Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Semua di Caloin?


__ADS_3

Syaffa menghentikan makannya, berjalan kedepan untuk memeriksa siapa yang mengetuk pintu.


Begitu pintu dibuka oleh Syaffa, ia tersenyum sembari berjongkok, untuk menerima sekantong kresek mangga yang disodorkan oleh tangan mungil yang bergetar karna keberatan. " Sayang...apa ini? apa mamak yang suruh antar? " tanya Syaffa sembari menerima sekantong mangga jenis kweni itu.


" Iya nte! kiliman nenek dali pulau. " jawab bocah lelaki itu. Syaffa mengangkat bocah itu kegendongannya, kemudian meletakkan kresek buah itu keatas meja.


Pulau P adalah pulau yang terkenal dengan penghasil mangga kweni kwalitas terbaik diwilayah ini. Kweni dari pulau ini tidak pernah busuk. Orang akan berebut membeli, kalau datang penjual mangga kweni atas nama pulau itu.


Tapi Syaffa curiga dengan misi pengiriman mangga dari tetangganya itu.


" Ini mungkin hanya modus...Mereka curiga dengan kami yang didalam berpasang- pasangan. " Kira hati Syaffa.


Syaffa dengan menggendong Zidan, berjalan menuju rumah pintu sebelah.


" Kak Imi...Kenapa repot- repot kasih mangga segala. " Katanya dengan senyum dibuat semanis mungkin.


" Itu dik Safa, semalam neneknya Zidan ngirim mangga sekardus dari pulau P, karna adik Safa dah datang pagi ini, dan kebetulan kita melihat ada tamu, jadi teringat saja mau bagi- bagi. " Ujar Imi.


Sedang Zidan dalam gendongan Syaffa, asyik memandangi wajah cantik Syaffana. Tanpa sengaja ia memainkan dagu Syaffa.


" Turunkan saja Zidan Sa...Tuh ia megang- megang wajahmu segala, masih kecil udah tahu mengagumi perempuan. " Sungut sang ibu.


Syaffa kembali tersenyum...Tak apa kak mi..Lagian ngak sakit juga kok. Soal tamu Syaffa, itu asistennya Abang, yang datang untuk mengantar motor dengan istrinya , sebab Abang mau balik, sekalian biar Syafa punya teman nginap disini. Sebentar lagi, habis makan bang Heri dan bang Syafir balik. " Jelas Syaffa tak mau tetangga instannya ini salah faham padanya.


" Abang kira siapa pula? habis wajah keduanya ngak ada yang senyum pas berpapasan dengan Abang tadi. " suami kak Imi menimpali.


" Kan benar! Ngepoin kita. " batin Syaffa.


" Mereka buru- buru bang, jarak 250 km hanya ditempuh dalam waktu 3 jam , habis mereka takut, akunya cepat membutuhkan kendaraan itu. " Ujar Syaffa.


" O begitu...Kalau soal motor sebenarnya bisa pinjam motor kakakmu juga. Ia kan jarang memakainya. " Kata Ayah Zidan sok baik.


" Ngak enak baru kenal langsung pinjam motor bang... Lagian sekalian biar ada kawan menginap. Oh ya kak..bang..makasih Kueninya, aku ajak Zidan kerumah ya, sekalian makan, aku juga ada masak Sop, biar kami makan bareng." Ucap Syaffa minta izin.


" Ya mak... pak...Idan Mau makan sama Tante antik." Celoteh Zidan.


" He...He...Boleh...Boleh..." Ujar Reimon


tersenyum geli melihat kegenitan putranya.


" Ayah kepo, putranya genit.." gumam Rohimi, tapi itu masih terdengar dikuping Syaffa yang sudah tiba dipintu kontrakannya dengan sikecil Zidan.


Syafa menyeringai mendengar ocehan Mak dari anak lelaki yang ada dalam gendongannya itu.


Melihat Syaffa kemeja makan dengan membawa Zidan, dan itu pun memakan waktu hampir lima menit, Syafir sudah faham, kalau istrinya baru saja habis membuat klarifikasi dengan tetangga.


Tanpa banyak tanya lagi, merekapun melanjutkan makan.


" Setelah duduk sebentar, kita balik Ri! aku tak mau sampai bertambah lagi utusan untuk mengintipin kita. " ujar Syafir dipenghujung suapannya.


" Oke Bos..." Jawab Heri patuh.


