
Syafir berbaring ditempat tidurnya dan mencoba memejamkan matanya, usai melaksanakan sholat Isya. Setelah capek
golek kanan dan golek kiri tak kunjung juga ia dapat terlelap. Suara notifikasi pesan ditelfon genggamnya, membuatnya teringat pada benda pipih yang sudah sejak tadi terabaikan.
" Kalau aku bermain Handphone dari tadi pasti sudah ngantuk." ujarnya lirih sembari meraih benda itu dari nakas.
" Tumben malam- malam kirim pesan. " Gumam Syafir melihat pesan Andre.
Gimana bos, aman pertemuan nyonya bos dengan ibu? Andrea.
Kenapa kepoin istri dan mamaku?🤔
Ngak ada, tadi kelihatannya Syaffa agak
gugup pas sampai didepan pintu!
Senang ya, curi perhatian sama istri orang! 😡
Andre terkikik geli membaca balasan pesan marah dari sang Bos. Sampai kebelat ia tertawa sendiri. Setelah balik dari kamar mandi Andre meraih kembali smart phonenya. " Kenapa ya Bos Syafir sensi gitu, ngak mungkin pengaruh ngidam lagi." Gumamnya.
Diketiknya lagi pesan untuk Syafir.
Ada apa bos, kok sewot amat, amat aja baik dan ramah. Oh ya? Tumben sedang dekat istri sempat balas Pesanku?
Calon istrimu datang mencuri istriku. Sekarang aku bobok sendiri gara- gara Susimu itu, mereka tidur dikamar mama bareng Assyifa, dan biMinah kayak susun teri, heran dech..kayak ngak punya pasien aja dia sekarang.
" Sabar Bos...lagian ngak sehat juga Bos yang muntah mulut atas sampe mau pingsan tadi, minta muntah mulut bawah pula malam ini, bisa Tepar ntar! Mending tidur dulu mulihin stamina. He...He...
Akhirnya Syafir tersenyum. " Iya ya, masak aku sampe lupa badan masih lemes, mengapa harus cemburu sama kak Susi ." gumam Syafir sembari manggut- manggut. Kalau tidak datang Susi, mungkin ia tidak bisa menahan diri untuk tidak memakan Syaffa malam ini.
Kemudian Syafir teringat bibi Rahmi.
Makasih udah mengingatkanku untuk tidur. Tolong kirim alamat bibi Rahmi kesini, Esok pagi aku akan kesana.
Ngak pake lama, Andre langsung mengirim alamat bibi Rahmi.
Detik berikutnya datang lagi pesan dari Andrea.
Kalau ketemu bibi jangan Emosi ya Bos...Ingat lagi ngidam! Pengen punya anak yang santun, baik, pintar dan penyayang kan? Abi mesti jaga sikap selama Umi mengandung baby.
Syafir tidak menjawab lagi. Ia mulai memejamkan matanya, masih susah lelap, karna banyangan tentang bibi Rahmi, adik mamanya itu terus berputar- putar dibenaknya.
" Kalau benar baru sekarang bibi menikah , selama ini kemana saja, masak saking terkekang sama mama, bibi bertahan, dan baru sekarang berontak, bisa betah sampai selama itu ya?bibi sangat cantik bahkan lebih cantik dari mama, baru sekarang ada yang suka? " Syafir pusing dengan banyaknya
tanda tanya dibenaknya.
" Mungkin jodoh bibi jauh kali ya..Jawabnya bermonolog.
Kelelahan, akhirnya membuat Syafir mengantuk jua.
Augghaahh...Syafir menguap, tak lupa ia menutup mulutnya. Detik berikutnya, akhirnya iapun masuk kealam mimpi.
__ADS_1
_
_
_
Dreeng...dreeng...dreeng...
Bunyi keras Alarm Handphone Syafir membangunkannya jam tiga dini hari. Syafir mengerjabkan matanya berkali- kali agar ia benar- benar terjaga.
Berkali- kali pula Syafir menguap sebelum akhirnya bisa duduk. " Ternyata tubuhku cukup lelah, sampe mau bangun aja berat sekali. " Ujarnya turun dari peraduan.
Syafir menggerakkan kedua tangan dan memurtar badannya kekanan dan kekiri beberapa kali untuk melenturkan otot- ototnya.
