
Serda Afrianto ditangani dengan baik oleh para medis, dibawah kendali Dokter P Napolion, dokter muda asli orang daerah sini.
Setelah berbicara dengan dokter. Syaffa memeriksa kondisi Anto diruangan rawat. Mendapatkan rekannya sudah istirahat dengan kondisi yang stabil. Syaffana bernafas lega.
Iapun mengucap syukur, dan keluar dari ruang rawat itu.
Dari kamar sebelah juga keluar seorang wanita muda, yang tadinya datang dengan tangis histeris mengiring suaminya.
Tangisan wanita muda itu berganti dengan Omelan. Ia terdengar sangat marah dengan perbuatan suaminya, yang berujung jadi korban peluru petugas.
Syaffa mendekati wanita itu.
" Dokter telah menanganinya dengan baik, suami anda sudah selamat ... duduklah disini, anda terlihat sangat kecapean. " Ujar Syaffana sembari menyodorkan sebotol teh pucuk pada wanita itu, lalu mengarahkannya duduk dibangku tunggu.
Wanita itu memandang Syaffana penuh selidik. Syaffa tersenyum tenang dengan tangan masih terulur teh botol.
" Siapamu yang barusan kau besuk nona? " Tanya wanita itu dengan tatapan penuh curiga, menyadari Syaffa keluar dari ruangan polisi yang terluka tadi.
Syaffa menarik nafas lembut, kemudian tersenyum kembali. Tapi ia tidak buru- buru menanggapi pertanyaan wanita itu.
" Kalau anda tidak mau duduk, setidaknya
tolong terima minuman ini, ini masih bersegel dan Aman." Ucap Syaffana mengalihkan perhatian wanita itu.
Wanita itu berjalan kearah Syaffa, kemudian menghempaskan pantatnya dikursi kayu yang panjang itu.
" Awas!!! nanti tepos, pabriknya yang rugi sendiri !!! " Saffa mengingatkan dengan pandangan menggoda, karna bokong wanita itu lumayan padat, sedang bangku panjang lumayan keras.
" Biarin! Udah padat sintal begini, suami masih saja tidak mau mendengarkan Awak, lebih suka mendengarkan orang, jadinya gitu, hampir mati karna mengikuti saran orang, sedang orangnya sendiri bertepuk tangan di belakang layar. " Cerocos perempuan itu dengan tampang kesal, setelah membuka minumannya.
" Bagus..Berarti ni cewek tahu, manusia dibalik layar, aku harus pandai mendekatinya. " Batin Syaffa.
" Minumlah dulu...Baru kita bicara! Nama saya Syaffana, biasa dipanggil Syaffa atau Fana."
" Kalau saya Rosita, biasa dipanggil Sita."
" Pantas menyita perhatianku! " Canda Syaffana.
" He.. He...Syaffa bisa saja! Tentu aku menyita perhatian seisi klinik ini, karna datangnya meraung- raung, lebih kencang dari serine Ambulance." kekeh Sita mulai nyaman dengan Syaffa.
" Tenanglah...Suamimu sudah ditangani dokter. Luka tembaknya tidak berbahaya, hanya untuk melumpuhkan, peluru yang digunakan aparat hanya peluru plastik. Paling setelah ini pincang dikit sebelum pulih, itu akan memperindah lenggoknya. " Canda Syaffa lagi.
Syaffa menatap wanita itu, ia tidak marah
dengan goyonannya, malah ikut tersenyum.
" Hanya karna suamimu memakai celana pendek dan jarak tembak yang dekat, hingga betisnya terluka, hari sangat terik, jadi darahnya deras keluar, itu yang terlihat mengerikan bagimu." Terang Syaffana.
" Bagaimana Syaffa tahu tentang peluru? " tanya perempuan itu dengan tatapan selidik.
" Ini cewek lumayan cerdas! Aku harus bijak menjawab. batin Syaffa.
" Sekarangkan Zaman internet Sita! Aku suka tanya- tanya sama Mbah gogle. Biasanya peluru yang digunakan untuk pengamanan, bukan peluru berbahaya.
