Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Terjebak 3 Ahmad


__ADS_3

LetTu Zahran Ahmad Adalah polisi yang tegas dan keras didunia kerja, namun ia tunduk pada dua perempuan tercinta dalam hidupnya.


Begitu kembali kekotanya, yang pertama ingin ia lakukan adalah kembali kepangkuan mamanya. Setelah mama, barulah Zahran akan menemui Istrinya, tak peduli itu tengah malam sekalipun,


Ia tetap akan menghadap mama, karna menurutnya mamalah yang menjadi sebab ia ada didunia ini. Selalu seperti itu, Mia istrinya sudah faham itu, ia tiada pernah cemburu karnanya.


Menemukan wanita tak dikenal sedang mengintip dibalik gorden kamar mama, hatinya tidak senang, walau ia merasa pernah melihat wanita itu, tapi entah dimana ia lupa. Pokoknya ia tidak suka mama diintipin oleh siapapun. Kalau itu lelaki, ia pasti sudah memborgolnya, menyeretnya dan menghukum nya.


Baginya hanya tiga Ahmad yang boleh berdiri dipintu itu, setelah papanya kembali kepada yang Maha Kuasa.


Melihat perempuan itu terlonjak kaget, dengan wajah memucat karna tegurannya, bukannya kasihan, Zahran malah menatapnya dengan tajam.


" Siapa kau? Mengapa mengintip didepan pintu begitu? untung kau wanita, kalau tidak pasti sudah kupatahkan batang lehermu! " Ucap Zahran lagi dengan tatapan makin mengintimidasi.


Suci menggulung badannya ketembok, seperti rusa kecil yang terjerat, kakinya gemetaran , menatap pria berseragam yang mirip dengan suaminya itu.


Saat ia berusaha ingin membuka mulutnya yang kaku, terdengar lagi suara berat satunya.


" Ia istriku bang...Mungkin ia ingin menemui mama. " Ujar Elang sembari berjalan menuju suci.


Suci yang melihat suaminya telah ada disitu, dan berkata begitu, sedikit lega, namun


jantungnya memacu lebih cepat melihat tatapannya yang membunuh, berlawanan dengan ucapannya barusan.


" Kapan ia datang? Sepertinya malam ini para Ahmad sudah berkumpul, aku terjebak, apa yang kan terjadi denganku " Batin Suci bergidik.


Belum lagi selesai Suci berfikir, sudah terdengar pula suara dari arah dekat dengannya,


" Bang Zahran! Kapan datang? pria yang tadi bicara dengan mama berseru riang, sembari mendekati Zahran.


Zahran mengembangkan kedua tangan besarnya untuk menyambut adiknya.


Namun mata tajamnya tetap menghujam suci.


" Urus Istrimu dulu Elang! aku akan memeluk adik kecilku dulu! Wanita yang kau akui sebagai istri ini, sudah merusak rencana ku untuk menemui mamaku. " Ujar Polisi itu mendominasi.


Syafir yang merindukan Zahran, langsung


menghambur ke pelukannya, sejenak ia melupakan kisahnya dengan ditengah.


Elang yang mendapat instruksi dari bos besar rumahnya, mencekal tangan Suci, dan menariknya menuju kamar mereka.


Hatinya yang sudah buruk, semakin tersulut emosi. Dilemparnya tubuh gadis itu kekasur. Kemudian Elang mengungkung suci.


Dada suci berdebar tak karuan, membuat


tubuhnya kian bergetar dan keringatan.


" Katakan! apa hakmu mengintip pembicaraan keluarga? Kita memang sudah menikah, tapi bukan berarti kau berhak mencampuri seluruh urusan keluargaku! " Hardik Elang naik gula, hingga dadanya naik turun. Tatapannya semakin menyeramkan, membuat tubuh Suci bergetar dibawahnya.


" A- aku hanya ingin bertemu dengan mama, tapi ada dia, a- aku baru sampai, mendengar suaranya aku berhenti." Ucap Suci bergetar membela diri.


