Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Kemudahan.


__ADS_3

Rasanya masih sangat sedikit waktu kebersamaan dengan mertua dan suami, Waktu sebulan terlewatkan begitu terasa cepat. Jatah istirahat Syaffana berakhir, ia sudah wajib kembali menjalankan tugas piket rutin dan tugas misi, seandainya ada penangkapan atau misi damai.


Syaffana menatapi dirinya dicermin, setelah memakai pakaian dinasnya. Syafir datang dari dapur membawakan sepiring nasi dengan sayur Sup sapi.


" Sayang, sarapan dulu, ini kebetulan bibi masak sup.


Mhummmm...." Kayaknya sedap sekali dari aromanya." Ucap Syaffana segera membentangkan tikar. Syafir meletakkan mempan diatas tikar dan segera duduk bersila. Syaffana duduk disamping suaminya dengan bersimpuh.


" Kalau ini sudah besar, tentu akan susah


duduk begini. " Ucap Syaffana lirih seraya


mengusap perutnya.


Syafir yang terharu sontak memindahkan istrinya kepangkuannya, menghadapnya.


Wajah maskulin Syaffana yang sudah gagah dengan serangamnya berubah merona. Syafir mengusap pipi yang sudah berwarna tomat matang itu.


" Kalau Umi tak bisa duduk sopan, duduknya begini saja. " Bisiknya dengan senyum menggoda.


Syaffana semakin malu. Tapi Syafir tidak membiarkan lama.


" Makan ya..Yang banyak. " Bujuk nya mulai menyuapi Syaffana subuh ini.


" Rasanya terlalu singkat waktu istirahatku. " Ucap Syaffa setelah menghabiskan makanannya.


" Sebenarnya Abang juga ingin adik istirahat saja selama sembilan bulan, biar Abang saja yang bekerja. Tapi apa boleh buat, adik tetap saja milik negara, walau sudah ada Abang dan calon sikecil, tapi tetap saja tugas mesti dijalankan, ngak mungkin juga Syaffana mau berhenti dan menjadi ibu rumah tangga biasa. " Ucap Syafir lirih seraya mengelap bibir syaffana dengan bibirnya.


Syaffana menatap Jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul Enam pagi.


" Bang, sepertinya sudah waktunya berangkat. " Ujarnya tak kalah berat, kemudian turun dari pangkuan suami.


Syafir berdiri dan meraih ketiak Syaffana untuk membantunya berdiri. " Kalau dekat Abi bisa manja, giliran dilapangan terpaksa harus kuat, kalau Syaffa tahu dulu bakal punya suami sekaya Abang, ngak mau capek- capek masuk Akademi. " Kicau Syaffana.


" IS...Ternyata Umi matre juga ya nak..." Balas Syafir seraya merapikan kerudung Syaffana.


" Mana ada perempuan yang ngak matre. " Balas Syaffana mencibir.

__ADS_1


" Emang gitu? " tanya Syafir seraya menggandeng istrinya menyusuri koridor rumah.


" Iya! Cuma kadarnya berbeda, ada yang dikit, ada yang kebangatan.


Kalau yang ini yang dikit kayaknya. " Katanya menunjuk diri sendiri.


" Sedikit atau banyak ngak peduli, kan sudah milik pribadi, paling kalau kebanyakan usaha ditingkatkan, Abangkan bukan pegawai negri atau pekerja perusahaan, jadi ngak bakal korupsi. " Ujar Syafir membuat Syaffana tersenyum geli.


"Abang tahu aja! memang sih, mereka yang kerja dilahan basah dan punya istri matrelialistis dan banyak tuntutan yang kebanyakan terjerat kasus manipulasi uang negara atau Perusahaan. " Ujar Syaffana.


" Aduh...Sory ya cantik! " Abi sama umi tak sengaja bergosip ria.


Maaf...lain kali ngak lagi dech..." Ucap syafir konyol seraya mencium perut Syaffana.


" Iya ya...Sory sayang...Ampun, nanti kalau besar jangan suka gibahin orang ya


sayang.. " Jawab Syaffana. Kedua suami itu saling bertatapan mesra, tangan mereka berdua saling genggam diperut Syaffana.


Setelah pamit, Syafir segera mengantar syaffana menuju Polres.


baru untukmu. " Ujar Anto seraya menatap Syaffana kearah perutnya.


" Busyet! Belum besar saja niperut, udah bisa ngalahin pesonaku, apalagi nanti kalau sudah Segede kentongan. " Batin Syaffana.


