Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Guru Cinta?


__ADS_3

Syafir membelai pipi istrinya. Menatap lembut mata indah yang telah menyorotkan pandangan permohonan itu. Sesungguhnya hatinya sangat luluh dengan permintaan perempuan yang mungkin selama hidupnya, tak pernah mengajukan memohon sememelas ini.


Sebenarnya ia tak hendak mematahkan hatinya, hati yang baru saja hendak ia miliki seorang diri, seutuhnya.


Tapi Syafir perlu mengurus orang yang selama ini bekerja membantunya , walaupun ada manager, ia tak bisa lepas tangan, bagaimanapun juga mereka akan berlibur karna PPKM, Syafir ingin mengurus kegiatan pengisi waktu vacum mereka, serta sedikit tunjangan kesejahteraan, agar mereka tak terlalu susah.


" Plis...Jangan pulang ya...temani sampai misi ini selesai." Permintaan itu makin naik satu level.


" Waduh...sebenarnya aku tak ingin meninggalkannya, walau aku percaya ia kuat dan tangguh, sedang aku hanyalah pria lemah yang mungkin akan menjadi beban baginya, dimisi ini , kemarin saja aku hampir pingsan, tapi berada disisinya, memastikan dia baik- baik saja, tentu itu yang kumau. " Batin Syafir.


Merasa Syafir terlalu memikirkan permintaannya yang ia rasa sangat sederhana itu. Syaffa memberenggut.


Ia keluar dari selimut mereka, dan memunggungi suaminya. Entah kenapa Syaffa merasa cengeng dan tak dapat menahan airmatanya yang tiba- tiba merembes dari sudut matanya.


Merasakan airmatanya yang mengalir sendiri, syaffapun terkejut dengan keadaan hatinya.


" Ya Tuhan...Kenapa ini, ditahan sedikit saja olehnya, aku begitu rapuh, padahal ini bukan karakterku, mengapa semudah itu aku berubah sejak bersama pria ini.


Baru tigahari bersamanya berasa sudah


bertahun- tahun, tak mau jauh darinya, padahal dulu Syaffa tak begitu peduli dengan perpisahan. Dengan bang Elang aku tak pernah sesedih ini ketika ia akan pergi jauh. Ini hanya beberapa KM, tetapi kok berat, apa karna status suami? " tanya hati Syafa dibalik Isak tangisnya.


" Sayang...kenapa menangis? tanya Syafir mencoba membalikkan tubuh istrinya yang bergetar. Merasa bersalah sekali Syafir dihatinya.


Syaffa begitu keras, tubuhnya terkunci, sulit untuk dibalikkan, membuat Syafir kian takut, istrinya benar- benar tersakiti.


Tak tahu berbuat apa, Syafir duduk menarik selimut menutupi telapak kaki Syaffa yang dingin. Ingin berpindah kesebelahnya, tapi Syaffa sudah kepinggir sekali.


Ditatapnya lagi tubuh bergoncang itu, airmatanya masih tetap mengalir, tapi mata itu terpejam.


" Apa yang harus kulakukan? Aku tak pernah membujuk wanita yang sedang merajuk. Kukira prediket gadis tomboy yang ia sandang, akan membuatnya kuat, kenapa istriku jadi begini? " hati Syafir makin gundah dan bersalah.


Dengan lemah direbahkannya lagi tubuhnya dibelakang punggung istri.


Diusapnya rambut panjang sepinggang itu. Dengan naluri dikecupnya tengkuk putih itu dengan penuh perasaan setelah menyibak rambutnya.


Syaffa merasakan kehangatan mengalir keseluruh tubuhnya, hatinya berteriak menahan keinginan yang kembali menyintak- nyintak, ia menggigit bibir bawahnya. Syaffa ingin tenggelam dalam kehangatan pelukan pria yang instan jadi miliknya itu . "Sudah gilakah aku, kok semudah ini tersengat oleh sentuhannya." kesal Syaffa pada diri sendiri.


" Sayang...Maaf...Syafir menyakiti Syaffa lagi ya? tunjukkan dimana sakitnya, biar Abang obati, Abang tak tahu bagaimana bergaul baik dengan istri, besok Abang pulang hanya dua hari kok sayang...untuk mengurus karyawan kita, melihat mama, sekalian melihat kebun kita , trus Abang usahakan mampir kerumah Ustadz Zaki sebentar. " Katanya sembari terus mengecupi rambut Syaffa.


" Kita? Hati Syaffa kian menghangat mendengar kata kita yang terucap dari bibir itu. Tapi ia masih belum ingin mengalah.


" Hanya sebentar kok...Sekarang Abang sudah menjadi kepala rumah tangga, bertanggung jawab untuk kehidupan kita, tidak boleh mengabaikan pekerjaan. Boleh ya ? Kan hanya sebentar. " Bujuknya dengan ala kadarnya.


" Enak aja dua hari bilang sebentar! Daftar kegiatannya sepanjang itu pula." protes Syaffa membalikkan badannya menghadap Syafir.

__ADS_1


" Mananya yang sakit? tanyanya polos sembari mengusap airmata Syaffa dengan jarinya.


Syaffa masih menatapnya dengan bibir mengerucut. Ngapain pake mampir ke rumah ustadz Zaki segala, buat apa? alih- alih menjawab, Syaffa malah bertanya balik.


" Ia Sepupuku sayang...Istrinya melahirkan kata Lin, dimalam pernikahan kita, Ia juga guru Cintaku." Katanya dengan mata berbinar yang membuat mata Syaffa membola kaget.


