
Dengan perasaan bercampur aduk, Elang berangkat menuju kota S Sore itu juga, setelah mengantar Syaffa kerumahnya.
Sebelumnya ia membawa Syaffa kerumah sebentar, untuk izin pada mama
perihal kepergiannya atas permintaan orang besar yang sangat dihargai oleh mamanya itu.
Mobil Elang melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalan yang panjang dan berliku.
Seharusnya ia sudah sampai dikediaman orang penting itu jam Lima Pagi. Tapi karna ia melajukan mobilnya dengan pelan, ia sampai disana setelah sore hari.
Setiap pantai yang ia temui dipinggir jalan, selalu ia singgahi, tak peduli dengan dinginnya, malam, bahkan teriknya mentari disiang hari.
Elang semakin kacau ketika dijalan saat berhenti disebuah rumah makan, ia mendapatkan pesan bahwa ia diminta kembali ketempat kerjanya itu karna tunangan putri penguasa itu meninggal
dunia karna kecelakaan. Darah didada Elang berdesir tak karuan. Perasan tak enak mulai semakin merusak hatinya.
Untuk mengatasi perasaannya yang tak karuan, ia berteriak dan menjerit disetiap pantai yang disinggahinya.
" Ini tidak salah lagi! Ia pasti akan memintaku untuk menggantikan lelaki yang dari awal memang ia tak suka itu.
Kalau sampai itu terjadi, apa yang akan kulakukan? Bagaimana nasip cintaku?
Bagaimana dengan kekasihku, bukankah jadwal rencana pernikahanku dengan Syaffa sama dengan jadwal pernikahan Suci dengan Almarhum Royan. Mudah- mudahan ini cuma dugaanku saja, semoga cuma masalah dikantor ada yang kurang beres kukerjakan sebelum mengambil cuti. " gumam Elang membujuk hatinya.
Sungguh hati kecil Elang sukar dibujuk, didalam sana hanya ada dugaan yang tak tertolak. Prasangka itu terus bercokol dihatinya, membuatnya semakin sesak
dan ingin meledak.
"Hahhhh!!!..........Jeritnya kuat melepaskan sesak yang ingin meledak itu.
*******
Sore hari, ia sampai didepan kediaman
mewah penguasa kota itu.
Begitu sampai didepan pagar, ia sudah disambut oleh orang besar itu beserta para pegawainya. Didepan rumah, orang-orang mulai memasang tenda dan pelaminan. Jantung Elang kembali berdegup tak menentu.
" Akhirnya kau datang juga nak...Ayo masuk kedalam biar kita bicara. Kemana lagi bapak bertenggang selain padamu, hanya dirimu saja yang dapat bapak percaya untuk mengatasi masalah berat keluarga ini... " Ucap bapak itu dengan suara lembut, tapi bagi Elang itu terasa sembilu halus yang sudah siap mengiris dan memutus tali hati, jantung dan limpanya.
__ADS_1
Dengan langkah gontai Elang masuk rumah istana itu, tentu diiringi semua pengawal dan pelayan hingga kedepan kamar.
Begitu bapak itu mengibaskan tangannya, semua bubar dan menyingkir.
Tinggal mereka berdua didepan pintu kamar Suci Rahmawati, putri bapak Wali kota S.
Masuklah nak Elang... " Ucap seorang ibu yang datang dari dalam ruangan pribadi itu.
Sebelum Elang berfikir panjang, Bapak itu
sudah menggandengnya dan membawanya menuju kamar sang putri.
Dipinggir tempat tidur mewah itu, seorang gadis cantik tengah bersandar dengan mata merah dan lembab.
Semua hening beberapa saat, hanya saling pandang diantara keempat orang itu.
" Itulah nak...sebagaimana Elang tahu, Sucikan seharusnya menikah malam besok, tapi pria itu memilih ugal- ugalan dijalan setelah mabuk berat, tiga hari yang lalu kejadiannya, pria itu sudah dikebumikan. Suci jadi janda sebelum nikah, sedangkan semua rencana sudah dibuat, undangan sudah disebar, kau lihat sendiri pihak WO sudah bekerja." Cerita bapak itu.
