
Hati Syaffana yang sedari dapat tugas dadakan sudah panas, semakin berasap, kayak canalpot dari mesin motor makan oli, ditambah lagi dengan adanya nama Mimi.
Gimana bisa baru sehari menikah, suaminya malah mau mengantarnya pergi dengan didampingi wanita lain. Dengan Lin saja ia tak Sudi berbagi tempat , apalagi nama lain.
" Siapa Mimi? Aku tak suka kau mengalihkan persoalan! Mana Handphone mu ? nyuruh datang cewek lain pake HP orang!" Gerutu Syaffa
dengan wajah cemberut.
" Adik cantik! I phone Abang ganteng, kata Lin sudah diambil orang. Tapi Abang tak bersedih. Kan sudah dapat adik cantik sebagai pelipur lara, soal hp nanti ganti baru yang lebih sederhana. Apa salahnya Abang pake HP istri sekali aja, buat suruh bawa pacar lama untuk mengantar kita ." ucap Syafir dengan senyum lebar penuh misteri.
Itu membuat Syaffa makin kesal dan jengkel. Ia lalu menyeret Syafir , dan melemparnya ketempat tidur.
" Ka...katanya mau pergi! Kok...Ucapan Syafir tercekat karna Syaffa sudah menindih suaminya dan ******* bibirnya dengan buas.Setelah membuat bibir Syafir bengkak dengan napas sesak, ia bermaksud menyentak kemeja Syafir.
Baru tangannya menyentuh kerah itu,
Kegaduhan terdengar dari arah pintu.
Tak...Suara pintu kayu berbenturan dengan tembok , didorong kasar dari luar.
" Astugu!!! Kau ingin memperkosa suamimu sendiri pagi- pagi begini Sa? Katanya mau pergi cepat!!! Aduh...ternoda deh mata suci murni sebening embun pagi ku ini!!! " ?teriak seorang perempuan didepan pintu.
" Lin...Lin...kok cepat kali datangnya! teriak Syafir dengan pipi memerah menahan malu bercampur marah.
Sedang Syaffa sudah siap pula menghadap Lin dengan menggulung lengan bajunya. Ditariknya Lin sembari menatapnya tajam.
" Kamu sengaja ya Lin, Ingin cari tahu hubungan kami ! Hingga berani masuk kamar orang main gebrak sembarangan! Yang namanya ruang pribadi, itu terserah orang lah mau ngapain ...Mau rabun senja matamu gara- gara menonton kami itu salahmu sendiri! " sewot Syaffana.
" Tapi Gua disuruh kesini cepat mengantar Si Mimi, kok udah capek ngantar, bukan dapat ucapan terima kasih, malah didakwa begini.! " Sanggah Lin tak mau kalah dari pengantin baru ini.
" Mana Miminya? " tanya Syaffa kemudian.
" Tuh didepan! " tunjuk Lin menuju halaman.
Syaffa berjalan kepintu, penasaran dengan perempuan yang disebut oleh kedua orang itu.
Pipi Syaffana makin memerah, setelah melihat mobilio merah yang ada didepan rumahnya, dan tidak ada satu orangpun ada disana.
" Ja...jadi? Itu Yang namanya Mimi?
Lin yang mulai menguasai situasi , Iapun menatap Syaffa dengan seringai licik.
" Nanti kukenalkan kau pada pacar sebenarnya Syafir. Itu Jantan dan tinggi. Kalau kau melihatnya, pasti kau bakal bakar jenggot ketek karna cemburu. Emang kau kira Mimi itu cewek ya? Ngak tahu aja kalau Syafir ngak pernah suka sama cewek, selain kita! Mimi cuma nama kesayangan pada mobil itu, kayaknya selain padaku, pada mobil kau cemburu juga Ibu polisi! ." Ujar Lin sembari menekankan suaranya, dan membelalakkan mata sipitnya.
Mana kutahu , kalian aneh- aneh saja, nama mobil sudah bagus dari Sononya pake diganti. " Sanggah Syaffa.
" Ya suka- suka yang punya lah Syaffana!
Nanti dirumah kau juga akan diganti nama kesayangan olehnya. Ia kan suka memanggil semua yang ia sayang dengan nama berbeda, tergantung moodnya dia." terang Lin.
" Aku sudah punya kok! " jawab Syaffa riang.
" Adik Cantik! " Timpal Syafir yang membuat senyum syaffana kembali mengembang.
" Is...Kayak dah bucin saja! Jadi pada mau pergi ngak ni? kalau ngak jadi biar kubawa siMimi mejeng.
" Enak aja! Penting mana menurutmu kerjaku ketimbang mejengmu. " Cibir Syaffa.
" Kalau begitu, Cepatlah bersiap kalian, nanti terlambat menghadap komandanmu! Didunia kerjamu kan gitu! Unior harus hormat pada senior. Tidak boleh salah bertindak sedikit juga. " Ujar
Lin penuh penekanan.
" Sok tahu Lo! kayak pernah saja kepoin kami lagi bertugas." protes Syaffa.
