Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Malam paling Bahagia.


__ADS_3

Semua anggota keluarga sudah berkumpul didalam kamar untuk memastikan apa yang disampaikan oleh Suci barusan. Syaffana yang paling antusias sudah menatap Suci dengan berbagai perasaan.


" Benarkah? Apa kami tidak salah dengar, kalau kak Suci hamil lagi?" Syaffa tidak mau memendam perasaannya begitu lama. Suci terdiam mendapat pertanyaan desakan dari Syaffa, ia menatap Syaffa sejenak lalu beralih menatap dokter Susi.


" Benar Sya, kalian semua diberkahi kejutan yang indah oleh Allah." Jawab Susi berbinar. Tapi itu tidak berlangsung lama, karna sebentar kemudian wajah Susi berubah murung karna ia teringat kembali pada dirinya yang belum dapat kesempatan menjadi Ibu.


" Aku dan bang Andrea sudah berusaha cukup keras, tapi sepertinya kami selalu dapat undian Coba lagi." Ucap Susi dengan senyum kecut.


Ini Membuat anggota keluarga besar yang melihat dan mendengarkannya terdiam, tak ada yang berani berkomentar. Apalagi Syaffana, ia takut ujung tombaknya terarah padanya pula, barusaja hatinya lega karna kehamilan Suci otomatis akan membuat keputusan sulit yang harus ia buat malam ini batal. Syaffa ingin menikmati malam yang indah ini dengan tersenyum lega, tak ingin ada beban baru.


Susi yang mengerti akan hal itupun menghentikan keluhannya. " Sudahlah...Bila sudah pantas Insya Allah akan dikasih, tenang saja, aku tidak akan minta anak padamu Sya, karna bagiku kelima anakmu adalah anakku juga, bukankah setiap kali aku selalu datang untuk mengunjungi anak- anakku? Kau tak usah khawatir,aku tak perlu membawa salah seorang dari mereka untuk memilikinya, cukup mengunjungi mereka untuk memiliki semuanya.He...he... " Susi tertawa lepas mengingat dirinya yang memang menyempatkan tiap hari mencuri waktu untuk bersama dengan putra putri- putri Syafir.


" Oh ya, Elang mana? Kok belum masuk juga." Tanya Susi kemudian, melihat Pariban yang seharusnya sudah ada diruangan ini tidak terlihat.


" Aku disini Sus! Tadi rasanya bagai mimpi, belum yakin ini nyata , makanya aku terdiam." Elang yang baru tiba dikamar langsung mendekat pada istrinya serta menunduk untuk mengecup kening sang istri.


" Ini tidak mimpi Elang. Permintaanmu dikabulkan Tuhan, kau sangat beruntung, lebih beruntung lagi Syafir karna tak perlu berkorban lagi untukmu!." Balas tegas Susi.


Syafir menggeleng mendengar ucapan semau iparnya Susi. Sedang Elang tak lagi respon, karna ia sudah sibuk menatapi istrinya.


" Abang akan menjaga kalian berdua sayang..Kali ini dengan sangat hati- hati. Kalau perlu kalian tak usah kembali kekota S dulu sebelum lima bulan." Ujar Elang menatap hangat istrinya.


" Ya, sepertinya Suci disini dulu, biar aku dan Syaffana turut menjaga, kau balik saja kekota S." Balas Susi mengibaskan tangannya.


" Apaan sih? Baru dapat kabar gembira ini, mana bisa kau langsung mengusirku.Enak saja! Aku bahkan berniat akan mengajukan cuti seminggu lagi." Protes Elang menatap sinis iparnya itu.


" Tak usah ambil cuti lagi! Paling kalau disini kau hanya menyusahkan pasienku, mending besok pulang sana, urus urusan kantormu, kau seorang pegawai negri yang berhutang pengabdian pada negara. Urusan Suci biar jadi urusan kami, karna selama ini kau tak becus mengurusnya saat hamil muda." Ucap Susi makin semaunya.


" Enak aja! Emang kau kira istriku guguran karna kurang urus? Tidak! aku selalu telaten mengurus istriku,hanya belum rezeki saja." Sanggah Elang tak mau dikira penyebab janin istrinya selama ini tak kuat.


" Maksud kak Susi bukan begitu sayang..Untuk kali ini aku memang jangan mengadakan perjalanan jauh dulu sebelum baby kita kuat didalam sini. Sedang papi tidak boleh libur lagi, agar anak kita tidak makan gaji buta, yang nantinya tidak baik untuk pertumbuhan dan perkembangannya, jadi papi memang sebaiknya kembali. Tapi untuk malam ini dan besok, tentu kami masih ingin dipeluk." Ucap Suci menengahi seraya meraih tangan Elang dan diletakkan diatas perutnya yang masih rata.