Tiba- tiba, suara angin menderu, disusul bunyi hujan diatas genteng, mengajak tubuh untuk balik keselimut. Teringat selimut bernyawanya, ia kembali cemberut. " Kalau bukan karna ipar Luchnut itu, setelah shalat malam, aku sudah kembali
kepelukan istri. " Gerutunya seraya berjalan pelan menuju kamar mandi untuk Berwudhu.
Hujan makin deras dan angin makin kencang masuk melalui ventilasi, Syafir kedinginan, ia cepat- cepat kembali ketempat tidur setelah selesai berserah diri.
Dengan pasrah ia memeluk diri sendiri dalam selimut. " Sabar Abi...Umi sedang jagain nenek sekarang bareng Onty." Bujuknya pada diri sendiri.
Sementara Dikota S, Elang kembali menghujam Suci dipertigaan malam, dinginnya angin pegunungan membuatnya haus kehangatan.
Rasa marah, cinta dan dendam membuatnya ingin cepat - cepat menjadikan Suci dari nona ke nyonya.
Merasakan pergerakan suami dibalik selimut, suci membelalakkan matanya.
Mengingat Emosi Elang belum stabil, Suci hanya mengikuti saja dengan patuh permainan Elang, ia berusaha sebisa mungkin membuat suaminya itu makin merasa beruntung mendapatkannya, dengan terus mencari dan mengadakan serangan balik pada titik- titik terlemah Elang.
Melihat Elang blingsatan , meringis dan kian bringas menghujamnya, Suci bersorak riang dalam hati." Suami sendiri masak ngak bisa ditaklukkan , batinnya.
Beda cinta dengan hasrat bagi seorang lelaki sangat tipis sekali. Sedang untuk perempuan baik- baik sangat jelas. Itulah sebabnya perempuan tidak mudah diajak enak- enak kalau hatinya tidak cinta. Kalau hati seorang istri sedang tersakiti, atau belum ada rasa cinta tidak mudah membuatnya bereaksi terhadap suami.
Bahkan patah hati berat, dapat membuat
Cinta wanita benar- benar mati.
Pagi hari usai sarapan pagi, Syafir pamit pada Mama dan istri dikamar mama, untuk mencari bibinya. Sedang tamu semalam sudah pergi dari pagi buta, maklum ia seorang dokter umum yang berstatus pegawai negri, bertugas puskesmas ibu kota kecamatan ini, hari ini jadwal piketnya siang hari.
" Kalau kekebun aku ikut bang..." rengek Syaffa.
" Belum sayang...Abang masih ingin cari bibi dulu, kalau sudah ketemu bibi baru hatiku lega pergi kemana- mana. " Balas Syafir.
" Kalau ketemu bibimu ngak usah bicarakan soal perhiasan mama, lihat saja kondisinya, soal perhiasan mama relakan saja, toh bibimu sudah lama mengabdi dirumah ini. " timpal mama Carolina.
Syafir berfikir keras bagaimana memulai pertanyaan yang memenuhi benaknya tentang bibi. Setelah menghela nafas berat, iapun memberanikan diri bertanya.
" Kenapa baru sekarang bibi ngebet nikah ma? kan sudah telat lama. " Tanya Syafir setengah berbisik.
Karolina menarik nafas panjang, lalu menatap Syafir dalam- dalam.
__ADS_1
" Bibimu sudah akan menikah waktu itu Syafir, nikah terpaksa dengan waria, tapi jodoh mereka terhalang maut, hingga bibimu tak pernah lagi menyampaikan keinginannya pada mama untuk nikah , entah karna takut pada mama atau takut memulai hubungan baru mama tak tahu, salah mama juga yang tak pernah bertanya. " kenang mama dengan airmata mulai berlinang.
" Maaf...Ngak usah diteruskan kalau menyakitkan ma.." Ucap Syafir lirih.
Syaffa yang bersandar dikepala ranjang bersama mama, melihat mama menangis, makin merapat kemama dan mengusap lembut punggung Carolina, ia tidak berkata apapun, karna merasa itu bukan bahannya sebagai menantu dirumah ini.
" Kamu berhak tahu nak...karna sebab itu mama sangat sensi selama ini pada laki- laki yang meniru pakaian perempuan." Ujar mama Carolina kembali menatap lekat wajah putra bungsunya.
