
Hari keempat Kepergian mama, setelah malam penutupan pengajian Takziah semalam. Rumah mulai sepi. Orang datang bertakziah tinggal satu- satu, itupun dari daerah jauh yang baru dapat kabar.Didaerah sini ikatan persaudaraan orang masih sangat kuat, hingga mendengar ada saudarabaik jauh maupun dekat ditimpa puncak musibah seperti ini, begitu tahu orang akan berusaha untuk bertakziah. walau kadang sudah terlewat, bagi mereka kalau Pesta tidak masalah tak sempat datang, namun kalau untuk musibah, mereka merasa wajib datang untuk berbela sungkawa.
Pukul sepuluh malam. Setelah makan malam yang cukup hening karna pengaruh duka yang masih belumlah dapat pulih seperti membalik telapak tangan. Ternyata kehilangan bunda membuat hari dan lutut gemetaran. Dan sampai hari ini ketiganya masih merasakan itu.
" Sesuai kata pak ustadz, kita tidak boleh berkecil hati masalah peninggalannya orangtua kita, jika ingin beliau tenang disana. Jika Abang berdua mau pembagian mama, maka sebutkan saja mana yang kaliaan mau, sisanya terserah, dan rumah ini akan dihargai dan siapa yang berminat ia yang mengembalikan bagian yang lain, yang penting rumah utama keluarga jangan sampai berpindah ketangan orang lain. " Ucap Syafir membuka pembicaraan.
" Kalau rumah ini kau saja yang menghargai, kami akan senang pulang kesini bila Syaffana yang jadi tuan rumahnya. Lagian anakmu banyak, walau rumahmu sudah ada dua berikut kontrakan juga, tapi tetap saja rumah masih perlu untukmu. Kami mau kau yang menempati dan untuk harga terserah kau saja, kami tidak terlalu berharap dari peninggalan mama, karna pusaka dari papa sudah lebih dari cukup. Bukankah begitu Elang? " Ucap Zahran meminta pendapat Adik tengahnya.
" A_ aku? Elang tergagap sembari menatap Syafir dan syaffana bergantian, itu membuat Suci yang sedang menggendong baby-nya Syaffana juga turut gugup.
" Kalau aku tak butuh harta lagi, karna aku masih kuat mencari harta dengan ototku yang masih kekar ini. Elang mencoba berseloroh untuk mengatasi kegugupannya.
" Terus kau minta apa Elang? " Sekarang Zahran kembali angkat bicara, melihat adiknya terlihat gugup, sedang Syaffa dan Syafir menatap Elang dengan bingung.
" Kalau aku minta pembagian anak. Itupun kalau ada yang mau memberi. " Ucap Elang lirih hampir tak terdengar.
" Kalau anak sih itu Syafir dan Syaffana yang punya, aku hanya seorang, tak mungkin Mia mau memberinya padamu, mengingat ia sulit hamil, sampai hari ini adiknya Zhia belum juga dapat, walau sudah capek lembur siang malam. " Ujar Zahran tak berfilter.
Elang, suci dan Mia menahan tawa, juga bibi Rahmi. Tapi Syaffana terlihat pucat, matanya terus tertuju pada putri kecilnya yang terlelap dalam pangkuan Suci.
" Aku sudah lama membicarakan ini dengan syaffana kak, andai dia sanggup mengikhlaskan satu dari putri kami dirawat bang Elang dan kak Suci, aku akan memberikannya, semua terserah istriku saja. " Ujar Syafir membuat semua menatap kearah Syaffana.
Syaffana tertunduk sembari bermenung. " Apa aku harus dua kali mengikhlaskan yang kupunya untuk kebahagiaan orang lain Ya Robb. " Rintih Syaffana dalam hati.
" Jika ia pantas, aku akan mencobanya sekali lagi, walau ini akan lebih menyakitkan. " Batin Syaffana.
__ADS_1
" Tinggallah seminggu lagi disini bersama kami, setelah itu aku akan memutuskan putriku yang mana yang mau menurut dengan kalian. " Ujar Syaffana setelah lama terdiam.
" Aku pasti akan melakukannya, walau akhirnya Syaffa memutuskan tidak bersedia, aku akan tetap tinggal seminggu lagi.Jika Syaffa tak mau aku takkan berkecil hati, karna permintaan suamiku bukanlah hal yang mudah untuk diberikan." Timpal
Suci. Suci kemudian berdiri dan membawa sikecil menuju kamar untuk dibaringkan diBoXnya.
