Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Ayah Siaga.


__ADS_3

Carolina sangat bahagia mendengar berita kelahiran dua cucunya dengan selamat dan sehat. Ia segera meminta bang Jhon untuk memesan becak motor untuk membawanya kerumah sakit.


Tidak berapa lama menunggu, tibalah sebuah becak motor dengan desain uniq menjemput Carolina.


" Ayo Bu...Jemputan nya sudah datang. " Panggil Jhon berdiri didepan pintu sambil melongok kedalam rumah.


Tidak berapa lama terdengar sahutan dari dalam. Carolina melangkah cepat dengan menyandang tas kecil." Ya! Aku siap! " Teriak Carolina dengan senyum mengembang.


Dengan diiringi Jhon penjaga keamanan rumah, Carolina sampai didepan kendaraan roda tiga itu." Kita kerumah bidan Yuni ya nak, putriku barusan melahirkan disana." Ujar Carolina berbinar.


" Baik Bu, saya baru saja mau pulang istirahat, pas bang Jhon manggil lewat telfon. " Jelas Pengendara becak, seraya membantu Carolina naik.


" Maaf, ibu sangat merepotkan, ini sudah pukul sepuluh malam, wajar anak sudah mau istirahat." Ujar Carolina segan.


" Tidak apa Bu, bang Jhon saudara saya, bahkan sudah sampai dirumah pun kalau ia panggil, saya pasti tetap datang. " Ujar Lelaki itu lagi.


" Baiklah, ayo kita berangkat, sudah tak sabar lihat cucu." Ujar Carolina setelah duduk aman dikursi penumpang.


" Oke, ibu pegangan yang kuat ya. " Pinta pemilik becak sebelum menaiki motornya.


" Ya nak." Jawab Carolina patuh. Wanita itu berpegangan teguh dihandle kursi, ia juga tak mau sampai jatuh, dan acara nyambut cucu menjadi berantakan.


Tidak berapa lama Carolina sampai didepan rumah


Bidan Yuni. Mata tuanya menjadi nyalang begitu melihat Mobil pengantin ada dipelataran rumah bidan itu. Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih, Carolina melangkah keteras.


Didalam terdengar suara ramai sekali.


" Saking senang mendengar berita kelahiran mantu, Susi membawa suaminya malam ini juga." Tebak Carolina.


" Yang...Secepatnya kita buat yang begini ya..." Terdengar suara manja dokter Suci.


" Oke sayang...Habis dari sini langsung kita mulai." Balas Suara Andre.


Carolina menahan langkahnya untuk masuk.


" Astaga...Menantuku Susi, ngomong kok dari lutut." Orang tua itu menggerutu, dengan malas, ia duduk dikursi teras.


Kemudian terdengar suara Lin." Kalian kira semudah itu punya anak, capek kerja keras siang malam saja kalau belum dikasih sama yang diatas ngak bakalan dapat." Ujar Lin membantah obrolan Absurt pengantin yang masih belum membersihkan wajah dari sentuhan make up itu.


" Pulang sana! Baru lahir kalian sudah memperdengarkan kegersekan Kalian pada kembarku." Syafir menyela sembari mengambil putrinya dari pangkuan Susi.


" Ya...Dasar paman bibi genit, kalau mau cepat sana booking hotel, dirumah masih banyak tamu! Alat kami juga banyak ditempat tidur kalian, nanti jadi kotor." Ujar Linlin.


" He...He...Becanda lagi non, kami juga masih capek habis jadi raja dan ratu sehari! " Balas Andre.


" Okedeh...siganteng Abi dan sicantik Vina. Onty sama Om balik dulu ya, buat dedek dulu ya! " Susi menunduk untuk mengecup Vina dalam gendongan Syafir, lalu gantian pada Abi dalam pangkuan Linlin.

__ADS_1


" Ya Onty...Hati - hati dijalan! " balas Syaffana yang dari tadi diam.


Susi beralih menatap Syaffana. " Sepertinya ibunya


Sikembar butuh asupan." Ucap Susi mendaratkan sebuah kecupan dikening Syaffana. " Selamat menjalani karir barumu Bu polisi, sekarang tugasmu makin banyak! "


Syaffa membalas dengan senyum- senyum dikulum. " Kak Susi terlihat sangat santai memulai hidup barunya, seperti tidak ada rasa takut." Batin Syaffa.


" Selamat menempuh hidup baru Onty... Semoga langgeng sampai akhirnya. " Ucap syaffana kemudian.


" Amiin..." Seru semua yang ada diruangan itu, termasuk bidan Yuni dan bidan Witri yang baru datang membawa sepiring makanan untuk Syaffana.


Kedua pengantin keluar dari ruang bersalin bidan Yuni. Mata Susi nyalang besar melihat Ontynya duduk bermenung dikursi teras. Dengan gugup Susi segera menghampiri walau mukanya sudah merah menahan malu. " O- Onty sudah lama duduk disini? tanyanya gagap. Susi teringat pada kalimat- kalimat tak berbandrol yang ia ucapkan didalam barusan. " Pasti Onty sengaja duduk disini karna segan masuk mendengar cerorosanku." Batinnya.


