
Dua Ahmad sedang sibuk menjalani karir baru mereka menjadi juru masak propesional didapur mama Carolina. Sedang para ibu juga sibuk teriak-teriak diruang keluarga menonton acara televisi Sahur kita.
Syafir ternyata tak tega juga membiarkan kedua saudaranya bekerja berdua saja didapur, mulai mencuci beras untuk memasak nasi buat sahur, karna nasi yang tadi sudah tidak cukup.
" Kita masak apa bang" tanya Syafir setelah mencokkan rice cooker dan menekan tombol memasak, beralih menatapi Zahran yang sibukmembersihkan daun singkong. Sedang Elangmulai memblender cabe.
" Kita akan masak sayur daun singkong tumbuk." Ujar Zahran.
" Apa kaum wanita mau? bukankah itu terlihat jelek bagi yang tidak biasa makan." Tanya Syafir ragu.
" Tak usah banyak protes kalau mau tolongin.ambil tuh lesung mungil mama digudang! " ketus Zahran.
Syafir tersenyum seraya mendekati Elang." Gantian Abang yang parut kelapa ya? Biar aku yang makai blender buat giling daun singkongnya. Masak mau pake lesung mama yang sudah lama ngak dipake." Usul Syafir.
" Oke, tuan bos." Balas Elang.
Sedang Zahran segera menyodorkan setalam daun singkong yang sudah dibersihkan.
" Terserah kau lah, pokoknya beresin ni daun singkong sampai Abang selesai suci semua Wajan." Titah Zahran.
" Siap! " Balas tegas Syafir dan mulai memasukkan daun singkong kepenggilingan Jus. Lalu mulai menggiling kasar semua bergantian sampai tuntas.
" Jangan lupa panasin Rendang dengan api kecil." titah Zahran lagi.
"'Sip." Balas pendek Syafir segera melaksanakan tugas.
Begitu Syafir selesai menggiling, Zahranpun selesai mencuci piring. Sedang Elang masih memarut dua kelapa lagi.
" Kok banyak sih bang? " tanya Syafir heran karna menurutnya dua kelapa yang barusan Elang parut sudah cukup untuk gulai Singkong tumbuk mereka.
"Sekalian aku mau masak Bolu labu rasa keju."Ujar
Elang.
__ADS_1
" Itukan kue kesukaan Syaffana! kamu mau masakin? " tanya Zahran keceplosan. Melihat wajah adik bungsunya berubah, Zahran akhirnya tutup mulut.
Sedang Elang spontan berhenti memarut, dan beralih memelototi abangnya.
" Tidak masalah, nanti aku bantu sekalian curi resepnya, biar bisa buatin lain hari." Ucap syafir kemudian.
" Maaf dik, Abang tak sengaja." Zahran menatap sendu pada Syafir.
" Sudahlah, jangan merasa bersalah gitu, dulu kalian berdua yang memacari Syaffana, sedang memilikinya ternyata aku yang beruntung." Ucap syafir santai, membuat Zahran akhirnya dapat menarik nafas lega. Berganti Elang sekarang yang tercekat.
Seiring diamnya Elang, tiga perempuan memasuki dapur. Mia merebut kelapa dari Elang dan mulai meneruskan parutan Elang.
" Jangan diterusin dong Mia, biar dia teruskan sendiri pekerjaannya, ngak bagus ngambil lahan orang. Kalau mau membantu, bersihkan labu kuning itu saja, trus parut. " Ujar Zahran.
Sekarang berganti Suci yang terdiam." Ternyata ngak enak dipinggir jalan ya, sering tergeser orang lalu sengaja atau tidak." Batin Suci ngatain diri sendiri.
Mia nyengir dan segera memberikan kelapa pada Elang lagi, lalu mengambil Labu kuning besar diatas kulkas.
Mia membersihkan labu dan mulai mengukusnya.
Giliran Mengembangkan telur dan gula dengan mixer bagian Suci.
Syafir, Zahran dan Elang meneruskan masak gulai sayur daun singkong. Sementara perempuan mereka memasak kue kesukaan Syaffana dan mama Carolina.
Tepat pukul setengah Empat dinihari, semua hidangan sudah siap untuk dihidangkan dimeja.
Bel berbunyi membuat semua saling pandang.
" Om Jhon kali mau makan sahur bareng." Ujar Elang.
Mia keluar untuk membukakan pintu. Syafir kekamar untuk menjemput mama Karolina.
Beberapa menit berikutnya rumah itu makin heboh.
__ADS_1
" Kami datang untuk nebeng makan sahur!!! " Sorak
Susi dan Lin langsung masuk dapur tanpa menghiraukan larangan Mia." Melihat Zahran dan Elang memakai celemek sembari menata hidangan,kedua perempuan itu tak urung tercengang. Apalagi melihat para wanita yang nampak segar, sedang para pria keringatan.
" Ada apa ini, kenapa ada cerita dunia terbalik disini." Celetuk Susi.
" Jangan banyak bacot! Kalau mau ikutan makan gratis duduk saja. " Ketus Elang.
" Jadi segan." Balas Linlin.
" Ngak Usah segan, bilang saja lho ngiler sama sambal randang kerbau, sayur singkong rasa cinta, trus kue labu rasa keju yang sudah terhidang." Ujar Syafir tiba didapur dengan menggendong mamanya.
" Busyet! Mimpi apa kita tadi ya Lin,bisa lihat kejutan yang luar biasa begini! " Sorak Susi.
Kedua wanita itu tanpa malu duduk disisi mama Carolina." Ternyata impianku jelang nikah kenyataan juga onty." Ucap Susi cengengesan.
" Apa itu sayang?" tanya Carolina lembut.
" Melihat ketiga sepupuku dikarir terendah, jadi koki rumahan. Ujar Susi tak berfilter.
" Apa!!!" Teriak Ketiga Ahmad Siap mengaum dan mencakar.
" Sudah...kita mulai saja makannya, Susi benar lho, ini menakjubkan, akhirnya ia bisa mencicipi masakan ketiga ipar tampannya walau semua sudah terlanjur jadi milik orang." Ujar Karolina menengahi.
Semua akhirnya terdiam dan mengambil posisi dimeja makan. Sedang Susi makin besar kepala, tanpa segan ia minta ketiga iparnya mengambilkan apa yang ia mau.
" Sabar! Susi malam dua puluh tujuh bakal nikah dengan Andre. Sekarang patuhi saja dia, kapan lagi manjain ipar cantik kalian ini." Carolina menambahi.
" Dengar tu Onty! Biarkan aku jadi ratu dan tamu istimewa kalian malam ini." Balas Susi pogah.
Lin mengacungkan tangannya pada Susi , sedang para perempuan yang lain hanya bisa tersenyum, bagaimanapun juga Susi ipar kesayangan para Ahmad satu- satunya, sebagai istri mereka harus mengerti, tidak boleh memasang wajah cemburu sedikitpun.
" Baiklah...Karna kudengar kamu sudah merawat mama akhir- akhir ini, kami akan melayanimu disahur kita kali ini, sekalian balas Budi." Ujar Zahran.
__ADS_1
" Sahut kita dengan tamu istimewa." Sahut Syaffana.
Semua saling melempar senyum. Menit berikutnya acara makan pun dimulai.