Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Mabuk Lagi


__ADS_3

Andrea melajukan mobilio Syafir dengan kecepatan sedang. Lin duduk di bangku depan. Sedang Syaffana dan Syafir dibangku tengah.


Perjalanan pulang dilewati Syafir dengan sangat menyiksa. Berulang kali ia meminta mobil berhenti untuk memuntahkan isi perutnya dipinggir jalan .


Syafir benar- benar mabuk lagi. Ia sudah memuntahkan semua isi perutnya, sampe terasa pahit dan sakit ditenggorokan. Keringat dinginpun merembes dari pori- pori kulitnya.


Syaffa tak tega melihat wajah suaminya yang sudah memucat. Ia terus memijiti punggung dan tengkuk suami , mengoleskan frescare berulang kali, mencoba untuk membantu mengurangi mual yang diderita suami.


Syafir berusaha memejamkan matanya untuk menutupi pandangannya terhadap lalu lalang jalanan, walau sebenarnya ia ingin sekali melihat aktivitas keramaian jalanan oleh relawan dari berbagai yayasan yang berusaha mengumpulkan bantuan bencana gempa yang baru melanda daerah ini. Tapi apa boleh buat, setiap menengok jalanan, kembali perutnya terasa diaduk- aduk.


" Golek sini... " Ajak Syaffa menepuk pahanya , agar Syafir berbaring dipangkuannya.


" Syafir menatap ragu karna khawatir kaki Syaffana akan kepocong karna menahan tubuhnya, bagaimanapun juga menurutnya Syaffalah yang seharusnya dimanja, kalau ia, justru jadi terbalik kelihatannya. Syafirpun menggelengkan kepalanya tidak tega membayangkan istrinya akan kesusahan karnanya.


Hati Syaffa menjadi panas karna merasa suaminya menganggapnya perempuan lemah dan tak patut tempat bersandar.


" Berbaring sini! " Kali ini Syaffa memintanya dengan nada keras, hingga Syafir tak bisa menolak lagi.


" Tahan sampai di S4 , udah dekat kok, nanti mampir asrama jemput motormu, naik motor saja biar ngak mabuk lagi. " timpal Linlin.


" Aku heran, saat kita buru- buru kesini untuk memastikan keadaan kalian, aku tidak sempat mabuk, ini sudah didekat istri kok malah kayak mau mati begini. " Rungut kesal Syafir pada kelemahan dirinya saat ini.


" Saking cemasnya, perutmu lupa mual! Begitu sudah merasa aman, gejolaknya datang lagi. " Jawab sembarang Linlin.


" Mana ada begitu! " sanggah Syafir. "


" Kenyataan yang bicara! " kukuh Lin.


" Sudah berdebatnya! coba ntar naik motor kalau aman." Ujar Syaffa, dengan berbinar. Ia terus memijiti pelipis syafir yang berbaring dipangkuannya.


Teringat Lin bakalan berduaan saja semobil dengan Andre, dahi Syaffana mengerut bimbang.


" Aku yang bawa mobil, biar para lelaki yang naik motor. " Usul Lin mengerti kekhawatiran Syaffana.


" Tajam juga ni mata hati JM cantik. " Batin Syaffana.


" Jadi ngak bisa dekat adik dong... " Rungut Syafir dengan bibir mengerucut.


" Iss..Wek....sok manja amat sih you, kalau mau mampus mabuk tetap saja dimobil! Kayak ngak ada waktu aja lagi. Padahal dirumah juga kalian bisa dempet- dempetannya siang malam. " Cibir Lin.


" Apa? Siang malam? Enak aja! Emang kamu kira kami kutu rambut? " tanya Sorak Syafir dan Syaffa bersamaan.

__ADS_1


" Terserah dech.. Yang penting pending dulu usap- usapannya kalau mau hidup sampai rumah! " Ujar Lin sembari menatap tajam kedua pasangan Bucin itu.


Tanpa terasa karna asyik berdebat, merekapun tiba didepan asrama. Andre menghentikan mobil dipinggir jalan.


" Gimana Bos? jadi mau naik motor bareng saya? " tanya Andre yang dari tadi


hanya jadi pendengar Budiman.


Syafir menatap istrinya, meminta persetujuan. Mendapat anggukan dari istri, iapun mengangguk pula pada Andre.


" Sini kunci pintu sama kunci motor." Pinta Andre.


Lin segera mengambil kunci motor dari saku tasnya, sedang Syaffa mengulurkan kunci asramanya pada Andre.


Menunggu Andre menjemput motor, Syaffana terus memijiti punggung Syafir yang sudah kembali duduk.


" Nanti dipasar UG, beliin sawo, salak, Jambu dan duku ya yang... " Rengek Syaffana.