Elang terdiam menatap istrinya,melihat tatapan penuh harap sang istri, Elangpun mengangguk.


" Baiklah...Papi akan bekerja dengan baik dan lebih fokus mulai lusa. Tapi kalian juga harus baik- baik disini ya sayang.." Balas Elang Mesra seraya menunduk mengecup perut Suci, lalu kemudian kedua pipi istrinya.


Semua yang ada didalam ruangan yang tadinya sempat geleng- geleng kepala, sekarang turut tersenyum penuh haru.


Dokter Susi menuliskan resep dan menyerahkan pada Elang. " Sepertinya kami pulang dulu, istirahatlah, besok tebus obat ini. Ingat! Jangan mengajaknya main jungkat jungkit lagi. Jaga anumu itu dulu sampai janinmu kokoh. " Ujar Susi membuat mata Elang melotot kembali dengan rahang yang mengeras, ingin rasanya ia menelan bulat- bulat ipar lucnutnya ini. Tapi Suci buru- buru meremas jemari suaminya untuk menenangkan prianya ini.

__ADS_1


" Selamat ya Lang...Kami kembali dulu." Timpal Andrea setelah melihat Elang ditenangkan oleh pawangnya.


" Ya...Baik- baik dijalan, walaupun mulut istrimu tak berbandrol, aku tak mau terjadi apa- apa dengannya. Bagi kami Ia akan selalu jadi ipar paling cantik dan cerewet sedunia! " Balas Elang yang sudah bisa bercanda.


" Tentu saja, karna kalian hanya punya ipar aku saja. " Sela bangga Susi dengan senyum khasnya. Kemudian wanita cantik itu menarik suaminya hendak meninggalkan bekas ruangan pribadi sang bibi.


" Tunggu..Kebiasaan deh, kalau mau pergi main langsung saja, padahal tasnya juga masih tertinggal. " Ujar Andrea mengambil tas Susi.


" Mhu..Susi cegengesan dan berlalu.


Hening sejenak beberapa detik. Semua saling pandang dan tersenyum. Nampaknya malam ini memang malam terhangat bagi keluarga ini.


" Kami semua turut bergembira nak Elang. Aku yakin mama kalian juga menyaksikan kebahagiaan ini dari sana. " Ucap paman yang membuat semua terharu.


" Bagaimana kalau setelah empat bulan kita adakan syukuran, baru Suci boleh balik kesana. " Usul paman Aswardi .


" Setuju! Kita akan mengadakan syukuran besar- besaran dengan mengundang anak yatim piatu dan mendatangkan para santri kelas tinggi pasantren Al- Barkah untuk berdoa bersama dirumah ini. " Balas Syafir antusias.


" Ya...Aku senang bang, sekalian doa untuk mama." Syaffa yang benar - benar lega sangat setuju dengan rancangan paman Aswardi dan suaminya menimpali.


Suci mengangguk seraya tersenyum bahagia. " Aku terserah yang punya rumah saja, untuk empat bulan kedepan, biar Syaffa yang jadi seniorku. " Ucap Suci sembari menatap Syaffana intens. Sedang yang ditatap membalas dengan anggukan. Syaffa terlalu bahagia tidak jadi melepas putrinya, jadi Apapun tugasnya berikut baik tugas dinas maupun tugas sebagai Umi dikeluarga besarnya, Syaffa janji akan melakukan segalanya dengan ikhlas.


" Tidak perlu ucapan terima kasih untuk apapun bang, karna semuanya terjadi karna kehendak takdir. Sebagai saudara sudah jadi kewajiban bagi kita saling bantu semampu kita, dan saling mengingatkan jika ada yang sedang khilaf.Aku bukanlah adik super seperti yang kau katakan itu, terkadang adikmu ini terkesan sok bijak, bahkan tidak jarang lancang menasehatimu, padahal aku hanya seorang adik yang sebenarnya punya banyak kekurangan diri sendiri yang tanpa kusadari. Maaf ya..." Ucap Syafir dari lubuk hati yang paling dalam, ia teringat selama ini ia selalu mengingatkan abangnya setiap saat agar jangan sampai menyeleweng hanya karna mereka belum dapat momongan. Bahkan tidak jarang Syafir mengirim pesan peringatan keras pada sang Abang setiap mendengar abangnya sedang melakukan perjalanan dinas keluar kota. Atau kadang bilamana ia teringat saja pada sang Abang.


Elang tersenyum sembari mengurai pelukan. Ia akui selama ini sering keki juga dengan peringatan- peringatan sang adik. Tapi disaat yang sama, ia bersyukur juga, karna setiap Syafir mengirim pesan konyolnya itu,ada- ada saja godaan didepan Elang.


" Anak ini seperti tukang ramal saja, bisa memandang rintangan jalanku. " Ucap bangga Elang dalam hati setiap berhasil menepis godaan yang ada saat itu berkat wanti - wanti dari sang adik.