" Trus apa hubungannya denganku? aku juga akan menjalani pernikahanku, dirumah calon istriku, sudah mulai orang memasang tenda, kemarin kami sudah Penataran diKUA, gara- gara panggilan bapak dan saudara bapak itu, saya harus mempertaruhkan nyawa saya
dengan membawa mobil sendiri kesini, menempuh jarak 600 km, dengan berbagai tantangan jalan, apa pentingnya saya kesini? sementara peristiwa sakral yang akan saya laksanakan dengan kekasih tercinta saya besok malam." Ujar Elang mengeluarkan seluruh isi hatinya, dengan menekankan kata terahir lebih keras, berharap kedua orang tua itu tidak berani menyampaikan apa yang sudah Elang duga dihatinya.
" Kami ingin Elang menjadi pengantin pengganti Suci,
Ia meraba dadanya yang perih. Matanya terasa berkunang- kunang. Bibirnya bergetar menahan sakit yang berpadu dengan kemarahan.
Kemudian samar- samar suara itu terdengar lagi ditelinga Elang.
" Apapun akan kami lakukan dan berikan agar Elang menyetujui ini, tolong atasi yang dikampung nak, bukankah nak Elang punya saudara lelaki yang sudah dewasa, minta ia saja yang menggantikan nak Elang menggantikan pengantin dikampung, Tolonglah nak..." Kata Ibu Weni terdengar makin dekat dan Elang melihat , perempuan itu bersujud didepan Elang.
Elang terkesiap, darahnya menyembur naik keubun- ubun. Ia tidak suka diperlakukan begitu.
" Tegakkan badan ibu! Aku tidak mau diperlakukan begini. Jangan buat aku begini pak...Bu...Cari saja lelaki lain, bukankah kalian orang berbudaya, tidak baik memancing dikolam.orang! Aku sudah milik wanita lain, cari yang lepas dan masih bebas! " ujar Elang tegas.
Bukannya mundur, malah kedua orang tua itu semakin mendekat. Dengan bersimbah airmata mereka memohon sekali lagi.
" Tolonglah nak...Sudah kami cari lelaki lain, tapi Suci tak mau orang lain yang menjadi ayah dari anaknya, ia hanya mau menikah kalau dengan nak Elang saja, bukankah kalian selama ini bersahabat baik? " ucap kedua orang senior itu membuat Elang menatap suci dengan Sorot mata tajamnya, tak peduli gadis itu sudah menggigil ketakutan.
" Hey gadis bodoh! Kalau orang tuamu mencarikan lelaki lain terima saja! bukankah kau tahu aku sudah punya calon, dan akupun sangat mencintai calonku, bagaimana kau mau merampas cinta orang lain? Hey!..." Elang memelototi gadis itu, Hingga suci menjerit histeris, lalu berlari keluar, melalui pintu belakang.
__ADS_1
Detik berikutnya semua dirumah panik mengejar Suci. Hari sudah mau gelap, gadis itu berlari secepat kilat, entah kemana ia pergi. Kedua orang tua itu kembali menangis, tapi mereka terpaku didekat Elang.
" Ia sudah mengatakan lebih baik mati daripada menikahi pria lain, kalaupun ada
yang mau membantu mengatasi masalah nya ini, ia ingin nak Elang saja, kalau tak nak Elang ia lebih baik malu, atau bahkan lenyap dari muka bumi ini. Hik....hik....hik...dia memang putri yang bandel nak Elang....tapi hanya Suci yang kami punya....Hik...hik.. hu....hu....hu...hu..." Lolongan Bu Weni semakin kuat.
Akhirnya Elang luluh juga.
Ia teringat pada mamanya, wajah Bu Weni berganti seperti mamanya.