"Kepoin lho sih ngak Noni! tapi kalau membaca berita Youtup tentang kisah polwan seperti kamu ya aku sering. Bahkan yang baru Viral belakangan ini.
" Oya! Terserah Lo aja. Ayo bantu berkemas ya..Bujuk Syaffa mulai melunak karna ada maunya.
__ADS_1
Syaffa memakai seragamnya. Setelah itu mengeluarkan baju dalam lemari yang akan ia bawa, sedang Syafir memasukkan barang- barang Syaffa kedalam travel bag.
Lin mengurus baju Syafir, yang sesuai untuk ia kenakan mengantar istrinya.
" Ini sesuaikan Sa? " tanyanya sembari menunjukkan kemeja biru dengan paduan celana bahan berwarna hitam.
" Bagus! Itu akan membuat suamiku terlihat Sersan. " ujar Syaffana.
" Apatuh Sersan? Kok kayak nama pangkat dikepolisian? " tanya Lin belagak pilon.
" Memang iya. Tapi sersan yang kumaksud ini adalah serius tapi santai.
Terang Syaffana.
" Oo...Bisa juga Lue punya istilah.
Syaffa memeriksa kembali lemarinya.
Matanya tertumpu pada tumpukan Amplop dilemari bagian bawah. Kemudian dengan pandangan sendu matanya meniti tumpukan tinggi kado- kado pernikahannya disudut kanan tempat tidur itu.
" Gimana dengan Amplop dan kado- kado ini? " Tanya Syaffa dengan hati yang kecewa. Ia sebenarnya ingin sekali membuka kado- kado itu bareng Syafir, tapi apa mau dikata, ia sudah dapat panggilan secepat ini.
Syaffana menghempaskan nafasnya dengan kasar, berharap bisa melepaskan kekesalannya.
" Tenang lah adik cantik! Biar Lin yang akan mengurus semua, lagian ada ayah, bukde dan pakde yang akan membantunya nanti. Soal uang itu Lin takkan mencurinya, walau ia kepepet butuh duit buat balik sama mantannya itu! " Canda Syaffir.
" Huek....Belum tentu juga gua mau balikan!, apalagi balikan pake uang sendiri, amit- amit sampe nyuri! tenang saja Syaffa! Gua asisten terpercaya kok, uang kalian pasti aman, kalau kadonya belum tentu, kalau ada baju tidur unik dan cantik nanti bisa jadi kami bagi sama bibimu! " Ujar Lin.
" Kalau baju tak apalah, baju tidurku sudah banyak, kalau nanti tidur bareng suami ngak perlu baju, jumpanya bakal jarang- jarang. Begitu Ketemu langsung nyemplung." Ucap Syaffana dengan senyum centilnya, sengaja memanasi Lin,
Karna ia masih penasaran dengan perasaan Lin pada suaminya.
" Nyemplung dikolam cinta! Lo orangnya Hot juga ya Syaffana! Mudah- mudahan cinta kalian segera tumbuh, dan Syafir ngak gemetaran lagi! " Ujar Lin.
" Kok Lo tahu? suamiku gemetaran segala? " Tanya Syaffa.
" Kan tadi gua lihat sendiri! Jadi tahulah...
" Syukurlah...Ia tidak memiliki perasaan apapun pada syafirku " - Fana.
Usai sarapan bersama dan pamitan Syaffa dan Syaffir melangkah menuju mobil, barang - barangnya dibantu masukkan sama Lin dan karyawan Syafir yang bertugas membuka tenda.
Mobilio Red itu meluncur dengan kecepatan sedang, dengan disopiri Syafir sendiri. Meninggalkan lokasi pesta yang masih ramai oleh orang berkemas.
Setelah berkendara selama 150 menit, akhirnya mereka tiba dikapolres P.S 4.
" Mobil masuk lewat gerbang yang ini, Ini jalan kerumah dinasku.Nanti kita kerumah dinasku dulu. Biar Abang istirahat disana." Jelas Syaffa.
" Masih tinggal dirumah yang dulu ya? " tanya Syafir tanpa sengaja, hingga ia menutup mulutnya lagi.
" Kamu pernah kesini rupanya bang? " tanya Syaffa sembari mengernyitkan dahi.
" Ah...lupakan saja! itu sudah lama." Ujar Syafir.
Karna Syaffa sedang memikirkan pekerjaannya, jadi ia tidak lagi bertanya, tapi lain kali ia akan mempertanyakan ini lagi. Ia menyimpannya dalam hati.
Syafir berhenti tepat didepan asramanya.
Syaffa kembali mengernyit. Tapi karna mau cepat, ia kemudian membuka pintu mobil. Syafir turun dan membawakan bawaan mereka.
Sesampai dirumah.
" Aku akan memasak untuk makan siang kita, ketika adik cantik menghadap kekantor." ujar Syafir.
" Emang bisa? " tanya Syaffa.
" Lupa ya kalau suaminya mantan Cica? "tanya Syafir balik.
