
Syaffana malah jadi suka pada Benyamin. Sebelum remaja yang kata suaminya tak jelas itu pergi, ia menyelipkan tujuh lembar anti basah
kekantong baju Benyamin.
Benyamin berjalan seperti undur- undur saking geroginya dapat uang kaget dari Syaffana, hingga tubuhnya membentur tembok, baru ia berhenti.
Syafir terkikik geli melihat ekspresi Benyamin yang lucu. Iapun mendekat pada Benyamin. Sedang Syaffana malah bingung.
" Orang dapat uang jingkrat- jingkrat. Kok ia malah pucat. Apa wajahku menyeramkan ya? " tanya Syaffana dalam hati.
" Ngak usah gerogi gitu terima uang negara Min...Kakakmu ikhlas kok memberikannya. Ia akan pergi menjalankan tugas, doakan saja ia sehat dan selamat ditempat tugas. " Ujar Syafir sembari menepuk pundak Benyamin.
" Aku disuruh ibu memberikan semuanya cuma- cuma kok bang...katanya ganti kado nikahan kalian , kalau nanti aku bawa uang sebanyak ini, ntar Mak kira aku habis nyolong dirumah Abang. " Ucap lirih Benyamin, masih dengan ekspresi khawatir.
" Tidak! Abang akan kirim pesan sama bibi Rifa, pokoknya adik tenang dan kembalilah kepasar." Bujuk Syafir.
Benyamin mengangguk patuh, dan segera berjalan keluar diantar Syafir dan Syaffana.
" Pakai becak aja ya..." tawar Syafir melihat becak kosong dari kejauhan.
Mendapat anggukan dari Benyamin, Syafir bertepuk.
Pengemudi becak itu mengerti, segera membawa becak motornya menuju halaman rumah Syafir.
" Terima kasih sudah bantu kakak masak sama beberes ya dik..." Ucap Syaffana lembut setelah mengantar Benyamin kedekat becak.
" Makasih juga udah kasih belanja kak... " jawab tulus Benyamin.
Syaffa mengangguk dan melepas kepergian Benyamin dengan melambaikan tangan.
" Ditinggal teman baru aja ngak enak. Apalagi ditinggal istri. " Batin Syaffana teringat akan meninggalkan Syafir untuk tugas esok dipinggiran.
Setelah Benyamin pergi, Syaffanapun berjalan lesu menuju ruang tengah. Disana tas Syaffana sudah siap untuk diangkat.
" Jangan khawatir dik...Abang kerja bebas kok, setelah melihat mama dan ayah, surfey kebun, Abang akan menemuimu ditempat tugas. " Bujuk Syafir sembari memeluk pundak Syaffana.
" Gimana ngak khawatir bang...setelah kita menikah, bahkan bertemu dengan ayah dan mama mertua saja belum sempat akunya. " Umpat Syaffana.
" Biar Abang yang menggantikanmu sementara menjaga orang tercinta kita. " bisik lirih Syafir sembari mengeratkan dekapannya.
Dekapan itu terurai, tatkala suara klakson mobil menggema dari depan.
" Kayaknya mobil patroli sudah tiba, aku berangkat ya bang..." Pamit Syaffa dengan suara lesu.
" Kasihan istriku terlihat lelah. " batin Syafir sembari mengangkat tas Syaffana.
Syaffana melangkah dibelakang suaminya masih dengan langkah malas.
Begitu sampai didepan pintu mobil dinas itu, mata Syaffana membulat kaget.
" Lin!!! Mengapa kau ikut- ikutan disini? " tanya heran Syaffana melihat Lin duduk disisi SerDa Afrianto.
" Gara- gara bersandiwara jadi kekasih polisi tampan ini didepan kepala preman itu, bang Gordon memintaku datang pagi tadi, karna bang Anto akan dibawa pulang. Sebagai kekasih aku wajib menjemputnya." Jelas Linlin tanpa beban.
" Ya ampun...kebohongan kecil berbuntut panjang. " sesal Syaffana.
" Udah cepat masuk, ntar rekanmu marah. " Ujar Lin mengingatkan.
" Apa kau ikut juga pulang ke asramanya? " Timpal Syafir melongok dipintu.
" Ya ngaklah!!! Aku hanya sampai rumah! " tegas Lin panik.
Ger
__ADS_1
Semua tergelak melihat kepanikan Lin, tidak terkecuali polisi muda itu. Ia mencuri pandang pada Lin.
" Gadis atau janda sekarang tak ada beda, bahkan kadang lebih apik yang begini, status dah jelas, tak ada penipuan. " Batin Anto.
Syafir yang melihat gejala yang tak diduga pihak lain itu, tersenyum simpul.
" Selamat jalan dan semoga semua harapan dapat diwujudkan! " Ujar Syafir sembari menutup pintu.
Mobil melaju, sebelum kedua wanita itu keluar dari kebingungannya karna ucapan diplomatis Syafir.
****
Setelah keberangkatan istri. Syafirpun memeriksa rumah. Yakin semua aman, iapun keluar dengan membawa tas berisi beberapa pakaian ganti.
Syafir memutar mobilionya keluar menuju jalan besar.
Setelah beberapa menit berkendara, ia teringat motornya yang masih pada Lin.
Syafir lalu mengirim pesan dengan menggunakan tangan kirinya.
Begitu sampai digerbang utama rumah besar, pak satpam buru- buru membukakan pintu portal dan pintu menyambut Syafir.
" A- Anu nak..." ucap pak Jhon terbata.
" Ada apa pak? " tanya Syafir mulai berdebar , melihat wajah gugup pakJhon.