Sedang Sfafana tersenyum kecut, karna sebenarnya ia tak ingin jauh- jauh dari Syafir, apalagi disaat Syafir sedang Libur dengan IVennya. Tapi Syafir benar, ia harus menuntaskan terlebih dahulu urusannya dengan karyawan IOnya dan pekerja kebunnya.

__ADS_1


*****


Sementara dirumah besar Almarhum H.Azizan Ahmad. Suci yang sedang sibuk menyusun piring dirak piring, sehabis dicuci bibi, tak sengaja menjatuhkan gelas. Ketika ia mengutip pecahannya, tangannya terluka.


" Aww... Suci menjerit kecil menahan perih dan panik melihat darah yang langsung menetes.


" Sa- Saya sudah bilang tak usah nona yang kerjakan. Ini biar saya yang bersihkan " Ucap bibi itu terbata sembari membersihkan pecahan gelas itu.


Carolina datang menghampiri menantu barunya itu, diperiksanya jari suci yang terluka. Ia teringat batang talas yang ada dikulkas, yang kemarin ia bawa dari kebun belakang, iapun mengambilnya. Mama carolin memisahkan kulit Ari batang talas itu, lalu mengikatkan kulit Ari yang lebar dan memanjang itu, pada luka suci.


Issst...Suci meringis menahan pedih. Ingin protes tentu ia segan. Selain itu ibu mertuanya, ia juga lagi dirumah dan wilayah orang. Mau tidak mau ia harus patuh aturan nyonya rumah.


" Aneh bangat obatnya..Kampungan sekali, jangan sampai jariku busuk karna ini. " Batin Suci.


" Ini memang terlihat aneh Suci, tapi ini plaster paling aman, anti lengket, dan mengandung anti septik alami, getahnya yang mengatal untuk kulit biasa, tapi


obat mujarab untuk luka. " Jelas mama Elang yang membuat Suci merasa dikuliti.


" Maaf ma...Aku ceroboh, hingga menjatuhkan gelas. " Gumamnya lirih setelah tangannya terplester dengan plaster ajaib itu.


Carolina tersenyum, sembari mengusap keringat suci dengan sapu tangannya.


" Mama tak sempat menghadiri pernikahan kalian, sekarang saja gantinya mengusap keringat mantu." Canda mama Carolina.


" Ajaib ma...sudah terasa sejuk dibekas lukaku! " Seru Suci girang.


" Memang begitu, sebentar lagi plasternya mengering, dan lukanya akan menutup, darah takkan keluar lagi, kecuali kau gosok sama spon keras. " Canda orang tua itu lagi.


He...He...Kalau digosok keras pake spon, yang ngak luka juga bakal menggelupas. " Kekeh Suci.


Sudah habis jam makan siang, Elang belum juga kembali. Melihat kehangatan mama mertua, iapun memberanikan diri bertanya.


" Apa bang Elang biasa keluar tanpa izin, kalau lagi pulang kesini ma? " tanya Suci karna sudah tak kuat berfikir sendiri.


" Biasanya kalau keluar paling kegudang papanya, atau kalau nak Syaffana lagi liburan mereka berwisata kuliner berdua, dan biasanya izin mama dulu. " Jawab Carolina jujur. Begitu melihat wajah muram Suci, mama Carolin menyesali keceplosan nya.


" Maaf...mama tidak bermaksud membuatmu sedih suci, tapi memang itulah yang biasanya terjadi. Sebab Elang jarang pulang, pulang sesekali mereka akan menghabiskan waktu berjalan- jalan


sambil makan- makan, tapi hubungan mereka bersih, mereka hanya begitu, paling Syaffa akan mengajak Elang juga ketempat pesta, memoto pengantinnya, dan sampai dirumah dia akan meminta Elang untuk berjanji akan mengadakan pesta terbaik untuk pernikahan mereka. " Kenang Mama Carol.


" Elang akan berjanji didepan mama, meminta pendapatku, mama dan bang Zahran tentang konsep pesta paling mengesankan, kami akan menjawab sesuai ekspektasi masing- masing. Hingga saat mereka ingin mewujudkan cita- cita mereka , kau menghancurkan semuanya. " Mia yang baru datang kedapur menimpali.


_


_


Sepeninggal Syafir dan Heri, Syaffana dan Lin berbincang sebentar, kemudian mereka kekampung D dengan motor.


