
Suci mengambil telfonnya untuk menghubungi papanya. Sebagai mantan penguasa kota, papanya pasti punya kenalan pengusaha kelas atas yang memiliki jet pribadi. Suci ingin berjuang sedikit untuk suaminya. Dilihatnya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul satu malam. " Tak apalah, Coba dulu." Batin Suci.
" Pa...ibu mertuaku meninggal satu jam yang lalu. " Ujar Suci langsung begitu terlfon tersambung.
" Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji'un... " Jawab tuan Zul masih dengan suara serak.
" Bagaimana? kalian ingin secepatnya tiba dikota P? Tanya sang ayah setelah sejenak terdiam dalam berfikir.
.
" Itulah sebabnya Suci menghubungi papa, tolong usahakan agar kami tiba ditabing secepatnya." Ketus Suci.
Zul menggeleng pusing, sampai ia memijit keningnya menyadari ini tengah malam. Tapi ia tidak mau mengabaikan permintaan putri semata wayangnya.
" Baiklah, papa coba dulu, tunggu seperempat jam lagi papa hubungi balik." Ucap Zul dengan menahan nafas berat.
" Kenapa pa? " Heran Weni mendengar suaminya mengucapkan kalimat yang mudah diucap untuk orang jauh, sulit dijalani bila itu terjadi pada orang terdekat kita.
" Anu, kak Rahma telah kembali Wen, besan kita itu menghembuskan nafas terakhir sejam yang lalu. " jelas Zul melihat istrinya masih terlihat bingung.
Detik berikutnya, Bu Wenni pun mengucapkan kalimat penyerahan juga.
" Kasihan Elang jika ia tidak bisa mengantar leberangkatan mamanya untuk yang terakhir." Gumam Wenni masih terdengar ditelinga Zul.
Zul menarik nafas berat, kemudian turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar untuk menelfon.
" Aku harus coba dulu. " Ucapnya masih dengan ragu mengusap nomor kontak yang ada di Iphonenya.
Saat telfonnya tersambung, hati Zul berdebar antara senang dan khawatir.
" Huk...huk...Hallo Zul, ada apa?" Tanya suara berat dan terbatuk dari sebrang.
" Maaf pak malam- malam mengganggu tidurmu yang berharga." Ucap Zul sungkan.
" Hey! siapa bilang aku punya kebiasaan tidur sambil bicara? Katakan saja ada apa? " kelakar dari Pak Hari.
" A_ aku sangat segan pak, maaf." Zul masih ragu mengatakan keinginannya.
" Hei teman! kita bersahabat sudah sejak zaman batu, mengapa meminta sesuatu saja kau sampai gerogi gitu, apa karna sudah pensiun kau jadi penyakit gelagapan. " Hari masih menggoda.
" Ba-bapak kok bisa tidak tidur jam segini? " tanya Zul masih gerogi.
He...He.. Aku terbangun karna tahu bakal ada yang nelfon dari sebrang." Canda Hari.
Mendengar Zul diam, ia meneruskan celotehannya."Tadi aku bermimpi berjalan- jalan kepulaumu, sedang memandang- mandang keperkebunan, aku terbangun dan setelah dicoba tak mau tidur lagi. Dari pada menatap langit- langit kamar, mending kulanjutkan saja dengan bekerja, kerja apa jangan ditanya.Sekarang katakanlah mau apa..." Ujar Hari serius namun bernada canda.
Zul menghela nafas lagi sebelum menyampaikan keinginannya yang terasa masih menyangkut ditenggorokan.
__ADS_1
" A_ Apakah bisa disewa private jetmu untuk membawa anak dan menantuku dari Ibukota ke kotaku sebentar lagi pak, besanku meninggal sejam yang lalu, menantuku sangat terpukul." Akhirnya Zul berhasil menyampaikan keinginannya, walau masih hening disebrang tapi Zul lega sudah berusaha untuk Elang dan Suci.
" Pasti aku akan membantu Zul, belum pernah kau meminta selama ini padaku. Satu jam lagi mintalah anak menantumu tiba di bandara, aku akan ikut kesana agar kau tidak memikirkan sewa." Ujar Hari penuh penekanan.
