Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Tak Mungkin Melihat Mama.


__ADS_3

Sepi dan hening bagai dikuburan dalam mobil yang dikendarai Elang. Suci lebih memilih memandangi pinggiran jalan dengan gedung - gedung yang menjulang, serta kelap kelip lampu kota metro politantan ,ketimbang bicara atau sekedar menatap suaminya yang sedang konsentrasi berkendara. Sedang Elang memang sedang mencoba fokus mengemudi walau fikirannya sedang berkecamuk. Pasangan ini sedang dalam perjalanan menujurumah yang Elang beli dua tahun lalu, untuk mereka tinggali setiap kali mereka ingin keIbukota. Sebuah rumah mewah dikawasan pondok Indah.


Sudah sebulan mereka diibukota untuk menjalani program bayi tabung dengan spesialis ternama. Dan ini bukanlah kali yang pertama mereka menghabiskan cuti tahunan Elang untuk program.


Sejak keguguran dua kali dari hasil pembuahan alami, tak pernah lagi nyangkut. Dan ini sudah tahun ketujuh setelah pernikahan mereka. Bahkan sekarang Syaffana sudah melahirkan 3 kali dan memiliki 2 putra dan tiga putri.


Syafir benar- benar maju pesat baik dalam usahanya, juga dalam rumah tangganya.


Saat ini dalam pandangan Elang, adiknya inilah yangpaling Jaya diantara mereka bertiga. Diusianya yang belum genap 30 ia sudah punya 5 pewaris, dan memiliki perkebunan cukup luas, punya usaha WO yang semakin maju, Usaha rumah kontrakan yang selalu dipakai. Dan tambahannya ayah lima anak ini barusaja menamatkan sarjana Agama diSekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Swasta dikota sendiri, bersamaan dengan kelahiran putri kembarnya tiga bulan yang lalu.


Elang tanpa sengaja terus membandingkan hidupnya dengan adiknya dalam hati, dalam hal materi ia tidak iri sedikitpun, karna dari awal memang Syafir seorang yang unggul dalam berwiraswasta. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pengusaha bijak,akan lebih kaya dari pegawai negri. Tapi untuk keturunan, Elang sedikit berkecil hati. Adik ipar yang terakhir ini menjalani program keluarga Berencana suntik masih bisa kebobolan dan mengandung putri kembar. Dia yang sudah duakali melaksanakan program Bayi tabung masih saja gagal.Namun walau begitu, Elang sesungguhnya tidak pernah patah semangat. Berbeda dengan Suci yang sudah mengaku capek dan ingin pasrah, katanya sudah terlalu banyak biaya yang terbuang sia- sia.


Akhirnya mobil tiba dipintu pagar rumah besar itu Mereka disambut oleh Security. Security itu yang akhirnya memarkirkan mobil Elang. Sedang pasangan ini, masih tanpa bicara, mereka berjalan memasuki rumah mereka, ketika disapa oleh palayan yang bertugas membersihkan dan menjaga rumah ini, keduanya hanya membalas dengan senyum kaku.


" Ada apa dengan tuan Elang dan nyonya Suci? program kali ini gagal lagi?" tanya hati pasangan pelayan itu hampir senada.


" Bibi Zai!


" Ya nak. " Sahut asisten rumahtangga yang perempuan.


" Tolong antar makan siang kekamar ya, sepertinya kami sedang butuh istirahat. " pinta Elang setelah melangkah lumayan jauh menuju kamar, pria muda itu kembali berbalik.


" Baiklah nak, istirahatlah, dalam sepuluh menit, hidangan akan sampai dikamar kalian." Timpal pak Zainal sang suami.


" Makasih." Ucap Elang sebelum berbalik kembali, sedang Suci sudah lebih dahulu kekamar. Wanita itu langsung rebahan ditempat tidur.


Elang tersenyum kecut, melihat istrinya terbaring tengadah menatapi langit- langit kamar dengan tatapan kosong, ia segera menghampiri Suci.


" Jangan bermenung begitu! nanti ada yang nempel lagi. " Ujar Elang mengingatkan Suci sembari mengusap lembut wajah istrinya. Elang sangat khawatir dengan setiap Suci mulai bermenung, karna akhir- akhir ini istrinya sering kejang- kejang, dan kalau sudah begini, Elang yang akan susah menenangkannya, bahkan yang terakhir,dengan terpaksa Elang bawa Suci ketempat Ustadz A untuk ruqyah, karna ia sudah tidak bisa menangani Suci sendiri.


" Ayo kita shalat Isya jamaah sayang...Siap itu baru bobok ya." Ajak Elang dengan menatap Suci penuh kasih.

__ADS_1


Suci mengangguk lemah, lalu mencoba duduk.


Melihat istrinya begitu, Elang dengan cepat membantu Suci untuk duduk.


Cinta datang dan makin besar seiring waktu. Itulah yang terjadi dengan Elang. Tujuh tahun bersama membuat Elang makin sayang pada Suci, walau belum ada putra atau putri untuk memperkuat ikatan kasih mereka. Bagi Elang, itu semua tak masalah, hanya sebagai manusia ia terus berusaha tanpa putus asa, sebagaimana nasehat adiknya.


Entah ini jamaah yang keberapa kali bagi pasangan ini. Yang jelasnya Elanglah yang selalu dengan sabar menuntun istrinya menuju sajadah panjang mereka.