" Terserah...Tapi bahannya mungkin tak cukup dikulkas.
__ADS_1
" Aku cari lewat jalan belakang kan ada toko sembako, sekalian jual sayuran bukan? tanya Syafir.
" Sepertinya Abang hafal semua yang ada disini! " ujar Syaffana sembari memeriksa penampilannya dicermin hias.
" Aku pergi menghadap dahulu ya! Terserah mau ngapain dirumah! " Ujar Syaffa setelah mencium pipi suami.
Syafir hanya mengangguk, karna untuk bicara lidahnya terasa patah.
Setelah bersih- bersih didapur. Syafir bersiap- siap untuk kewarung sembako.
Baru mau berangkat, Syaffa sudah tiba.
" Sayang...Aku harus berangkat juga sekarang. Dilokasi sudah banyak petugas mengamankan demo preman kampung A terhadap PT Gunas Jaya, masalah lahan jalan alternatif yang sudah diganti rugi oleh Pihak PT, tapi preman antar jorong disana mengadakan tawuran, karna perebutan daerah bongkar buah." Jelas Syaffana.
" Jadi kau akan masuk kearea pertempuran panas? " tanya Syafir Khawatir.
" Bila situasinya harus, ya aku harus terjun, itu sudah tugasku. Tapi tenanglah...kali ini komandan menugaskanku untuk masuk dari dalam,
mencari frofokator berpengaruh dalam demo ini, serta mengusahakan pengadakan diplomasi secara intrinsik dengan tokoh muda dan tua kampung itu. " Jelas Syaffa.
" MHum....Misi rahasia? Kayaknya lebih beresiko bagi seorang wanita cantik. " Gumam Syafir. Tapi itu sudah tugasmu, Ayo berangkat sekarang! Untung belum jadi masak. " ujar Syafir.
" Ya kita berangkat setelah aku ganti baju! Tas nya belum dikeluarkan isinya kan? tanya Syaffa.
"Syukurnya belum." gumam Syafir.
" Gabungan Dalmas dari PP beserta Kompi kami sudah berangkat pagi- pagi sekali tadi. Beruntung aku mendapat tugas HUMAS. Jadi bisa datang dengan diantar suami." Ucap Syaffa hangat.
Setelah itu tentu harus berpisah." tanya Syafir dengan tatapan sendu.
" Aku sudah sering menangani kasus seperti ini, tenanglah..Syaffa pandai menyesuaikan strategi dengan kondisi. Masalah malam pertama kita jangan khawatir! Begitu ada waktu luang, Syaffamu akan datang. Siap- siap saja! " Ucap Syaffa dengan tatapan menggoda.
" Mendengar dia berkata begitu, seperti bukan aku suami, tapi dia. " - Syafir.
" Aku akan kekebun setelah ini. Akukan akan libur dipesta." Ucap Syafir kemudian.
" Kekebun juga akan kukejar! He...He...Kikik Syaffa.
*******
Sementara dikota S. Elang baru saja meninggalkan kota dengan mobil Inovanya menuju kampung halamannya. Disisi kirinya , duduk Suci dengan hati yang ketar ketir.
Dibelakang ada Zain, anak lajang sebagai sopir pengganti yang diutus pak Wali.
" Ia menutup telfon, begitu mendengar suaraku. Apa yang sudah terjadi? kenapa
dia tidak mau berbicara, marah atau mengumpatku? Apa Syafir jadi memenuhi permintaanku? Semoga adikku itu sudah membaca pesanku.
Tapi kenapa tak ada jawaban dari Syafir, trus tak bisa pula telfonnya dihubungi." Batin Elang penuh tanda tanya.
Dengan Syafir atau tidakpun Syaffa, tentang harapan pada Syaffa sudahlah kandas. Tapi ia ingin memastikan kalau Syaffana baik- baik saja.
Karna kurang fokus, mobil nyaris tabrakan. Untung ia berhasil banting stir dan selamat menepi.
" Ampun kak, untung kecepatan rendah ...hingga masih terkendali, kalau ngak bisa out kita bertiga karna truk Container itu. "Ujar Zain mengusap dada.
" Maaf...sudah membuat kalian cemas. " kata Elang. Elang kemudian menghentikan mobil dipinggir jalan.
" Kak Elang... Nampaknya kakak kurang fokus, biar aku yang bawa. " Ucap Zain memecah keheningan.
" Kurasa iya, ditambah ngantuk pula. Biar aku istirahat sebentar. " ujar Elang seraya
menatap wajah suci yang terlihat pucat.
Kemudian Elang turun, dan pindah kebelakang, diikuti suci. Zain menggantikan Elang, merekapun melanjutkan perjalanan.
Elang akhirnya mengambil bantal, kemudian rebahan, tanpa memandang istrinya lagi.
" Nanti kalau ragu jalan, bangunkan aku. " katanya dengan suara melirih karna ngantuk.
__ADS_1
" Baik kak..."Ucap Zain patuh.