" Guru Cinta Apaan? Emang kamu pernah bercinta sebelumnya? Syaffa makin menjejar Syafir dengan pertanyaan.


" Sayang...kamu cemburu ya? " Goda Syafir merasa lucu dengan Syaffa.


" Cemburu apa? aku tak pernah cemburu! " Sanggah Syaffa.


" Baiklah...aku juga belum tahu bagaimana wanita cemburu. Ustadz Zaki yang mengajariku tentang nikmatnya memiliki pasangan hidup , menjelaskan tentang dosa meniru pakaian perempuan, mengajari hukum Fiqih bergaul dengan istri, tapi pelajaranku belum tuntas, masih banyak yang belum kutahu, karna aku terlalu sibuk, Tiga tahun yang lalu aku mulai belajar padanya , untuk mengembalikan jati diriku sebagai seorang laki- laki. " ucap Syafir.


Melihat Syaffa diam mendengarkannya.


Syafir kembali berkata.


" Banyak yang mengatakan aku takkan bisa mendapatkan pasanganku, karna aku masih saja tidak macho, tapi Bang Zaki mengatakan kalau jodohku sudah ditentukan, aku tak perlu memusingkannya, yang penting aku konsisten dengan penampilanku, sungguh- sungguh dengan taubatku.


Itulah maka kuanggap ia sebagai guru Cintaku, karna setiap aku gundah, aku selalu mendatanginya. " Jelas Syafir sepanjang jalan tol Jagorawi. 😃


" Makanya tidak mau mendandaniku pas aku minta untuk pernikahan itu? " tanya Syaffa.


" MHum...Alasan lain ada juga. " ucap Syafir tersipu.


" Itu tu alasannya! Syaffa centil! " teriak Syafir sembari memegang peluru kendalinya yang kembali siap tempur karna Syaffa salah pencet lagi, malah sekarang sesak pipis. Ia segara melepaskan diri dari Syaffa, melompat dari kasur, dan beranjak kekamar mandi,


masih dengan tangan disitu.


Ha..ha .." Tawa Syaffa menggema, karna kelebihan tawa Syaffapun kebelet juga.


" Buka dulu...aku juga mau..." ucapnya dibalik pintu.


_


_


_


Matahari tersenyum malu-malu dari ufuk timur. Mungkin karna hujan semalaman, hingga sang penerang jagat raya itu seperti enggan melaksanakan tugasnya menghangatkan bumi dipagi ini.


Syafir dan Syaffa baru saja selesai menunaikan kewajiban mereka. Seperti sang mentari, mereka juga telat hari ini,


dinginnya lembah bukit itu sehabis di guyur hujan , membuat insan- insan itu meringkuk dalam selimut.

__ADS_1


Pukul setengah Enam pagi mereka baru terbangun, mandi besar dengan tubuh yang menggigil kedinginan, membuat subuh mereka hampir teledor, untung sang mentari juga nampak malas.


Syaffa tampak mempesona dengan memakai celana jins warna biru , dengan atasan blus lengan panjang warna senada, kerudung instan putih berpayet mutiara.


Sedang Syafir memakai celana dasar berwarna hitam panjang selutut , menampakkan betis panjangnya yang bersih, dengan rambut halus yang tersusun bagus. Baru sadar Syaffa ternyata kaki panjang suaminya sangat seksi. Saat ditempat tidur, ia tidak begitu memperhatikannya.


" Mengapa? Jelek ya? apa perlu diganti? " tanya Syafir mendapati Syaffa menyoroti kakinya.


" Eh...ngak malah sangat bagus! aku suka! " jujur Syaffa mengusap rambut kaki syafir.


" Jangan gitu dong adik cantik! ntar Abang kebelet lagi. " tolak Syafir menepis


tangan Syaffa.


Syaffa tersipu, merasa ia kembali duluan selangkah dari suami soal menggoda.


Untuk mengalihkan perasaannya, iapun


memilihkan atasan kaos oblong warna biru untuk syafir.


" Biar serasi dengan bajuku. " katanya memakaikan langsung baju itu.


Syafir tersanjung dengan perbuatan kecil Syaffa, tanpa Aba- aba, ia mengecup pipi istrinya. " Manis ! " serunya.


" Apanya? tanya Syaffa.


" Orangnya dan juga perlakuannya.


Ih...Syaffa mencubit pinggang suami.


Merekapun turun kebawah, melewati tanga berbahan papan itu.


Setelah memesan menu sarapan.


Pasangan itu memilih duduk menunggu dilesehan paling ujung.


Lama mereka saling diam.


" Abang akan mengantarmu kerumah tuan Gordan sebelum pulang. " kata Syafir memecah keheningan diantara mereka.


" Tidak! sehabis sarapan, antar aku kekontrakan dulu. Dari kontrakan aku akan menyusun rencana selanjutnya, bagaimana menghadapi pria itu. " ujar Syaffa tanpa senyuman.


" Baiklah...Abang akan meminta Lin datang membawakan motor, sekalian menemanimu selama dua hari, sini pinjam HPnya, Abang pulang sekalian beli HP baru. " Ujar Syafir tiba- tiba teringat Lin yang menganggur.


" Kenapa harus Lin?Syaffa menatap Curiga.

__ADS_1


" Pilih Lin menemaniku atau denganmu Cantik? " tanya Syafir yang membuat Syaffa langsung menelfon Linlin.


__ADS_2