Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Geram


__ADS_3

Sinar mentari cukup terik hari ini. Cuaca memang agak gila dan tak terkira. Pagi- pagi orang malas melangkah karna mentari sepertinya diselimuti awan hitam, bahkan gerimis sudah melanda tanah ini. Eh tahunya jelang siang malah terik kembali, seakan mentari menyerap habis awan gelap, hingga terbentuklah awan putih jernih dilangit sana.


Ucok menatap wajah Syafir yang kemerahan dibawah terik mentari, saat mereka melakukan pencarian lokasi keempat, yang pas untuk pembuatan sumur umum itu.


" Kalau berurusan dengan Surya aku jagonya Dek..Coba lihat kulitmu membara begitu, sedang kulit Abang makin mengkilap Eksosis!. " Seru asal Ucok membandingkan lengannya dengan lengan Syafir.


He...He...Emang kulit bang Ucok Eksosis ya? Rasa apa canda balik Syafir.


" Kan Udah Ex, ngak ada rasanya lagi, udah adem, tahan bakar sama goreng. " Ujar lebai Ucok.


" Tentu! Disitu kelebihannya kita berkulit gelap, tahan banting dibawah terik, mereka yang kurang figmen seperti dik Syafir ini, akan cepat Kao ditengah panas. " Timpal RT muda yang memandu mereka.


" He...He... Mungkin benar kata abang berdua, tapi sesungguhnya aku juga tahan panas lho, cuma kulitku saja yang bereaksi, sedang hatiku tetap semangat. " Ujar Syafir tak mau kalah.


" Kau kalah suara apalagi fakta adik kecil, coba lihat kulitmu seperti udang panggang begitu. " tunjuk Ucok sembari


mengelap kening Syafir yang keringatan dan keriutan menahan panas.


" Terima kasih bang...Ternyata Abang orangnya belas kasih juga, wajah saja yang garang. " Ucap Syafir.


" Baru tahu kau, aslinya abangmu ini lebih lembut dari tisu basah, kalau ngak gitu mana mungkin kak Jubeimu yang cantik mirip pretty Zinta itu, tergila- gila sama Abang." ucap bangga Ucok.


" Ye...ye...Aku lupa, kukira karna sakunya, ternyata karna lakunya yang mantap. " Puji Syafir.


" Iyalah...Laku baik mangalah rupa, sedang laku buruk merusak rasa. " Timpal pak RT.


Syafir dan Ucok manggut- manggut.


Kalau sudah pimpinan yang berkharisma yang bicara, rakyat pada mengangguk setuju saja. " Puji Syafir pada pak RT.


Sedang yang dipuji kehilangan kata.


Sejenak mereka hening bagai ada Malaikat lewat.


" Sepertinya ini bisa pak RT , Tunjuk Ucok pada tanah didepan mereka.


" Boleh...Ini pas, tidak terlalu dekat dengan jalan. " tangap Pak RT.


" Karna lokasinya semua sudah ketemu, tinggal bapak nego dengan pemilik lahan, buat Surat , biar saya serahkan uang ganti ruginya, agar Abang saya bisa segera bekerja. " ujar Syafir.


" Baik dek Syafir...Ini tidak akan lama, ntar sore akan saya tuntaskan semua, tinggal esok bang Ucok terima kabar. " Janji Pak RT sembari menyalami Syafir.


" Kalau begitu, agar lebih Afdolnya, kita cari dulu tempat makan siang yang berangin, kasihan cacing- cacing kepanasan diperut, baiknya kita beri dulu makan biar ngak ribut. " Ajak Syafir dengan sedikit canda.


" Baiklah siapa takut kalau ditraktir! " Seru Pak RT dengan wajah girang.


Sedang Ucok hanya angguk- angguk balam saja, karna ia juga sudah merasa sangat lapar sekali.


" Maaf ya dik Zubeidai sayang...Abang memanjakan lidah dulu tanpa ayang Zubei. " Batin Ucok.


" Tenang saja la bang Ucok bah...Kalau cocok nanti masakan rumah makan yang direkomendasikan pak RT ini, kita minta bungkus untuk Mak Labu." Ujar Syafir yang membuat Ucok tersenyum malu , karna ketahuan memikirkan Petty Cintanya dirumah.


******

__ADS_1


Sementara Syaffana dan Lin sedang menikmati makan siang disebuah lesehan diUjung kampung perbatasan.


Syaffana berkali- kali memeriksa telfonnya, mengintip jaringan yang masih belum juga ada.


" Bisa gawat nih hubungan sama pacar kalau kelamaan ilang jaringan gini bang." Ujar Syaffa menilik Gordon yang memergokinyanya melongok hp tiap sebentar.


" Makanlah yang tenang dik Lila...tak baik menduakan makanan. Soal pacar tinggal temui saja langsung, setelah ini kan dik Lila sama dik lili ngak ada acara lagi. " Nasehat bang Gordon.


" Mhem...Dia orangnya gitu bang Gor, kalau sudah kangen pacar kayak kucing terbakar ekor. " Ejek canda Linlin.


