Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Hah!!!


__ADS_3

Syaffana berusaha menjalani tripel fungsinya dengan semaksimal mungkin.Belakangan ini ia banyak mendapatkan tugas- tugas dadakan, karna keadaan kota banyak mengalami kejadian yang menuntut tugas polisi semakin berat. Hampir tiap hari ia jarang pulang siang untuk menyapa sikecil


dan memberi ASI.


Mulai dari melakukan penyidikan kasus kriminal pembunuhan yang melibatkan masyarakat,sebagai anggota DivHumas, Syaffana makin sibuk dengan banyaknya kejadian dimasyarakat sekitar, baik kasus perkara perdata maupun pidana, bahkan perkara perdata yang berujung kriminal.Seperti hari ini, Syaffana terpaksa pulang malam karnaseharian ada tiga tugas yang melibatkan penyelesaian konflik masyarakat. Kalau menjadi mediator antar dua kubu yang bertikai, Syaffa menang jagonya soal mendamaikan. Polisi yang lain angkat tangan soal kepiawaian polwan cantik ini dalam membujuk. Ada- ada saja yang keluar dari bibirnya yang membuat orang yang bermasalah menyesal dan siap untuk berdamai.


Pukul sepuluh lewat baru Syaffana tiba dirumah.


Syafir menyambut istrinya yang terlihat sangatlelah sekali." Umi sangat merindukan Abi dan Vina Bi, gimana mereka hari ini? " Tanya Syaffana.


" Mereka baru saja tidur sayang, sekarang dikamar neneknya.Sebaiknya mandi dulu bersihkan ASI, makan malam, habis itu baru mereka kita bawa kekamar. Air hangat sudah Abang siapkan." Ujar Syafir.


" Ya, Umi sangat lapar sekali, padahal tadi sudah makan, tapi sepertinya perut masih perih." Syaffa buru- buru masuk kamar mandi.


Setelah lima belas menit berlalu,Syaffana belum juga keluar dari ruang mandi. Bahkan suara gemericik air tidak terdengar. Syafir segera masuk untuk memeriksa karna pintu tidak tertutup.


Syafir menemukan istrinya terlelap di bathtup


" Hah!!!! teriak Syafir cemas.


Syafir tersedu melihat betapa istrinya sangat kelelahan, hingga ketiduran sambil berendam.


Syafir segera mengusap wajah Syaffana untuk membangunkannya. Syaffa terbangun dengan


dengan sangat terkejut." A_ aku kenapa? tanyanya bingung.


Syafir segera menunduk untuk membuka kancing- kancing seragam Syaffana. Syaffa tersipu malu menyadari ia ketiduran sambil berendam masih berseragam. Hanya penutup kepala saja yang sudah dibuka.


" Banyak masalah hari ini ya? tanya Syafir.


Syaffa berdiri dan keluar dari bak mandi modern itu. " Aku oke kok yang, hanya kecapean saja. " Ucapnya sembari lanjut melepas atasannya. Syaffa kemudian berjongkok dibawah shower untuk mandi bersih. Syafir memasukkan pakaian Syaffa kemesin cuci, hingga terdengar ketukan dipintu.


" Itu pasti suster atau bibi! anak- anak pasti sudah terbangun. " tebak Syaffa.


Syafir mengangguk dan melangkah keluar bilik mandi. Berjalan cepat menuju pintu.


" Nak, Sikembar bangun dan menangis keras, suster, mamamu dan bibi sudah mendiamkannya, memberikan susu formula, membujuk, tapi mereka sepertinya tidak mau dibujuk. " Ucap bibi terlihat cemas.


" Baik bi mah, kami akan kesana, tunggu sebentar Umminya masih mandi. " Sahut Syafir.


" Ayo kita kesana! Aku sudah siap! " Tiba- tiba Syaffa sudah didepan pintu.


Syafir menatap istrinya dari atas sampai kebawah,


merasa istrinya sudah berpakaian lengkap, walau hanya daster dan penutup kepala berupa sebo.


Syafirpun mengangguk. Keduanya lalu berjalan dengan tergesa menuju kamar mama Carolina untuk menjemput Abi dan Savina kembar mereka.


