
Dono memonyongkan bibirnya sampe naik keujung hidungnya begitu tahu ojek
online pesanan Syafir sudah sampai dirumah untuk membawanya kembali.
Baru saja ia selesai mencicipi masakannya, gimana tak kesal sudah diminta pulang.
" Tega amat Bang Bos ngusir kika, baru juga selesai masak." protes Dono bersesungut.
" Kau boleh makan dulu sampai kenyang, lihat nasi di rice cooker banyak kok.
Aku sudah meminta pak ojeknya menunggu diruang tamu, kebetulan juga aku kenal tukang ojeknya, itu langganan mama , jadi aku bolehin masuk. " Balas Syafir sembari tersenyum.
" Mentang- mentang istri dah pulang, Kika langsung diusir tanpa kompromi, padahal
kamarnya cukup kok, ngak bakalan juga Kika ngintipin kalian tidur. " Ucap Dono masih saja mengumpat, namun ia mengikuti saran Syafir untuk makan, karna perutnya sudah menciut minta makan dari tadi. Lagi pula, ia tak mau melewatkan saja masakan yang sudah ia buat dengan sepenuh hati itu.
Dono sedang asyik makan, ketika Syaffana datang kedapur.
Melihat Aura dingin dan tatapan intimidasi dari perempuan kepunyaan Abang Bosnya itu, Dono tertunduk sembari menelan suapannya
buru- buru.
" Waktu jadi pengantin, ni cewek anggun bejibun, sekarang kok sadis gitu natapnya. " gidik batin Dono.
Syaffana mengambil air hangat dari dispenser, dan minum setelah duduk cuek dikursi makan disisi Dono, membuat Waria itu makin gemetaran menyendok makanannya, hingga sendoknya sampai terpelanting.
" Ngak bisa makan dengan sendok, cuci tangan, lalu makan dengan tanganmu, kan bagus tu dikasih tangan sama Tuhan. " Ucap Syaffa dengan nada ketus.
" A- anu, maaf nona...Sa- saya makan duluan dari tuan dan nyonya rumah, jadi bawaannya grogi. " Dona mencoba berkelit walau kelabakan, ia bahkan lupa bahasa bancinya dihadapan Syaffana.
Syaffana tersenyum, kemudian mengusap pundak Dono, sadar telah membuat pria itu tak nyaman karna kehadirannya.
Sedang Dono malah semakin Salting, tubuhnya terasa panas dingin.
" Nasip- nasip....punya tubuh gemulai, tapi sirudal tetap hidup, orang ngiranya kita biasa saja, nyatanya ini pantang rasa yang alus naik juga. " Rutuk Dona merasakan pusakanya naik mendapat sentuhan dari Syaffana.
" Jangan gugup begitu, belum pernah juga sejarahnya Syaffana makan orang." Ucap syaffa ringan sembari menatap Dono yang masih diam dan tertunduk.
" Makan orang sih ngak! tapi pengen dimakan! " sungut Dono dalam hatinya.
" Maaf...Tadi aku kira kamu ngapain dengan suamiku, jadi salah sangka dengar suara manjamu itu." ujar Syaffana lalu menepuk pelan pundak Dono.
Dono melepaskan nafas panjangnya.
" Saya sebenarnya lelaki normal nona! " Ujar Dono membuat Syaffa menggeser kursinya, namun tatapannya masih ragu,
menilik penampilan Dono.
" Saya juga minta Maaf nona.. sudah membuat nona salah sangka, lain kali saya akan les kepribadian dech, agar bisa sedikit macho, sesungguhnya saya hanya banci KW non...Saya begini karna terbawa pergaulan, ya jadi kebiasaan, ditambah pengen eksis didunia hiburan lokal. Kedepannya ingin juga saya taubat dan punya keluarga seperti Abang Bos." Curhat Dono dengan suara lirih.
" Busyet! Jangan sampe dia naik Span lantaran sentuhanku barusan. Ampun tuan suami..." Sesal Syaffa dalam hati.
Sekarang Syaffana yang menarik nafas panjang. Kemudian menatap kembali sekilas wajah banci KW itu.
" Lain kali jangan tampil menipu lagi, jika merasa dirimu baik- baik saja, kan yang rugi diri sendiri. Panas dinginkan? Tapi jangan salahkan Syaffa, kan aku tahunya kamu perempuan! " Gertak Syaffana.
Dono mengangguk patuh.
" Kalau sudah ada niat, barengi dengan usaha, biar tidak sekedar khayalan." Saran Syaffana.
Dono mengangguk lagi. " mudah - mudahan saya bisa ya, nona... " katanya lirih.
" Pasti bisa! kalau sungguh- sungguh menjalani usahanya, yang penting jangan sekedar taubat sambal. " Ujar Syaffa yang diangguki lagi oleh Dono.
