Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Kejutan.


__ADS_3

Akhirnya Setelah seminggu penuh berfikir, tibalah saatnya Syafir dan Syaffana membuat keputusan. Syafir meminta Bi Rima memanggil Suci yang sedang memijiti Elang dikamar, karna Elang kecapean habis balik dari kota S sore ini.


Mula - mula Elang meminta suci memijiti kepala, tangan, lalu kali. Setelah kedua kaki Elang mengeluh kepanasan dan membuka baju, singlet dan celana. Tubuh Elang yang berbalut tinggal hanya menara dipusat kota.


Suci melanjutkan pijatannya, sedang Elang sesekali balas memijat suci tapi tentu saja didaerah yang ia suka saja.


Tak urung acara pijit- pijat makin seru sebab berubah jadi pijat Plus- plus, karna pijatan Suci menghidupkan serene menara, hingga menara Elang menggeliat dan mengeras dibawah sana. Apalagi Suci sudah mengelus perut kotak- kotak suaminya, tempat paling Faforit Suci melabuhkan tangannya selama ini.


Suci yang selalu mengagumi dada dan perut suaminya,Seolah ingin menguasai isi didalam dada itu. Yakni hati yang sudah Suci rebut dari Cinta pertama Elang, dan selanjutnya Suci hanya ingin dirinya sajalah yang terukir disana sampai akhir hidup Elang. Memang terdengar sangat sombong dan Egois, tapi mau gimana lagi nasi sudah jadi bubur, tinggal tambahin gula dan santan biar enak.


Toh Elang sudah menjadi pasangan Suci. Dan syaffanapun telah berbahagia dan punya anak lima dengan suaminya. Sedikitpun tak ada lagi celah untuk Elang masuk kehati Syaffana yang sudah diisi penuh oleh Syafir.


Elang menarik tangan Suci untuk menyentuh sesuatu yang keras dibalik boxer warna Krem bermerek Buaya. Tapi jangan salah, walau merek pembungkus itu crocodile, tapi isi didalamnya belum pernah sekalipun diperlihatkan kepada selain Lima orang saja didunia ini. Jadi isinya sangat bukan Buaya.Hayo tebak, siapa lima orang yang sudah pernah melihat senjata Elang...Jangan salah tebak ya Gays...Salah tebak fitnah lho...😀


" Ia minta dipijit sayang...Katanya kepalanya pusing." Ucap Elang dengan senyum nakal seraya melorotkan boxer itu.Suci juga ikut tersenyum melihat suaminya dengan santai menunjukkan tubuh polosnya pada sang istri.Tujuh tahun berumah tangga, membuat keduanya tidak menutupi apapun lagi dari pasangan, baik Zohir maupun batin.


Suci dengan patuh memenuhi permintaan Elang, memijit kepala sibotak.


Elang tentu tidak akan tinggal diam, iapun turut memijit dan meremas balik tubuh didepannya.


Sementara Suci memijit sibotak, Elang melucuti istrinya, kemudian bergelayut manja pada Sikembar.


Sikembar ia usap puncuknya bergantian, lalu mencium, memijat lalu mengesap mereka dengan penuh hasrat. Elang sudah seperti bayi tujuh bulanan yang sedang gencar bermain susu. Elang ganti- ganti memompong Sikembar, membuat siempunya men*desah dan menggigil karna gairah, hingga Suci semakin gencar pula memainkan sibotak.


" Ahhh....Ahhhh...


Suara merdu Suci semakin membuat Elang makin kehausan.


Nafas keduanya sudah sama- sama tak beraturan.


Dan tatapan mereka berangsur menjadi sayu.


" Awas kau botak! Bakal kujitak- jitak manis kepalamu ini, hingga puyeng tak tahan lagi lalu jatuh terjerembab." Geram penuh hasrat Suci terus mengambil salivanya untuk memandikan kepala botak yang juga sudah mengeluarkan titik keringat licin.


Benar saja, baru beberapa kali Suci menjitak manja kepala botak sembari memijitnya. Elang sudah memutar tubuh istrinya hingga berada dibawah kungkungannya.


Kepala sibotak terangguk- angguk , lalu tersungkur, melesat terjun kesarangnya.Tapi anehnya sibotak makin tegab begitu terjun. Sibotak makin gagah dan perkasa, apalagi mendapat pijitan hangat dari dalam gua ajaib itu.


Suci menggigit bibirnya. Matanya meram melek dengan dada yang membusung ketika suaminya sudahmemompanya dengan Ritme sedang.


Elang melihat istrinya sangat cantik malam ini. Ia menghujam Suci makin gencar, sambil sesekali mengesap Sikembar kanan kiri tatkala ia merasa haus.


Suci yang juga melihat Elang semakin tampan kali ini tak mau kalah. Dari bawah sana bergoyang nasi Padang dengan riang.


