
Pagi masih buta, ketika Syafir membantu mengeringkan rambut istrinya dengan Hair Dryer. Suara Kokok ayam jago mulai sahut menyahut menandakan hari akan berganti jadi terang.
" Kayaknya sudah kering. " ucap Syafir lembut. Lalu mengambil sisir, dan menyisir rambut Syaffa dengan hati- hati,
takut merontokkan rambut belahan jiwanya itu.
Syaffa sedang menikmati maha karya suami dirambutnya, sembari tersenyum memandang cermin hias.
" Kalau buka salon pasti laku deh yang...hasilnya bagus, dan sentuhan tangan hairstylistnya lembut dan ajaib " puji Syaffana.
" Ngak kali yang...maunya orang- orang kan pada tutup kepala.
Sedang rias pengantin saja sudah pensiun. Kalau nekat buka salon, ntar ada yang cemburu, trus cemberut." Goda Syafir sembari menggesek hidung Syaffa dengan hidungnya.
" Geli tau! " protes Syaffa mendorong dada Syafir pelan.
" Masak itu aja geli. " Ejek Syafir bergumam.
" Pokoknya geli! Awas Abang kugelitiki sampe Piscel! " Ancam Syaffa mulai memasang kuda- kuda.
Syafir ambil langkah seribu untuk kabur, ia benar- benar ngeri membayangkan pipis celana karna gelitikan Syaffa.
" Mau lari kemana! Semua sudah dikepung dari segala arah! Menyerahlah! " Teriak Syaffa lalu mengejar Syafir.
Baru saja Syafir akan tertangkap.
Bel berbunyi mengejutkan kedua pasangan itu, spontan mereka menghentikan permainan tangkap- tangkapan itu.
" Siapa yang datang sesubuh ini? " tanya Syaffana mengernyit.
" Mungkin bang Elang yang mau balik kekota S, ia sengaja mampir karna semalam Abang tidak membalas pesannya." Tebak Syafir.
Mendengar nama itu Syaffa kembali melengos.
Syafir menyentil hidung bugir Syaffa.
" Sudah...belum siap bertemu tak usah dulu, biar Abang saja yang keluar." Ujar Syafir menenangkan istrinya.
Syaffana berfikir sejenak, kemudian menarik suaminya.
" Tunggu...Kupakai tutup kepala dulu, penasaran juga dengan istrinya. " ucap Syaffa lirih.
Bel kedua berbunyi lagi. Setelah merasa oke, Syaffana bergelayut pinggang suami, sedang Syafir mekingkarkan tangan kirinya dipundak Syaffana.
Setelah mengintip dari jendela kaca, melihat mobil Elang yang terparkir, barulah Syafir membukakan pintu.
Krek...Pintu kayu itu terbuka, disusul terali pintu dari luar.
Disambut oleh adik yang digandeng mesra oleh mantan, cukup membuat Elang untuk sejenak berhenti bernafas.
" Sekarang ia adalah adik ipar, untuk selamanya akan selalu jadi adik ipar!. " Batin Elang mengingatkan.
Sejenak hanya ada kebisuan diantara keempat manusia itu.
" Masuk bang..." Ucap Syafir memecah kesunyian, kemudian menarik lembut istrinya agar mereka bergeser dari pintu, memberi jalan pada Elang dan istrinya.
" Ti- tidak dik...Abang hanya ingin pamit, karna bang Zahran sudah kembali keasrama dengan kak Mia kemarin, sekarang tinggal mama dan bibi Rahmi dirumah. " Ujar Elang.
" Baiklah bang...Aku akan rutin melihat mama dirumah." Jawab Syafir sembari matanya mencuri pandang pada Suci yang nampak canggung mendapat tatapan tajam dari istrinya.
Syafir meremas jemari istrinya dengan maksud mengingatkannya. Namun malah mengundang Mata Elang tertuju pada mereka.
" Ya Tuhan...ternyata mereka sudah saling mencintai, rambut Syafir masih basah, sedang Syaffa begitu manja bergelendot padanya." Umpat Elang dalam hati.
__ADS_1
Sedang Suci lain lagi.
