
Akhirnya Syaffana bisa menarik nafas lega,setelah seminggu mengurus urusan pindahan, bertepatan dihari jelang puasa, Syaffanabdan Syafir sudahbisa bersantai dirumah mama Carolina.
Sore itu, Syafir, Syaffa dan mama duduk santai dikursi teras, sehabis mandi. Wangi bunga rampai masih tercium menambah segarnya udara sore.
" Tercapai juga impianku dengan menantu pilihan hati menikmati waktu senjaku." Kicau Mama Carolina memecah keheningan.
Syaffana menyentuh pundak mama, memberikan pijitan lembut dipunggung ibu mertuanya itu.
" Sayang, itu sangat mengenakkan. " Puji senang mama Carolina terhadap sentuhan tangan Syaffana.
Belum sempat Syaffana merespon, mereka dikejutkan oleh klakson mobil Innova didepan portal.
"Wahhhh, pulang juga mereka kiranya, mama
kira menunggu lebaran." Sorak Carolina sadar
yang datang mobil Elang.
" Kalau ada waktu tentu mereka pulang ma, sekarang yang jelas kita masih ada, kalau nunggu lebaran belum tentu. " Balas Syafir seraya berjalan menyambut abangnya.
Mobil berhenti diparkiran.Keluarlah Zahran, Mia dengan menggendong Baby Zia. Berikut disusul Suci, dan terakhir sang Sopir" Elang Ahmad".
Carolina berdiri dan secepatnya Syaffa membimbing Mama mertua melangkah menghampiri tamu istimewanya.
Zahran melangkah besar dan segera berlutut, ketika tiba didepan mamanya." Apa dia menjaga
cantikku dengan baik? " Tanya Zahran sembari menunjuk Syafir.
Carolina tersenyum. " Sangat baik, bahkan ia bisa menggendongku lebih baik dari kalian." Balas mama membanggakan putra bungsunya.
" CK, aku tak percaya, pasti cantik yang melebih- lebihkan. Mana kuat ototnya melakukan seperti ini. " Zahran berdecak, lalu menggendong mama Carolina.
" Turunkan aku Zahran! Dia lebih pandai menggendongku, dia tidak membuatku cemas begini." Pekik Carolina dalam gendongan Zahran.
Ger...Semua tertawa.
" Ternyata pesonanya bisa mengalahkanmu
bang, kita kalah telak dari Syafir, bahkan mama saja sekarang sudah memilih dia." Timpal Elang.
__ADS_1
" Aku tidak percaya sebelum melihat sendiri bagaimana pria itu menggendong mama.
" Ujar Zahran terus membawa Carolina
kedalam dan meletakkannya disofa ruang tamu.
Syaffana sudah menggendong Zia, kemudian para wanita itu mengikuti suami mereka masuk kedalam. Sementara Om Jhon sibuk memindahkan
barang bawaan dua keluarga ini dan memasukkan
kekamar masing- masing.
Ruang tamu makin heboh, Zahran meminta
bukti dan ingin taruhan menggendong mama mereka. Sedang sang Ibu sibuk menolak, karna dalam gendongan Zahran ia begitu takut jatuh, kekuatan pria ini membuatnya pogah dan menggendong mamanya hanya dengan satu tangan saja, Carolina
tidak ingin, apalagi ketiga anak ini akan menggendongnya bergantian, itu sungguh tidak Carolina inginkan.
" Syaffa, Sini! " Panggil Zahran.
" Ya bang. " Sahut Syaffana begitu tiba didepan Zahran.
" Karna lagi hamil, tak usah kerja dapur, tugasmu sekarang jagain Zia, dan jadi juri yang akan memutuskan siapa diantara kami yang membuat mama paling bahagia
" Tapi bang- Syaffa menatap ragu pada wajah mama yang pias.
Sedang Zia cemberut dalam pangkuan ontynya melihat neneknya yang belum membagi senyum padanya.
.
" Tak ada tapi- tapian Syaffa! Dan kalian berdua buatkan minum untuk kami, mumpung bibi dan perawat mama lagi balik kampung, kalian yang bertugas didapur, dan kami bertiga yang merawat mama. " Ujar Zahran kemudian.
" Baik bang..." Balas Suci dan Mia...
" Hik, Zia terisak kecil. " tenanglah sayang, ntar lagi nenek pangku Zia, setelah nenek digendong papa Papi dan Abi. " Bujuk Syaffana sembari
mengusap puncuk kepala Zia.
Zia berhenti menangis, berbalik lalu menatap Syaffana.
__ADS_1
" Oke! Aku dan Zia jurinya, bila mama terpekik- sedikit saja, berarti yang bersangkutan kalah, langsung ganti dengan peserta berikut. " Ujar Syaffana menyampaikan peraturan.
" Oke! Deal! " Ketiga Ahmad saling berjabat tangan.
" Trus apa imbalan bagi yang menang? " Tanya Elang.
" Tidak boleh mengambil hasil taruhan. Aku memutuskan yang kalah yang akan dapat hukuman. " Ujar Syaffana.
" Apa hukumannya? " Tanya Ketiga lelaki.
" Yang kalah gantiin para ibu nyiapin sahur. " Tegas Syaffana.
" Tapi- Zahran, Elang dan Syafir ingin protes tapi tergantung.
" Tak ada tapi- tapian. Acara dimulai! " Ujar Syaffana sembari meletakkan tangan mereka berdua dengan gadis kecilnya.
" Acara berlangsung dan lot dicabut. Elang dapat giliran pertama. Baru beberapa langkah menggendong mama, Carolina langsung menjerit, mengalahkan Elang.
" Stop! " Titah Syaffana.
Zahran dapat giliran kedua. Baru tiga langkah mama langsung menangis disusul Zia.
" Barhenti! " Ujar Syaffana.
Berikutnya Giliran Syafir. Syafir menggendong mama dengan hati- hati, mama diam saja, sedang Zia bertepuk tangan.
Syafir membawa Carolina kedalam dan membaringkannya dikasur.
Minuman tiba dimeja tamu. " Pemenangnya sudah jelas kan? Kami juri yang adil ujar Syaffana.
Hek...hek.. Zhia turut tertawa dan bertepuk tangan.
" Jurinya adil tapi mama yang curang, Mentang- mentang adik yang selama ini jagain. " Sungut kedua lelaki.
" Yang penting nanti kami bebas tugas masak untuk sahur. " Mia turut Bersorak.
Sedang Suci hanya diam, menatap kagum pada Syaffana.
" Syafir keluar dari kamar mama dan duduk bergabung disofa. " Ternyata seru jadi pemenang. " Kicaunya yang langsung dapat pelototan dari kedua abangnya.
__ADS_1
" Sudah kalah jangan marah! " Balas Mia.
Bersambung...