Perempuan kalau sudah hamil memang begitu, orang lebih duluan melihat perutnya, baru wajahnya. Setelah melihat wajah, ujung- ujungnya akan turun lagi keperut.


Syaffana teringat surat untuknya, Ia segera menemui Bagian Operasional ( BaGops).


Mata Syaffana berkaca- kaca begitu membaca surat itu. " Sepertinya keinginan Abimu tidak terlalu sulit diwujudkan sayang. " Bisiknya dengan mengusap perut.


Sedang kepala bagian Operasional hanya geleng- geleng kepala. " Wanita sangat berbeda kalau sudah berstatus istri, dari tegas dan kuat, akan berubah jadi lembut, manja dan penurut." Gumam bapak itu. Sedang Syaffana yang masih mendengar hanya tersenyum, lalu ia mulai merongoh telfon ditas sandangnya.


" Kalau sudah jadi ibu nanti berubah lagi pak, jadi cerewet, pemarah dan makin berkuasa. " timpal Anto.


Suasana dikantor polisi kalau tidak ada permasalahan yang rumit, tetap saja ada acara bercanda seperti kantor lain.


Syaffa menjauh sedikit untuk mulai menelfon.

__ADS_1


Syafir baru saja ingin menstarter m


Mobilionya untuk kembali, ketika ponselnya berdering. Melihat istri yang menelfon, ia segera menyambungkan panggilan.


" Ada apa Buk! " tanya Syafir terdengar formil.


" Aku dipindah tugaskan ke Polsek dekat situ bang! " Pekik Syaffana riang diujung telfon.


"Apa? Situ mana? " tanya Syafir bingung.


" Polsek UG, dekat mama, 3 KM dari rumah kita. " Balas Syaffana berbinar.


" Alhamdulillah...Syafir mengucap syukur, baginya tak perlu tahu istrinya naik pangkat, dapat penghargaan atau karna dihukum maka dipindah tugas, yang penting mendengar Syaffana bakal dekat- dekat selalu dengannya, hatinya senang.


" Sayang, kapan tanggal terhitung pindahnya? " tanya Syafir tak dapat menyembunyikan suaranya yang girang.


Mulai besok, dan paling lambat 15 hari kerja dari sekarang. " Jelas Syaffana.


" Mhum...Lebih cepat lebih baik, karna dengan dirumah, Abang tidak akan terlalu khawatir lagi meninggalkanmu untuk mengurus kebun, Toko dan mama." Syafir


tersenyum membayangkan bisa memeluk istri sekali dua malam, bila ia dinas siang.


" Iya sayang, aku lanjut temui semua yang berkaitan dulu ya bang.." Ujar Syaffana, kemudian mengucap salam.


Sementara Zahran yang sedang diruangannya diPOLDA tersenyum puas, akhirnya usahanya mengurus kepindahan


sang adik ipar berhasil.


" Tidak bisa merawat mama, setidaknya aku sudah berusaha agar fokus adikku memperhatikan mama tidak terbagi." Ucap Zahran bicara sendiri.


Sedang Syafir masih belum percaya kalau harapannya bisa terkabul untuk dapat selalu bersama istrinya dan mengontrol kondisi mama tanpa harus bolak- balik. " Ya Tuhan, semoga rasa syukurku semakin bertambah dengan semakin besarnya anugrah dan kemudahan yang Engkau berikan padaku. Amiin.


Syafir mengurungkan niatnya untuk kembali. Ia memutuskan untuk libur kekebun hari ini. Iapun turun dari mobil dan kembali kerumah dinas Syaffana dengan perasaan lega.


Sedang Syaffana menjalankan tugas dikantor hari ini dengan berbagai perasaan. Sebenarnya dulu ia pernah bercita- cita, pindah kekota kelahirannya dengan naik pangkat dan diangkat sebagai kepala Kapolsek. Tapi sekarang semua sudah berubah, ia tidak semata lagi mengejar karir, karna karir terindahnya yang sebenarnya sebentar lagi akan menyambutnya, mudah- mudahan semua aman dan lancar, hingga ia bisa menikmati karir itu dan menjalaninya dengan sebaik mungkin.


" Jadi ibu adalah impian setiap perempuan yang sudah menikah, semoga aku bisa jadi Ibu yang berhasil mendidik putra - putriku menjadi orang yang baik nantinya, karna keberhasilan terbesar manusia dinilai dari kondisi keluarganya. " Batin Syaffana.

__ADS_1


__ADS_2