
Suci yang biasa jadi ratu dirumah, memaksakan bekerja banyak dirumah mertua, ditambah beban fikiran yang belum berkesudahan, membuat otot- otot
yang belum lentur terasa kaku dan bersakitan.
Malam ini, setelah Isya, Suci cepat- cepat menuju peraduan. Ia benar-benar letih dan ingin segera tidur.
Setelah memijiti keningnya sendiri, Suci akhirnya terlelap.
Elang yang baru saja tiba dari rumah Syafir setelah pukul 23: 10 malam.
Usai menunaikan kewajibannya yang nyaris terlambat, Elang yang ingin mengambil bantal, melihat wajah suci yang terlihat pucat, Ia mengernyitkan dahinya. Secara spontan ia meletakkan punggung tangannya dijidat Suci.
" Ya Tuhan.. Tubuhnya panas! Apa ini akibat Stres karna aku selalu memarahinya? " Batin Elang.
Elang cepat- cepat melakukan P4, mengompres kening Suci dengan
handuk basah. Kemudian ia memanggil dokter Susi via telfon.
" Apaan sih Kamu nelfon aku jam segini?
Giliran udah punya istri baru mau telfon!" terdengar umpatan dari sebrang telfon.
" Justru aku nelfon karna istriku demam...Kesini ya Si, sekarang juga plis..
" Anak pak Wali kamu biarin sampe demam dirumahmu? Mampus kau Lang!."
Seru gusar dari sebrang.
Sebelum Elang sempat membalas, telfon sudah diputus.
"Ufhh.....main putus telfon sembarangan, tanpa putusan jelas ! " Dengus marah Elang.
Berikutnya terdengar notifikasi pesan.
Elangpun membukanya.
" Kesal ni ye! 😆😆😆
Oke deh..aku terpaksa datang! takut kamunya ntar dituduh KDRT sama pak Wali kalau sampai anaknya kenapa- kenapa.
Elang bernafas lega membaca pesan dari teman SMU sekaligus paribannya itu.
Suci yang sayup- sayup mendengar suara
kesal Elang, memaksakan membuka matanya. Melihat pergerakan istrinya, Elang segera menghampiri Suci. Menggenggam tangan gadis yang itu, dengan melupakan sejenak kekesalannya pada Suci.
" Maaf...tadi abang pergi ketempat Syafir.
pas kembali, kulihat Suci demam, tapi tenanglah...sudah Abang panggil dokter." Ucap lembut Elang.
Mendengar dokter Suci tersintak kaget.
Tapi cepat- cepat ia sembunyikan kecemasannya.
" A- aku cuma demam karna ototku belum lentur lantaran tak biasa kerja, mengapa panggil dokter segala? " tanya protes Suci.
" Jangan banyak protes! Juga jangan khawatir lagi, Abang tidak akan memarahimu lagi. " bujuk Elang.
Elang menggenggam erat tangan Suci.
" Mulai sekarang jangan takut, Abang akan berusaha membuang kemarahan ini, tapi Suci harus janji, tidak akan iri atau cemburu padanya suatu hari bila kita berkumpul , karna tentu semua lebih menyayanginya." ujar Elang menatap Suci
dengan penuh tuntutan.
Suci mengangguk, kemudian ponsel Elang berdering. Elang cepat- cepat keluar untuk membukakan pintu begitu melihat itu panggilan dari Dokter Susi.
Dr. Susi mengikuti langkah Elang kekamar mereka.
Susi segera memeriksa Istri Elang tanpa banyak suara. Melihat gadis cantik yang sudah merebut calon suaminya Syaffa, bibirnya seakan tertutup rapat, ia bahkan tidak menatap Elang.
" Ih...Gadis cantik, anak penguasa pula, wajar dia terpedaya, orang sama Syaffa jarang jumpa. " Sungut hati Susi.
__ADS_1
Elang tersenyum geli melihat Ekspresi tak biasa pariban cerewetnya itu.