Cuma kadang faktor proyeksi dan jarak tembak yang menyebabkan luka, lagian sepupu Syaffa seorang polisi, jadi sering nanya- nanya gitu! " Ujar Syaffa sembari menepuk pundak Sita.
" Hum...Syaffa ngapain disini? " tanya Sita lagi.
__ADS_1
" Sepupuku itu terluka dalam pengamanan demo tadi, aku dan suamiku kesini untuk melihatnya, ucapnya sedikit terbuka.
" Jadi sepupumu yang tertebas oleh suamiku, tangannya! " Sita terbelalak.
" Seram juga cara ngomong nih cewek!
Gidik hati Syaffa.
" Mungkin Iya....Aku tak tahu pasti kejadiannya, yang kutahu saudaraku terluka, aku datang sebagai keluarga, karna ia belum menikah, dan orangtuanya sudah tiada."
" Ada juga polisi tampan yang masih jomblo usia segitu ya? " Tanya Sita menyeringai centil.
" Astugu! Sedang meraung saja ia masih sempat curi pandang diruang UGD, Genit
tingkat hantu juga nih Cewek.
Syaffa tersenyum hangat.
" Sayang kau sudah bersuami Sita...Kalau ngak kau pasti bisa menyita hati sepupuku, karna bodymu yang Bohai! " Sepupuku standarnya tinggi! Dapat yang cantik, minta yang montok juga , Maunya yang paket lengkap. Jadi sibuk memilih, setiap memilih ia selalu ragu, ya gitu deh." Syaffa mengangkat bahu.
" Itu sudah resiko orang pemilih, ntar ujungnya dapat yang cetek, seperti diriku. He...He .." kekeh Sita.
" Semoga dunia belum kiamat, sebelum ia menjatuhkan pilihannya ! Untung tadi yang tertebas cuma tangannya, kalau Anunya kan lebih rugi lagi, hilang deh dunianya! " Ujar Syaffa tak mau kalah dengan omongan seram Sita.
" Tapi suamiku tidak sengaja melukainya, sasarannya manager yang orang asing itu, untung tangan sepupumu ngak sampai putus, maaf ya...Aku menyesal sudah terlambat menyusul suami untuk mencegahnya, Ucapnya melirih.
" Jadi kamu pergi kesana? Syaffa melotot.
" Dari awal hatiku ngak Enak, sudah seminggu ini kuparingati ngak didengar, tadi langsung kususul.
" Berarti sayang suami dong..." Puji Syaffa.
" Benar- benar cewek blak- blakan.
" He...he ..Apa Sita tidak lapar? Gimana kalau kukenalkan dengan suamiku, trus kita mencari rumah makan, kita bisa lanjutin omongan sambil makan. " Usul Syaffana.
Belum sempat Sita menjawab. Terdengar
bunyi kriuk dari perutnya.
" Ih...ni cacing perut bikin malu aja! " rutuk Sita mengelus perutnya, sembari tersenyum malu.
" Sudahlah, tak usah malu...Ayo kita pergi makan dulu.. Bukankah pasien sedang istirahat? Jadi kita tidak akan dikatai penunggu yang bandel." Rayu syaffana.
" Apa tidak ada diantara para polisi yang berjaga itu nanti melukai bang Jahfar? " tanya Sita dengan langkah ragu.
" Jadi nama suaminya Jaffar! " batin Syaffana.
" Tidak Sita! Polisi tidak bertugas untuk menyiksa masyarakat , Apalagi memakut- nakuti, tapi untuk menjaga keamanan, Mereka mengangkat senjata hanya dalam keadaan darurat, jika ada perlawanan berat. Mereka memiliki aturan yang ketat, mereka tidak akan
sembarang bertindak, bila tidak ingin buka baju. Lagian yang punya sepupu terluka kan diriku! Lebih baik takut padaku daripada polisi itu. " Gurau Syaffa
kemudian.
