Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Usaha Keras Dulu.


__ADS_3

Elang tidak menyangka adiknya akan menjawab begitu. Tiba- tiba bunga- bunga dihatinya yang tadi patah ditumbuhi tunas- tunas baru yangakan siap menopang kuncup- kuncup muda baru.


"Ya, akuharus semangat! Andai sudah berkali dan kejadiannya sama, aku takkan segan membawa istriku menemui dokter Ahli kandungan. Berbagai upaya akanku coba kecuali rahim titipan." Elang bicara sendiri dengan wajah yang berbinar.


Elang memeriksa sarapan pagi yang disediakan oleh kantornya, setelah membaca doa, iapun mulai makan dengan lahap. Makanan yang hanya sedikit rasa itu, terasa enak dilidah Elang, karna hatinya sedang riang.


Setelah Elang makan, datang lagi pesan dari adiknya. " Jangan berfikir untuk mencari lahanbaru hanya karna gagal beberapa kali. Aku tidak mau mendengar kakak ipar mengeluh karna perangaimu suatu hari. Ingat!!! Kita keluarga Ahmad yang setia dan tidak mudah patah semangat. " Bunyi pesan Syafir.


Elang menggaruk kepala berambut legam dan lebat miliknya. " Adik ini, memberi peringatanbegitu, seperti aku mantan Casanova saja, padahal sampai hari ini saja, hatiku masih belum move on benaran dari cinta pertamaku . Mencintai Suci saja belum sepenuhnya, bagaimana bisa menyukai perempuan lain pula. " Gerutu Elang kemudian menekan nomor ditelfon Kantor.


" Ya, ada apa pak? " tanya Tio Asisten Elang dari sebrang telfon.


" Lain kali bilang sama Khayati, tak usah mengantar sarapan fasilitas padaku, sebab sejak Esok aku akan selalu bawa bekal. " Ujar Elang.


" Apa bapak sakit perut? maaf pak, tadi aku lagi fohocopy pas sarapan tiba, ia minta sendiri untuk mengantar, kufikir __ belum selesai Tio bicara Elang sudah memotong ucapan asistennya itu.


" Bukan masalah sakit perut atau apa Tio, kalau kamu sedang sibuk, tak usah membiarkan orang lain memasuki ruanganku apalagi seorang wanita.


Lain kali kalau menugaskan OB untuk beberes ruanganku juga kasih yang laki- laki. Aku tak mau ada wanita yang masuk ruanganku selain istriku."


Tuuut...Telfon terputus. Tio membuang nafas kasar. " Nampaknya bapak sudah mulai bucin dengan istrinya, aku juga salah membiarkan Khayati memaksa mengantar sarapan, sedang aku sendiri tahu OB centil itu sudah lama menaruh hati sama Pak Elang Ahmad. Lain kali takkan kuulang lagi, untung ngak ada apa- apanya. " Gidik Tio membayangkan cerita - cerita kenakalan dan jebakan yang pernah ia baca dalam fiksi yang pernah ia baca. Pria muda itu menyusun berkas yang akan diperiksa oleh sektretaris sekaligus mantu pak wali itu. Setelah dirasa semuanya lengkap, ia mengangkat Map- mab berisi dokumen dengan menyusunnya ditangan kirinya, laku melangkah menuju ruangan Elang. Tio memantapkan langkahnya menghadapi Elang, karna Tio mau minta maaf pada pimpinannya itu karna sudah berlaku ceroboh, padahal ia tahu selama ini, kalau Elang sangat menjaga makanannya.


Begitu Tio sudah beberapa langkah menuju pintu, ia melihat Khaya juga menuju ruangan Elang dengan senyum sumbringah." Stop! Mulai sekarang jangan masuk kesitu lagi." Ujar Tio dengan suara sedikit keras.


Gadis itu menahan langkahnya, seraya menatap Tio dengan mengernyit. Baru saja bibir Khaya ingin membuka, Tio lalu berkata lebih keras lagi.


" Lain kali jangan masuk lagi, bapak tak suka, untuk urusan beberes biar aku saja dengan bang Ujang ntar dan seterusnya. "


Pak Zulfan keluar dari ruangannya dan melihat bibir OBnya yang mengerucut, sang penguasa kota itu tercengang.

__ADS_1


" Ada apa Yo? Apa pak Elang tidak didalam? " tanya bapak itu dengan senyum ramah, sembari berjalan diiringi Ajudannya.


Tio menunduk diikuti oleh Khaya." Bukan pak, saya hanya sedang menegur Khaya. " Ucap Tio kemudian.


" Mhem...Baiklah...Jangan berwajah tegang diluar ruangan, tidak boleh masuk ruang sembarangan kalau tidak ditugaskan. " Sindir pak Zul sedikit menyentuh pundak Tio sedang matanya menyorot tajam Khaya.


" Oke pak.." Sahut Tio berusaha tersenyum.


" Bagus! Anak muda itu cukup tegas sebagai Asisten sekaligus pengawal menantuku." Pak Zul bersorak dalam hatinya.


Langkah pak Zul jadi lebih ringan melepas Elang bekerja tanpa pengawasannya. Elang yang dari dulu rajin, pintar, dan profesional sebenarnya tak diragukan lagi,tapi mengingat kemalangan demi kemalangan yang dialami putrinya. Wajar pak Zul merasa sedikit khawatir ada pihak ketiga yang memainkan peran dibalik kelemahan putri semata wayangnya ini, mengingat bahwa dunia tidak akan selalu dalam genggamannya. Tidak lama lagi masa jabatannya akan berakhir, sedang sang menantu akan terus berkiprah sebagai pegawai negri.


