
Syaffa duduk lemas sembari tersandar didaun pintu.Ia mendengarkan perdebatan diluar dengan tatapan kosong. Apa yang Syaffa dengar, Sungguh diluar dugaannya.
" Benarkah bang Syafir adik kandung Elang. Berarti dengan hidup bersama Syafir, mau tak mau aku akan terus berhadapan dengan pria
itu selamanya. Walau tidak akan bertemu setiap waktu, tapi tetap akan jumpa minimal dihari - hari penting. Bisakah aku jadi adik ipar yang wajar? Ya Tuhan...mengapa kenyataan hidupku harus sepelik ini? " Syaffa bertarung dengan hatinya.
Notifikasi pesan di HPnya membuyarkan lamunannya, menjeda denyut dikepalanya. Iapun menyentuh layar dengan malas. Setelah membuka pesan, ternyata pesan banking, berisi transfer dari suaminya.
Berikutnya masuk lagi pesan.
" Sayang...Ini milikmu, Abang memberikannya sepenuh hati, bahkan pada lelaki itu sudah kuminta pada Andre untuk mentransfer dari rekening WO kita. tenanglah...Suamimu takkan bangkrut karna itu. He.. he..
"Gimana pertemuan dengan Bang Gor? kalian tidak diapa- apakan kan, sayang?
Tiba- tiba senyum Syaffa mengembang
tanpa bisa dihentikan.
Sampai detik ini Suamiku bahkan belum tahu, ia sudah menikahi calon kakak iparnya. Aku takkan peduli pada kenyataan yang pelik ini, aku hanya akan peduli pada suamiku saja, aku tahu selama ini aku tak pernah mencintai Elang, aku hanya mengaguminya saja, sekarang kekagumanku sudah hilang. Aku tak perlu khawatir lagi, akan kuteruskan perjalanan cintaku. Lin benar, aku harus menerapkan praduga tak bersalah, setelah suamiku terbukti tidak ikut campur dengan rencana kekacauan malam itu. Untuk apa aku menghukumnya? kalau ia murni penyelamatku? Syaffa segera beranjak ketempat tidur, dan mengetikkan pesan untuk Syafir setelah berbaring tengadah.
" Kami baik kok sayang...Bang Gordon ternyata bisa diajak negosiasi, tinggal tunggu bagaimana pengaruhnya selanjutnya terhadap warga.
Kami baru kembali dari sana.
Baik- baik ya bang, cepatlah balik, aku rindu. Balas Saffana.
" Adik baik- baik juga, Abang lebih kangen lagi. Kalau Lin bawel lapor saja! Biar nanti Abang hukum. He...He...
Begitu urusannya
selesai, dinasnya normal, diwaktu senggang, Abang akan bawa berlibur ketempat yang dekat, mantap harga bersahabat.😃
Syaffa tersenyum seraya memeluk Telfon genggamnya.
" Dasar CILIT seperti kata Sicabi, segalanya ada hitung- hitungannya.
Bang...bang..." Syaffa geleng- geleng sendiri, dibibirnya tak lekang senyuman.
" Jangan telat shalatnya ya sayang.. Jangan mandi sekarang, kalau mandi habis Isya ya! tambahkan Air hangat. " Satu pesan lagi masuk.
_
_
Sementara Elang duduk lemas dalam mobil. " Senja memang selalu mengisahkan perpisahan yang menyedihkan , walaupun ini sangat pedih, tapi Tuhan sudah mengatur hidupku sesuai pintaku disituasi darurat itu, bahkan tanpa tahu, adikku menjalankan amanatku, Allah menghubungkan kalbu kami. Ucap Elang lirih sembari mengusap dadanya.
" Gimana bang...Sudah bisa jalan? " tanya Zain hati- hati melihat tuannya nampak kacau begini.
" Ya...Jalan hingga bertemu Mesjid
__ADS_1
terdekat, waktu magrib sungguh mepet, kita tak boleh sampai terlewat. " Ujar Elang Lirih sembari mengusap sisa airmatanya, kemudian menggosok hidungnya yang merah.
