Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Gawat!


__ADS_3

Setiba dirumah sakit, dr. Susi langsung mengurus agar mama Carolina secepatnya ditangani oleh Ahlinya.


Syafir boleh berbangga memiliki sepupu cantik seorang dokter kali ini. Tidak perlu lagi bagi Syafir yang tak tahu apa- apa tentang rumah sakit, harus tanya sana - sini untuk urusan berobat mamanya.


Susi dengan penuh semangat mengurus semuanya, mulai dari pendaftaran, cek darah dan konsultasi dengan ahli syaraf.


" Kau boleh beristirahat Syafir, kasihan lebih banyak menyetir ketimbang dia. Soal bibi biar kami yang urus. " Ujar Susi begitu mereka tiba dirumah sakit.


Mengingat Paribannya menjadi hangat, karna bersama orang yang dihati, Syafir merasa Idenya cukup brilian.


Syafir mengangguk patuh dan menyerahkan semua pada ahlinya." Untuk urusan ADM bang Andre yang akan mengurusnya ya. ,"ujarnya.


" Oke! Jawab pria muda itu dengan wajah cerah.


Sebelum memutuskan untuk istirahat dimobil, Syafir sempat juga menggoda iparnya itu.


" Jadi sekarang panggil dia ya? He...He...Emang sudah sepakat buat jadian nih ceritanya." Tanya Syafir sembari mengerjap nakal pada Asisten dan iparnya bergantian.


Susi tersipu malu, ia dengan cepat menarik Syafir menjauh, meninggalkan mama dan pria tampan itu tersenyum santai.


" Hey...Bocah nakal! Darimana kau tahu aku suka pada Andrea? Kusuruh istirahat, malah sengaja menggodaku pula. " Ujar Susi sembari mencubit pinggang Syafir dengan kesal.


" Enak aja ngatain aku Bocil. Sudah punya


istri ni! Ntar lagi bakal jadi ayah juga! " Sanggah Syafir melangkah menjauhi Ipar cantiknya yang lagi penasaran dengan memasang wajah sewot.


Secepat kilat, Susi menarik keras tangan Syafir untuk kembali.


" Sakit Kakak! cengkraman tanganmu seperti lelaki, belum lagi lidahmu yang tajam, pantas bang Elang tak tertarik padamu. " Sungut Syafir sembari meniupi pergelangan tangannya bekas cekalan Susi.


" Kalau diadukan, kau bisa terkena kasus KDBS , adik bukannya disayang malah dikasarin. " Sungut Syafir.


" Sory...Tak sengaja, menyakiti calon ayah. " Ucap sesal Susi . Ia melongok tangan Syafir dan ingin memeriksanya, tapi Syafir mengelak dengan cepat.


" Tak usah...Apa gunanya disayang setelah diterjang. " Sindir Syafir.


" Sensi Amat sih...Kayak ibu- ibu lagi hamil muda." Goda Susi.


" Aku-


Syafir terdiam, tiba- tiba ia merasakan kepalanya berdenyut.


Wajah Syafir memucat, perutnya terasa mual. Detik berikutnya ia tak tahan lagi dan segera berlari mencari kamar mandi.


" Syafir...Syafir.... Kenapa!!! Tanya Susi cemas dengan berteriak.


" Urus mama segera, aku mabuk dan mual dengan bau rumah sakit ini!!! " Balas Syafir sebelum menutup pintu.


" Sejak kapan tuh Bayi besar pemabuk gitu? " Tanya lirih Susi mengernyitkan dahi.


" Huek...Huek...Huek...Berkali- kali Syafir mencoba memuntahkan isi perutnya yang seperti teraduk- aduk. Namun tak ada yang bisa ia muntahkan selain air.


Setelah mencuci mulut dan mukanya, iapun keluar.


Menemukan Susi yang berdiri didepan kamar mandi dengan wajah khawatir, Syafir mencoba tersenyum.