" Iss... Dia karna belum dapat saja pacar sungguhan kayak aku. " cibir Syaffa.


" Tenang saja! kalau tak jadi mau pada sepupu dik Lila yang polisi terluka itu, nanti Abang Carikan perjaka kaya dikampung sini. " Ujar Gordon dengan wajah serius.


" Jangan bang!!! Aku takkan sanggup bayar komisi calonya." Sorak canda Linlin.


" Kalau calo cinta gratis deh, kan dapat pahala kalau hubungannya lanjut sampai anak cucu." ucap mantap Gordon.


" Iya bang...tapi lebih susah jadi calo cinta ketimbang calo tanah lho! " timpal Syaffana.


" Bagi abangmu ini soal calo mencalo tak ada yang susah, yang penting yang dicaloin ngak ragu- ragu. " Kukuh bang Gordon.


" Kayaknya jangan dulu dech bang...Soalnya masih ragu ni, siapa tahu Lila ngak setuju sepupunya ditinggal kawin, ntar rusak pula hubungan perkembaran beda induk." tolak Lin kemudian terkekeh.


" He...He...terserahlah...pokoknya kalau ada perlu, jangan segan menghubungi Abang ya, anggap saudara sendiri.


Kedua perempuan itu mengacungkan jempolnya serentak dihadapan Gordon.


"Sebenarnya Abang punya saudara perempuan, tapi ia sudah kembali beberapa tahun yang lalu karna kecelakaan pulang dari SMUnya, ia sebaya Lili dan Lila. " Kenang bang Gordon dengan mata memerah.


Syaffana dan Lin tercengang mendengarkan cerita Gordon.


melihat Gordon menitikkan airmatanya, Hilang sudah wajah Magis pria itu, berganti dengan wajah sendu yang menghawatirkan.


" Maaf bang...kami jadi mengingatkan Abang." ucap Syaffana tak enak hati.


" Ngak dik...Abang malah senang, bisa berkenalan dengan kalian." balas Gordon memaksa tersenyum.


" Abang boleh menganggap kami adik, kalau kangen tinggal kirim pesan. " hibur Lin.


" Emang Abang sudah anggap begitu, makanya Abang mematuhi kalian, termasuk urusan dengan yang kemarin.


" Syukurlah bang...Kami senang punya Abang sepopuler dan sebaik bang Gor. " puji Syaffana.


Gordon tersenyum sembari mengangguk,


lalu melanjutkan makannya.


Kemudian suasana kembali hening, karna


Mereka bertiga kembali menikmati makan siangnya.


Usai makan Syaffana dan Linlinpun pamit.

__ADS_1


" Baik- baik dijalan, jangan sesekali ngebut. " Nasehat bang Gordon sembari melambaikan tangannya.


Syaffana membalas, sedang Lin membunyikan klakson dan segera Melu ncur.


Lin melajukan motor dengan santai, mengingat kisah adik bang Gor dan banyaknya bengkolan, ia kapok ngebut kayak waktu itu.


Setelah mengambil bag pakaian yang sudah disiapkan dikos, Syaffa menitip kunci yang sudah dipesan pak Jorong pada tetangga. Lalu mereka melanjutkan perjalanan pulang.


" Menurutmu dia dikebun atau dirumah Lin? " tanya Syaffana diperjalanan.


" Ntar Ashar kita mampir dimesjid, sholat dan cek jaringan, kalau ada boleh kau telfon dia. " Ujar Linlin.


Syaffana mengangguk dan menguatkan pegangannya dipinggang Lin, karna jalan banyak yang berlobang.


" Ngak tahu gimana Heri bawa motor bisa balap melewati jalan begini, apa kau tidak pegangan begini? " selidik Syaffana.


" Lebih kencang aku pegangannya, sampai mau kupatahkan pinggangnya.


" Pantas ia senang, bukankah ia sudah lama tidak dekat denganmu, itu kesempatan baginya. " tebak Syaffana.


Sedang Lin kemudian tutup mulut.


Sadar Lin tak suka membahas soal Heri, Syaffana juga terdiam.


Jelang magrib, mereka tiba didepan rumah Syafir.


Lin menurunkan tas Syaffana, kemudian kembali menstarter motornya.


" Aku langsung ya...kangen putri dan putraku. " ujarnya sebelum berlalu.


Syaffana mengangguk dan melambaikan tangannya sampai Lin hilang dari pandangan


.


Setelah menarik nafas, iapun menarik tasnya menuju pintu.


Langkah Syaffana terhenti ketika mendengar suara manja dari dalam rumah.


" Lubang yang mana bang? " rengek suara banci dari ruang tengah.


" Yang dibelakang Dona...." balas Syafir.


" Kok ngak masuk bang...? " rengek manja itu lagi.


" Tekan dikit lagi. " balas Syafir.


" Apa yang mereka lakukan jelang senja begini? " batin Syaffana geram.


Bar...


Syaffana mendorong pintu dengan kasar.


berlanjut....

__ADS_1


__ADS_2