
Mia ingin acara penantian 120 hari tak tersia- siakan. Maka iapun menitip putrinya pada bibi Rahmi yang masih ada hubungan kerabat dengan ibu mertuanya itu. Lagian suaminya selalu brisik kalau bercinta, ini adalah kali pertama setelah kelahiran Zia, ia tak mau kebrisikan Zahran mengganggu tidur putrinya.
Mia kembali kekamar, saat Zahran membuka pecinya dan sarungnya, menyimpan topi, dan menggantung sarungnya ditempat gantungan peralatan sholat.
Mengapa Zia diantar sayang ? Papa nyakan masih kangen. " Tanya Zahran.
" Papanya kangen mamanya juga kan?"
" Sangat! " ucap Zahran pendek. Kemudian ia menghampiri meja nakas untuk menyeruput tehnya.
" Dik...Apa bedanya teh telur ini dengan hatimu " tanya Zahran dengan mengedipkan matanya.
" Beda jauhlah...Teh telur minuman, sedang hatiku segumpal daging.
" Bukan ! " Tukas Zahran.
" Trus gimana?
Kalau teh telur , Didalam teh ada telur. Sedang didalam hatimu hanya ada aku! " ujar Zahran narsis.
" Mana! Ada Zia , mama dan banyak lagi! " sanggah Mia.
Zahran tersenyum sembari menghabiskan teh telurnya. Kemudian mengulurkan pada Mia gelas yang satunya lagi.
Miapun meminum pula teh tersebut karna suhunya memang sudah pas.
Setelah Mia mengosongkan gelasnya, Zahranpun meminta gelas itu.
" Apa bedanya gelas kosong ini dengan hatiku dik? " tanya Zahran lagi sembari meletakkan kedua gelas kosong dinakas.
" Jelas bedalah bang.... Namanya hati orang dengan gelas , ya beda jauuuuuh ! " Ujar Mia kesal.
" Gelas ini kosong karna tak ada air. Sedang hatiku kosong kalau tak ada dirimu. " Ujar Zahran menyeringai.
" Is...Gomsal bangat sih! " Sanggah Mia lagi, sembari tersenyum.
" HE...HE..Kalau gombalannya aja asal, apalagi tangannya, asal masuk juga ya..." Zahran menggerak- gerakkan Alisnya sembari menelusupkan kedua tangan besarnya ke balik piyama Mia.
Mia mulai menggeliat seperti cacing ditusuk mata kail ketika tangan Jahil Zahran sudah bermain dibalik bajunya.
Zahran juga melancarkan aksi Tabbir saat mulut Mia sedikit membuka.
Decap- decip lezat dari kedua bibir yang bertambrakan itu memecah kesunyian malam.
Dari jendela balkon sang rembulan tersenyum malu mengintip pertautan wajah dua perindu itu.
Sedang panas - panasnya terasa Mia, Zahran kembali berkata.
" Lihat rembulan itu ngak sayang? " tanya Zahran.
" Lihat dong..kan ada mata."
" Indah?
" Indahlah...namanya juga bulan terang. " Ketus Mia karna suaminya membangunkan mimpi indahnya.
" Bulan itu terangnya semu sayang, ia hanya mantulkan cahaya mentari ...Tapi Cahaya Mia nyata dihatiku, memantul hingga menerangi langkahku, tak ada jalan yang kulihat selain ini." Rayu Zahran
sembari menurunkan tangannya menuju jalan yang sudah lama tak ia rintis, yang membuat hidung Mia kembang kempis menahan geli, bercampur senang.
" Sudah minum jamu?" Tanya Zahran lagi.
" Sudah...Jamu habis lahiran dan jamu kunyit asam. " ucap Mia jujur.
" Bedanya jamu dengan dirimu tahu ngak sayang? " tanya Zahran kemudian.
" Jamu obat! Sedang aku obat hati. "Tebak Mia.
" Kalau ini meleset sedikit! Jamu itu
obat! sedang dirimu Jamuanku satu- satunya. " Ujar Zahran langsung merebahkan istrinya ditempat tidur.
Mia ternganga ketika tubuh perkasa itu telah menindihnya dan Zahranpun membungkam mulutnya dengan kecupan panas.
Detik berikutnya Mia benar - benar kalah total dengan polisi cintanya ini.
Tak ada lagi yang bisa ia lakukan selain pasrah dalam cengkraman sang penyidik handal, penembak jitu ini.
__ADS_1
Tak ada satupun perbuatannya yang meleset dari sasaran. Dengan sigap tegas dan pasti ia membuat Mia meringkih, pasrah dan mengalah,
juga ketika ia mengarahkan senjatanya, Mia hanya meringis, tak kuasa menolaknya.
Kemudian perseteruan berat sebelah terus berlanjut, aksi perang- perangan nyaris merobohkan benteng Segi panjang berbahan jati itu.
