
Anak siapa yang tak sedih melihat orang yang melahirkannya sudah jatuh tertimpa tangga , kalau ada yang tidak sedih berarti tu anak merasa lahir dari batang bambu, atau anak batu gilingan.
Syafir tak kuat menahan diri melihat airmata sang ibu bercucuran.
" Tenanglah ma...Syafir akan mencari bibi
dan menyerahkannya pada mama untuk dihukum atas perbuatannya." Ucap Syafir sembari mengusap airmata mamanya.
Mama menatap Syafir dengan mata sendu, nampak ia berfikir sejenak, kemudian seringai tipis tersungging dari bibirnya.
" Mungkin salah mama juga nak...mama kurang memperhatikan kebutuhannya selama ini sebagai kakak, kita lupakan semua itu ya...mama tak mau kau sibuk hilir mudik urusan itu, mama akan mencoba mengikhlaskan itu semua, toh sudah lama ia bersama mama disini, mungkin ia ingin bebas, dan merasa kurang modal, untuk jujur ia tak sanggup, karna mama orang yang judes." Ujar Carolina dengan wajah sesal.
Syafir menatap kedalam manik mata sang mama, melihat mamanya semakin tulus dan mulai berfikir fositif, hatinya merasa senang, semakin kesini mamanya semakin baik, tidak seperti tebu, makin keujung makin hambar , mama justru makin manis.
" Semoga mamaku termasuk orang yang diselamatkan oleh Allah..Amiin." Doa Syafir dalam hati.
" Walau mama ikhlas, masalah harus tetap diselesaikan ma...Ngak baik didiamkan, siapa tahu ia melakukan ini karna ada pengaruh lain, aku mau masalahnya jadi jelas, kalaupun bibi ingin
hidup mandiri, Syafir ingin tahu seperti apa ia memulainya. " Jelas Syafir.
Mama tersenyum." Baiklah..tapi jaga kesehatanmu, coba lihat wajahmu tampak pucat, jangan lupa minum obat juga kalau merasa tak sehat, ingat! selain mama ada istri yang mengharapkan kasih sayangmu, kami tak mau kau sampai sakit karna urusan ini.
" Iya ma...Syafir tahu, Syafir akan minta Andre yang akan menyelidiki bibi, bila sudah ketemu alamatnya, biar kutemui sendiri, karna ini urusan keluarga. " tukas Syafir bijak.
" Tapi kalau ada orang lain kawan bibimu berkonspirasi , mama takut mereka melukaimu. " ucap mama dengan wajah cemas.
" Tak usah cemas begitu ma, tak mungkin bibi hanya mengambil itu saja kalau ia penjahat benaran...Lagian putramu bisa lawan kalau sekedar satu atau dua, kalau lebih ya ngak tahu. He...He ..mama tenang.. kuminta dulu Amin buat Carikan satu perawat dan satu Asisten rumah tangga yang baru, ia pandai merekrut orang yang baik, setelah ada yang jagain mama, biar aku sedikit lega mau kemana." ucapnya sembari mulai mengetikkan pesan untuk Andre dan berikutnya Amiin.
Kemudian Syafir menyuapi mama makan,
dari makanan yang dipesan oleh om Jhon. " Mama pasti makin cantik kalau makan yang banyak. " bujuknya ketika mama terlihat tak berselera.
Mama tersenyum geli, dirayu putra sendiri, hatinya cukup senang, akhirnya mama bisa menghabiskan makanannya, Hingga suapan terakhir. Dalam hati ia terus mengagumi.
" Anak ini seperti papanya, ia tidak menyimpan dendam sedikitpun, hatinya benar- benar seputih kapas. " batin mama Carolina.
Sedangkan ketika mama mau bersuci, Syafir kembali menggendong sang mama. Mengurus mama dengan baik, hingga bisa Zuhur dengan duduk.
Ning nong
Bel berbunyi tepat ketika mama selesai minum obat dan siap untuk istirahat. Syafir membaringkan
sang ibu ditempat tidur dengan hati- hati.
Setelah mencium kening mama, Syafir kemudian setengah berlari kedepan untuk membukakan pintu pada tamunya.
__ADS_1
Ternyata Amin datang dengan membawa dua orang perempuan.
" Mhum...cepat juga kau temukan orangnya Min." puji Syafir sembari menyalami kedua orang yang direkrut Amin dengan menyusun sepuluh jarinya didepan dada. Merasa calon tuan mereka orang yang sopan, kekhawatiran kedua wanita beda generasi itu berkurang.
" Ibu ini sudah bekerja sebulan ini dirumah bang, namanya bi Imah. Sedang yang satunya kuambil dari
apotek, ia anak baru tamatan keperawatan, namanya Assyifa" Jelas Amin mengenalkan kedua wanita beda generasi itu.
" Baiklah...Ayo kedalam. " Ajak Syafir.
" Tentu! Sekalian aku ingin melihat ibu, masak ibu sakit aku tak melihatnya. " cicit Amin.
" Siapa yang berani melarang seorang anak ingin bertemu ibunya. " balas Syafir dengan tersenyum.
Akhirnya satu masalah telah terselesaikan. Syafir menarik nafas lega, setelah ia berbicara Empat mata dengan Amin perihal orang baru sebagai penjaga mamanya.
***
Malam hari dokter Susi tiba, dengan membawakan kursi roda untuk ontynya itu.