Setelah pimpinan Kota itu pergi, Tio memelototi Khaya yang masih membisu dengan bibir mengerucut. " Tidak ada protes! Kembali ke pantri, dan bereskan apa yang perlu kalian bereskan! " Titah Tio tanpa menoleh lagi. Setelah mengetuk dan terdengar suara dari dalam mempersilahkan masuk , barulah Tio menarik pintu.


" Maaf pak...Saya sudah mengingatkan OB itu, lain kali tidak akan diulang lagi. " Ucap pelan Tio setelah menyusun file yang akan diperiksa pimpinannya.


" Aku sedang bersemangat hingga tak sengaja menghabiskan hidangan itu, untung tidak ada apa- apanya, lainkali jangan ceroboh lagi ya, ingat dulu Wanita itu pernah berpura- pura pingsan untuk menggodaku, satu setengah tahun yang lalu." Ujar Elang menatap dalam- dalam asisten tampannya itu.


" Atau kalau kau suka dekati saja dia, biar dia berhenti mendekatiku. Kalau tidak suka tidak apa, bantu saja biar wanita itu jangan punya kesempatan lain menggangguku, aku dalam proses mengukuhkan parasaanku Tio, aku tak mau ada gangguan walau sekecil apapun, karna kau tahu sendiri aku sedang belajar. " Ujar Elang panjang pada asisten yang tahu persis cerita cintanya dengan Syaffana, karna Tio sendiri adalah teman kuliah Elang yang ia bawa dari kota P untuk bekerja dengannya, setelah ia menjabat sebagai kepala Administrasi kota ini. Teman curhat yang memiliki keterbatasan komersial dari keluarga, Elang sengaja mengangkat taraf hidup temannya ini dengan membantunya memberi pekerjaan. Dan syukurnya Tio bisa bekerja dengan baik, hingga tahun lalu pria ini lulus CPNS melalui pemberkasan.


Tio tersenyum sembari menatap Elang. " Belum memikirkan soal Wanita, kalau ada perempuan, kudu lihat baik- baik dulu, apa bisa menerima ibu dan adik perempuanku yang sakit- sakitan. Kalau tidak bisa menerima wanita hebat yang sudah melahirkan dan membesarkanku, juga perempuan lemah yang kusayangi, aku pasti tidak bisa menyukai wanita itu." Balas Tio mantap.


" Semoga adik cepat sehat ya Ti, sudah lama juga tidak berkunjung. Kalau nanti Suci sehat diwaktu libur akhir pekan." Janji Elang sembari mengulurkan tangannya pada Tio.


" Semoga penderitaan orang- orang tercinta kita cepat berakhir. Dan Tio menemukan perempuan berhati luas untuk Tio dan menantu terbaik bagi ibu.


" Amiin...


*

__ADS_1


*


*


Bahkan sampai dirumah Sore itu Elang masih menunjukkan wajah Sumringahnya. Dengan sedikit


bingung dan curiga, Suci menyambut suaminya.


" Wajahmu sungguh cerah, ada apa? Apa ada proyek pemerintahan yang baru lulus tender? "


tanya Suci menebak- nebak, taklala menjelang bobok malam, Suci memijit- mijit tangan suaminya. Suci sudah belajar banyak siasat berumah tangga dari maminya. Walau dari tadi ia sudah tak sabar melihat wajah suaminya yang sangat cerah, tapi ia menahannya sampai mendapatkan waktu yang tepat untuk bertanya.


" Ngak...Aku hanya sedang memikirkan membawamu kedokter kandungan terbaik. Kita akan mulai sungguh- sungguh berusaha untuk punya anak. Kita akan melakukan semua cara


yang tidak melanggar syariah, kalau masih saja gagal, baru boleh kita pasrah. " Ucap Elang seraya menggenggam dan meremas jemari Suci.


Suci tersenyum senang seraya menatap lekat suaminya dengan mendongak.


" Kalau tidak berhasil juga, apa aku akan ditinggal?" tanya Suci serius.


" Insya Allah tidak! Karna mama dan papa mengajarkan kami untuk setia pada pasangan.


Kita sama- sama subur, buktinya sudah dua, hanya belum rezeki saja. Kalau nanti tak ada juga kita mintak anak saja. "Jawab Elang Enteng, namun membuat Suci yang melotot kaget.


" Enak aja minta- minta! Siapa yang mau kasih? " Ujar Suci mengerucutkan bibirnya.


" Elang menyentil lembut bibir cemberut itu dengan ujung telunjuk kanannya." Aku tidak mau sembarang minta anak yang walinya tidak bergantung padaku." Jawab Elang santai.


Suci mencerna perkataan suaminya. Perempuan itu menarik nafas berat. " Apa kak Mia atau Syaffana mau memberikan anaknya pada kita?

__ADS_1


" Jangan fikirkan itu, kita Usaha keras dulu. " Bujuk Elang sembari duduk, kemudian mulai mengecup Suci dari titik tertinggi hingga berakhir didataran paling rendah. Malam itu mereka lewatkan lagi dengan indah, setelah puasa sebulan lebih pasca Suci keguguran kedua kali, karna anak kedua mereka keluar setelah berusia 12 Minggu.


__ADS_2