*

__ADS_1


*


*


Syafir dan Syaffana sudah satu jam lebih membujuk Sikembar yang keduanya sama- sama rewel walau kedua bayi itu sudah disisi kedua orang tuanya. Berkali Syaffa membujuk Abi menyusu dan Syafir mendiamkan Vina dengan menggendongnya. Tapi keduanya sama, mereka tidak mau dan menolak ASI dengan lidah mereka.


" Bang...Gimana kalau kita kasih Susu formula sementara Syaffa makan. Ini perut sudah perih sekali karna lapar. " Usul Syaffana yang sudah mulai panik.


" Baiklah...Syafir meletakkan Vina yang masih merengek diBox dan segera mengambil susu formula dalam kulkas. Setelah membuang dan membersihkan botol susu,dengan tangan bergetar karna tangisan bayinya.


Syafir memberikan susu formula itu pada Vina setelah yakin suhunya pas. Seperti motor mogok yang direm, Vina putri mungilnya langsung terdiam mengesap susunya. Sedang Abi masih menangis keras, walau Uminya sudah keringatan saking capeknya menggoyang mendiamkan sang putra.


" Tunggu sebentar Ya nak...Setelah adikmu tidur, Ayah akan buatkan susu untuk Abi. " Ucap Syafir menatap istrinya dengan iba sambil terus memegangkan botol susu Vina. Walau Vina sudah pandai pegang sendiri, Syafir tak mau membiarkan


bayinya nyusu sendiri.


Setelah menghabiskan susunya, vinapun tertidur, Syafir menarik lembut botol yang sudah kosong itu dan membawanya ke wastafel.


Syafir lalu membersihkan botol susu satunya lagi dan mulai membuat susu untuk Abi.


" Sini biar Abang yang ngasih susunya. " Ucap syafir mengambil alih Abi dari gendongan Syaffana.


Benar saja, setelah Syafir duduk ditempat tidur, seraya memberikan susu formula yang sudah disiapkan tadi. Abipun diam megesap susunya dengan lahap. Sementara Syaffana yang melihat putranya sudah tenang bersama syafir, berjalan kedapur untuk mencari makanan untuk mengisi perutnya yang perih.


Syaffana membawa sepiring penuh menuju kamar dan makan didekat syafir yang masih telaten menyusui Abi mereka.


" Abang sudah makan tadi?" tanya Syaffana begitu Syafir sudah meletakkan Abi di Box bayi karna putra mereka sudah terlelap.


" Baik! Duduk yang tenang disini, biar Umi jemput makan untuk Abi, sekalian Umi mau nambah. " Ujar Syaffana yang membuat Syafir terkekeh.


" Emang masih mau nambah? Perasaan tadi habis porsi jumbo. " Ucap Syafir hanya ia katakan dalam hati saja, takut istrinya tersinggung, apalagi Syaffa sudah dalam keadaan lelah.


" Makasih sayang...abang akan tunggu. " Akhirnya ucapan lembut inilah yang Syafir keluarkan dari mulutnya.


Syaffa melangkah menuju dapur dengan senyum mengembang. " Sudah lama aku tak melayani suami makan, walau letih, sesekali tetap pengen." Gumamnya.


****


Pagi hari.


" Abang yang ngantar kerja pake mobil, sekalian mau mampir ditempat bidan Yuni. " Ujar Syafir membuat Syaffa mengernyit.


" Emang ngapain kebidan Bang, kan akte anak- anak udah keluar. " Protes Syaffana mengernyit.


" Bukan masalah akte sayang...Ini masalah kita. " Balas Syafir yang membuat Syaffana kian tak mengerti. Tapi ia tak mau membantah suaminya, apalagi lingkar hitam Dimata Syafir sangat terlihat jelas, karna semalam hampir Syafir saja yang berjaga membuatkan susu, karna kedua bayi tak mau ASInya, sebenarnya sudah lama Sikembar begini, makanya ayah mereka sudah menyetok susu formula.Tapi Syaffana berfikir bayi kembarnya sedang merenggut, karna ia sering tidak pulang seharian.


Pagi ini suaminya sudah kasak- kusuk mengurus keduanya, tidak terkecuali uminya juga. Seperti biasa hingga Sikembar sudah terlelap ketika diantar kesusternya.


