
Islah mempersilahkan Syafir dan Syaffana untuk masuk kedalam rumah. Setelah didalam ia segera memeluk putrinya. " Syukurlah kamu selamat nak, ayah sangat takut setelah membaca berita saat itu, makanya ayah hubungi nak Syafir untuk segera mencarimu. " Kenang Islah dengan berlinang airmata.
Syaffana mengusap airmata ayahnya dengan ujung ibu jarinya. " Sudahlah yah, masak Seorang penceramah secengeng ini, ntar ada yang lihat jadi malu, pada orang bicara sabar dan tawakal, giliran pada diri sendiri begitu lemah. " Nasehat Syaffana.
Islah menyentil kening putrinya. " Kau kira sama mudahnya bicara dengan mengalami, giliran pada orang memang mudah bilang begitu karna bukan kita yang merasa. Giliran kita yang rasa siapa pula yang tahan tidak bersedih, bahkan mengucap innalillah itu susah giliran kita yang diuji. " Balas Islahuddin Jujur.
" Benar Yah, apa salahnya bersedih, toh kita manusia biasa, giliran kita yang diuji orang yang menasehati, bagian saudara yang kita, kita yang datang memberi nasehat dan menguatkan mereka. Bukankah sesama dianjurkan untuk saling menasehati. " Timpal Syafir.
" Ya nak Syafir, dia ini mengira manusia itu sama dengan robot tak boleh sedih, padahal walau berpangkat apapun manusia, soal rasa pasti sama, bila tertusuk hidung pasti berair mata. Kala terlentung Ibu jari kaki, tentu sakit Ulu hati, dan sengaja atau tidak hati pasti merutuk. Walau umpatan yang disampaikan dengan Ekspresi dan kalimat yang berbeda, tergantung kebiasaan dan nilai Budi seseorang. " Ujar Islah Sengit.
Ketukan dipintu menghentikan debat antar anak, ayah dan menantu itu.
" Masuk saja Man, tidak dikunci. " Ucap ustadz Islah.
" Siapa yah? " Syaffa heran dengan nama baru yang disebut ayahnya.
Ceklek...Pintu terbuka setelah didorong seseorang.
Asslamu'alaikum Yah..." Ujar seorang pemuda berkulit hitam manis.
" Kenalan dulu pada kakak dan abangmu baru kita pergi." Ujar Islah pada pria muda itu yang membuat Syaffana makin bingung.
Duar...
Bugh
Syaffa merasa sepertinya bom telah meledak didepannya, dan sebutir peluru telah memutus tali jantungnya, hingga laju darahnya seakan berhenti memompa.
" Seketika pemuda itu mengangguk patuh, lalu mengulurkan tangannya pada Syafir.
Giliran pada Syaffana tidak dibalas.
" Salam Korona saja, kakakmu tak suka diberjabat tangan langsung. " Ujar Islah dengan wajah tanpa dosa.
Syaffana menatapi pria muda itu dari atas sampai kebawah dengan sorotan tajam." Kakak bagaimana, Jelaskan!" Entah tanya atau perintah, Syaffa terus menatap tajam pada Ayahnya.
Islah sedikit gugup " Ini putra ayah. " Ucapnya lembut, berusaha setenang mungkin. Tapi tidak dengan Syaffana.
Deg.
Wajah Syaffa memucat dan keringat dingin mulai berkeluaran sebesar biji jagung dari pori kulitnya.
" Ka- kapan ayah menghianati bunda? " tanyanya mulai terisak. Tiba- tiba Pandangan Syaffana menjadi gelap, tatkala ia ingin rubuh, tangan Kokoh Syafir segera menopang istrinya.
" Sayang... Ini namanya giliranmu, siapkan mental dan sabarlah. " Bisik Syafir diujung kuping istrinya.
__ADS_1
Syafir menggendong Syaffana dan membaringkannya ditempat tidur, lalu membuka penutup kepala Syaffana.
Pria muda itu mengulurkan pres care pada Syafir. Lalu mereka berdua duduk menghadap Syafir yang sedang memijiti syaffana.
" Tega sekali ayah menyampaikan berita ini pada istriku, padahal istriku sedang dalam kondisi lemah, ia lagi hamil muda. " Ujar Syafir bersesungut.
" Ini tidak seperti yang kalian kira, kejadian ini terjadi saat 20 tahun yang lalu, saat Syaffana masih bayi, ayah mengalami kecelakaan bersama para penompang yang lain didaerah Jalan BT.
Mobil kami terjun kejurang, ayah terseret air sungai dan tiba dikampung kakeknya Aman. Ayah ditemukan tergeletak dipinggir sungai oleh pak Zainal kakeknya Aman, melihat ayah masih hidup, mereka membawa kerumah merawat Ayah.
Syafir terdiam mendengarkan sembari terus memijiti istrinya.
" Ayah mengalami geger otak dan hilang ingatan. Mereka menikahkan Ayah dengan Sarah ibunya Aman. Pernikahan kami berlangsung sampai ingatan ayah kembali.
Setelah ayah ingat kembali jati diri Ayah, ayah kembali pada anak dan istri. Mengira tidak terjadi apa - apa dikampung pasir itu." Kenang Islah.
" Kapan ayah tahu ayah punya anak ini? " tanya Syaffana sinis.
" Kamu sudah sadar Sayang." Ucap Syafir senang.
