Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Cemas.


__ADS_3

Baru semalam, Syafir merasakan bisa bernafas lega, mama berangsur sehat, udah dapat perawatnya. Dan istrinya yang sudah dinyatakan positif, ada asistennya yang bersedia jagain dan bantu sediakan keperluan sang istri selama Syafir masih sibuk urusan mama.


Pagi Jumat, 25 Februari 2022, Bumi P digoncang gempa dengan kekuatan getaran 6,1 Sr. Tentu saja, rasa cemas kembali dirasakan oleh seorang Syafir. Apalagi Syaffana sedang dinas didaerah sekitar pusat gempa.


Sudah berkali- kali ia menghubungi Syaffana dan Lin, tapi telfonnya tidak aktif, hati Syafir kian diliputi kecemasan yang besar. " Gempa tentu membuat jaringan hilang disekitar Episenter .


Sebaiknya langsung saja kesana, temui istrimu. " ujar Susi yang melihat Syafir uring- iringan, ia baru saja memeriksa kondisi Carolina usai goncangan gempa.


Syafir menghela nafas berat sembari menatap mama dan dokter Susi.


" Mama sudah tak apa ditinggal sayang...ada perawat, dan bibi disini, kalau ada gempa susulan, pasti mereka bantu mama keluar, kan ada kursi roda. " timpal mama melihat kekhawatiran diwajah putranya.


" Iya...Onty tak apa, darahnya tidak naik lagi walau barusan goncangan cukup buat orang - orang panik. " Susi.


" Syukurlah kak...Aku." Syafir tak sanggup melanjutkan katanya, imannya masih terlalu lemah untuk memikirkan hal buruk saja, hatinya sudah sangat takut.


Gempa P. Telah menelan 7 korban jiwa, bangunan runtuh, puluhan orang luka baik berat ataupun ringan. 5000 orang terpaksa mengungsi.


Hidup memang sepenuhnya milik yang Kuasa, hanya dalam beberapa detik saja Allah memporak porandakan kehidupan manusia, menit ini bisa ketawa entah berikutnya berganti dengan raungan.


" Berfikir baik dan terus berdoa, mantapkan langkahmu kesana, Onty disini, biar kami yang jaga. " Bujuk Susi sembari menepuk pundak seupunya itu.


Melihat Syafir termenung dan seperti dalam dilema.


Dering Telfon Syafir membuat mereka semua tersintak. Syafir cepat- cepat meraih benda pipih itu dari kantong celananya. Mengira istri ternyata dari ayah mertua.Melihat ayah mertua, iapun menyambungkan panggilan.


" Ya Ayah...Baik...Ayah tenanglah...aku akan segera berangkat untuk memeriksanya. " jawab Syafir.


Terdengar nada tak kalah cemas dari sebrang. Syafir kembali meyakinkan ayah mertua sebelum menutup sambungan.


Akhirnya Syafir berangkat siang ini. Selain dirinya, situasi darurat membuat Syafir terpaksa melupakan dulu masalah dengan bibi Rahmi.


Baru sepuluh menit Syafir mengemudikan mobilnya, telfonnya sudah bunyi." Aku ikut menemanimu, ini perintah dari iparmu itu, tolong mampir didepan rumah. " ujar suara dari sebrang telfon.


" Baik! " jawab pendek Syafir. Baginya bicara banyak saat ini hanya bikin sesak.


Akhirnya Syafir pergi dengan ditemani Andrea. Susi tak tega membiarkan Syafir pergi dan nyetir sendiri dalam keadaan cemas begitu, makanya ia minta Andre menemani. Andre tentu saja tidak akan menolak, toh yang ditemani bos sendiri.


Baginya bekerja dengan Syafir adalah keberuntungan, selain tidak pernah marah- marah, Bosnya juga suka berbagi Rezki, sekarang hati Andre makin girang, sang Bos juga telah membeberkan rahasia hati seorang gadis yang sudah lama Andrea sukai. Karna perjalanan sehari semalam mengantar ibu bos, status jomblo Andrea berakhir sudah, sekarang tinggal pendekatan lebih lanjut, kalau tidak ada aral melintang, ia akan melamar gadis pujaan sejak lamanya itu habis lebaran.


" Semoga dunia belum kiamat ya Bos! " ujar Andrea memecah keheningan.


" Mhum...semoga..." jawab pendek Syafir.

__ADS_1


Melihat situasi hati sang Bos yang memang tak aman, Andre kembali menutup mulut. Iapun menaikkan kecepatan mobil agar segera tiba dilokasi.


Setelah berkendara satu jam lebih, akhirnya mereka sampai dilokasi pengungsian.. Melihat istri baik- baik saja sedang membantu mengecek bantuan untuk para pengungsi, wajah Syafir berubah cerah. Ia segera mengejar istrinya sembari mengembangkan kedua tangannya.


Syaffa kontan menghentikan kegiatannya, kemudian menghambur kepelukan suami.


" Rasanya duniaku mau kiamat, tidak mendapatkan kabar darimu setelah gempa itu. " Ujar Syafir sarkas.


Syaffa makin membenamkan diri dalam pelukan suami, tidak peduli orang- orang menonton mereka, ia hanya ingin merasakan debaran dada suaminya.


" Apa ia baik juga kan? " tanya Syafir sembari mengusap perut istrinya.


" Anakmu baik kok, waktu gempa aku menggendong istrimu agar tak lari- lari. " Jawab Lin menimpali.


" Makasih Lin..tak sia- sia selama ini aku punya teman sepertimu, selain sebagai ibu luar biasa, kau bisa juga jadi ayah darurat. " Jawab riang Syafir sembari mengurai pelukannya dari istri.


