Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Hari Sudah Senja!


__ADS_3

Pria itu dengan terpaksa melepas cekalannya, melihat tatapan membunuh mantan kekasih, hatinya mengecil, ia teringat kembali akan kesalahannya.


" Bang! " Teriak Linlin dengan mata membulat, melihat Elang menyentuh tangan Syaffana.


Lin sampai tak sengaja melepas pegangan dari motor metik itu.


Hingga motor itu tergolek.


" Busyest deh !!! Bisa dipaksa menganti rugi aku pada si CILIT, kalau sampe lecet nih motor, sedang akunya baik- baik saja. " Gumamnya sembari memeriksa dan memarkir Motor itu dipinggir jalan.


Elang menatap Lin lebih terkejut lagi. " A-pa hubunganmu dengan Syaffa Lin? " tanyanya terbata.


" Astaga...Gimana ini? kenapa aku bergetar begini, lebih menakutkan ketimbang mau menemui bos preman tadi, " Ringis hati Lin.


Sedang Syaffa mengernyit, ketika Lin memanggil Elang dengan panggilan Abang.


Ketiga orang itu sejenak saling menatap dengan pandangan bingung.


Lin berfikir mengapa Elang menemui Syaffa, dan melihat tatapan penuh kemarahan dari Syaffa, Lin faham sekarang. Elang yang dikatakan Syaffa malam itu, adalah Abang mereka yang ini.


" Ayo naik lagi!!! " perintah Lin pada Syaffa.


Syaffa menurut melihat wajah Lin yang terlihat berwarna-warni. He...He...Jangan bayangin pelangi ya.


" Linlin!!! Aku masih ingin bicara dengannya. " teriak Elang ketika motor Lin melaju seperti kesetanan.


Lin tidak peduli dengan suara pria itu, ia ingin segera membawa Syaffana kembali


kekontrakan.


_


_


Bukan Elang namanya, kalau tidak berhasil menemukan kontrakan kedua perempuan itu.


Baru saja Lin menarik Syaffa kekamar. Elang sudah tiba didepan pintu.


Lin menyudutkan Syaffa ditembok kamar, mengungkungnya dengan tatapan menghujam.


" Gimana menurutmu pernikahanmu dengan sahabatku? Apa bahagia?


Sudah malam pertama? Kalau kau menemukan kekecewaan dihatimu, apakah kau berniat meninggalkannya? " tanya Lin memburu.


" Lin! Lihatlah dirimu!

__ADS_1


Tatapanmu, bahkan lebih mengerikan dari Reskrim Yang sedang menyidik tersangka kriminal. Seharusnya aku yang berhak marah , tapi mengapa kau yang seperti kesetanan setelah melihat pria itu? " Syaffa balik bertanya sembari menantang mata Lin.


" Aku takut hatimu berubah setelah tahu siapa sahabatku. Aku tak mau temanku itu sampai terpuruk disaat ia baru memulai jalannya. Syaffa! Berjanjilah kau akan tetap meneruskan perasaanmu padanya, setelah kau tahu siapa dia. Dalam hal ini ia tak tahu apa- apa. Yang ia tahu, ia hanya ingin menghapus air matamu dimalam itu. " Ujar Lin sembari menatap Syaffa dengan tatapan mulai melembut.


" Apa maksudmu Lin? Apa hubungan suamiku dengan pria itu? " tanya Syaffa dengan dada berdebar.


Ketukan berulang terdengar dari pintu depan. Lin kembali menatap Syaffa dengan pandangan mengintimidasi.


" Berjanjilah kau tidak akan mengacaukan hati Syafir, setelah mengetahui fakta yang selama ini tidak kita ketahui. " Ujar Linlin sembari mengulurkan tangannya pada Syaffana.


" Aku pasti mengacaukan hatinya Lin! Kalau hatinya biasa- biasa saja terhadapku, itu artinya aku tak ngaruh dalam hidupnya. Istri mana yang tak ingin berpengaruh dalam hidup suaminya? " tanya balik Syaffa mencoba bercanda.


" Aku serius Sa...Kau seorang polisi, tak boleh mendakwa seorang sebelum melakukan penyelidikan.


" Kau lucu sekali Lin...Katakan saja intinya, aku pasti akan menyelidiki perkaranya, apalagi itu menyangkut diriku. Aku takkan gegabah lagi. "


" Janji? " tanya Lin penuh penekanan.


" Janji!" Seru Syaffa mantap.


Lin mengeluarkan pena dan buku dari tasnya, yang ia simpan dilemari fasilitas kontrakan Syaffa.


" Sekarang tulis janjimu dan tanda tangani lah! " Ucap Lin bernada perintah.


" Kau ini, Selalu menantang ku dengan perjanjian! Tak perlu tertulis untuk hubungan perasaan Lin, kalau hati sudah terikat, ragapun akan menurut. Aku tahu kau begitu menyayangi suamiku, dan kau tak mau kejadian dirimu terjadi padanya bukan? Tapi kita sesama perempuan, dalam hal perpisahan, kitalah yang paling


Lin menarik nafas sedikit lega.


" Kalau begitu, bukakan pintu, masih ada waktu 40 menit menjelang magrib, bicaralah dengannya, dari pada warga nanti makin heran dengan keberadaannya terlalu lama didepan rumah kita. " Ucap Lin.


" Masalah tadi? kenapa kau malah memintaku untuk menemui penjahat itu? " Tanya Syaffa geram.