Azan magrib berkumandang, Zain memutar mobil menuju jalan besar, melaju menuju panggilan Azan.
Usai shalat magrib dikantor Syaffira
WO, Syafir melajukan mobilio Rednya menuju jalan Melati.
Rumah Ustadz Zaki ada dipinggir jalan, bangunan satu lantai model kekinian, dengan halaman dan taman yang lumayan luas. Bangunan berwarna hijau muda ini, merupakan bangunan tergolong baru.
Sepupu Syafir yang sering dipanggil MR. Long ini, membangun rumah itu setelah mempersunting bidadari hatinya 7 tahun yang lalu.
Tujuh tahun menikah, pria jebolan Pasantren Purba baru dan STAIN BT ini
sudah meraih kekayaan yang tak terhingga. Gimana tidak? dalam Tujuh tahun menikah, istrinya sudah melahirkan Lima anak. Putri pertama mereka kembar. Tepat dimalam pernikahan Elang, istrinya Zaki Zamzami Fitri Zainuddin, melahirkan seorang putra lagi untuk Zaki.
" Anakmu tak ubahnya susunan pakis bang. Apa ngak kasihan membuat kak Ami hamil terus! " Protes Syafir setelah memangku Sikecil yang masih dibedong.
" Kasihan juga sih..Tapi mau gimana lagi dik...Sudah tembak luar aja masih nyangkut, namanya juga Air ajaib, sekali nitik langsung jadi laut dan gunung. He...He..." Kekeh Lebai Zaki.
Syafir yang belum begitu faham, hanya cengar- cengir sembari mengusap wajah kecil dipangkuannya.
Syafir dan Zaki sengaja bicara diruangan khusus ustadz tersebut, karna tak ada yang ingin mendengar omongan mereka yang pada dasarnya selalu inten. Sedang sikecil memang sengaja dibawa Zaki ketempatnya, tak mau istrinya terganggu saat makan dilayani bi Kila ART mereka.
" Berarti ponakan kecil baru berusia Jelang Empat hari ya bang? " Tanya Syafir menatap kagum pada mahluk sempurna yang masih merah itu.
" Iya! Sama dengan pernikahanmu! Udah ketemu? " tanya Zaki dengan senyum centil , sembari menggerak- gerakkan Alisnya.
" Kau tak tahu saja, mataku ada dimana- mana, walau aku hilir mudik rumah sakit malam itu, mengurus kak Zamimu yang agak sulit melahirkan yang ini, tapi aku tahu kalau kau yang akhirnya menikahi calon istri Elang, karna Elang tak kembali dimalam itu. " Terang Zaki yang membuat Mata Syafir membola.
" Ja- Jadi lelaki itu adalah bang Elang?" Akhirnya Syafir berhasil mengeluarkan kalimat tanya yang tersangkut di tenggorokannya.
" Jadi kau tidak-
Uha...Uha...Uha....Tangisan sikecil mengurai ketegangan wajah Syafir.
" Cup...cup...Sayang..." bujuk Syafir menyapa sikecil.
" Namaku Zahir Om.." Ucap Zaki sembari mengambil alih putranya dari Syafir.
" Keluarga dengan inisial Z semua! " Seru kagum Syafir.
" Abang antar dulu ke Susu Gantung Maknya ya dik, biar aman kita berbincang. " Pamit konyol Zaki.
Syafir hanya mengangguk. Selama menunggu Zaki, Syafir benar- benar gelisah.
" Ya Allah...Aku tidak tahu ini sama sekali,
aku menikahinya karna aku memang sudah lama tertarik pada Syaffa, tak tega
__ADS_1
melihatnya menangis. Aku bahkan tak pernah tahu kalau polisi centil itu kekasih bang Elang, sejak keluar dari rumah, banyak yang tidak kuketahui. Bagaimana ini? Jangan sampai istriku mengira aku berkonspirasi. " Resah hati Syafir.