" Kau kira aku bodoh Suci! Kau sudah lama disitu, tak tahu aku sudah tiba setelah adikku. Bahkan aku sudah selesai mandi kau masih disitu! Membiarkan dirimu kepergok abangku! Cihh...Memalukan sekali! " Elang mendecis mengejek Suci.


Suci terdiam dengan wajah makin pias.


Tenggorokannya terasa tersangkut


Lidahnya membeku.


" Bodohnya aku, tak tahu kalau ia sudah melakukan banyak hal. " Rutuk hati Suci.


" Kenapa diam? Malu! Takut!


Belum puas membuat jebakan padaku saja? kau punya rencana mengorbankan orang lain pula demi tujuanmu? hingga mengintai mama dan adikku. Jangan harap kau akan menang dari tiga Ahmad! " Kecam Elang.


Suci merasa terbekukan, ia putus asa. Kecerobohannya kali ini tak dapat ditoleransi, itu akan membuatnya semakin sulit mendapatkan hati Elang, apalagi Elang menuduhnya begini.


Sorotannya melemah, tak tahan melihat tatapan Elang yang penuh Ejekan.


Tapi untuk ukuran perempuan, nyalinya cukup kuat.


" Ketahuan bohongnya? sudah ketangkap basah, masih berani berkilah, Makanya jadi orang jangan suka berbohong, kau kira semua kebohonganmu akan selalu didukung semesta? " tanya Elang marah.


Suci mengumpulkan seluruh nyawanya, yang serasa mati suri. Dibukanya matanya lebar- lebar, dipaksanya mulut untuk bergerak, berkali- kali ia Membaca ayat kursi dalam hatinya.


" Kenapa? Aku lebih menyeramkan dari hantu menurutmu? Ya! kami Para Ahmad lebih menyeramkan, jika menemukan ada yang salah jalan, coba- coba melawan kami? ." Masih berani berbohong?


"Ti-...tidak...A-ku benar..Hanya ingin bertemu mama, mendengar pembicaraan mama dan Syafir aku terpaku dipintu. " Ucap Suci terbata setelah susah payah berusaha.


Elang menarik nafas berat, ia membuang muka dari Suci. " Sudahlah! sekarang tidur! Jangan coba- coba mengintip siapapun dirumah ini! " Ujar kesal Elang.


Suci tersenyum pahit. " Baiklah..lain kali aku akan mengingatnya, aku akan selalu mematuhimu. " Gumam lirih Suci.


Elang beranjak dari atas Suci, turun dari tempat tidur membawa satu bantal, dan bergolek dikarpet. Ia belum siap menemui kedua saudaranya malam ini , mengingat masalahnya dengan adiknya, ditambah tingkah memalukan sang istri.


Iapun memejamkan matanya dengan paksa, untuk meredakan debaran dihatinya.

__ADS_1


" Sial! Umpatnya dalam hati pada diri sendiri.


Suci menarik nafas lega, setidaknya ia lepas dari Kungkungan Elang.


" Tidurlah! Kumpulkan sejenak tenaga dan fikiranmu, sebab esok kau pasti akan


menghadapi interogarasi 3 Ahmad! " Ujar Elang yang masih marah, tapi suaranya tak tinggi lagi.


Suci menggulung tubuhnya dalam selimut, untuk menangispun rasanya tak berguna, karna suaminya takkan menaruh iba. Akhirnya ia memejamkan matanya.


Setelah puas melepas rindu dengan Zahran. Syafir pamit.


" Temui mama bang...Ia sedang tak enak badan, sengaja tak kuizinkan keluar, takut


darah tingginya kambuh, aku pamit dulu kekamar ya..." Bisik Syafir pada Zahran.


Syafirpun kembali kekamarnya yang dulu, kamar paling dekat kedapur.


Syafir berjalan dengan langkah pasti menuju kamarnya.


Setelah mendorong pintu, syafir masuk,


matanya menyapu setiap sudut ruangan yang sudah lima tahun kehilangan pemiliknya ini.


Kamar itu tertata dengan rapi. Tempat tidurnya juga bersih dan harum.