Melalui Sita istri Jaffar, ia mendapatkan semua info penting tentang pria yang bernama Gordon, pecundang dibalik kerusuhan jalan Alternatif dan kenyamanan karyawan PKS PT GJ.


Saat memasuki gerbang menuju tempat mangkal, Lin menghentikan motor sejenak.


" Apa aman kita kesini? " tanya Lin ragu.

__ADS_1


" Insya Allah Aman...Aku juga sudah meminta seseorang untuk memeriksa. " ujar Syaffa.


Gordon menyambut Syaffa dan Lin dengan senyum lebar, begitu mereka sampai didepan Kafe remang- remang yang ada dikaki bukit.


" Ini Tanah Abang semua? Wah indah sekali pemandangan disini." Puji Syaffa sembari mengajak pria sebaya Zahran itu


berfhoto.


Setelah mengambil beberapa fhoto tempat wisata lokal milik Gordon, merekapun disuguhkan minum.


Syaffa cepat mengeluarkan minuman dari tas sandangnya.


" Kami gadis- gadis kecil, belum kuat minum yang begituan bang." Ujarnya sedikit manja.


Karna sudah tahu seluk beluk pria itu, kesenangan dan kelemahannya, Syaffa tidak sulit untuk akrab dengan pria itu.


Bermula dari pura- pura ingin mencari tanah perkebunan, Syaffa dan Lin membuka percakapan hangat dengan pria Licin yang terkenal makelar tanah itu.


Kedua wanita cantik dengan persi yang berbeda itu, berhasil menghipnotis Gordon.


" Kalau boleh meminta, sebagai orang hebat kampung ini, Abang tentu bisa membawakan pemuda dan tokoh kampung untuk bernegosiasi kembali dengan pihak perusahaan dengan baik- baik. Bukannya apa bang...Calon suami saya Bang Anto hampir celaka karna aksi demo brutal warga. " ucap Lin sedikit memelas.


Ha...ha..."Jadi polisi itu calon suami dik lili? " Tanya Gordon terdengar tanpa dosa.


Lin mengangguk memelas.


" Kalau saya beli tanah melalui bang Gor, saya tak mau, seperti tanah jalan itu juga, setelah transaksi, malah ada pihak yang tidak senang. " Rengek Syaffa pula.


" Dik Lila tenang saja, itu juga takkan terjadi kalau pihak PT memberi kami preman sedikit jalan cari makan disana, ini mentang tanah sudah ganti rugi, tak peduli lagi dengan permohonan kecil kita . " Curhat bang Gordon.


" Itulah...Pihak PT juga harus tahu diri, bagaimanapu juga mereka berusaha diatas tanah Ulayat kita, tapi kita juga harus bernegosiasi dengan cantik bang...Jangan kasih cacat nama Abang sebagai tokoh muda terkemuka, sekaligus Calo terkenal sekabupaten ini." Ujar Syaffa sembari menatap Gordon dengan tatapan Penuh simpatik.


" Tenanglah...Pasti akan segera Abang atur, apa adik berdua mau dicarikan Calon suami juga? Disini banyak Juragan Sawit yang DUREN legit lho. " Goda bang Gor.


" Semua dicalo in??? He...He...


Mereka semua tergelak.


" Ogah ah sama Duren!!! Maunya PEKA !!! Seru kedua gadis itu serentak.


Ha...ha...Apa tu PEKA? Tanya bang Gor


penasaran.


" Ya perjaka Kayalah !!! Kalau perjaka kan, ngak diburu sama mantan yang belum Move on. " Ucap mereka masih bersamaan.


" Ha...ha... Dik lili sama Lila memang luar biasa, sama cantik, kompak dan menyenangkan. " puji Gordon senang.


Setelah puas berbincang, merekapun diantar bang Gordon sampai digerbang.


Begitu sampai dibelokan, arah -jalan raya , jalanan sedikit becek. Syaffa turun dari boncengan. Baru melangkah dua langkah.


" Safa! " ujar seseorang dengan suara lantang.

__ADS_1


Kemudian sepasang tangan kokoh mencekal pergelangan Syafa, sebelum ia menyadari siapa sipenegur.


" Mengapa kau kesini? Lepaskan tanganku! tak ada lagi urusan kita ! " Ujar Syaffa sembari mengibaskan tangannya dengan kasar dan menatap pria didepannya penuh kebencian.


__ADS_2