" Baiklah...Kalau begitu pembagian malam ini dianggap selesai. Untukku terserah Syafir mau transfer berapa, besok surat tanah dan rumah ini akan kita balik nama atas nama Syafir. " Ujar Zahran lagi.
" Ya, kita yang memutuskan semua bang, besok semuanya akan selesai. Aku takkan mengambil apapun, walau Syafir mau atau tidak memberiku anak. " Balas Elang mantap. Semua mengangguk terkecuali Syafir. Elang minta anak sejak lama padanya dan Syaffa , tapi ia tak pernah mengira abangnya itu akan berani mengungkapkan keinginannya itu didepan sidang keluarga seperti ini.
*
*
*
Ketika Syafir masuk kamar dipertengahan malam, ia mendapatkan istrinya itu masih belum tidur.
" Jika itu tak bisa jangan paksakan sayang...Abang tidak memaksamu berkorban sekali lagi. " Ucap Syafir lembut sembari mengusap puncuk kepala Syaffana setelah membaringkan diri disisi kanan tulang rusuknya itu.
" Ibu mana yang mudah memberikan bagian dari dirinya pada orang lain bang..." Lirih Syaffana sembari terisak.
" Kalau begitu jangan lakukan! " Tegas Syafir tak mau istrinya terluka sekali lagi.
" Tapi bang Elang bukan orang lain, dan ia begitu terlihat kesepian. " Syaffana kembali berucap.
__ADS_1
" Mhem...Masih sayang sama Abangku itu ya, sebegitu tahu perasaannya? " Goda Syafir yang langsung dapat cubitan panas dari Syaffana.
" Aduuhhhh... " Sakit sayang..." Keluh Syafir yang sampe terlonjak akibat cubitan Syaffana hingga tempat tidur mereka berdenyut keras membangunkan kedua putri kembar didalam ranjang bayi mereka.
" Huaaaaaa...." Keduanya menangis serentak.
Syafir dan Syaffana bergegas duduk dan turun dari tempat tidur, mengejar Sikembar untuk menenangkannya.
" Aku takkan tega pisah susu dengan bayiku sekecil ini. " Ujar Syaffana saat menyusui Sifa. Sedang Sila sudah diam dalam gendongan Syafir karna ia lebih suka susu formula ketimbang susu Ibunya. Sila hanya menyusu Selama 40 hari, setelah Syaffa kembali bekerja, seperti merenggut, sila tak lagi mau susu ibunya.
Sila tertidur dengan mudah setelah menyusu formula, dan sangat berbeda dengan kembarannya Sifa yang lebih manja dan suka bermain- main dengan ASI sebelum tidur, bahkan kadang ia sengaja menggoda ayah dan Uminya sebelum bobok.
" Sepertinya Sila lebih mudah berpisah karna ia tak Ngasi lagi Bang. " Ucap sendu Syaffana begitu Sifa selesai menyusu. Ia meletakkan Sifa dan beralih menggendong Sila yang sudah tertidur.
" Ia mungkin mudah berpisah dengan kita, tapi tidak dengan uminya. " Balas Syafir menatap istrinya dengan penuh selidik.
" Kalau boleh jujur sih iya bang, rasa sayang seorang ibu pada dasarnya sama pada semua buah hatinya bang, bagiku semua sama, walau Sila tak menyusu dan terkesan cuek padaku, tapi ia tetap baby kecilku yang lucu. " Ucap Syaffana sembari mengecup kening sang putri.
" Ya sayang...Tak ada yang bisa mengikhlaskan putrinya dengan mudah untuk dirawat orang walau
itu Abang sendiri. Akupun sebenarnya sangat berat, apalagi selama ini mereka semua lebih dekat denganku. " Akhirnya Syafir mengungkapkan isi hatinya yang paling dalam.
" Kalau begitu kita istigharah seminggu ini. Apapun akhirnya kita minta pada Allah membantu kita membuat keputusan. " Saran Syaffa.
" Ayo kita mulai sayang..." Ajak Syafir sembari mengambil Sila dari istrinya dan meletakkan bayinya kembali ke Box. Setelah merapikan kelambu tansparan kedua putri, Syafir segera kekamar mandi yang diikuti oleh Syaffana.
__ADS_1
Bersambung