Sedang Suci makin kikuk dengan kebekuan dokter manis itu.
" Ini siapanya bang Elang pula? kok sinis gitu " tanya hati Suci.
" Sakit apa? Apa ada yang serius? " tanya Elang memecah kesunyian.
" Istrimu cuma kelelahan, kurang istirahat dan banyak fikiran, maklum anak sultan masuk kampung. " Ujar ketus Susi.
Suci yang mendengar sindiran Susi hanya tersenyum kecut. Ia menebalkan telinga dan menguatkan hatinya.
" Emang ada dokter ketus gini ya? Susi...Susi! Syukur lulus PN dirimu, kalau ngak pasti kalah saing deh. " protes Elang.
" Terserah deh, Aku ngantuk. Kasih obat ini setelah makan. " Ujar Susi masih cemberut meletakkan beberapa tablet obat pereda nyeri dan vitamin dtempat tidur.
Elang menatap sahabatnya itu dengan menyeringai sembari menggeleng- gelengkan kepalanya.
" Sudah, jangan buncut. " bujuk Elang menatap lembut Susi.
Sedang Suci melengos, tak tahan melihat
suaminya menatap perempuan lain.
"Maaf dech, sudah ganggu waktu rehatnya, tapi siapa lagi yang kan kupanggil selain iparku yang baik dan manis ini? " Rayu Elang.
Melihat Susi yang masih cemberut. Elang
tersenyum sembari meraih HP pintarnya.
" Oke dech...aku transfer. " Ujarnya.
" Wow!!!" Pekik Susi dengan Wajah berubah cerah melihat pesan banking yang masuk ke ponselnya.
" Sudah amankan? " sindir Elang.
Susi hanya menjawab dengan anggukan.
" Baby Apaan, istrimu ngak hamil kok..Bego amat ngak tahu bedain wanita hamil sama ngak, dari nafasnya saja kita bisa nebak. Apa kau kira bibitmu terlalu unggul? Sekali semai langsung jadi? " Tanya Ejek Susi.
Deg.
Dada Suci berdegup, wajahnya memucat, Hal yang dari tadi ia takutkan, akhirnya terbongkar juga.
Dengan berdebar, Ia mencuri pandang pada Elang.
Wajah Elang tampak biasa. Suci mengernyitkan dahinya tak percaya.
" Oh...ternyata setelah bertemu empat mata dengan adiknya, Suamiku jadi lebih tenang. " Batin Suci senang.
Elang tidak terkejut dan tersinggung dengan ejekan dokter sekaligus sahabatnya itu, karna ia sudah curiga suci tidak hamil, sejak menikah beberapa hari, ia tidak melihat gejala wanita hamil muda pada Suci. Tapi ia sengaja mempertanyakannya pada dokter dihadapan Suci, tak mau suci terlalu lama menyimpan dustanya.
" Ya sudah...Ayo kuantar pulang! " ujar Elang mengatur langkah, meninggalkan Suci yang kembali terkejut.
" Naik apa? " tanya Suci tak kuasa menahan cemburu.
Elang tidak menjawab, ia kemudian melanjutkan langkah besarnya. Sedang Susi melambaikan tangannya pada Suci.
" Tenang saja! Aku takkan merebut sesuatu yang sudah direbut, aku naik mobil sendiri kok. Ia hanya pengawal saja." Sindirnya berhenti sejenak, sebelum menghilang dibalik pintu.
Suci tersenyum kecut, menatap kepergian suami dan Pariban manisnya itu.
***
Sementara Syafir, sepeninggal abangnya, merasakan tubuhnya menggigil kedinginan. Teringat terapi istrinya, iapun mencampur air hangat untuk mandi dan berwudhu.
Setelah sholat, Syafir menggulung tubuhnya dalam selimut. Sampai telfonnya berdering.
Syafir menyambungkan telfon, melihat Syaffa yang memanggil dengan panggilan Vidio.
Syafir hanya mengeluarkan kepalanya saja dari selimut dan mengarahkan kelayar.