Mia hanya bisa berdoa dalam hatinya, semoga semakin kuatnya gempa, semakin kukuh rumah cinta itu.
Setelah pria perkasa itu melepaskan tembakannya dalam- dalam tepat sasaran, terdengar lenguhan panjang keduanya. Keringat membanjiri tubuh polos mereka. Senyum kemenangan tersungging dibibir Zahran.
Detik berikutnya ia mulai melabuhkan banyak kecupan terima kasih diwajah manis Mia.
" Bagaimana? Kalau parang dari besi! Kalau kurang tambah lagi! " ujar Zahran dengan seringai licik.
Mia tersenyum geli sembari menggelitik pinggang suaminya.
He...He...." Kekeh Zahran menyingkir dari tubuh istri. Tempat tidur itu berguncang kembali karna goncangan tawa Zahran.
" Kecambah digulai dengan teri! Kalau mau nambah dibawah lagi! Disini aku tak berani lagi, " Ujar Mia sembari tersenyum
geli, turun dan berjalan menuju kamar mandi.
Saat Mia membersihkan diri, Zahran sudah membentang kasur lipat diatas karpet.
" Kalau disini pasti aman. " Ujarnya menepuk kasur sembari menatap Mia centil.
" Sana wudhu dulu! " Titah Mia.
" Oke bidadariku! " Ujar lebai Zahran sembari beranjak keruang mandi.
Zahran benar- benar menjalankan semua aksi dan misinya malam ini. Setelah bersih, mereka kembali mengulang
pertarungan yang berakhir dengan aksi tembak- tembakan itu.
Dor...dor...Ahhh...Ah....Uh...uh...lanjut dan terus berulang hingga kehabisan peluru barulah pertarungan itu usai.
Mia dan Zahran tersenyum puas setelah hutang rindu 120 hari terbayar lebih.
Miapun menjemput Zia kembali dari bilik Bibi Rahmi, dipertengahan malam.
Azan subuh selalu menjadi alarm bagi hati setiap insan yang selalu ada Cahaya Illahi didalam hatinya. Selelah apapun insan yang beriman, pasti akan terjaga karnanya. Tiga Ahmad dirumah inipun demikian. Mereka langsung terjaga dan bergegas membersihkan diri. Langkah pasti ayunan kaki pria- pria disiplin ini membangunkan penghuni lainnya.
Setelah semuanya berkumpul dibawah, tepat pukul 05 : 15 dengan perlengkapan Sholat masing- masing, Azanpun dikumandangkan Oleh Elang. Iqomah oleh Syafir. Dan subuh ini imamnya adalah Zahran Ahmad, selaku Imam tua rumah besar ini.
Subuh ini menjadi subuh paling indah bagi seorang Carolina Rahman, mama ketiga Putra Ahmad ini.
Setelah Lima tahun tak berkumpul, pagi ini Allah benar - benar telah menjawab doa dalam kerinduan hati seorang ibu.
Airmata bahagia mengalir dari pipi ibu tiga putra ini saat ketiga jagoannya bersimpuh padanya, mengusap bulir bening yang mengembang itu bergantian.
" Suut...Gadis paling cantik di dunia tak boleh mewek. " Canda Zahran sembari mengecup pipi mamanya, setelah kedua adiknya.
Ger....Semua tertawa, kecuali Suci, karna baginya ini adalah subuh paling mendebarkan, karna sebentar lagi ia akan menghadapi tiga Ahmad ini, begitu mereka kembali dari pangkuan mamanya.
" Belum selesai Suci berfikir, Zahran sudah mengantar sang mama ketempat tidur.
" Mama bobok cantik disini ya! Jangan kemana- mana, soalnya kami mau menguji keluarga baru." Ujar Zahran, kemudian melangkah tegap keruang tamu yang diikuti kedua adiknya.
" Kalau Mia keatas dulu ma..Suci...Zia pasti udah bangun. " Ucap Mia pamit.
Suci hanya bisa mengangguk, karna bibirnya kembali kaku.
Sebelum berlalu Mia membisikkan minuman pagi ketiga Ahmad ini.
Dengan langkah berat, suci memaksakan diri kedapur untuk membuatkan teh susu.
Setelah berhasil meracik teh susu sesuai petunjuk bi Rahmi, Sucipun mencoba melangkah dengan kaki masih gemetaran.
" Sayang...Kalau tak bisa bibi saja. " kata bibi.
" Bi- bisa kok bi...Harus! " tekad Suci.
Dengan susah payah, Suci menaruk ketiga gelas dengan baik dimeja, dengan wajah menunduk.
Ketika Suci baru melangkah selangkah untuk pergi.
" Duduk disini! " Ujar Elang menepuk sofa disampingnya.