Deru nafas, suara desah dan jeritan kecil penuh birahi membuat ruang tidur itu terasa panas. Aroma percintaan yang kental memenuhi ruangan.


Ketukan dipintu sejenak menghentikan aktifitas panas suami istri itu.Namun itu tidak berlangsung lama, selama sepuluh hari sejak berduka baru kali ini sempat menjelajahi lembah ajaibnya. Elang tak mau berhenti begitu saja. Detik berikutnya Elang kembali menghujam Suci lebih cepat lagi.


Sedang Suci yang memang merasa tanggung meneruskan olahraga tiarap kasur mereka Dengan sigap mengganti goyangannya dengan goyang gergaji, agar mereka berdua secepatnya ke


Nirwana bersama.


Sebenarnya Suci sudah mencapai pelepasan sekali. Tapi Elang belum, ia tak mau mengabaikan kepuasan suaminya. Suci terus bergoyang menyambut hujaman Elang yang semakin gencar.

__ADS_1


Lenguhan panjang keduanya bersahutan menuntaskan penyatuan berdurasi 30 menit itu.


Sementara Bi Rima mendengus capek didepan pintu Pangantin usang yang berasa pengantin baru itu." Cik, ngapain sih mereka? Kalau lagi sholat pasti terdengar suara nak Elang.Atau lagi bikin anak? kalau lagi nganu pasti berisik.Ih...! Mikir apa sih aku. Bi Rima ngomel sendiri sembarimenggaruk kepalanya yang tiba- tiba gatal.


Akhirnya Bi Rima berbalik,memutuskan untuk pergi, karna merasa konyol berlama- lama didepan kamar orang.Namun sebelum orang tua itu melangkah ia menyampaikan pesan Syafir dengan suara keras, berharap pasangan itu mendengarnya, karna sebenarnya Jam baru menunjukkan pukul 21:00, belum waktunya tidur untuk orang yang berkumpul dirumah keluarga besar begini.


" Nak Suci...Nak Elang...Kalau masih bangun dan mendengar suara bibi, kalian keluar sebentar lagi ya! Kalian ditunggu nak Syafir dan Syaffana diruang keluarga. " Ujar Bi Rima, lalu beranjak dari situ menuju ruang keluarga yang disana juga paman Suardi suaminya.


Andai kamar Elang tidak dilengkapi fasilitas kedap suara, tentu bibi Rahmi tidak akan menunggu lama disana, karna telinganya tidak akan tahan mendengar De*sahan dua insan yang sedang bergumul diranjang itu.


Diidalam, Elang dan Suci melemas setelah mencapai puncak. Mendengar ucapan bi Rahmi, mata Suci membola.


" Bang! Kita dipanggil Syafir, tentang keputusan mereka! " Ujar suci sedikit berteriak sembari mendorong tubuh Elang yang masih betah berada diatas nya dengan kepala tenggelam diceruk leher jenjangnya Suci.


Elang yang terlelap dalam diri istrinya terkejut dengan teriakan dan dorongan Suci.


" Sayang? Ada apa mengasari suami sendiri? " tanya Elang setelah membuka mata disisi kanan Suci. Karna tertidur Elang tak mendengar suara bibi Rahmi.


" Kita ditunggu Syafir dan Syaffana diruang keluarga. " Jawab Suci, kemudian duduk, mengambil selimut untuk membalut tubuhnya, lalu berjalan kekamar mandi.


" Apa? Anak? Oh....anak...Semoga mereka bermurah hati." Ucap senang Elang.


Elang segera mengutipi pakaiannya, dan memakai baju dan celana tidur itu tanpa dalaman. Lalu menyusul Suci kekamar mandi.


______________


Keduanya sampai diruang kekuarga setelah berbenah selama lima menit. Melihat disana sudah berkumpul ramai. Bukan hanya Syaffa, Syafir, bibi Rima, paman Suardi saja. Disini ada Susi, Andrea juga pengacara keluarga Ahmad.


Melihat pengacara dengan asistennya sudah siap dengan setumpuk dokumen, mendadak Elang dan Suci menjadi gugup.


Deg


Deg


" Duduklah bang...Kami sudah begitu lama menanti kalian." Ucap Syafir memecah keheningan sejenak itu.


" Iya...Lelet amat sih kamu Lang! Jangan- jangan lagi nanggung main kuda- kudaan tuh, hingga bibi nyampe pegal nunggu didepan pintu. " Serocos Susi yang seperti biasa suka tak berbandrol kalau sudah mengggoda Elang.


Deg...


Elang dan Suci makin membeku.Sedang Andrea menatap tajam Susi, membuat bibir Susi mengerucut.Sedang yang lain senyum- senyum dikulum, selain Syaffa, Suci , dan Elang.


" Mhem...Anak- anak pada kemana? " Tanya Elang berupaya menutupi kegugupannya.