__ADS_1


" Kenapa menungguiku dipintu, tidak sempat mengintip dari lubang hendle yang ada bolongan kecilnya itukan? " tanya Syafir, reflek mendapat jitakan


dari kakak sepupu.


" Kan...masih saja kau menganiayaku, lama- lama begini aku akan mengajukan pengaduan. " Keluh Syafir dengan tatapan disendukan.


" Habis kamunya sembarang nuduh sih..Aku hanya takut kau pingsan didalam


Oneng...Walau terlihat kasar, aku tak mau


sampai terjadi apa- apa padamu." Ujar Susi sembari menepuk pundak Syafir.


Kali ini tepukannya cukup meredakan pusing Syafir. " Aku akan minta Calon suamimu menepuk punggung dan pundakku, barang kali aku masuk angin, makanya kepala berat dan perut mual. " Ujar Syafir berjalan cepat mencari Andre.


" Ini rumah sakit, banyak dokter dan aku juga, malah kau cari tukang Urut. Ih...Benar- benar langka ni orang. Susi mencibir sembari melangkah tegap menyeimbangkan langkah Syafir.


" Kenapa? Belum apa - apa sudah cemburu, aku sudah punya istri dan dia pria sejati. Jangan khawatir, aku hanya kurang suka jarum suntik. " Jelas Syafir.


" He...He...Bagaimana ada lelaki takut jarum suntik. Selama ini kalau sakit gimana ? "


" Paling minum obat, diresep sama pak Rahmat, aku hanya disuntik pas Sunatan kak, setelah itu hanya berobat tradisional. " Ujar Syafir membuat Susi geleng- geleng kepala.


" Kalau banyak orang sepertimu, rumah sakit pasti sepi. "


" Makanya niat jadi dokter jangan buat cari uang, kalau sekedar cari uang mending jadi artis saja. " Ujar Sewot Syafir.


" Kan ngegas lagi...Benar- benar hamil nih


Syaffana, siapa tahu karna Ayah cabang bayi kecewean, jadi ngidamnya tukaran. Istilahnya disebut Syindrom Cavide ( Kehamilan simpatik).


" Jangan menyampaikan spekulasi sebelum melakukan pemeriksaan, ilmumu itu ilmu pasti bukan tebak- tebakan kakak! " Nasehat Syafir dengan nada sensi.


Kalau begitu tak apa, biar kerjanya tak terganggu dengan kehadiran calon babby


kami. " Batin Syafir sembari membayangkan wajah cantik Syaffana.


" Ini anak sudah nyolot melamun." kesal Susi tak sengaja


menyikut Syafir.


" Syafir yang kurang fokus karna fikirannya sedang berkelana ke Syaffana tak sempat berkelit.


" Aduh!!! Korban terus aku! Aku mengurungkan niatku untuk melamarmu untuk asistenku itu, Abangku mungkin juga tak bisa fall in love padamu, karna kekasaranmu ini " Sungut Syafir dengan wajah memelas.


" Kalau abangmu memang ngak cocok denganku adik...Dia banyak omong sepertiku, jadi takut menghabiskan kebersamaan hanya dengan berdebat saja. Aku suka pria yang lebih kalem seperti asistenmu itu, dari sejak zaman sekolahan aku menaksirnya. " Ujar Susi keceplosan.


" Benarkah??? Kanapa tidak berikan signal biar kutahu, tahu begitu, sejak lama kulamar Susi. " Ujar Andrea dengan suara beratnya sudah berada didepan mereka.


Susi terdiam dengan pipi memerah. Saking sengit melawan Syafir, ia tak melihat kedatangan Andre.


" Mantap! Nampaknya aku tak perlu susah payah kak...Pemilik hatimu sudah mendengarkan dan mengemas langsung pernyataan cintamu. " Ujar Syafir sembari


melangkah melewati lobi, memberi kesempatan pada Susi dan Andrea kembali berdua.