" He...he...Bukan sekedar angguk balam kan? " tanya Syaffana.
" Serius non..Saya benar- benar ingin berubah. " Jawab tegas Dono.
" Gitu dong...Masak sama aku yang cantik begini takut. " canda syaffana sedikit narsis.
__ADS_1
Syaffa lalu mengisi mangkok cuci tangan dan meletakkan dimeja.
"Cuci tangan dan lanjutkan makanmu, saya akan membawakan minuman hangat dulu buat pak ojek, kamu makan yang banyak ya! jangan sungkan." Ucap Syaffana kemudian mengambil gelas dan membuatkan teh hangat untuk pak ojek.
Menemukan ada kue Cui Kao so dikulkas
khusus, Syaffana meletakkan dimempan sekalian sebagai pelengkap teh hangat itu.
"Pantas tu si Dondon sampe keruang tengah cari lobang, ternyata semua colokan didapur berisi." Batin Syaffana menyeringai geli teringat kecemburuannya, sembari berjalan kedepan membawa mempan.
Setelah melangkah beberapa langkah, syaffa berhenti sejenak.
" Tolong cabut Cok Mejic nya, ya Don..Syaffa tak suka makan nasi terlalu panas. " pinta Syaffana.
" Baik non Syaffa. " Jawab Dono sembari mengusap dada.
" Akhirnya bronjol juga aku, tadi rasanya maju mundur dipintu sempit, nyiksa bangat dekat tu cewek." Batin Dono lega begitu Syaffa pergi.
" Ep! Jangan menggibah dengan diri sendiri! " Ujar tegas Syaffana.
" Ba- baik non...Maaf." Ucap gagap Dono kedapatan bergosip dalam hati.
" Kalau lama- lama dengan nyonya Bos, bisa demam panas aku." Ucap Dono lirih, lalu berlari kekamar mandi.
Setelah mencuci tangan, Dono segera makan dengan balap.
Didalam hati ia bersyukur, Syafir sudah menyiapkan ojek untuknya. Setelah berhadapan langsung , Dono berfikir dua kali untuk berlama- lama dirumah ini.
Krak...Sendawa Dono membuatnya terpaksa menghentikan makan kecepatan tingginya itu. Ia segera mencuci piring diwastafel dan menyusunnya dirak.
Setelah mencabut Cok rice cooker, Donopun meraih ponselnya dimeja.
Dua notifikasi pesan beruntun, membuat perhatiannya beralih kebenda pipih itu.
Senyum lebar Dono mengembang. Satu pesan bank dan satu pesan khusus dari Bos. Keduanya membuat hati Dono tenang dan senang. Dengan langkah pasti ia menuju ruang tamu, untuk mengikuti perintah Bos mudanya itu selanjutnya.
Dono berjalan keluar dengan perut kenyang dan hati senang. Masih dengan langkah gemulai, ia kemudian menggelendot dipunggung pak Ojek.
" Besok bangun pagi, tampil sesantai mungkin, jangan banyak tingkah, pak Mudin yang akan membawamu kekebun. " Titah Syafir didepan pintu, begitu Dono sudah duduk diboncengan tukang ojek itu.
" Ngak salah mempekerjakan dia dikebun? Apa ngak bakalan terbenam sepatu tingginya disana. " protes Syaffana yang melihat sepatu tinggi Dono.
" Dia boleh pake sepatu tinggi dijalan, tapi setelah sampai disana, Jabbar akan memberikan sepatu Boot untuknya, kemudian akan membuatnya latihan fisik setiap hari. " Jelas Syafir.
" Jadi ngasih dia kerja dikebun cuma buat dia bisa kembali? " tanya Syaffa.
" Ditraining dulu, kalau mampu nanti dia dialihkan dari pesta kekebun, setelah kuat kerja serabutan, ntar baru diangkat jadi pengawas kebun, kalau ia bisa berubah. " tegas Syafir sembari mengunci pintu.
Sebelum Syaffa bicara lagi, Syafir sudah menggendong istrinya.
" Sudah kuat sekali sekarang ya... " puji Syaffa sembari mengalungkan tangannya ketengkuk suami.
Syafir menjawabnya dengan sebuah kecupan hangat.
Kriuuk...
Bunyi perut Syaffa menghentikan pagutan itu. Lalu syafir membawa Syaffa kedapur.
" Turunkan aku...Biar kuhidangkan suamiku! " Ucap Syaffa dengan nada perintah.
" Suami yang mana? jadi ingin kenalan... " Ucap Syafir dengan tatapan menggoda.
Syaffa menggelitik pinggang Syafir Tampa ampun, hingga Syafir terpaksa menurunkannya karna kebelet pipis.
