendadar telur, Syaffa segera berdiri.
" Oke.. mau dimasakin apa sayang..? " tanya Syaffana bersemangat.
" Mau memasak capcay Seafood? Kalau mau biar Abang minta antar seafood dan sayur sama bi Rifa. " Tanya Syafir sembari mengikuti langkah Syaffana.
" Siapa bi Rifa? " tanya Syaffana mengernyit.
" Bi Rifa itu tukang sayur langganan keluarga dipasar. " protes Syafir.
__ADS_1
" Emang mau ngantar kerumah? punya anak gadis ngak dia? " tanya Syaffa makin terdengar lucu dikuping Syafir.
Syafir terkekeh sembari menatap Syaffa. Bukannya menjawab ia malah balik bertanya. " Sayang cemburu ya? "
" Bukan cemburu! Tapi aku ingin tahu, siapa saja yang biasa datang kerumah suamiku, untuk selanjutnya tentu aku takkan membebaskan lagi. " Ujar tegas Syaffana.
Syafir tersenyum geli, sembari membuat panggilan untuk memesan bahan yang dibutuhkan pada tukang sayur langganannya, sambil mengapit mesra tubuh istrinya, membiarkan wanitanya itu cemberut dalam pelukannya.
Setelah mendapat kepastian dari sebrang telfon, iapun mendudukkan Syaffana dikursi makan. Tanpa banyak bicara, Syafir mulai mencuci beras dan memasak nasi.
Melihat suami yang begitu cekatan, Syaffana membuang kesalnya, iapun mulai menyiapkan bumbu.
" Bi Rifa punya putra tujuh orang. Ketujuh putranya masih lajang, mereka bekerja membantu ibunya antar pesanan langganan sayur. Dan
Yang paling kecil anu..."
" Anu apa? " tanya Syaffa tak sabaran, melihat senyum Syafir yang misterius.
" Yang paling kecil, kayak si Dona, tapi yang ini asli, sejak dari babby sudah nampak. " ujar Syafir.
" Apanya yang nampak? " selidik Syaffa.
" Ya anunya ngak jelas..." Ujar Syafir.
" Tahu darimana? ngapain periksa- periksa anu orang segala? " tanya Syaffa cemberut.
Syafir berlari menuju pintu, yang diikuti Syaffana.
" Ni bang...semua pesanannya sudah lengkap- lengkip. " Ujar pria gemulai berkulit legam sembari masuk kedalam rumah tanpa basa - basi. Membuat Syaffana spontan membelalak.
" Aku disuruh ibu bantuin abang sama kak Syaffa bersihin seafood sama sayurnya, biar cepat, sekalian sebagai gantiin hadiah pernikahan buat kalian. " Ujar santai pria itu sembali melenggok menuju dapur.
" Tak usah! Biar kakak aja yang ngerjain, kakak juga lihai kok. " tolak Syaffa.
Tapi pria itu tak peduli, dengan tiga kali hitungan maju, ia sudah mulai membersihkan udang dan cumi, tanpa melihat wajah nyonya rumah.
" Jangan khawatir...Ngak bakalan juga kakak dapat anak kayak aku, aku cuma cetakan terakhir yang terlambat diangkat, jadi ya gosong semua." Ucap pria itu cuek, sedang Syaffa berusaha menahan tawanya.
" Ketawa aja lah kak...Aku orangnya memang tak hobby ketawa, tapi senang membuat orang ketawa. " ujar pria itu lagi.
" Kayak Almarhum Benyamin S, sikomedian zaman nenek dulu. " Kikik Syaffana.
" Emang nama saya Benyamin kok kak...pemberian dari bapak , nama bapak saya Daud yang bukan nabi. Saya dari kecil sering kekebun belakang rumah bang Syafir, buat nemani ayah menjemput Asam jeruk nipis kekebun mamanya bang Syafir buat dijual kepasar, menunggu ayah panen sama bang Syafir , saya suka mandi polos di disungai pinggir kebun itu, jadi deh kulit saya makin berkilat, tapi saya merasa paling tampan dari para Abang." Ucap si Benyamin panjang lebar sambil bekerja.
