
Tanpa terasa kebersamaan beberapa haridirumah mama Carolina akhirnya tiba dipenghujungnya.Bi Minah asisten rumahtangga sudah kembali.Perawat mama juga sudah datang dari tadi pagi.
Dengan berat hati Zahran pamit, disusul Elang.
" Ma, kami kembalikan mama pada adik, tapi jangan sampai kasih sayang mama diberikan semua padanya ya." Ucap Zahran membuat mama tertawa geli.
Apalagi Elang kemudian setelah bersimpuh dikaki mama seraya berkata. " Ma, tinggalkan dikit- dikit untuk orang perantau seperti kami cintanya ya. Kalau tahu akan begini sakit berpisah dari mama, mending dulu tamat sekolah menengah aku masuk perguruan tinggi swasta sini saja, habis itu aku buka sekolah menengah keagamaan dikampung, biar ngak jauh dari mama. " Ujar Elang dengan terisak.
" He..He...Kalian ini lucu sekali. Waktu mama marah pada Syafir kalian sedih, pas mama sayang dengan Syafir makin sedih karna cemburu.Mau apa sebenarnya kalian? " tanya Canda Carolina sembari menarik hidung Zahran dan Elang bergantian.
Sedang semua yang menyaksikan hanya tertawa kecil.
Syaffana jongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Zhia. Zhia menyalami Syaffana , lalu mengecup pipi Syaffana. Syaffana balas memeluk tubuh kecil lalu berikutnya mengecup pipi gembul nan cantik itu berkali-kali.
Suci menatap Syaffana, dihatinya ada perasaan ragu- ragu, ingin rasanya ia menghampiriSyaffana dan menyalaminya, tapi ia sangat ragu.Memang selama beberapa hari bersama, Syaffana selalu bersikap hangat, senyumannya yang manis selalu diperuntukkan bagi semua orang, tidak sekalipun ia berbicara ketus, apalagi menyindir.
Elang melihat Suci yang tampak ragu- ragu. Syafir juga tidak luput tatapannya pada istrinya.
Syafir segera berdiri disisi Syaffana, setelah Syaffa memberikan Zhia pada mamanya.
Elang menggandeng Suci mendekati Syaffana. Setelah saling berhadapan, Suci makin membeku, sampai ia berkeringat dingin.
" Cepatlah...atau mau tinggal disini saja." Ujar Elang
menyadarkan Suci. Syaffana tersenyum pada Suci.
" Ma- mafkan kami Sya." Akhirnya kata itu terucap dari bibir Suci walaupun sampai membuat tubuhnya bergetar hebat.
" Ya, kami sudah memaafkan , yang lalu biar berlalu, sekarang kita lihat masa depan saja." Balas Syaffana seraya mendekap Suci. Seiring dengan itu, Elang juga memeluk adiknya.
Lama mereka saling peluk, sampai Zahran mengingatkan kalau hari hampir Sore, barulah mereka saling mengurai pelukan.
Mama Carolina tersenyum Lega, melihat anak menantunya saling melepas beban didada masing- masing dengan saling memaafkan.
" Semua yang sudah terjadi, kita ambil hikmahnya saja, mama mohon pada masing- masing pasangan, jangan pernah mengungkit hal lalulagi dihadapan pasangannya. Allah pasti meletakkan segala sesuatu tepat ditempatnya, inilah tempat untuk kalian berbagi kasih sayang hingga ujung usia, maka bersyukurlah dengan anungrah Tuhan dengan cara mencintai apa yang sudah menjadi bagian kita dengan setulus hati. " Ucap panjang mama Carolina.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari pasangan- pasangan itu, sebagai gantinya, mereka mengecup pipi mama mereka secara bergantian. Lalu Elang dan Suci pamit sekali lagi.
Kamudian dua keluarga itu memasuki mobil, kali ini Zahran yang menyetir. Senyum dan lambaian tangan Syaffa, Syafir dan mama, melepas perjalanan mereka kembali ketempat tugas masing- masing.
Sementara bi Minah dan perawat Carolina menatap dari pintu." Keluarga yang saling menyayangi, beruntung sekali nyonya punya anak- anak seperti mereka." puji Minah lirih.
" Ya, Walau ayah mereka telah kembali, tapi mereka tetap rukun, jarang anak lelaki serukun mereka, apalagi pernah terlibat masalah jodoh begitu." balas Assyifa perawat mama Carolina.
Setelah kepergian keluarga sang kakak, Syafir mengajak mama kedalam." Digendong atau dibimbing ma? " tanya Syafir.
" Dibimbing aja, biar kaki ini tidak lupa fungsinya, nanti karna kelewat manja, ia jadi lupa cara melangkah." Ucap Carolina seraya berdiri dibantu Syaffana dan Syafir.