" Heh! Jangan Mewek begitu, kalau kau masih mewek, kapan machonya! " Sergah Zaki sembari menepuk pundak sepupunya itu.
" Gimana ini bang...Hatiku gelisah, takut rumah tanggaku bermasalah, kalau ia tahu aku adik dari pria yang mengkhianatinya. " Curhat Syafir dengan wajah cemas.
" Istrimu adalah jodoh yang sudah ditetapkan Allah untukmu Syafir! Ia juga bukan perempuan biasa. Kisahnya dengan Elang hanyalah cara Allah untuk mempertemukan kalian. Jangan bermuram begitu, apapun yang dilakukan Elang abangmu, pasti ada alasannya, dan apapun yang terjadi sudah tentu ada hikmahnya. Ini juga bukan salahmu, Tante Rahma yang sudah membuatmu jauh dari keluarga, tapi seperti yang kukatakan tadi, tak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini. " Jelas panjang Ustadz muda yang memang senang bicara itu sembari menepuk- nepuk pelan
pundak sepupunya.
Syafir menatap Zaki masih dengan wajah gundah.
" Kalaulah Tuhan tidak membuat rencana begini, siapa yang percaya kau benar- benar lelaki? Sekarang setidaknya istrimu sudah tahu, kalau pedangmu sungguh tajam. " tatap Nakal Zaki.
" Abang!!! membuatku malu jadinya! Jadi guru kok ngak nyampe ajarannya. Istriku sampe terluka karna pedang ini." protes Syafir tertunduk malu.
" Hanya luka membawa nikmat!. Yes!!! Berarti walau lugu kau cepat juga dapat bagian, bahkan Jika Elang yang menikahinya belum tentu ia secepat itu menyantapnya. Dasar kucing kecil yang nakal! " Ucap Zaki menepuk pundak Syafir lebih keras.
Syafirpun menarik ustadz Zaki berdiri. Setelah posisinya pas, merekapun melakukan latihan beladiri Chun, yang sudah lama
tak mereka lakukan.
Mereka bertaruh sampai keringat bercucuran, hingga panggilan manja Zami menghentikan pertarungan kedua petangguh itu.
" Kau kalah pria beranak lima! " Ejek Syafir melihat nafas Zaki ngos- ngosan
setelah pertarungan cepat dengan jarak singkat itu.
" Paling ntar lagi tenagamu bakal KAO juga, sama sepertiku, karna kau juga kucing yang rakus ikan! " Cibir Zaki.
" Ikanku berprotein tinggi, jadi itu takkan merusak tenagaku, bahkan akan membuatku makin tangguh. " Syafir menyeringai narsis.
" Sudah...Sudah! minum dulu, keburu dingin tu ! " Timpal Zami menunjuk kopsus buatan bi Kila dinakas yang sudah terabaikan.
Syafir mengulurkan paperbag yang tadi ia bawa untuk sikecil pada Zami.
" Makasih dik, maaf tak bisa hadir dipestamu, habis keburu turun mesin. He...He..." Kikik kecil Zami.
Syafir menatap tajam Zaki yang cengengesan. Dasar tukang gosip! Sama mak-mak yang baru lahiran saja kau menggosipkanku. " Syafir berlagak marah.
" Ha...ha...Istri sendiri terserah dong, lagian hanya aku yang bisa bergosip dengannya, dengan orang lain mana kubolehkan. " Ucap Zaki bangga pada keteraturan istrinya.
" Bolehlah kau sebagai suami otoriter yang berprestasi." Ucap Syafir mencebikkan bibirnya.
Tanpa terasa kegelisahan hatinya benar- benar menguap, setelah pamit pada nyonya, tuan rumah dan mengusapi semua kepala prajurit kecil MR. Long, yang tidur berhamparan diruang tengah.
Syafirpun berlalu dengan langkah ringan.
Berlanjut....
__ADS_1
Tekan jempol say...