Baru saja Imam Suci mengucap salam.Terdengar ketukan dipintu. Setelah salam mengikuti imam, Suci segera berdiri dan melangkah untuk membukakan pintu. Suci mencoba untuk tersenyum pada pasangan asisten rumah tangga itu. Melihat majikan masih berpakaian ibadah, tanpa bertanya bibi Zainab dan paman Zainal segera masuk dan mengatur makanan dinakas,tidak lupa menutup rapi semua hidangan yang mereka bawakan, lalu tersenyum dan menunduk pada Suci sebelum berlalu.


Suci balas mengangguk, lalu kembali ketikar shalatnya setelah pasangan muda zaman dulu itu berlalu dari kamarnya. Perempuan yang tampak kurang semangat itu mulai mengangkat tangan, dan terus mengaminkan doa suaminya dalam hati.


Usai berdoa dan membaca Alquran beberapa ayat saja, Elang menoleh pada Suci. Sucipun mengulurkan tangan pada suaminya. " Maafkan sam_ Elang segera menutup mulut Suci dengan telunjuknya.


" Jangan minta maaf lagi kalau kalimatnya tetap yang itu. " Ujar Elang kemudian membuka pakaian shalat Suci.


Elang menggantung pakaian ibadah mereka dengan rapi digantungan. Lalu berjalan menuju nakas.


Suci mengangguk kemudian berdiri menghampiri suaminya. Membantu pria itu menurunkan makanan dari meja nakas.


Mereka makan malam sambil duduk bersila dan bersimpuh didepan televisi kamar mereka. Setelah makan Elang kembali kekamar mandi. Entah mengapa tiba- tiba Elang teringat pada mamanya, tadi pagi Elang masih sempat VC dengan sang mama yang sudah tiga bulan ini dipembaringan karna sakit tua.


Elang gosok gigi terlebih dahulu, sebelum memutuskan untuk kembali Wudhu. Sedang Suci memutuskan untuk tidur setelah beberes.


Malam ini tepat malam Jumat, Elang membuka buku Yasinnya. Elang mulai membacanya sampai akhir dengan irama sendu. Disaat membaca doa Yasin Hatinya terasa sangat lembut dan sedih, hingga airmata pria tampan ini berlinang. Rangkaian doa selesai disambut dering telfon yang membuat hati Elang terlonjak kaget. Dilihatnya Jam dinding kamar mereka yang sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam.


Elang berjalan lemas menuju telfon gengamnya dimeja yang sedang tercarger.


Setelah melihat itu telfon dari nomor adiknya, hati Elang kian berdebar.


" Assalamualaikum...bagaimana kabar mama dik? " tanya Elang langsung setelah menyambungkan telfon, kemudian Elang terdiam mendengar suara tangis ponakannya Savina, dan suara Abi dan Syafir yang melafaskan kalimat syahadat tauhid seperti sedang membimbing seseorang.

__ADS_1


" Mama_ terdengar jawaban Syaffana yang terputus dari sebrang.Lalu disusul ucapan terputus - putus sang mama dalam melafaskan kalimat shahadat dibawah bimbingan Syafir dan putranya itu.Tangan Elang bergetar, tubuhnya menggigil tatkala sadar Syaffana menelfonnya untuk memperdengarkan sangmama sedang menghadapi sakaratul maut.


Lengkingan tangis Syaffana dan putrinya pecah,kemudian terdengar Isak bibi Rima dan yang lain.


Detik berikutnya telfon genggam Elang sudah tergeletak dilantai, seiring tubuhnya yang terduduk lemas dilantai.


" Nenek kalian telah kembali...Ia sudah mendahului kita. Boleh menangis ya sayang... Tapi Ayah mohon


jangan ada yang meratap. Hiks." Elang sayup- sayup masih mendengar suara Syafir yang terisak sebelum ia kehilangan kesadarannya.


****


Elang sadar setelah Suci membasuh muka suaminya itu.


Mendengar suara Isak tangis ditelfon


yang loudspeaker, Suci terbangun dari tidurnya.


Mendapatkan suaminya pingsan dilantai dengan tubuh keringatan, Suci segera mengambil botol air mineral, mengambil sedikit airnya danmemercikkan kewajah Elang, lalu mengusapkan air itu pula, sampai Elang tersadar.


" Mama telah pergi Suci... aku tak bisa bersamanya disaat terakhirnya. Hik...Elang kemudian menangis seperti anak kecil dalam dekapan Suci.Suci tak tahu harus berkata apa membujuk suaminya, tanpa


bisa dibendung airmatanyapun turut mengalir deras.


" Akulah yang telah membuat suamiku jauh dari mamanya. Kalau tidak karna program ini, kami pasti dikota S, dan bisa sampai esok pagi dirumah mama, setidaknya suamiku bisa menyelenggarakan mama, mengantar mama ketempat peristirahatannya yang terakhir. " Sesal Suci dalam hati.


Merasakan tubuh Suci yang bergoncang, Elang berkata. " Jangan menyalahkan dirimu, ini sudah takdirku." Ujar Elang sembari melepas pelukan Suci.Dicobanya menguatkan hati untuk berdiri.


" Walau takkan mungkin melihat mama untuk yang terakhir, setidaknya kita harus sampai disana Esok sore. Aku yang akan memimpin tahlilan untuk mama. " Ucap Elang sembari bersiap.


" Ya...Jawab Suci lirih.

__ADS_1


__ADS_2