" Busyet kau...Mana mau aku disebut ayah darurat, aku hanyalah onty Siaga." ralat Linlin.


" Okelah...Onty siaga yang super baik..makasih banyak, ya.. " ujar Syafir tulus.


Lin tersenyum senang." Biasa saja lagi, kami selamat karna Alkah, demi calon anakmu, aku meninggalkan putri putraku, tidak menyangka bakal ada bencana begini, sekarang keluarga mencemaskanku disana.


" Ya...aku tahu itu, dan aku sudah bilang pada mereka sebelum kesini." Ucap Syafir menenangkan Lin.


" Kalau begitu aku sudah bisa tenang. " ucap Lin sembari mengusap muka.


Sulit juga kondisi ditempat pengungsian, selain susah sumber air bersih, malam harinya malah terjadi pemadaman listrik yang membuat para pengungsi gelap- gelapan. Jadilah Syafir Syaffana dan linlin merasakan bermalam dilokasi, berbagi rasa dengan para pengungsi, sedang Andre tidur dimobil.


" Mudah- mudahan, jika hidup masih berlanjut, anak kita ini lahir dan besar dengan memiliki kepekaan sosial yang tinggi ya sayang... " Ujar Syaffa sembari memeluk suaminya dikegelapan.


" Iya sayang...Abang bersyukur kalian selamat, gempa tahun 2009 tempo itu, ada anak teman mama sampe keguguran


karna lari- lari. " ujar Syafir terkenang cerita mamanya.


" Aku juga sempat lari kok bang...Untung ada Lin yang langsung menggendongku. Mulai sekarang aku takkan cemburu lagi padanya. Kalau bang Anto mau padanya, aku juga bakal bantu mendapatkan kannya. " Curhat Syaffana.


" Tapi kurasa lebih baik ia mendapatkan warga sipil biasa, agar ia bisa selalu bersama menjalani hari tua dengan anak dan suami.


Kegelapan malam membuat Syafir tak dapat melihat jelas wajah cemberut sang istri.


" Jadi menyesal menikahiku yang bukan ibu rumah tangga biasa ya? " tanya sewot Syaffana.


Syafir buru- buru memeluk istrinya. " bukan itu maksudku sayang..." ucapnya lembut sembari mencium- cium puncuk kepala istri.

__ADS_1


" Trus bagaimana? " tanya marah Syaffana.


" Lin beda dengan kita. Kita cinta pertama dan berharap untuk yang terakhir. Sedangkan Lin sudah punya anak yang akan dibawanya pada pernikahan keduanya, itu tidak mudah menikah dengan orang yang bertugas, lebih baik cari pria sederhana tapi bisa kumpul bersama, agar tidak ada satu diantaranya yang terabaikan. " Ujar Syafir meyakinkan istri.


" Iya ya...kadang melihat kecantikan dan kekuatan Lin, aku lupa ia sudah punya dua pasukan." Akhirnya Syaffa mengakui terang- terangan kehebatan janda muda itu.


" Kalau ayah dari anaknya bisa berubah,akan lebih baik kembali, mengingat hidup sekarang terlalu pelik untuk hubungan baru. " Ucap lirih Syafir.


" Suut...Sudah menggibahku dalam kegelapan malam, tidak takut nanti calon oroknya jadi hobby menggosip. " Sanggah Lin yang baru terbangun.


He...He...Maaf...kami bukan lagi menggosip, tapi lagi mikirkan masa depan seorang teman. " ujar Syaffana.


Detik berikutnya kembali terjadi goncangan dibumi. Para pengungsi mulai


terbangun dan berhamburan.


Astagfirullah!!!.. terdengar seruan istigfar


dari setiap orang.


" Jangan panik Pak... Bu...adik -adik! Kita terus berdoa saja! " Seru Syaffa dan Lin.


Syukurlah gempanya berhenti dan tidak kuat lagi.


Keesokan harinya, Syafir, Andre Syaffa dan Lin berangkat menuju rumah sakit tempat merawat para korban. Baru setengah jam mereka berjalan berkeliling, Serda Afrianto mendekati Syaffana. Menyerahkan amplop berisi surat.


Syaffa membukanya dilongoki Syafir dan Lin. Sedang Andre hanya melihat dari jauh.


" Alhamdulillah... Akhirnya aku dapat cuti. " Ujar Syaffana riang, namun berikutnya wajahnya kembali sedih melihat wajah para korban.


" Jangan sedih...apa tak ingin menengok mama mertua langsung. " Ucap Syafir dengan berbisik.


LetDa Zahran yang mengetahui keadaan mama dan adik iparnya, membantu mengurus surat cuti buat adik iparnya.


Tidak bisa mendampingi mama, setidaknya ia mau adiknya tenang menjaga mama, tanpa memikirkan istri yang lagi hamil muda sedang bertugas.


Sore jelang malam, Syaffa meninggalkan


lokasi pengungsian, hatinya lega sebagai seorang istri, tapi sebelah hatinya sedih juga, melihat para pengungsi yang sekarang masih belum dalam kondisi yang layak.


Bencana datangnya dari Allah


sebagai peringatan, kita tidak dapat menghindari bila takdir memisahkan kita dengan harta atau dengan orang tercinta dengan cara seperti itu. Sebagai orang yang diselamatkan mesti bersyukur, andai bisa berbagilah dengan mereka sesuai kemampuan.

__ADS_1


Mari salurkan bantuan yang kita mampu, tidak sekarang entah Esok giliran yang lain pula, hidup sekarang tak terjamin besok masih, selagi masih ada nyawa jangan enggan membantu sesama.



__ADS_2