Elang Menepuk- nepuk pundak syafir." Tak perlu juga minta maaf untuk itu adikku, karna semua yang kau lakukan adalah wujud kepedulianmu pada abangmu ini." Ucap Elang kembali memeluk Syafir.


Syafa dan Suci mengernyit. Mereka tidak terlalu paham apa yang diperbincangkan kedua Ahmad tampan ini, tapi mereka turut tersenyum senang punya suami yang rukun bersaudara.


Sedang paman dan bibi Rahmi turut saling genggam tangan karna senang bercampur haru dengan kedamaian anak- anak mereka.


Tidak berselang lama terdengar ketukan dipintu.Lalu seorang perawat separuh baya mengucap salam.


Semua menjawab salam itu dengan antusias.


" Dik Syaffa...Sepertinya Sikembar ingin Sikembar yang dibawa Uminya. " Ucap centil sang perawat usai salamnya selesai berjawab. Walau sudah sedikit berumur, kadang wanita ini suka berkata sedikit ambigu.

__ADS_1


" Bibi ini...Kenapa ngak bilang saja sikembar sudah terbangun." Protes Syaffana.


"Sudahlah...Kayak ngak tahu bibi aja. Cepatlah kesana duluan Umi sayang... Mereka pada haus. Bentar lagi Ayah nyusul karna takkan kuat lama- lama jauh dari Umi." Ucap Syafir yang juga tak pernah canggung mengucapkan apa yang terlintas dihatinya pada sang istri didepan umum.


Syaffa kembali tersenyum malu, karna yang lain turut menatapnya, tapi ada rasa bangga juga karna suami jelas- jelas menunjukkan betapa Syaffana begitu berarti bagi Syafir dan anak- anak mereka.


" Umi duluan ya...Jangan lama- lama disini.Karna setelah anak- anak, bukankah Ayahnya juga mau Umi!" Ucap Syaffana penuh penekanan.


Semua menahan tawa menatap kepergian Syaffana yang dengan santainya berlalu setelah mengucapkan kalimat Ambigunya.


Syaffana melangkah dengan perasaan lega. " Malam ini adalah malam paling bahagia dalam hidupku, karna Allah menyelamatkanku sekali lagi.


Seperti malam itu Allah mengirim Syafir untukku, malam ini Allah mengirim kabar tentang janin Suci untuk menghapus air mataku agar tak jatuh lagi." Ucap Syaffana dengan bergumam.


Begitu sampai dikamar Sikembar, ia melihat kalau yang terbangun adalah Sila. Sila sudah dipangkuan sang perawat." Dari tadi Sila tak mau tidur." Ujar Bi Romla.


Syaffa segera meraih putrinya itu dari sang Pengasuh, lalu duduk disofa kemudian memberikan ASInya pada Sila.


" Aneh dek, kok Sila ganas kali mimiknya,Bukankah selama ini ia hanya mau susu Formula?" ujar Bi Romla dengan mata membola.


Syaffana tersintak juga turut membulatkan matanya.


" Iya ya Bi, entah mengapa selama ini putriku ini enggan mimik Uminya, tapi sekarang kok kayaknya candu bangat ya! " Sorak Syaffa girang.


Sila melepas mulutnya dari cocochipnya lalu tersenyum pada umi dan perawatnya bergantian. Lalu bayi itu menyusu lagi. Seolah sang baby berkata bahwa susu ibunya adalah susu paling top sedunia, Sila mengesap dengan kuat dan mengeluarkan decapan lezat.


Lima menit kemudian Syafir tiba diruangan baby dan pengasuhnya.


" Wah...gadis mungil Ayah lega ya sekarang! " Seru Syafir yang membuat Sila melepas susunya dan tersenyum seraya mengulurkan kedua tangannya pada sang Ayah yang baru datang.


Syafir meraih Sila dan menggendongnya karna Sifa terbangun akibat Sorakan dirinya barusan. Sedang Syaffa bergegas mengambil Sifanya dari Box.


" Cayang...Kita pindah kekamar kita ya...Biar bibi istirahat. " Ujar Syaffa sembari menggendong Sifa.


" Iya umi..." Jawab Syafir menirukan suara baby-nya.


Mereka berempatpun kembali kekamar. meninggalkan bi Romla dengan tatapan kagum pada pasangan bahagia itu.


Bersambung...maaf baru sempat Up lagi, selama sepekan lebih sibuk dengan persiapan dan Acara Perjusami, ngak sempat nulis say...Sekali lagi maaf, ini bersambung pula dengan persiapan 17 belasan, semoga masih sempat lanjutkan ceritanya.

__ADS_1


Salam kangen selalu untuk semua pembaca.


__ADS_2