Syafir lari kebirit- birit kekamar mandi sembari memegang kepala rudal yang ingin meledak.
Syaffa mengakak tanpa dosa, menyaksikan suami begitu teraniaya.
Begitu Syafir sampai dimeja makan, semua sudah terhidang dengan manis.
__ADS_1
" Lama sekali pipisnya, cacing- cacing diperut ku menggeliat tak karuan. " Sungut Syaffa.
" Maaf...Kan habis cuci tangan, cuci kali, mulut atas sama bawah. " Seloroh Syafir yang membuat pipi Syaffa merona.
Syafir duduk dikursi disisi istrinya, Mendapatkan piring yang sudah terisi, Syafir kemudian memberikan suapan pertama pada Syaffana.
" Sekarang mulut atas dulu yang dimanjain, ntar baru mulut bawah. " Bisik nakal Syafir sembari menyuapi Syaffa lagi.
Syaffa menikmati suapan suami, walau hatinya berdebar tak karuan.
" Kalau bilang capek bagaimana? " tanya Syaffa setelah menelan makanannya.
" Tak ada negosiasi malam ini. Pokoknya kita akan menghabiskan waktu semalaman! " Ujar Syafir.
" Wow...Emang pinggangnya kuat?" tanya Syaffa menantang.
" Kuatlah...makanya isi energi dulu. " Jawab Syafir enteng.
Kemudian mereka terdiam menikmati makan malam itu, hanya mata dan hati mereka yang tetap bicara.
Syafir tak main- main dengan ucapannya, setelah melakukan kewajiban pada Tuhan, iapun melanjutkan dengan kewajiban pada kekasih halalnya.
Syaffa hanya bisa megap- megap dibawah Kungkungan suami. Malam ini Syafir cukup kuat, kerinduan mungkin buatnya begitu, ia sampai membawa Syaffa keNirwana dua kali.
" Ahhh...... Lenguh panjang keduanya mengakhiri olahraga malam itu.
Syafir benar- benar terkapar disisi Syaffa.
Karna banyak memegang kendali, tenaganya benar- benar terkuras, tapi hatinya bahagia.
" Sayang...Apa Dona normal ya? tadi terpegang pundaknya, ia keringatan gitu? " Tanya Syaffana yang membuat mata Syafir membola.
" Untuk apa pegang- pegang pria lain? " tanya Syafir marah.
Syaffa mengusap pipi suaminya. "Maaf...tak sengaja, kukira ia benaran, mana kutahu KW juga kayak ini. " Ucap Syaffa sembari memegang rudal suami yang lagi bobok cakep, tapi sentuhan itu membangunkannya lagi.
" Awas sampai berani pegang orang sembarangan lagi! " Ujar Syafir dengan wajah digeramin.
" Awas kalau menaikkan orang lagi kerumah tanpa ada istri! " Ancam balik Syaffana.
" Mana berlaku peraturan begitu untuk laki- laki, hukum begitu untuk seorang istri. " Sanggah Syafir.
" Pokoknya sebelum kita punya anak, Syaffa dulu yang jadi suaminya, tak boleh istri menaikkan siapapun kerumah termasuk hantu belau setan kridit. " Kata Syaffana.
" Oke...Ujar Syafir menaikkan istrinya keatasnya.
" Apaan sih? " Tanya Syaffa mengernyit begitu sudah bertahta ditubuh suami.
" Suami...Ayo bergoyang sampai pagi, Aduk pisang panjangmu ini, dengan apam hangatnya." Ucap Syafir dengan bisik licik.
" Salah ngomong dech aku! " Seru Syaffa sembari menepuk jidat.
" Sedikit bicara, banyak bekerja. " Bisik Syafir lagi, mulai memainkan dua gundukan kenyal syaffa dengan tangannya. Lalu kemudian ia meninggikan bantal untuk bisa mengesap buah kembar
itu, seperti bayi besar yang kehausan, ia menghisap habis jelmaan kuldi itu bergantian.
Syaffa menggeliat tak karuan, karna hasrat yang kembali berkobar, ia memacu kuda sembrani dibawahnya yang sudah siap lagi untuk terbang.
Malam itu benar- benar mereka habiskan dengan bercinta.
" Jangan sampai seperti berita Itu. " Ucap
Syaffa setelah terkulai lemas diatas suami.
" Tidak akan sampai begitu, kan pembagian tugasnya adil, jadi tak ada yang teraniaya. " Ucap Syafir sembari mengecupi pipi Syaffa, lalu merebahkan kekasihnya itu disisinya, dan menarik selimut.
" Ya Udah... boboklah... Makanya jangan sok mau jadi suami. " Bisiknya sembari merapikan anak rambut Syaffana, membelai rambut lebat itu sampai Syaffa terlelap.
Berlanjut...
__ADS_1