" Bukankah kau sudah berjanji akan menerapkan azas praduga tak bersalah terhadap dakwaanmu Syaffa? " tanya balik Lin.


Syaffa menarik nafas, dan membuangnya dengan kasar, kemudian ia mengangguk.


" Baiklah...Aku akan menekan kemarahanku." janji Syaffa.


Tanpa diminta, Lin menemani Syaffana membukakan pintu.


" Aku sudah menikah, walau calonku melarikan diri dimalam pernikahanku, ada pria lain yang merelakan diri untuk menutupi Maluku, sekarang suamiku tak disini, sebenarnya aku tak boleh menerima tamu, tapi Lin mau menjadi saksi atasmu, masuklah, tak baik bicara diluar! kuberi waktu sepuluh menit! Tapi awas jangan menyentuhku lagi, aku sudah ada yang punya! " Ujar tegas Syaffana.


" Baiklah...Lirih Elang, kemudian masuk


dan duduk disofa. Sedang Syaffa dan Lin tetap berdiri.

__ADS_1


" Tentu ia mau menikahimu dik...Karna pria itu mungkin kekasih cadanganmu..." ucap Elang yang membuat wajah Syaffana memerah karna marah, ingin rasanya ia menampar mulut Elang yang sudah bicara keterlaluan menurutnya.


Lin menatap Syaffa dengan tatapan peringatan.


Syaffa menggigit bibir bawahnya menahan kesal.


" Dia menikahiku karna kasihan, ia lelaki punya hati dan tak tega melihat perempuan tersakiti, beda dengan dirimu yang sengaja menghancurkan hati perempuan, mencoreng arang dikening orang tuanya, sanak saudaranya! " Ujar marah Syaffana. Ya hanya kemarahan, tak ada kesedihan dari raut wajah


cantik itu.


Elang mencuri pandang kearah wajah merah menahan marah itu, hatinya mengecil tatkala gadis itu tak terlihat menitikkan airmata sedikitpun.


" Maafkan aku dik...aku tak pernah berniat untuk tidak kembali dimalam itu. Tapi apa daya, Abang terpaksa menikahi


anak bapak wali karna-.


" Stop! Waktumu sudah habis! Ini wilayah orang, aku disini untuk pekerjaanku, tak ingin kau mengacaukan pekerjaanku juga, aku tak butuh alasanmu, yang jelas kita sudah sama- sama menikah, cintai jodoh masing- masing! " Ujar Syaffa memotong pembicaraan Elang, sembari melangkah cepat kekamarnya.


Bar!!! Syaffa menghempaskan pintu kayu itu. Lin sampai terlonjak kaget karnanya.


" Perempuan mana yang tak marah pada pria yang sudah lari dimalam pernikahannya, setelah ada pria yang mau menutupi malu gadisnya, dengan tega dituduh pula kekasih Cadangannya ? " Tanya Lin dengan tatapan menguliti wajah Elang.


" Jadi siapa lelaki itu Lin? Mengapa banyak yang mengatakan Syaffana terlihat sangat bahagia ketika bersanding dengannya? " tanya balik Elang.


Ketika Lin masih berfikir bagaimana menjelaskan pada Elang. Terdengar bunyi notifikasi pesan di HP Elang.


" Kenapa Syafir mentransfer uang 200 Juta untukku Lin? " tanya bingung Elang.


" Karna ia terlalu baik! Ia tidak mau memakan uangmu! Syafir yang sudah menikahi calon istrimu bang...Saat kekacauan acara menuju puncaknya, ia menaiki mimbar untuk menikahi Syaffa,


menghapus air mata Syaffa dengan ketulusannya, bahkan tanpa ia tahu itu akibat perbuatanmu! Puas Kau sekarang! " Kembalila secepatnya! Hari sudah senja.! " Lin mengingatkan dengan tegas.


Bugh....Jantung elang benar- benar terasa copot, semula ia mengira hatinya akan baik kalau Syafir yang menikahi Syaffa, tapi sekarang rasanya sakit sekali, tanpa bisa dibendung airmatanya berderai menahan pedih dihatinya.


" Ya Tuhan!!! Kenapa terasa perih..Padahal semua berjalan sesuai pintaku, seharusnya aku Ikhlas!" Jerit hati Elang.


" Ta- tapi mengapa ia tak mengangkat telfonku atau membalas pesanku, kalau ia menerima permintaanku? " tanya lirih Elang.


" Aku asistennya! percaya padaku!, ia tak pernah menerima pesanmu, karna IPhone 12nya raib, dimalam ketika kami buru- buru ingin make over Syaffa untuk kau nikahi. " Sudah jelas bang...Kembalilah pada istrimu!:" Usir Lin sekali lagi.


Elangpun melangkah gontai meninggalkan rumah menuju mobil.


Ketika Lin ingin meneriaki hati- hati pada Elang, ia membungkam mulutnya dengan tangannya karna melihat mobil Elang ada Sofir yang menunggu.


"Syukurlah ia bawa sopir pribadi, kalau tidak, hatiku takkan tenang melepasnya menyetir dengan kondisi begitu. Bagaimanapun juga, ia Abang yang sangat memperhatikan Syafir, aku ingat, hanya bang Elang yang beberapa kali menemui Syafir dirumahku. Mereka nampak saling menyayangi. Jika seorang

__ADS_1


terluka, maka yang satunya akan turut merasakan pedih. " batin Lin.


__ADS_2