" Mereka begitu mesra, tapi ia tetap menatap sinis padaku. Artinya ia masih ada perasaan dengan suamiku. " Tebak hati Suci.
" Iss....Mana aku suka pada lelaki itu lagi, yang tinggal hanya rasa kesal padamu
dan padanya karna kalian, aku hampir mendapat malu, untung jodohku segera menyelamatkanku, aku bersyukur memilikinya, makan sama mu suamimu! " Geram hati Syaffa menatap suci kian tajam, ia juga makin mengetatkan tubuhnya kedada Syafir.
Syafir yang mengerti perasaan istrinya, memindahkan tangannya untuk mendekap pinggang kecil Syaffana.
Elang makin pengap dengan pemandangan yang membuat matanya kian terasa diselubungi kepulan asap.
" Abang sama kak Suci masuk dan duduk dulu, biar aku dan istriku siapkan sarapan
pagi. " Ucap Syafir
Suara klakson mobil membuat hati Elang terlonjak.
" Lebaran nanti saja kita berkumpul, sekarang Abang berangkat dulu, itu Zain sudah tak sabar menunggu. " Ucap Elang senang, mendapatkan ide untuk berkilah.
" Baiklah kalau begitu, orang tak Sudi, bagaimana bisa kupaksakan. Hati - hati dijalan bang..." Ucap Syafir.
Syaffa mengurai pelukannya, dan melangkah kearah sofa.
Syafir tersenyum lembut pada istrinya, kemudian maju untuk menyalami Elang.
" Jangan lupa jaga mama kita. " Ucap Elang lirih, masih curi pandang pada Syaffana.
Sedang Syaffana sudah tidak lagi melihat
kearah ketiga orang itu, jadi Elang hanya bisa memandang bagian belakang kerudungnya saja.
" Takkan mudah bagimu memaafkanku adik ipar. " Kata Elang tentu saja ia kemukakan dihati saja.
" Sok juga tuh cewek, padahal polisi, ngak lapang dada juga ternyata.
Suci melangkah dengan mencibir, hingga tak sengaja sepatunya tersenggol batu.
Suci terjungkal didepan rumah Syafir, bertepatan ketika Syaffa membalikkan badannya, mengira orang itu sudah jauh.
Elang terlambat menangkap Suci, hingga suci tersungkur dan nampak menyedihkan, Syaffana spontan mengulas senyum sedikit.
Syafir berlari keluar melihat Suci, kemudian berjongkok disamping Elang.
" Ada yang terluka bang? " tanya nya cemas, melihat Suci memegang bagian lututnya.
" Tidak apa- apa...Makanya kalau jalan hati- hati. " Ujar Elang sembari membersihkan pakaian Suci yang berpasir, lalu kemudian membopong Suci.
" Apa sebaiknya diobati dulu didalam bang.." ucap Syafir menawarkan masuk.
" Tak usah dik...Dimobil juga ada kotak obat, nanti Abang obati, kan mobil ada yang sopiri. " tolak Elang.
Syafir hanya bisa mengangkat bahunya, lalu ia mengangguk pasrah.
" Ih...Untuk dapat gendongan suami saja, harus rela jatuh dulu. " Ucap sinis Syaffana.
Syafir yang mendengar ucap lirih istri hanya tersenyum kecut, sembari melambaikan tangannya melepas keberangkatan Inova yang membawa Abangnya.
" Kalau boleh jujur, aku juga tak suka cinta Abang dirampas begitu, tapi apa boleh buat semua sudah terjadi, Ini pulalah jalan perjodohanku dengan istriku. Semoga Abang bisa bahagia akhirnya. " Harap Syafir dalam hati kecilnya.
Syafir berjalan kedalam dan mendapati istri masih cemberut. Ia mengangkat Syaffa dan mendudukkannya dikursi.
" Sudahlah sayang.....tak boleh begitu, kita syukuri saja apa yang sudah terjadi. Kalau bukan karna kenekatan gadis itu , belum tentu Abang bisa bersama Syaffana." Ucap Syafir membujuk istrinya.
__ADS_1
" Ya...Tapi tetap saja perempuan itu dicap sebagai perampok ! " Ujar Syaffa masih dengan nada kesal.