__ADS_1
Ser...Dug...dug...Darah suci berdesir, jantungnya berdegup tak karuan. Dengan terpaksa ia duduk disisi Elang.
" Tegakkan pandanganmu! " Titah Elang melihat Suci menunduk.
" Ini Abangku Zahran Ahmad! Dan ini Adikku Syafir Ahmad! " Ujar Elang mengambil kendali perkenalan istri dengan kedua saudaranya.
Suci mempertemukan kedua tanganya didada sebagai salam untuk kedua saudara Elang.
" Suci Rahma Wati. " gumam suci nyaris tak terdengar.
Zahran tersenyum misterius, menghela nafas lembut.
" Menurutmu apa bedanya istri dengan pencuri Lang? " tanya Zahran menatap Suci.
" Kalau istri masuk lewat pintu hati sedang pencuri lewat mana saja. " Jawab Elang asal melihat Syafir yang menatapnya dengan sorotan menghujam.
" Bukan! Kalau istri masuk setelah orang
sadar hatinya dicuri, tapi pencuri masuk sampai orang taksadar hartanyapun hilang. " Ujar Zahran menatap Elang dan Suci bergantian.
" Hei adik ipar! Jangan tegang begitu! Ayo senyum setidaknya pada pencuri hatimu ! " Seru Zahran yang membuat kedua suami istri ini makin tercekat.
" Syafir...
" Ya bang...
Menurutmu apa bedanya cinta dengan perjanjian. " Tanya Zahran kemudian.
" Itu soal mudah bang..."
" Karna kau paling kecil, tentu pertanyaan mu juga lebih ringan, jawablah! " titah Zahran.
Perjanjian tertulis dikertas, sedang Cinta tertulis dihati ! " Jawab Syafir mantap.
" Kalau begitu menurutmu, tulislah Syaffana untuk selamanya dihatimu, jangan ada pertualangan lagi, jadikan syaffana tempat terakhir hatimu berlabuh! "
" Kau juga Suci! Berjanjilah kau teguh untuk mencuri hati Elang ini, jangan biarkan ia berani hinggap di rumput tetangga! Tapi ingat! Gunakan jalan yang benar, jangan seperti sebelumnya, masuk
melalui jendela kamar orang!. " Ujar Sindir Zahran.
Suci makin tertunduk, andai ia Armadillo ( hewan baju lapis baja kecil ), ia akan menggulung tubuhnya jadi bola dan menggelinding kebalik karpet, untuk menghindari tatapan dan Sindiran raja Ahmad ini.
Adik ipar! Ayo pandangi kami bertiga dan katakan, Siapa yang paling tampan diantara kami. " Tanya Zahran lagi, kali ini dengan tatapan jenaka.
Dengan terpaksa, Suci menegakkan pandangannya untuk menatap ketiganya.
" Sama..." Ujarnya lirih.
" Kau salah lagi adik ipar! Elang tentu lebih tampan! Karna ia sampai diculik oleh seorang gadis dimalam pernikahannya." Ujar Zahran lagi.
Suci benar- benar kehilangan mukanya,
Elang kehabisan kata, sedang Syafir terpaksa diam, karna abangnya sudah lebih dari cukup mewakilinya.
ketika Suci sudah ingin menangis, Zahran berkata lagi. " Jangan sedih adik ipar! Ini ospekmu, karna adik ipar banyak salah, maka hukumanmu adalah, masakkan untuk kami nasi goreng tiga toping." Titah Zahran dengan tersenyum.
" Aku daging, Elang Ayam dan Syafir sayur dan telur."
Mia tiba diruang tamu tepat ketika Suaminya menyebutkan Hukuman suci.
Iapun menarik Suci menuju dapur sembari menatap tajam suaminya.
Mia dan bi Rahmi membantu Suci menyediakan sarapan pagi sesuai pesanan Zahran. Setelah ketiga Ahmat sarapan pagi, Miapun membawa suaminya keatas.
Begitu sampai dikamar mereka, Mia langsung menarik kuping suaminya.
"Aduh...nanti kuping bagusku tanggal Cinta! Tidak tampan lagi, masih mau? " Ringis Zahran sekaligus menantang.
" Kau kira dia mau jadi Polwan hingga dites mental segala? " tanya kesal Mia.
" Dia bukan calon PoWan sayang...Tapi ia penikung calon suami Polwan, wajar ia dapat Ujian, tapi ia tidak lolos sama sekali, cara duduk, cara pandang, semua tidak dapat poin. " Ujar Evaluasi Zahran.
Mia tersenyum sembari duduk disisi Zahran. Kau membuat acara supaya Syafir dan Elang melupakan rencana perbantahan mereka ya? " tanya Mia, Mengingat Syafir yang buru- buru pergi setelah dapat telfon.
" Adik kira suamimu siapa?" tanya Zahran
balik.
__ADS_1