" Tenanglah Bu...aku tahu siapa Suci, dia tidak akan semudah itu menghabisi nyawanya sendiri. Aku akan mencarinya, ia kalau lagi sedih pasti pergi kesuatu tempat. Baiklah Elang akan mencarinya dulu, Ibu Bapak Shalat magrib dulu, tak usah banyak fikiran. Ia akan baik- baik saja, aku tahu itu. " Ucap Elang mulai melembut. Lalu pergi dari rumah itu.
Elang tahu Suci gadis yang bandel tapi kalau untuk mati ia tak semudah itu. Selama ini setiap Ayah dan ibunya menghukumnya bahkan menamparinya, karna mereka tidak menyukai pria yang dipacari Suci. Suci selalu menyepi ketaman belakang rumah Elang. Disana ada kolam ikan.
Sama seperti adiknya, Elang juga suka ikan, pertama bertugas disini, ia menginfestasikan uangnya untuk membuat kolam ikan, kebetulan ada sumber Air hidup dibelakang rumah dinas itu. Untuk menambah keasrian tempat itu, Elang mengerahkan pekerja untuk membuat taman.
Sebuah pondok kecil tempat santai ada dibuat disitu. Ada Ayunan juga. Suci suka bermain disitu, pernah sekali ia membawa pacarnya, bercumbu dipondok
lesehan itu. Katika Elang memergoki mareka, Elang memasang tampang seramnya.
" Hanya kau saja yang boleh main kesini! Jangan berbuat mesum ditamanku, aku tak mau tempatku terkena sial! " Elang geram kala itu.
Elang melajukan mobilnya menuju rumah dinasnya, yang hanya satu belokan dengan kediaman Mewah Suci.
Setelah memasukkan mobil kegarasi. Elang berjalan ketaman belakang. Hari sudah gelap, Elang menghidupkan lampu taman. Seperti dugaan Elang, suci memang disitu, tapi Ia duduk dipinggir kolam dengan wajah memucat, rambut panjangnya dibiarkan tergerai.
Mata Elang terbelalak, melihat gadis itu memotong urat nadinya.
" Gila!!! Kenapa kau mau mengakhiri hidupmu ditempatku!!!" teriak Elang yang membuat gadis itu terkejut, hingga pisau buah yang ia pegang terlempar. Tapi darahnya sudah mulai bercucuran, dari nadi yang sudah terlanjur tersayat.
Elang berlari dipinggir kolam, mengambil Hp Disaku untuk meminta bantuan. Sayang Smar phone itu lolos dari tangannya, dan nyemplung kekolam.
Elang dengan gugup mengikat tangan Suci dengan mencopot dasinya.Kemudian membopong Suci menuju Rumah dokter Hana, yang kebetulan juga dekat dengan tempat itu.
Karna suci darahnya kuat, Ia tidak sampai pingsan. Dokter Hana buru- buru menyambut mereka, Dokter cantik itu menarik mukenanya dengan kasar, melemparnya kesofa. Lalu membawa Elang dan Suci keruang rawatnya, dan secepatnya melakukan pertolongan pada Suci.
Suci tak mau Lepas dari Elang, bahkan ketika dijahitpun ia masih ingin dipangkuan Elang. Elang dengan terpaksa memenuhi keinginan gadis yang sudah putus asa itu.
Dokter Hana menelfon Bu Weni untuk mengabarkan kalau Suci baik- baik saja, dan sekarang ada diruang rawatnya bersama Elang.
__ADS_1
Hanya lima menit setelah itu, kedua orang senior Elang sudah tiba dirumah dokter Hana. Akhirnya Elang menyanggupi menikahi Suci, karna gadis itu mengancam akan melenyapkan nyawanya lagi.
" Ampuni aku Cintaku...Hidup ini begitu pelik bagiku, aku akan meminta adikku yang menikahimu. Awalnya mungkin kau pasti marah, tapi suatu hari, ketampanan dan kelembutan adikku akan membuatmu bersyukur menikahinya. " Batin Elang.