Hati Zul terlonjak girang, tetapi ia berusaha untuk bersikap biasa saja. " Be- benarkah pak? Bapak punya waktu sampai sebesar itu? " tanya Zul masih belum percaya.
" Aku mau melihat besan yang kau ambil dengan paksa itu Zul,penasaran dengan keluarga yang pernah kau acak- acak 7 tahun silam, demi mendapatkan mantu terbaik." Ujar Hari terkenang kisah putri Zul.
Zul tersenyum kecut teringat dosanya. Bersamaan dengan itu Wenni tiba didapur.
" Apa pesawatnya dapat pak?" tanyanya heran melihat suaminya terlihat mengusap dada.
" Ya bersiaplah Wen, kita bertemu disana, sekalian Bapak dengan ibu agar kalian bisa bertemu lagi. " Terdengar suara Hari dari sebrang karna telfonnya ternyata di speaker.
" Benarkah? Ya Tuhan...Aku senang sekali jika bisa bersama dengan nyonya Hari lagi. " Sorak Wenni senang.
" Tentu Wen, aku akan setia menemani suamiku kemana saja, apalagi untuk bertemu denganmu." Ujar suara wanita dari sebrang.
" Baiklah...Kutunggu kau dibatas kotaku nyonya Hari." Ucap Wenni mencoba bercanda.
Kemudian Pak Hari menyapa Zul lagi dan mengatakan sekali lagi untuk bersiap.
*
*
*
" Bang...Kita bersiap keBandara sekarang, kita akan
pulang dengan Jet pribadi." Ujarnya pada Elang.
" Oh....Baiklah Suci...Ayo kita segera bersiap, kalau begitu aku masih diberi kesempatan oleh Allah bertemu mama, semoga perjalanan kita dilindungi." Balas Elang dengan nafas lega.
Elang segera lanjut bersiap tanpa bertanya lagi. Ia tahu mertuanya mantan penguasa, tapi tidak menyangka ia masih punya sahabat yang mau membantu dimalam selarut ini. Dalam hatinya Elang bersyukur mertuanya masih dianggap walau sudah tak menjabat. Andai ia tidak dalam keadaan berduka, pasti ia penasaran sekali dengan siapa sahabat kaya-raya mertuanya yang bisa dihubungi selarut ini dan mau membantunya. Tapi Elang sedang tidak berfikir apapun selain secepatnya bisa tiba disisi mama untuk melihatnya yang terakhir kali.
Rombongan tiba begitu Jenazah hendak dimandikan. Suara tangis haru biru kembali pecah. Tiga pria perkasa tidak bisa menahan suara tangis saat berpelukan. Lalu beralih menatap mama yang sudah terbujur ditutup kerudung putih.
Pak Zul, pak Hari dan nyonya mereka berdiri dengan perasaan campur aduk. Apalagi ketika Syafir membukakan penutup wajah mamanya.
Tangis ketiganya kembali terdengar, juga orang- orang yang menyaksikan tak kuasa menahan airmata, merasakan duka ketiga Ahmad.
" Ternyata besannya Zul punya tiga putra.Aku penasaran mana putra yang menggantikan jodoh yang ditinggal Elang dulu. " Batin Hari.
Lamunan Hari tersentak mendengar ratap tangis Elang.
" Hu.....Hu....Aku yatim piatu sekarang ma......Hik...tangis Elang pilu seperti anak Balita.
__ADS_1
Zul mengulurkan tangan menyentuh pundak menantu itu. " Sabar nak...tak apa menangis, tapi jangan meratap. " nasehat Zul dengan berbisik.
Sejenak orang bingung dengan keluhan Elang, namun detik berikutnya, pegawai masjid tiba mengingatkan, memangkas suasana haru itu." "Sudah saatnya mama kalian dimandikan untuk yang terakhir! Segerakan dan doakan, bukan diratapi!." Titah Pak Sabaruddin.
Suasana menjadi hening sejenak.
" Silahkan jika istri- istri kalian mau ikut membersihkan mama mertua untuk yang terakhir bersama Syaffana. " Sambung Bibi Rahmi.
Elang beralih menatap Syaffana yang sejak dari tadi bersama orang- orang menyingsingkan lengan baju menyiapkan segala untuk memandikan Mama mertua.