" Hem...kirain pijitannya gratis, ternyata imbalannya banyak macam." Lin geleng- geleng kepala.


" Demi calon anak! " Ujar Syaffa menyeringai.


He...He....


" Mana Syaffa mau gunung, dia sudah punya gunung kembaaar yang mencakar, ya ngak Sa? " Ujar Lin dengan menaik turunkan alisnya.


" Huh...Sepertinya otakmu geger sejak digoncang gempa dech Lin, kekiri aja bawaannya." dengus Syafir.


" Bukan lantaran gempa, tapi karna kalian berdua juga yang dari semalam pamer kemesraan terus, ngak kasihan dikitpun pada jomblo akut sepertiku. " Ucap Lin dengan wajah disendukan.


" Udah...aku turun dech, stop sementara pencemaran matamu. Tapi jangan lupa, baik - baik bawa istri dan calon anakku ya... " Balas Syafir sembari mengecup kening Syaffa, melihat Andre yang sudah tiba. " Golek aja ya sayang...Biar Lin sendiri yang bawa mobil, biasa lagi, ia sopir Batak yang handal." Bisiknya pada Syaffa sembari mengatur bantal untuk Syaffana.


Syaffa mengangguk patuh dan membaringkan tubuhnya dibantu Syafir.


Sekali lagi mereka saling memberi kecupan singkat tapi hangat.


" Bau muntah saja dibagi- bagi. Uek...sering- sering lihat yang begini ntar gua pula yang muntah. " Cibir Linlin.


Syafir mencium pipi Syaffa sekali lagi , lalu mengeeling centil pada Lin " Iri bilang Boss!


Tapi kayaknya emang tak perlu ngiri kamunya, kan tinggal tetapkan saja siapa yang bakal diterima jadi imam tahap dua, soal biaya pesta diskon 50 persen! Kan orang dalam. " Ujar Syafir.

__ADS_1


" Iss...Mana mau aku menggelar pesta biaya dari kita, siapa yang nikahi itu yang biayai, soal 50 persen darimu itu harus tunai, buat tambahan pundi- pundi! Ingat janji tu hutang, Gua catat dikepala !!! Begitu Lin ketemu jodoh transferan berjalan ya Bos ." Ujar Lin girang.


" Dasar matre! yang dibilang diskon biaya, bukan uang, kuping tebal!." Sanggah Syafir.


Lin cengengesan. Mengibaskan tangannya mengusir Syafir.


" Standbay Umi !" Serunya


pada syaffana sebelum menghidupkan mesin.


" Ok' . Yakin bisa bawa mobil, cantik ? Tanya Syaffa ragu karna belum pernah melihat Lin berkendara dengan roda Empat.


" Lihat saja mana yang lebih paten aku bawa mobil dari suamimu itu. " Ujar Lin membusungkan dada.


Syaffa mengerling.


" Baiklah...Hati- hati , biar lambat daripada cepat kerumah sakit. " Ucapnya mengingatkan Lin.


Lin tidak menjawab lagi, melihat motor Yang dikendarai Andre dan Syafir sudah menghilang dari pandangan, iapun segera melajukan mobil.


Demi mengamankan ibu dan calon kehidupan baru, Lin mengusir jauh jiwa berpacunya.


Syafir menarik nafas lega, tatkala dibonceng dengan motor ia tak pusing lagi. Namun Andre malah membawa motor kelewat balap.Ia pun berpegang kuat pada Andre. " Ingat juga dikit ya! bahwa kau masih lajang Sedang aku masih ingin merasakan jadi Abi, walau mualku ngak terampuni, aku tetap masih ingin hidup demi mama, istri dan calon buah hati. " Ucap Syafir sembari mencubit pinggang Andre.


" Tenang saja diboncengan kawan...Aku juga ingin merasakan gimana Syurga dunia, jadi diam saja dibelakang sambil berdoa. " Balas Andrea.


Berkat kelihaian Andre berkendara dengan metic barunya Syafir itu, mereka tiba lebih cepat dipasar UG.


" Mereka kayaknya jauh tertinggal." ucap Andre sembari memarkirkan motor.


" Pas bangat kamu berhenti Ndre, aku jadi teringat dia minta buahan! " Pekik riang Syafir saking senang ingat pesanan istri.


" Kalau lupa tinggal ganti aja dengan buahan setangkai dua batu, sejuta rasa!" seringai Andre.


Syafir menggaruk kepalanya yang tidak gatal. " Sepertinya orang- orang disekitarku pada minta kawin semua ni. " Ucap lirih Syafir sebelum melangkah ke gerai buah.


" Siap- siapkan saja kado istimewa habis lebaran." Balas senang Andrea.


" Mudah- mudahan bumi belum berakhir. " Balas Syafir.


Berlanjut....

__ADS_1


__ADS_2