" Ternyata mama selalu membersihkan kamarku, walau itu mungkin dengan bantuan bibi. Hati Syafir lega, berarti mamanya selama ini tetap menunggunya


kembali , walau mama tak pernah mencarinya.


Syafir segara bersih- bersih diruang mandi , kemudian menunaikan kewajibannya pada sang pencipta.


Setelah selesai, iapun mengembangkan kelambu lipat, dan segera masuk kelambu. Kelambu ini dibelikan oleh papa, karna takut kulit halus putra bungsunya, menjadi umpan nyamuk.


Sebelum memutuskan untuk tidur, ia mengirim pesan pada istri, Kalau telfon ia takut mengganggu, kalau - kalau istrinya sudah ketiduran.


" Cinta...Udah bobok? "


" Sudah sayang...


🤣🤣🤣 Tidur kok ngetik?


Mimpi! habis kangen!


Syafir segera membuat panggilan Vidio.


" Singkirkan wajah jelekmu Lin.. Aku hanya ingin melihat istriku saja! " Tukas Syafir memasang wajah garang.


" Cihh...mentang - mentang Sudah dapat yang lebih kinclong, berani kau bilang aku jelek! Dasar Luke! " Sanggah Lin dari balik layar.


" Sayang...tanya padanya apa itu luke? Dan tolong singkirkan wajahnya dari layar! Suruh ia menelfon Duren lengitnya,


jangan ngintip- ngintip dilayar orang." Ujar


Syafir memasang wajah garang.


" Alah...sok mesra lho CIKA..." Terdengar suara tapi tinggal wajah Syaffa dilayar.


Syafir tersenyum sembari menciumnya.


Syaffa membalas yang diiringi dengan suara Cekikikan Linlin.


" Lugu Kentut! Cica Kawe! Layar Aja lho Amot! Bisa rusaktu layar karna Saliva." teriak Lin mengejek kedua pasangan kasmaran ini.


" Jangan iri! Telfon tu Heri, atau bang Anto dirumah sakit, kan katanya sama bang Gordon calon suami! He.. He..." kekeh Syaffana yang diikuti Syafir dari sebrang.


" Jadi ia bilang polisi muda yang terluka itu calon suaminya? " tanya Syafir tak percaya.


" Apalagi? Asistenmu sungguh hebat kalau berakting, ngayalnya ngak tanggung. " Adu Syaffana.


" Tapi aku setuju lo sayang...Andai Lin dapat bang Anto, daripada kembali pada mantan penghianat Cinta. " Tukas Syafir.


" Kalau aku sih terserah dia Sama siapa yang penting untuk selamanya, sekalian tak merengekmu lagi. " Canda Syaffana.


" Masih cemburu padanya? tanya Syafir.


" Ngak...Asistenmu pintar, tegas dan baik


hati, aku suka caranya, aku benar- benar berharap ia mendapatkan kembali kebahagiaannya. " Ujar Syaffana.


" Kenapa Lin terdiam, apa lidahnya membeku? " tanya Canda Syafir.


" Ia kehilangan kata, kulihat telinganya melebar, dan sayapnya mulai tumbuh, sebentar lagi ia akan terbang. He...He....


" Biarkan ia terbang kealam mimpi, semoga ia mimpi bercinta dengan perjaka kaya. " Ujar doa Syafir.


" Semoga kalau ia mimpi tidak berjalan- jalan, aku takut orang seperti itu. " Ucap lirih Syaffana, matanya mulai menyipit.

__ADS_1


" Boboklah...Besok masih banyak urusan kan. " Titah lembut Syafir.


Syaffa mengangguk, dan segera menaikkan selimutnya. tiba- tiba mata kantuk nya melihat kelambu Syafir.


" Sayang dirumah mama? Pake kelambu segala?" tanya Syaffa merasa lucu.


" Takkan kubiarkan siapapun menyentuhku selain dirimu sayang...termasuk nyamuk seekor." ujar lebay Syafir.


" Ih...Aku jadi kebelet pipis mendengar gombalanmu..." Ucap syaffa dengan pipi merona.


Melihat Syaffa benar - benar turun dari tempat tidur, Syafir tersenyum geli.