" Ahhh,,, Kalau masih bersikap begitu, tandanya adik menyesal bersamaku. " Sungut Syafir.
Syaffa turun dan segera menubruk suaminya, memeluknya dengan Erat. " Tidak! Aku sangat bahagia dengan persatuan kita. " Ujarnya tegas.
" Trus mengapa masih sinis pada orang? " Tanya Syafir sembari menatap lekat Syaffana.
" Sayang.. Aku cuma manusia biasa, tidak
bolehkah hatiku menyimpan kesal pada orang yang hampir mengacaukan hidupku?" tanya Syaffa menatap sendu suaminya.
Syafir membelai wajah syaffana.
" Jangan lama memelihara dendam ya sayang.. kalau mau mencintai suami apa adanya ini, tolong belajarlah melupakan masa lalu. " Ucap Syafir lirih, nyaris terbang bersama embun yang terserap sinar mentari pagi, dengan tatapan tak kalah sendu dari Syaffana.
Syaffa mengangguk, kemudian mengecup pipi kekasihnya. " I Love you my Hubby "...Bisiknya.
" Aku juga sangat- sangat Cinta
kekasihku! ..." jawab Syafir lebih lebay dan keras, membuat Syaffa terpaksa menutup kupingnya.
" Apa kalau adik budeg masih Cinta? " Tanya Syaffa sembari mendorong pelan dada suaminya.
" Akan tetap cinta dong sayang...apalagi bila itu karna perbuatanku, Abang pasti tanggung badan. " ujar Syafir mantap.
Syaffa menatap lekat netra suaminya, menemukan tak ada kebohongan dan intrik disana, iapun tersenyum sembari menggelendot didada suaminya. Merasakan debaran didada Syafir berpacu seirama dengan detak jantungnya yang kian menyintak. Ia bersyukur kembali dalam hatinya.
" Cinta datang menghampiri kadang tak disangka caranya. Untuk diriku, ternyata caranya harus dengan perampokan.
Semoga pertemuan berikutnya dengan mereka, hatiku sudah semakin ikhlas, seiring dengan cintaku pada suamiku yang makin membubung. " Batin Syaffana.
" Ayo temani adik masak didapur ya..kan belum kenal betul dengan dapurnya. " Rengek Syaffa kemudian.
" Siap pak suami ! " Ujar Syafir memberi hormat.
" Uisss! Masih aja pakai senjata semalam. " Ejek Syaffana sembari menyeret Syafir kedapur.
Setelah memasak nasi dan sayur, Syaffa lalu mendadar telur untuk menambah sambal semalam.
Sedang asyik menikmati makan pagi, Notifikasi WA Syaffana berbunyi beberapa kali. Syaffa menggesek layar dan membuka pesan itu, lalu ia menepuk jidatnya.
" Ada apa sayang? Ada yang terlupa dikampung perbatasan? " tanya Syafir mengernyit bingung.
" Baru saja menikmati semalam dengan suami, sudah dapat surat perintah tugas lagi. Disitu kadang hatiku sedih jadi alat negara. " Ucap Syaffa dengan bibir mengerucut.
Syafir tak membiarkan itu lama, dipagutnya bibir mengerucut itu dengan lembut.
Merasakan kecupan berbau cabe yang tiba- tiba itu, syaffa membuka mulutnya, hingga Syafir bebas mengabsen seluruh isi mulut Syaffana.
Syaffa memejamkan matanya, menikmati permainan lidah suami.
Setelah Syafir mengurai bekapan bibirnya, Syaffa menatapnya dengan mendamba.
" Adik mau pagi ini..." rengek syaffana dengan berbisik dikuping Syafir.
" Kan mau pergi dinas." Jawab Syafir lirih.
" Nanti siang berangkat, piket malam menggantikan jadwal bang Anto yang belum pulih, besok dinas kedaerah pinggiran pula. Mau ya sayang...masih kangen nih...Rengek Syaffana.
" Pasti maulah sayang...Makan yang benar dulu ya, biar ngak lemas. " Bujuk Syafir.
Syaffa menghabiskan makanannya dengan patuh, walau hatinya sedih berpisah lagi, ia harus tetap menjalani tugas itu.
__ADS_1
Berlanjut...