Syaffa tersenyum , hatinya sedikit malu dengan kecurigaannya pada suami, seperti tahu semua isi kepalanya, pria itu menjelaskan hubungannya dengan keluarga Syafir.
__ADS_1
Syaffa kemudian manggut- manggut. Merasakan kalau pria muda itu jujur dan polos, iapun kembali bersyukur dihatinya.
Sedang Syafir hanya diam saja sembari memotong sayur, membiarkan istrinya berbincang dengan putra kecil bi Rifa.
Tanpa menghabiskan banyak waktu, 55
menit berikutnya, maasakan Syaffana sudah terhidang.
Setelah makan, iapun bersiap untuk berangkat.
******
Sedangkan Elang baru saja sampai disimpang G, mereka mampir untuk makan. Setelah diobati oleh Elang, lutut Suci yang sedikit lecet sudah mendingan, namun jalannya masih
tertatih.
Elang membimbing Suci berjalan. Suci menatap suaminya dengan intens, hatinya sedikit hangat.
" Bang Elang ucapannya kasar, tapi hatinya lumayan halus. Bang Zahran tak sempat menitip mamanya sebelum pergi,
tapi bang Elang bela- belain mampir dan memergoki mantan mesra dengan adik demi untuk memastikan mamanya ada yang jaga. " Ucap Suci dalam hati sembari menatap kagum pada suaminya.
" Tak usah tatap aku, lihat jalan, ntar kesandung batu lagi! " Sungut Elang.
Suci tersenyum kecut, barusaja ia menilai
halus kasar suaminya, pria itu kembali mengomelinya.
" Aku sedang memikirkan mama, apa Syafir akan mengunjungi mama sesuai dengan janjinya ya? " ujar Suci berkilah.
" Tentu adikku itu akan mengunjungi mama, sebenarnya Syafir adalah putra yang paling sayang pada mama. " Gumam Elang.
" Kalau begitu Syukurlah...walau ada bibi Rahmi dirumah dan dua satpam menjaga keamanan. Tapi bagi seorang yang sudah berusia lanjut, tetap saja mereka akan kesepian ditinggal anak- anak. " ujar Suci.
"Tentu adikku mengerti itu, ia pasti akan mengunjungi mama. Aku tahu adikku, kau tak usah sok khawatir, sebelum memutuskan untuk memaksakan menikah denganku, tak pernah kau fikirkan kalau aku punya mama yang akan cemas karna perbuatanku. Dengan apa yang sudah kita buat, cukup sudah menguras emosi mamaku. Kalau mama sampai darah tinggi lagi, itu pemicunya adalah berawal dari masalah ini. " Cerocos Elang panjang.
Suci merasakan kasar semua makanan yang ia telan ditenggorokannya. Untung Zain yang mengerti, tidak pernah duduk didekat pasangan itu, jadi Suci boleh menikmati sendiri sakit hatinya tanpa harus menanggung malu juga.
Melihat Suci yang termenung sambil makan, Elang sedikit merasa bersalah.
" Maaf...aku berkata apa adanya. Bagiku kebenaran itu harus disampaikan, walau terasa pahit dihati, sakit ditelinga akibatnya. " Ujar Elang.
Suci mengangguk. " Tak apa...aku takkan ambil hati. " jawab Suci pelan.
" Kalau begitu makan yang baik...Habiskan semua makanannya, jangan sampai wajahmu terlihat menyedihkan sampai dikota S nanti." pinta Elang kemudian.
__ADS_1
Suci hanya kuat mengangguk. Walau masih kesat ditenggorokan, ia tetap berusaha menghabiskan makanannya.
Berlanjut...