" Biar kutemani! " Seringai licik Syafir yang mendapat pelototan dari istrinya.


Detik berikutnya layar pun menggelap.


Syafir menyingkirkan benda pipih itu dengan senyum dikulum.


" Kayaknya benar - benar bercakar juga nih istri." batinnya.


Sebenarnya Mia mau turun, tapi baby Zia tak mau melepas SGM nya, terpaksa Mia pasrah, iapun terlelap dengan menyusui Zia.


Sedangkan Zahran masih setia memijiti mamanya dengan penuh kasih sayang...


" Masih sering naik tekanan darahnya ma?" tanya Zahran.


" Ngak...Tadi adikmu yang minta supaya mama didalam saja menunggu. " Jujur mama.


" Iya...Itu lebih baik, dari pada mama keluar hanya untuk membela istri Elang,


soalnya kami masih mau memberikan peloncoan besok pagi untuk nya! " Ujar Zahran menyeringai.


" Jangan begitu nak...Kalau istrimu yang dibegitukan bagaimana?


" Istriku juga mendapatkan ujian berat sebelum menikahiku ma! Apa mama lupa? tes Virgin, Frank mental dariku, Frank rekanku, tes nikah kantor, dan uji ketahanan jadi menantu mama cerewet, menahun. He...He ...


Piut....Mama Mencubit lengan besar Zahran, hingga pijitannya terhenti.


" Terserah kalian deh! Mama mengalah! Sekarang pergi ke kamarmu, istrimu sudah hampir melupakanmu, karna sudah lama mencintai mama saja. He...He..." Balas Kikik mama.


" Aku yang terusir terpaksa harus pergi..." Ujar Zahran belagak memelas.


Iapun berjalan menuju keluar. Menaiki tangga, untuk menemui istri dan putrinya.


Melihat putri yang tertidur pulas disisi wanita paling seksi di dunia persi Zahran.


Zahran segera menyelimuti putri kecilnya.


Matanya tak lepas dari pepaya gantung yang menyembul bebas, ukurannya yang sedang tapi menggiurkan, bekas mainan sang putri.


Zahran membuat kecupan di kening, pipi, lalu kebibir ranum itu. Tangan nakalnya bermain dikeduavpuncak gundukan berbahaya Mia.


Merasakan pergerakan diatasnya, dan kehangatan dibibirnya, dan dadanya, Mia membuka mata beratnya.


Matanya membola menyaksikan suaminya, masih dengan seragam mengecap bibirnya. Dada Mia berdebar tak beraturan, tubuhnya bergetar menahan rindu.Ia membalas pagutan itu, melilit lidah kasar suaminya, sembari mencekal tengkuk Zahran. Hingga nafas mereka tersegal, barulah pagutan panas itu terurai.


" Ganti bajumu, mandi dan sholat dulu, biar kusiapkan air panas." Ucap tegas Mia.


" Maaf...Habis terlalu rindu, sudah 120 hari aku tak menyentuh pintu syurgaku, malam ini harus dapat... "


bisik licik Zahran, kemudian ia berdiri.


Mia mengeluarkan piyama tidur untuk suami, Zahran meraih handuk, dan berlalu kekamar mandi.


" Tak usah kesini, biar aku yang mengatur


airnya sayang...Kalau kau kesini aku takut khilaf, sedang aku belum sholat isya, sudah hampir tengah malam. "Pinta Zahran.


" O...baiklah...Aku akan menyiapkan pudingmu. Ujar Mia sembari membuka kulkas, Kemudian menyiapkan teh telur untuknya dan suaminya.


Sementara suaminya sholat, ia mengantar baby Zia kamar bibi.


" Nak Zahran tiba ya? tanya bibi yang sudah terjaga. Mia mengangguk, lalu mengecup kening Zia dan berlalu dengan langkah pasti. Ia tak ingin melewatkan malam ini.


Berlanjut...


Yang mampir jangan lupa kasih


tanda ya say...


Like


fote


Hadiah in


dan tambahkan ke buku faforitmu.

__ADS_1


__ADS_2