" Bagaimana bibi bisa mau nikah terpaksa dengan Waria? " tanya Syafir kemudian.
" Bibimu sekolah di Akademi kebidanan. Ia berteman akrab dengan waria itu, kalau pulang untuk liburan, mereka jalan bersama bahkan tidur sehamparan, hingga suatu malam waria itu...Hik...hik....Mama lalu terisak. Syaffa menghapus air mata mama mertuanya dengan sapu tangan.
" Bibi dinodai oleh temannya yang disangka bukan lelaki normal. " Tebak Syafir.
" Bukan! Bibimu meyambut perbuatan waria itu saat tengah malam dicumbui, masa puber dan rasa penasaran dengan
praktek pembelajarannya membuatnya menyerah pada rayuan temannya itu." Jelas mama dengan wajah sendu.
Melihat Syafir tak bergeming, Carolina meneruskan ceritanya. " Bibimu hamil dan menjadi berita heboh dikeluarga, ketika kakekmu bertanya dengan marah, mendapat jawaban dari bibi kalau temannya itu yang melakukannya, kakek makin marah , sedang nenekmu pingsan dan akhirnya berpulang setelah sakit tiga hari dalam sesal telah membiarkan putrinya bergaul sembarangan."
Syafir memeluk mamanya." Mama merasa waria itu penyebab kehancuran keluarga, hingga mama marah saat aku bergaya begitu.
Ngak usah dilanjutkan ma...ini sakit dan aib keluarga, malu sama mantu mama juga. " Ujar Syafir seraya menatap istrinya.
" Tidak...bagi mama istrimu sudah mama anggap putri, setelah gagal, ia kembali sebagai menantu bungsu, tandanya Syaffa takdirnya terpaut keluarga kita. " Jawab Karolina sembari melingkarkan tangannya ke pundak syaffa.
" Iya bang.. Aku takkan suka mempergunjingkan keluarga pada siapapun, andai jadi musuh sekalipun, aku janji takkan membeberkan
ini. " Janji Syaffana sembari meletakkan tangannya diatas tangan suami dan ibu mertuanya.
" Jangan ada niat bermusuhan! " Ujar Syafir melotot.
" Kan hanya berandai- andai." Cicit Syaffa.
" Tak boleh berandai yang tidak baik Umi..." Ujar Syafir mengingatkan istri.
" Baik Abi...lain kali ngak dech..." Balas Syaffa sembari meraih tangan suami dan menciumnya.
Syafir balas mengusap rambut Syaffa.
" Untuk saat ini tak usah mencari bibimu Syafir, pantau saja dari jauh. Bibimu diusir oleh kakekmu, tapi papamu menerimanya dirumah kita, dan bermaksud menikahkan mereka, karna pria itu mau bertanggung jawab, tapi lelaki itu meninggal terbunuh dirumahnya sebelum malam pernikahan, setelah diselidiki oleh papamu, ternyata pasangan sesama jenisnya yang melakukan itu. Papa berhasil menjebloskan teman pamanmu itu kepenjara, tapi bibimu juga kehilangan bayinya akibat stres berat. Kami merawatnya hingga sembuh, setelah itu dia tak pernah lagi berbicara tentang pria. Mama juga tak pernah tanya- tanya, takut ia teringat masa lalunya. " Kenang mama.
" Pelik kali kisah bibi ya ma...ternyata kecantikan tidak selamanya bisa menguntungkan. " Ucap Syafir sendu.
" Sudah...kita jadikan saja pelajaran, toh kedepannya lebih hati- hati dalam bergaul. " Ujar mama sembari memeluk anak dan menantunya.
" Iya ma...tapi aku akan tetap menemui bibi, tidak akan membahas apa- apa, hanya ingin silaturrahmi saja, sekalian membawa Syaffa kesana, kan belum pernah Syaffa jumpa sejak jadi menantu putra ketiga. He...He ..
Kedua orang tersayang Syafir akhirnya tersenyum melihat tawa Syafir. Sedang Syafir sendiri tertawa karna merasa bebannya batinnya sudah bebas, dengan mengetahui rahasia bibi dan mama, ia sudah benar- benar memaafkan perlakuan kasar mamanya selama ini, karna mama punya kisah trauma yang berat terhadap masa lalu Syafir.
Bersambung.
__ADS_1