Elang dan Zahranpun mengangguk, sedang Syafir segera mengangkat sang mama menuju pemandian, tentu saja titik titik bening masih membasahi sudut mata putra bungsu itu.
Sekarang Elang menatap tajam Suci yang masih berdiri dengan bingung. Sadar makna tatapan suami, ia segera melangkah kesisi pemandian yang
disusul kak Mia juga.
Buih sabun sudah disediakan. Kafan pencuci sudah menunggu. Ember- ember sudah penuh diisi air oleh kaum perempuan yang merupakan tetangga Karolina. Sepanjang sehat dalam hidupnya, ia selalu membantu orang mulai dari perkara hidup maupun perkara seperti ini. Ibu ini juga sering diminta mensucikan jenazah perempuan yang tidak memiliki keluarga yang mampu melakukan itu untuk yang terakhir. Ia tidak pernah memandang orangnya, setiap muslimah yang tak peduli itu kehidupannya bagaimana, dengan ringan tangan Almarhumah selama ini melakukannya. Maka pantaslah giliran dirinya orang- orang tak mau pula ketinggalan untuk melaksanakan Fardu kifayahnya. Orang yang sudah kembali tentu tidak bisa membalas kita, namun orang lain tentu melihat ketulusan kita, hari ini kita membantu orang. Maka dilain hari kita pula yang akan dibantu, walau bukan dari orang yang pernah kita bantu.
Bukan hanya Syafir dan keluarga yang meneteskan airmata. Hampir semua yang menyelenggarakan Karolina berwajah sedih, dihari terakhir bersama dengan ibu yang semasa hidupnya terkenal kritis namun berhati baik ini.
" Selamat Jalan Mama..." Gumam semua orang dengan wajah duka.
Keranda diusung setelah pidato pelepasan. Tangis tanpa suara mengiring kepergian mama menuju masjid. Zahran,Elang, Ustadz Zaki dan Syafir megusung keranda yang ternyata begitu ringan walau tubuh mama tak sempat kurus.
Jumat ini Masjid Raya Jalan Diponegoro kota ini padat, tidak terhitung lagi shaf salat nya, karna setelah diisi tingkat dua, jamaahmasih saja sesak kepintu. Warga antusias untuk melaksanakan Shalat Jumat sekaligus nantinya menyolatkan Almarhumah.
Untuk sholat jenazah Syafirlah yang menjadi Imam.
Iring- iringan masih ramai sampai ketempat peristirahatan yang terakhir. Sampai kubur selesai ditimbun, berdoa bersama dan orang- orangpun kembali.
Yang terakhir meninggalkan pemakaman itu adalah Syafir. Ia membaca Yasin, surat Al- Kahfi dan berbagai ayat pendek untuk mama, terakhir ditutup doa dengan berurai airmata.Ia ingin menunjukkan cintanya pada sang mama dengan sepenuh hati. Hingga sayup- sayup azan Ashar berkumandang, barulah Syafir menyelesaikan doanya.
" Selamat jalan Mama...semoga langkah awal perjalanan mama menuju Syurga Allah SWT lancar.
Istirahatlah dengan tenang sampai hari kebangkitan kita semua dikumpulkan ma..." Gumam Syafir sembari mengusap airmata dengan punggung lengan kanannya. Melangkah dengan kakinya yang berat.
" Ternyata perpisahan ini sungguh sakit." Batin Syafir.
Sementara dirumah tetangga, Elang dan Zahran sedang melayani penyelenggara kubur untuk makan. Mereka saling pandang tatkala sadar tak ada sibungsu disitu.
" Apa dia belum kembali???" tanya Zahran.
" Adik kalian masih berdoa disana tadi kulihat." Sahut Pak Hari yang diangguki pak Zul mertua Elang yang baru datang.
" Tak kusangka ada anak lelaki yang begitu berbakti dan cinta pada orangtua sebesar adiknya nak Elang, aku salut akan hal ini. " Ujar Hari.
Kedua pria Ahmad saling pandang dan mengangguk. Didalam hati mereka mengakui kalau
__ADS_1
sibungsu punya cinta yang lebih dari yang mereka punya untuk mama, walau ia pernah tersisihkan, tapi cintanya tidak memudar sedikitpun. Ini terbukti, bahkan orang dari berbeda seperti paman Hari kagum pada Syafir.