" Cepatlah selesaikan urusan pengobatan

__ADS_1


mama, kalau dinyatakan aman oleh ahlinya, biar urusan kalian kita selesaikan


pula, orang dewasa tak boleh lama-lama berpacaran, kalau sudah merasa pas langsung cari hari baik bulan baik. Urusan pacaran lanjut setelah nikah." Ujar


Syafir sebentar menahan langkah.


" Yang udah nikah berani bacot ya? coba dulu, palingan cuma cengar- cengir lihat orang pacaran. " Balas Andrea melihat pipi susi memerah.


Detik berikutnya Andrea sudah menggamit tangan Susi. Tidak disangka tangan itu begitu dingin, padahal selama ini ia memandang wanita itu begitu kuat.


" Bisa gugup juga dia ya.." Batin Andrea.


Andre semakin mengeratkan genggamnya, berjalan santai melanjutkan pengurusan pengobatan mama Carolina.


Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata benturan ditulang ekor yang menyebabkan tubuh mama carolina mengalami shok, hingga ia mengalami stroke sementara.


Hasil ronsen mengatakan ada cedera kecil pada tulang tersebut. Yang Syafir heran, selama ini mamanya tidak pernah terlelap dalam keadaan bekerja. Untuk itu Syafir meminta cek darah untuk sang mama.


" Bisakah hasil lap mama dipercepat keluar kak, jangan sampai seminggu. " Pinta Syafir mendesak Susi.


" Aku tak mau bermalam disini, aku mau pulang. " Sela mama Carolina.


" Ya Tante...Kita akan pulang, soal hasil Lap, teman saya yang dilabor sudah berjanji akan mengirim hasilnya kerumah Susi begitu keluar. " Jelas Susi melihat tantenya yang terlihat tidak nyaman dirumah sakit.


" Gitu dong...Itu baru Parumaen ( Mantu ) baik, ngerti perasaan Bou! ( Tante )" Ujar mama dengan wajah berbinar.


Sebenarnya Syafir masih ingin mamanya dirawat, tapi mama tak mau apa boleh buat.


Akhirnya mereka pulang, dan sampai dikediaman keluarga menjelang pagi.


" Gawat! Nyonya tolong maafkan saya...Bibi Rahmi pergi dan tak balik sampai sekarang. " ucap pak Satpam dengan wajah cemas.


Deg


Tiba - tiba perasaan mama Carolina tak anak.


Carolina meremas tangan putranya dengan wajah cemas.


" Bagaimana ia pergi Om Jhon. " tanya Syafir.


" Maaf tuan muda, dia pergi bawa tas besar, tapi saya lupa periksa, Karena ada hubungan saudara saya tidak merasa curiga, setelah tidak balik lagi, baru saya menyesal, maaf... Saya bersedia dihukum atas keteledoran ini." Ujar Jhon dengan wajah sesal.


Syafir segera melajukan mobil memasuki pekarangan.


Syafir memaksa menggendong mama kedalam. " Astaga...ternyata sudah benar- benar kuat anak mama. " Ujar Carolina hampir tak percaya dalam gendongan putra yang selama ini dikiranya lemah.


Begitu sampai dikamar, mama didudukkan bersandar dihead board dengan hati- hari.


" Nanti dipesankan kursi roda buat mama . " Gumam Syafir.


" Periksa kotak perhiasan mama! " Titah Carolina.


Belum sampai Syafir melangkah, mata jeli Carolina sudah menemukan kotak perhiasannya tergeletak dilantai sisi lemari dalam keadaan terbuka dan kosong.


" Ternyata dia mengincar 100 mas ku..." ucapnya lirih dengan airmata yang mulai mengucur.

__ADS_1


" Mama...Sudahlah...jangan menangis, nanti Syafir gantikan perhiasan mama. Syafir tak mau sakit mama bertambah memikirkan itu. " Ujar Syafir dengan tatapan memohon.


" Bukan soal harta itu nak...Penghianatan nya yang menyakitkan mama." Ucap mama menerawang.


__ADS_2