" Syukurlah nak..." balas Islah.
" Alhamdulillah kak." timpal Aman.
Syafir segera mencium- ciumi istrinya untuk meluapkan emosinya, walau Syaffana berusaha menghindarinya.
" Kapan anak ini datang? Sudah di tes DNA kah?, dan gimana ia bisa kekota ini? "tanya Syaffana bagai tembakan matriliniur.
" Aku baru datang beberapa hari kak, karna ibu sudah kembali, kakek memintaku mencari ayah. Sudah lama mereka menyarankan itu, walau sudah sebatang kara, tapi aku masih belum berani, mendengar berita gempa yang melanda Wilayah ini, aku baru memutuskan mencari kalian. "Jawab Aman sendu.
Syaffa mencoba untuk duduk, Syafirpun membantu mendudukkan istrinya hati- hati.
Syaffana menatap lekat wajah pria muda didepannya. " Anak ini memang mirip ayah, tidak perlu tes DNA juga sudah nyata. Tapi bedanya kulit ayah putih bersih, sedang anak ini gelap, semua raut dan perawakannya reflika ayah. Kalau tidak karna hilang ingatan, tidak mungkin ayah menyukai ibunya anak ini. " Batin Syaffana menimbang.
" Baiklah...Aku akan menerimamu sebagai perawat ayah dihari tua. " Ujar Syaffana yang membuat dahi Syafir mengernyit.
" Sayang, ngomong kok gitu. " ucap syafir
mengingatkan istrinya.
Tanpa diduga Aman malah tersenyum lembut. " Aku memang datang untuk merawat ayah kakak, walau ayah tak tahu
keberadaanku, tapi kakek selalu mengingatkanku tentang ayah, kakek juga tak pernah menyalahkan ayah, kakek mengatakan padaku kalau semua ini salahnya, menikahkan putrinya dengan orang hilang ingatan, hanya untuk membuat putrinya yang sakit- sakitan terlepas dari prediket perawan tua." Jelas Aman lemah
lembut.
__ADS_1
Syafir sampai menitikkan air mata, mendengar cerita adik ipar tak terduganya itu. Sedang Syaffana hanya terdiam.
" Sekarang semua sudah dijelaskan. Ayah turut senang mendengar kabar akan ada cucu. Seterusnya terserah kalian, mau pilih menerima dengan hati lapang masa lalu ayah, atau memutuskan
untuk membenci ayah. Ayah serahkan padamu nak ...Bagi ayah Syaffana tetap yang pertama dan Utama. " Balas Islah pasrah.
Syaffana beringsut mendekat Ayahnya. Islah menyambut putrinya dengan mengembangkan kedua tangannya. Cukup lama mereka saling menyalurkan kasih sayang melalui dekapan." Syaffa tidak akan bisa membenci ayah." Balas Syaffana lirih sembari mengurai pelukan mereka.
Syafir mengambil tangan istri, ayah mertua , adik iparnya dan menyatukan
tangan mereka. " Ketika suatu kaum sedang bertikai dan dalam masalah, maka kaum yang
lain sebaiknya datang untuk mendamaikan dan bantu saudaranya keluar dari masalah itu. " Ujar Syafir.
Akhirnya Syaffana menerima adik itu dalam kehidupannya ayahnya. Sebagai buktinya ia tidak menolak ketika Syafir menyatukan tangan mereka. Juga tatkala Aman kembali mengulurkan tangannya, Syaffa menerimanya, dan membiarkan Aman mengecup punggung tangannya.
" Maaf, kehadiranku membuat kakak dan calon ponakanku sempat sakit hati. " Ucap Aman.
" Aku takkan memaafkanmu jika belum segera pergi membawa ayah dengan hati- hati ketempat pengajiannya. Mulai hari ini, kakak menugaskanmu jadi Asisten, pelayan, sopir dan pengawal pribadi ayah! " titah Syaffana.
" Siap komandan! " Jawab Aman dengan memberi hormat.
" Laksanan! Kembali ketempat. " Balas Syaffana.
Syafir tertawa kecil.
Sedang Islah tersenyum manis menyaksikan kakak beradik itu. Lalu ia berjalan mengendap- endap seperti pencuri.
Islah meraih tasnya yang tergeletak dilantai karna tadi buru- buru menghampiri Syaffa yang pingsan.
" Ayo kita pergi! Biarkan pengantin baru menyapa kembali tempat tidurnya. " Bisik
Islah yang tidak dimengerti oleh Aman, tapi Aman tetap mengikuti langkah Ayah Islah.
Setelah Ayah Islah pergi dengan Aman, Syaffana meluapkan tangisnya dalam pelukan Syafir. Syafir menepuk- nepuk pelan pundak istrinya dan mengusap- usap rambutnya. " Selalu ada saja yang membuatku menangis dirumah ini." Keluh
Syaffana.
" Baiklah, kita akan segera kembali kerumah mama." Ajak Syafir.
" Tidak mau istirahat dulu? " tanya Syaffana
" Tidak jadi! Manalah mau Abang melakukan
hal yang indah disaat dan ditempat yang tidak tepat. " Balas Syafir seraya merapikan ikatan rambut Syaffana.
__ADS_1
Syafir memakaikan kembali kerudung Syaffa dengan rapi, lalu mereka pergi setelah mengunci pintu dan menyimpan kunci ditempat biasa.