Ia terheran- heran dengan pelayan baru,
matanya mencari- cari dimana bibi Rahmi.
" Kemana rupanya Bibi mudaku Onty? " tanyanya penasaran.
Susi merasa tak puas dengan jawaban ontynya. " Baru ditinggal sehari semalam langsung main pergi, sama kakak sendiri tak setia. " Umpat Susi.
" Sudah! Jangan menggunjing orang tua, lagian bibimu ini butuh suasana baru, apa
salahnya makan masakan yang sedikit lebih muda. " Ujar Carolina berusaha memangkas kecurigaan Susi.
Susi menggaruk tengkuknya yang tak gatal." Terserah bibi berdua dech..kalian kakak adik, sudah lama bersama, ternyata giliran kakak sakit dikit, bibi muda langsung main pergi saja. " Sungut Susi.
" Sudahlah kak...dari pada ngepoin urusan mak- Mak, mending ceritain lanjutan kisah asmara berawal sejak SMA mu itu, dah nyampe dimana ceritanya? " timpal Syafir megalihkan perhatian.
Benar saja dugaan Syafir, disebut soal itu wajah ipar cantiknya langsung merona, iapun terdiam beberapa saat. " Soal itu nanti dulu dech... pas dulu baru aman diceritain. " Ujarnya kemudian.
Syafir mengacungkan ibu jarinya.
Yang tinggal diPasaman! "Serunya kemudian.
Mereka semua dikamar mama tersenyum.
Dreet...dreet...Bunyi telfon genggam Syafir. Setelah memeriksa sipemanggil,
__ADS_1
Syafir menaik turunkan sebelah alisnya
menatap nakal Susi.
" Aku pergi dulu angkat telfon pacarmu ya, kamu jangan cemburu lagi ..ada urusan sesama pria. " Ucap kuat Syafir sengaja menggoda Susi. Setelah menyambungkan telfon iapun melangkah pergi mencari tempat aman menerima telfon, tanpa mempedulikan mata iparnya yang mengekori.
Ternyata tak perlu lama bagi seorang Andrea menemukan alamat bibi Rahmi. Seperti dugaan Syafir, bibinya pergi untuk
menikah, ternyata ada selama ini pria sebaya yang ia suka.
" Oke...Selidiki papi baru itu, kirim padaku
bangaimana latar belakangnya. " titah Syafir kembali menelfon Andre.
" Oke Bos! " Sesuai perintah. " jawab pendek Andre.
Setelah merasa lega, Iapun segera menelfon istrinya, rasanya sudah rindu sekali dengan Padang rumput kesayangannya itu. Walau tak bisa merumput saat ini, tapi melihat kehijauannya dari kejauhan, semoga bisa membuatnya tenang dan senang.
" Bagaimana keadaanmu sayang... ngak ada yang gangguin atau melukaimu didaerah itu kan? " tanya Syafir cemas melihat wajah istrinya ditekuk.
" Ada! anakmu membuat mamanya pingsan dilokasi hari ini, tapi sudah jam segini baru nelfon, barang kali teringat mau buat anak dulu!" terdengar suara garang seseorang yang tidak asing.
" Anak ! Benarkah kabar itu sayang? " tanya Syafir tak bisa menyembunyikan wajah riangnya.
" Lin sih..mulutnya bau kencur banget, ngak bisa jaga rasia dikitpun. " Gerutu Syaffana.
" Jadi sayang bermaksud merahasiakan babby dari Abinya? " sekarang Syafir yang balas cemberut.
" Habis sayang seharian tak menelfon sih, jadi sampe istri mau lewat ngak tahu, wajar dong aku ingin rahasiain ini, sampai Abinya benar- bener peka, tapi Lin Ember bangat, tapi tak apa jugalah, untung ada dia disini menjagaku. " ujar Syaffana.
" Itulah sebabnya Abang memintanya kesana sayang... Pertama Abang meminta motor yang ada padanya, setelah berfikir tentang Abang yang sibuk urusan pemulihan mama, makanya Abang memintanya bawa motor kesana saja, sekalian jagain sayang. " Jelas Syafir sembari menyusun sepuluh jarinya.
" Sudah tahu adik positif? " tanya Syaffa makin melunak.
" Abang muntah- muntah tiap bangun tidur, dan tiap mencium aroma yang menyengat, mudah- mudahan sayang jangan ya! tak mau calon babby kurang gizi, biar Abang yang gantiin mabuknya." Ujar Syafir.
" Sepertinya aku tak mabuk, tadi karna kurang istirahat saja, ngantuk berat, soal makan makin garang kok.." ujar Syaffana.
" Syukurlah...Kalau mau apa- apa minta aja sama Lin ya sayang..." pinta Syafir kemudian.
" Kalau mau Abinya mana bisa mintak sama Linlin." Ujar Syaffa.
" Kalau mau Abi harus sabar, Abi ngurus nenek dulu ya sayang..." Bujuk Syafir terdengar pada babby, tapi sebenarnya pada ibunya juga pada diri sendiri.
" Gimana mama? aku ingin bicara. " ujar Syaffa dengan dada berdebar.
__ADS_1
" Boleh! udah siap? " tanya balik Syafir melihat bibir istrinya yang bergetar.
" Dicoba, sekalian menyampaikan kabar baiknya." ujar Syaffa memantapkan hatinya.