Carolina yang melihat anak dan menantu terlihat sangat mengantuk pagi hari,hanya berani berasumsi dalam hati saja. Orangtua itu hanya mengucapkan hati- hati dijalan untuk melepas keberangkatan anak dan menantu bekerja setiap pagi.

__ADS_1


*


*


Bidan Yuni cukup terkejut didatangi pagi- pagi." Ada apa dik Syafir dan Syaffa? " Sambutnya sembari merapikan seragamnya yang belum terkancing dengan baik bagian atas.


" Maaf...Apa kakak buru- buru kerumah sakit? " tanya Syafir tak enak hati.


" Ngak! Kakak sudah balik kok dari ceklok, tadi habis nyusui.Sekarang akan Stay dirumah, jelang subuh tadi bantu lahiran, masih ngantuk.


Sekarang pasiennya ada didalam. " Ujar Yuni sembari tersenyum.


" Ada apa sih bang?" Tanya Syaffa belum mengerti


mengapa ia dibawa kesini.


Syafir menyentuh pundak istrinya dan tersenyum.


" Bisa periksa Syaffa kak, kami telat pasang alat kontrasepsi tiga bulan habis lahiran kemarin, sekarang Sikembar sudah tujuh bulan, uminya ngak pernah dapet lagi, apa pengaruh obat atau memang udah. " Ucap Syafir langsung.


" Siapa yang makan obat bang...Aku sampai hari ini tak jadi pasang alat kontrasepsi. " Jawab Syaffa cemberut.


" Apa !!! Syafir dan bidan Yuni serentak berteriak.


" Sya...bukankah kakak sudah kasih pil pagi itu, habis itu kalau halangan kakak suruh kamu suntik. Kakak kira kamu suntik pada dokter atau bidan lain." Ucap Yuni segera setelah mengatasi keterkejutannya.


Syaffana menggeleng. Aku lupa saking sibuk kak,bahkan pilnya ngak pernah ditelan." Balas Syaffa.


Yuni geleng- gelengkan kepala. " Ayo kedalam, biar kakak periksa." Ajaknya kemudian.


Kedua wanita itu meninggalkan Syafir yang masih Syok dilobi.


Syafir duduk bersandar dikursi tunggu sembari memejamkan mata, untuk menenangkan fikirannya. Sampai terdengar panggilan dari bidan Yuni.


" Yang sabar ya pak...tampaknya anda akan kerja rodi lagi sampai dua tahun ini. Kesebongnya sudah jadi anak lagi. Ia bahkan sudah bernyawa. " Ujar bidan Yuni menggoda Ayah topcer itu.


Syafir dan Syaffana saling pandang.


" Hahhhh!!!! Untung Sikembar sudah biasa minum susu formula. "


" Pantas sudah lama mereka ngak suka ASIku ini. " Lirih Syaffana.


" Salah Abinya yang suka merebut susu mereka, jadi mereka mengalah.Hehehe..." Kekeh bidan Yuni.


Ketiganya tersenyum dengan perasaan masing- masing.


Pasangan itu meninggalkan klinik bersalin bidan Yuni dengan perasaan campur aduk. Suara tangis bayi baru lahir diruang bersalin mengiring langkah mereka.


" Lima bulan lagi aku akan masuk ruang bersalin lagi. " Batin Syaffa setelah duduk bersandar dimobil.

__ADS_1


Syafir menarik istrinya kedalam pelukannya." Semoga prosesnya lancar, seperti ngidamnya yang ngak sampai ketahuan. " Ucap Syafir sembari menyentuh lembut perut istrinya yang memang sudah sesak dibalik celana dinasnya. Tapi selama ini ia mengira tubuh istrinya mengembang masih pengaruh lahiran, tidak disangka sudah ada pula kehidupan baru disana.


" Kita syukuri aja ya sayang ..." Bujuknya kemudian melihat istrinya masih diam. Syaffa mengangguk dan terisak. Ia merasa bersalah pada bayi kembarnya, karna kelalaiannya keduanya terpaksa minum susu formula, kedua bayinya sudah lama menyadari itu, sedang Syaffa sendiri tidak peka sama sekali.


__ADS_2