" Kau sangat cantik Syaffa, tak ada wajah menakutkan, tapi wajahmu anggun dan berwibawa, sebenarnya tadi aku segan, makanya penuh selidik. Wajahmu cantik, simpatik dan menarik, kalau aku lelaki pasti suka padamu. " Sita mengerling genit.
" Ih...Kamu tidak Buci kan? Jadi merasa seram... lebih seram dari rumah hantu! " Kerling Syaffana menggidikkan bahunya..
__ADS_1
" Ngak lah...Aku wanita normal, bukan wanita Jejadian. Aku belum mau beranak saja , karna suamiku belum punya pekerjaan tetap, iapun masih suka jadi Jogos orang, belum pantas jadi ayah!
" Curhat Sita.
" Kirain Donat makan donat! Makanya suami kurang bahagia. He...He...Soalnya sekarang banyak yang gitu didaerah kita, entah apa pemicunya, entah karna dunia mau kiamat, Zaman berbalik zaman Nabi Luth. Kalau Syaffa lebih takut sama yang begitu ketimbang sama hantu! " Ujar Syaffa.
" Aku juga!
" Emang pernah ditaksir yang begitu? " Tanya Syaffa dengan bergidik, ia teringat pada razia gabungan Polisi dan PP Empat tahun yang lalu.
" Pernah sebelum menikah, tapi langsung aku Skakmat! "
" Hummm itu bagus!
Syaffa membawa Sita kemobilio merah, tempat suaminya istrirahat. Begitu ada ketukan dipintu, Syafir langsung duduk dan membukanya.
Melihat ada perempuan lain, Syafir sengaja tidak berbicara, ingin mengenali kondisi terlebih dahulu. Ia tak mau ucapan yang tidak sesuai nanti bisa merusak rencana istrinya, apalagi mengingat tujuan utama Syafa kedaerah ini.
Saffa mengenalkan Syafir pada Sita sebagai suaminya. Ia tidak mau menutupi hubungan halal menurut hukum
dan syarak itu.
" Ini suamiku Syafir Ahmad! " katanya dengan bangga.
" Oww!!!
Sita membelalak takjub sembari menatap suami istri itu bergantian.
" Pasangan yang Ideal ! Pantas kau tak tertarik dengan sepupumu polisi itu, suamimu jauh lebih gagah dan menggemaskan.
Aduh Syaffa!!! Hidupmu sungguh mujur! Dikelilingi oleh cowok- cowok tampan! " Seru Sita.
" Biasa aja kali mujinya ! Setiap manusia
pasti ada kekurangannya. Setiap yang kurang, pasti ada kehebatannya, hanya kita aja yang kadang tidak bisa melihatnya. "
" Jadi menurut Syaffa bang jaffar si Jogos, suamiku ada juga kelebihannya?
" Tentu adalah...Nanti pasti Sita bisa menemukannya, tapi disita dulu perhatiannya untuk suami." Saran Saffa.
" Nanti kuceritakan pecundang kampung kami itu! Yang pandai sekali memancing diair keruh! " Ujar Sita.
" Aku akan dengan senang hati mendengar curhatanmu kawan..." Ucap Syaffana dengan hati terlonjak, karna itu yang sedang ia cari. Tapi Syaffa mencoba bersikap santai.
" Kasih perhatian lebih pada suami maksudnya?
" Uhu... Biar dia lebih mendengarkanmu ketimbang orang lain." kata Syaffa sembari mengacungkan jempolnya.
Sedang Syafir hanya tersenyum tipis, memperhatikan bagaimana istrinya berinteraksi.
Setelah mendapat kode, iapun duduk dibelakang stir, menghidupkan mesin, kemudian melaju dengan pelan.
" Rumah makan yang dipertigaan jalan ya bang...kayaknya tadi aromanya sedap! " Ujar Syaffa sembari mendegup salivanya.
Syafir menatap sekilas kedua wanita yang duduk dibelakang melalui spion.
Kemudian manggut- manggut.
__ADS_1
" Nampaknya ini pendekatan Misi sang istri. Aku tak boleh terlalu banyak bicara, biar jadi penilai saja. " Sarannya pada diri sendiri.