__ADS_1
" Sayang kenapa? " tanya Syaffa dengan wajah khawatir melihat wajah suaminya pucat dan bibirnya bergetar.
" A-ku demam yang.. demam malarin.." Gumam Syafir yang membuat Syaffa yang semula cemas jadi terkekeh.
" Jangan becanda dong yang...Itu sampai
pucat dan menggigil. " rengek Syaffana.
" Serius kok yang...tadi baik- baik saja, begitu selesai membicarakan adik dengan dia, jadi demam gini. " Curhat Syafir dengan bibir mengerucut, sedang
Syaffa mengernyitkan keningnya.
" Dia siapa? " desaknya.
" Abang." jawab pendek Syafir yang membuat Syaffa melengos.
" Jangan buang muka dong cantik! ini sudah takdir kita, kita mesti menjalaninya dengan ikhlas. " Bujuk Syafir dengan suara yang mulai normal.
Mendengar suaminya mulai membaik, Syaffa kembali menghadap kekamera.
" Udah mendingan? " tanyanya heran.
" Sudah kayaknya, kan sudah dikirim obatnya sama tabib cinta lewat udara. " Canda Syafir.
" Eis...Ngak mau obatnya semudah itu! " teriak Syaffana hingga membangunkan Lin disampingnya.
" Apaan sih teriak- teriak tengah malam! " Sergah Lin membuka matanya lebar-lebar, untuk memastikan apa yang dilakukan Syaffa.
Sedang Syaffana tanpa merasa berdosa menatap mesra suaminya dilayar.
" Hei semut Api! sudah menggigit lho diam- diam tanpa dosa ya! " Gerutu Linlin.
" Kenapa macan betina mengaum? " tanya Syafir dari sebrang.
" Tauk tuh! katanya digigit semut api. Mana ada semut api disini. " ujar cuek Syaffa.
" Trus apalagi obatnya kalau bukan Syaffa sayang? buktinya, lihat wajah dari layar saja, tubuh dingin langsung hangat,
kan dengar sendiri. " Ujar Syafir mengulas senyum.
" Ngak bertemu ya ngak sembuh dong.." Rungut Syaffa.
" Kan sudah ditelfon diwaktu yang pas! berarti tabib cintanya manjur dong... belum ketemu aja sudah sehat, kalau bertemu pasti lebih kuat dan semangat." rayu Syafir yang membuat Lin mencibir mendengarnya.
Tentu itu tidak bisa dilihat Syafir, karna Syaffa tidak mau walau hanya sekedar berbagi layar dengan asisten suaminya itu.
Mereka terus berbicara, saling mencumbu dibalik layar, tak peduli cibiran Lin. Hingga terdengar dengkuran halus suaminya, barulah Syaffana mematikan telfon.
" Serius dia demam? tanya Lin Kepo juga.
" Iya...Sudah dua kali ia begitu, aku takut itu gejala malaria Lin. " ujar Syaffa khawatir.
" Tidak! Ia begitu sejak menikah dengan lho saja! sebelumnya biasa begadang ditengah pesta, aman dan fit. itu karna energinya lho serap. " tuduh Lin sembarangan.
" ISS...Emang bunga bangkai? Ngak lagi!!!
Ini mawar tau! " Cibir Saffana.
" Ya Udah...Mau mawar, anggrek, melati, keladi terserah lho, yang penting jangan brisik lagi, ganggu tetangga tidur saja! " Ujar Lin berlagak marah.
" Oke Deh...Aku tidur..." Ucap Syaffana patuh.
Ditariknya selimut, kemudian memunggungi Lin.
" Awas, ntar lho sapa tahu dah ngandung, anaknya mirip gua. "
" ISS...ngak deh! " ujar Syaffa membalikkan badan.
" Ha...ha...Kena lho! ternyata lho percaya tuyul juga ya non? " Canda Lin.
" Tahayul ! Sekarang lho yang malah brisik! " Protes Syaffa menyikut Lin.
__ADS_1