Carolina yang melihat wajah Susi yang merah dan kalimatnya yang gelagapan tersenyum santai dan pura- pura tidak mendengar apapun.


" Onty baru tiba barusan, hanya duduk untuk mengatur nafas saja." Ujar Carolina.


Susi tersenyum lega, lalu ia menyalami ontynya.


" Selamat jadi nenek lagi, untuk cucu kedua dan ketiga Onty! " Ucapnya riang dengan mengulurkan tangan.


Carolina menyambut uluran tangan Susi. " Bantu Onty berdiri..." Pintanya manja.


Susi membantu saudara ayahnya itu segera berdiri.


" Ngak! Hanya saja tubuh mudah lelah, namanya juga sudah tua. " Sahut Carolina. Kemudian Carolina beralih menatap Andrea.


" Bawa ponakanku pulang Ndre, ia pasti capek dan ngantuk." Ujar Carolina sebelum masuk.


" Ya bi, kami pamit ya." Balas Andre sopan. Tidak ada lagi jawaban, karna Carolina sudah berjalan masuk keruang bersalin.


" Untung Onty tidak dengar ucapanku yang tadi, kalau tidak dikira aku menantu ganjeng." Ucap


Susi pelan.


Andre tidak menjawab, pria itu menarik lembut tangan Susi dan membawa wanitanya itu melangkah bergandengan menuju mobil mereka.


.


.


.


Sejak menjadi Ayah sepasang bayi kembar, Syafir makin sibuk. Ia rela kekurangan jatah istirahat malam demi menunggui kedua buah hatinya.


Syaffana merasakan hidupnya makin lengkap. Kasih sayang dan perhatian Syafir makin hari makin bertambah. Ia menjaga, merawat dan memanjakan ketiganya dengan semangat.

__ADS_1


Tanpa terasa, jadwal Cuti Syaffana telah berakhir.


Tiga bulan sudah ia beristirahat sembari menghabiskan waktu dengan keluarga kecilnya.


Esok Syaffana sudah mulai bekerja.


Ketika Abi dan Vina sudah terlelap, Syaffa mendekati suaminya dengan mengecup pipinya.


" Seratus hari genap, bahkan aku tak pernah melihat wajahmu kesal sekalipun.Lelaki lain biasanya sering terbawa emosi saat puasa lama, tapi dirimu tak ubahnya seperti lelaki perjaka tingting yang belum pernah mengenal perempuan.


Seperti terlahir kembali seiring putramu." Ucap lirih Syaffana memuji ketegaran suaminya.


Syafir yang merasakan sentuhan halus dipipinya, dengan perlahan membuka matanya." Ada apa sayang? " Syafir menyipitkan matanya masih belum


paham maksud Syaffa membangunkannya.


" Sudah seratus hari..." Ucap Syaffa dengan bergumam, pipi putih bersihnya sudah berubah warna menjadi merah karna malu. Tapi Syaffana besok akan bekerja, ia tidak mau orang luar yang lebih dulu memandangi dan mengagumi wajah mudanya setelah lahiran sebelum suami menyapanya lahir batin.


" Anak- anak gimana? " tanya Syafir ragu.


" Mereka sudah tidur yang...Syaffa mulai meraih tangan Syafir dan mengecupnya penuh kerinduan.


Syafir dengan ribuan bintang bertaburan dihati segera memulai kecupan- kecupan liar disekujur tubuh istrinya. Syaffa juga tak mau kalah. Letusan kembang api berletupan didada umi muda itu mendapat sentuhan pertama setelah tiga bulan proses pemulihan.


Eughhhh...Bang...ini serasa malam pertama lagi." Ucapnya berdebar.


" Pasti akan sakit lagi, karna muda lagi." Lirih Syafir sembari bermain dibawah sana.


Syaffa menarik Suaminya dan menindihnya.Lalu mulai membuka gerbang. Syaffa yang memimpin permainan. Walau sempat bingung dengan istri yang makin liar dengan permainannya. Tapi Syafir menikmati saja tanpa banyak protes.


" Aku belum pasang alat kontrasepsi, makanya jadi pemandu." Ujar Syaffa setelah pertarungan mereka usai.


" OOO...Kalau begitu pasang pengaman ya dik...Tidak tega istri kelelahan begini. " Ucap Syafir seraya mengusap keringat istrinya yang bercucuran.


Detik berikutnya terdengar tangis bersahutan dari box Sikembar.


" Untung mereka pengertian. " Ujar Syafir segera meraih pakaiannya. Dengan sigap ia memakai dan


siap mengurus kedua buah hatinya.


" Ternyata pada pup anak ayah..." Ucap Syafir setelah memeriksa popok kedua bayinya. Sebelum Syaffa kembali dari kamar mandi, pria itu sudah menggantikan popok keduanya dengan sigap.


" Sudah beres saja! " Sorak Syaffana melihat gadisnya dan bujangnya sudah tersenyum dengan mata mengerjab indah.


" Ayah siaga kan sayang..." Ujar Syafir menggendong Abi dan menyerahkan pada Syaffa.


" Tentu ! Ayah idola." Balas Syaffana.

__ADS_1


Syaffa membawa putranya ketempat tidur untuk diberi ASI. Sedang Syafir menggendong Vina dan mengajaknya bermain- main.


__ADS_2