" Tidak masalah cantik! Yang penting tidak sakit kan? tanya Syafir saat Carolina melangkahkan kakinya.
" Ngak, sepertinya lebaran kalau umur panjang, mama sudah bisa berlari kepernikahan iparmu itu.
" Balas Carolina.
" Amiiin." Sambut Syaffana.
Akhirnya Carolina berjalan lambat dengan dituntun putranya, setelah didalam ia kembali diperiksa oleh Asyifa. " Ibu memang benar, kesehatannya sangat berkembang pesat, takanan darahnya juga sudah normal." Ujar Assyifa.
" Sudah banyak ya bi, rencana pesta habis lebaran? tanya Syaffa teringat bisnis suaminya.
" Ngak banyak, tapi sudah hampir 400 pesta yang dikelola IO kita Selama 3 bulan setelah lebaran, setiap hari terisi."
" Wahh...panen lagi nich karyawan yang lama nganggur." Ucap senang Syaffana.
" Iya, Lin dengan Andre sekarang sudah sibuk membagi karyawan yang akan bertugas dimasing- masing Job.
" Mudah- mudahan kak Andre ngak sampe kurus mikirin itu, ngingat ia juga Catin." Ujar Syaffana.
" Kalau Andre sudah terbiasa dengan pekerjaannya, justru tak ada job yang buat pria itu jadi kurus, ia akan sering pusing kalau lagi menganggur." Jelas Syafir.
Semoga semua kita sehat dan usaha lancar, ucap Syaffa seraya berjalan keluar.
__ADS_1
" Aamiin." Seru mama, Assyifa dan Syafir. Tidak lupa pria itu mengikuti langkah istrinya.
Sore ini Syaffana yang menjadi pemandu acara masak biMinah didapur. Semua hidangan yang dibuat sesuai reques perempuan hamil itu.Sedang Syafir dan bi Minah sebagai koki andalan.
Hidangan siap setelah pukul lima sore. ketiganya bergegas mandi dan siap- siap menunggu waktu berbuka dengan bersantai diruang keluarga.
Sementara Perjalanan Keluarga Elang dan Zahran lancar. Setelah mengantar abangnya ke Asrama, Elang melanjutkan perjalanan kekota S.
Pukul Sebelas malam, Elang tiba dipelataran rumahnya. Suci buru- buru turun setelah mobil diparkir. Suci kurang hati- hati hingga tidak melihat sebuah batu didepannya. Suci tersandung batu hingga tubuhnya oyong dan terduduk ditanah.
Elang yang baru keluar dari mobil cepat- cepat menghampiri Suci.
Elang meniup ibu jari Suci yang lecet." Mudah- mudahan dokter Hanna masih belum tidur. " Ujar Elang seraya menggendong Suci menuju rumah dokter tetangganya itu.
Suci mengalami sakit dipinggangnya, darah haidnya terasa mengalir setelah itu.Tapi Suci diam saja dalam gendongan Elang.
Dokter Hana membukakan pintu, begitu bel dipencet Elang satu kali. Masih bermukena perempuan cantik itu membukakan pintu didampingi suaminya.
" Ada apa Lang? Apa Suci mau nekat lagi? " tanya Hanna teringat kala itu.
" Iya kak, ia nekat jalan tak lihat- lihat, ya jatuh, sampe ibu jarinya terluka." Jawab Elang sedikit bergurau.
" Ayo masuk, sepertinya bukan cuma sakit dikaki. " Ujar Hanna melihat wajah Suci yang pucat.
Setelah diperiksa, dokter Hanna geleng- geleng kepala. " Gimana bisa, sudah telat, tapi kamu berjalan dengan ceroboh Ci! "
" Maksudnya apa dokter? " tanya Elang bingung dengan ekspresi marah dokter Hanna pada istrinya.
" Suci hamil empat Minggu, tapi sekarang sudah keluar. " Ucap dokter Hanna dengan wajah sesal.
Elang mengusap wajahnya dengan kasar." Mengapa tidak bilang?"
" Aku tak tahu bang, benar- benar tidak tahu, maaf ya. " Gumam Suci. Sedang didalam hatinya berkata" Walau sudah ada maaf dari orang yang pernah kita Zolimi, ternyata hukuman masih harus dijalani, barangkali ini adalah hukumanku. air mata Sucipun menitik.
Elang tidak tega memarahi istrinya, diusapnya bulir yang mengalir itu, setelah diberi obat, Elang menggendong Suci kembali kerumah.
__ADS_1
Hening, tak ada suara hingga Suci dibaringkan Elang hati- hati dikasur. Bahkan saat Elang menggantikan pakaiannya dan memakaikan pembalut, pria itu melakukannya dalam diam. Sucipun juga tak mampu berkata atau meminta apapun. Ia juga diam menikmati perhatian Elang.
Pasangan itu menangis dalam diam.