" Nyonya jatuh dikamar mandi, dan sekarang lagi diperiksa dokter Susi. " Jelas panik Pak Jhon.
Syafir melajukan mobilnya cepat dan berhenti didepan pintu.
BAR...BAR...
Pintu mobil dan pintu rumah dibanting tanpa belas kasih. Syafir berlari masuk kekamar mamanya.
" Ma- mama !!! Teriaknya didepan pintu.
" Kita akan bawa Bibi RSUD BT, karna disana yang lengkap ahli syaratnya." Ujar Susi sembari menelfon Ambulance.
" Kak ....Mama kenapa? tanya Syafir makin cemas setelah telfon Susi terputus.
" Bibi mengalami stroke Syafir! Bersiaplah...kita akan membawanya sebentar lagi. " Ucap lesu dokter Susi.
Syafir segera menumbruk tubuh mamanya. Menangis seperti anak Bayi sembari memijiti tangan dan kaki mamanya dengan cemas.
" Mama...mama...." rengeknya dengan terisak.
Beberapa detik berikutnya, keajaiban terjadi.
Carolina mengerjabkan matanya dan tangannya menggenggam tangan Syafir.
" Ajaib!!! " Bibi sadar karna sentuhanmu! " teriak riang Susi.
" Alhamdulillah!!! " Seru bi Rahmi.
Sedang Syafir memeluk dan menciumi mamanya. Airmata Carolina menetes saat menatap wajah putra kecilnya.
" Sayang...Kamu datang??? " tanyanya dengan bibir bergetar.
" Tentu aku akan datang ma...aku juga akan merawat mama sesuai janjiku." ucap Syafir sembari menggenggam tangan sang mama dan membawa
keduanya kebibir untuk mengecupnya berulangkali.
Susi kembali memeriksa tekanan darah Carolina yang sudah turun.
__ADS_1
Sayup- sayup serene mobil Ambulan terdengar dari depan. Susi mengernyit sembari menatap Syafir. " Gimana? Nampaknya bibi sudah bisa menggerakkan semua tubuhnya,tekanan darahnya pun sudah turun, apa mau dibawa kerumah sakit juga? " tanya Bingung Dokter Susi.
" Iya kak...Biar diperiksa dulu oleh Ahlinya, setelah dinyatakan aman, baru kubawa kembali." Ujar Syafir mantap.
" Baiklah..."
Syafir bermaksud ingin menggendong mamanya. Tapi sang mama tertawa.
" Hey...Anak muda, ototmu masih kurang besar untuk menahan berat badanku. " candanya kemudian duduk.
" Suruh pulang ambulance mu itu Si...Bukde mau kerumah sakit dengan mobil baru putra bungsu! Ogah naik mobil mayat itu! " Ujar Carolina tanpa merasa berdosa.
" Bukde!!! Tega amat buat aku kayak dokter abal- abal. " sungut Susi.
Syafir yang melihat iparnya merenggut, segera kedepan.
" Pasiennya menolak naik Ambulance bang.." Ujar Syafir sembari menyelipkan lembaran uang anti basah kesaku sopir Ambulance itu.
Pria itu mengernyit bingung. " Jadi bagaimana?" tanyanya dengan mengangkat kedua tangannya.
" Maaf...Abang Ando kembali saja ke Puskesmas. Good Job!!! " Ucap Syafir dengan menepuk pelan pundak
pria sebaya Elang itu.
Pria itu menggaruk kepalanya yang tiba- tiba gatal.
" Ini untuk apa? " tanyanya menunjuk sakunya dengan bibir.
" Anggap saja rezeki Ayah Sholeh. " Balas Syafir menebak Ando sudah mendapatkan momongan, karna tahun lalu, ia yang mengurus pesta pernikahan sopir itu.
" Makasih dik...tau aja sikecil baru bronjol. " Ucap riang pria itu sembari masuk kedalam mobil.
" Santai aja Bro!!! Selamat berpuasa!!! . Seringai nakal Syafir.
He...He..."Semoga menyusul jadi ayah! " seru balik Ando sebelum melaju.
" Semoga...Balas lirih Syafir.
Om Jhon berlari mendekati Syafir setelah Ambulance lewat.
" Bagaimana nyonya nak?" tanyanya ngos- ngosan.
" Kami akan kerumah sakit dengan mobil ini sebentar lagi. " Jelas Syafir sembari menyentuh mobilnya.
" Kakak ikut denganku membawa mama berobat. " ucap Syafir dengan nada perintah pada dokter Susi.
" Kalau tadi tentu aku ikut, sekarang bukde baik - baik saja, dan perginya sambil nyantai denganmu, mengapa pula aku harus pergi. " tolak Susi.
Syafir memandang Susi dengan seringai centil.
" Kau pasti tidak akan menolak begitu tahu aku bawa siapa kak. " Ujar Syafir sembari menggeret koper mama menuju mobilnya.
Menit berikutnya, Syafir Kembali kerumah dengan membawa seorang pria tampan.
Susi melongo menatap pria yang sudah lama dia impikan.
" Busyet!!! Tau aja nih Pariban Lucnut kelemahanku." Omel Susi dalam hati.
Sedang Syafir menyeringai centil sembari melewati Susi.
Kedua pria tampan itu menuntun mama menuju mobil.
Seperti kerbau dicucuk idungnya, Dokter Susi mengikuti langkah mereka memasuki mobil Syafir.
__ADS_1
" Kejutan hari ini cukup menguras hati. " Ujar Syafir setelah mereka semua memasang sabuk pengaman.
Bersambung...