" Mereka semua berada dikamar masing- masing, sedang Twins Baby sedang dengan pengasuhnya. " Jawab Syafir.


" Eh ..Iya maaf semua, kami lama, habis saya ketiduran akibat lelah perjalanan. Sedang istriku lagi ibadah Sunnah." Ucap Elang menyampaikan alibi seraya menarik lembut Suci melangkah bersama menuju Sofa yang masih kosong.


Ruang keluarga yang luas ini dilengkapi dengan tiga set Sofa Jepara. Jadi walau semua berkumpul, masih ada tempat duduk. Syafir yang memperbanyak Sofa dengan harga lumayan itu agar bisa menampung semua anggota keluarga besar.


Sukup lama keheningan menguasai seisi ruangan begitu Elang dan Suci telah duduk.


Suci memberanikan diri menatap Syaffana yang menunduk dengan bibir bergetar. " Kasihan Syaffa sebelumnya, tujuh tahun yang lalu ia dengan terpaksa melepas Elang untukku, sekarang putrinya pula. " Batin Suci tak tega.

__ADS_1


" Setelah kami pertimbangkan berdua, akhirnya kami memutuskan__ " Syaffa terdiam mendengar suara orang mau muntah.


Hue...Huek...


Tiba- tiba Ucapan Syaffa terhenti mencari asal suara orang ingin muntah itu.


" Ada apa sayang?" Tanya Elang mengernyit melihat istrinya menutup mulut karna menahan suara mual.


Tidak ada jawaban dari suci, karna detik berikutnya wanita itu sudah memegang kepalanya lalu jatuh pingsan dipangkuan Elang.


Semua perhatian teralihkan pada Suci.Dokter Susi yang tadi cemberut segera menghampiri Elang dan Suci.


" Cepat Bawa istrimu kekamar bibi, biar kuperiksa! " Ujar Susi dengan nada perintah.


Tanpa bicara lagi, Elang membawa istrinya dengan menggendongnya kekamar sang Ibu.


" Kamu keluar dulu! Titah dokter sekaligus ipar itu setelah Suci dibaringkan Elang dikasur.


Dokter Susi memeriksa Suci, mengambil darahnya untuk sample.


Selama sepuluh menit Susi menangani pasien dadakannya itu.Setelah melakukan beberapa tindakan, Sucipun akhirnya membuka mata.


Susi tersenyum menatap Suci.


" Kak...Aku kenapa? " Tanya Suci bingung mendapatidirinya bersama dengan dokter Susi yang sedang tersenyum padanya dikamar Almarhum mama mertua.


" Kamu beruntung Suci! Kamu hamil lagi! " Ucap Dokter Susi yang membuat Suci sontak meraba perutnya dengan pelipis masih mengerut.


" Dua Minggu! Jangan bingung, aku sengaja selalu membawa alat tes darah ditasku kemanapun aku pergi karna ingin mencek kehamilanku setiap waktu. Aku berharap segera hamil dan terdeteksi sejak dini.Tapi aku belum beruntung, kau dan Elanglah yang hoki dengan alat dan Laboratorium kelilingku ini." Ungkap SuSi panjang lebar.


Rasanya Suci ingin menjerit karna senang, bagaimana tidak, setelah hamil dua kali, ia tak pernah telat lagi, bahkan program inseminasi juga sudah dilakukan berkali gagal.


" Teriak saja biar semua yang diluar dengar! "


Suci benar- benar mematuhi ipar suaminya ini.


" Aku hamil alami!!! " Teriak Suci mengejutkan semua orang.


Semua yang mendengar terkejut. Apalagi Elang.


" Percintaan malam itu, membuahikah?" batin Elang hampir tak percaya, namun tanpa sadar ia menitikkan airmata, teringat sang mama.


" Mama...Mungkinkah aku akan menjadi ayah sungguhan. " Ucapnya dengan bergumam.


Anggota keluarga bergegas menuju kamar terkecuali Elang.


Elang yang tersintak dari lamunan akibat sentuhan paman Aswardi dipundaknya bergegas menuju kamar, hingga kedua kakinya hampir tak menapak karna ingin cepat kesamping sang istri.


" Kita bagaimana?"Tanya asisten pak pengacara karna merasa ditinggal begitu saja.


" Sepertinya kita kembali dulu sekarang. Biarkan anak- anak sahabatku bersuka cita dengan kejutan ini." Ucap sang pengacara sembari melangkah dengan tersenyum lebar.


" Pak...Ini kosong dong..." Rengek sang Asisten.

__ADS_1


" Kau diamlah dan benahi semua, Nak Syafir tidak pernah lupa denganku Imal, ia pasti akan memberikan yang lebih untuk rasa syukur ini."


Imal sang asisten yang kurang mengerti terpaksa diam dan berbenah, lalu mengikuti sang Bos untuk pulang.


__ADS_2