
Mereka makan pagi dengan sangat khidmat, tak ada perbantahan lagi, walau sesekali mereka saling pandang yang tidak dapat diartikan maknanya.
Tidak ada pula aksi suap- suapan pagi ini. Entah karna ingin cepat, lelah atau hati masih marah, Syaffa makan tanpa banyak tingkah. Sedang Syafir melupakan keinginannya untuk menyuapi
istrinya. Melihat wajah Syaffa yang terlihat serius. Intinya sarapan pagi dirumah makan multi fungsi dibawah bukit ini , terlewatkan tanpa keromantisan.
Usai membayar sewa dan makanan mereka, Syafir menggandeng tangan Syaffa menuju mobil mareka, tentu Syaffa tidak menolaknya.
" Abang akan mentransfer uangnya yang sudah terpakai untuk pernikahan kita.
Nanti tolong dicatat nomor rekeningnya ya, bukan dia yang menikah, Abang tidak mau dianggap menikah gratis dari hasil usaha orang lain. " Ucap Syafir sebelum menghidupkan mesin.
Syaffa terdiam menatap suaminya. Kadang ia heran juga dengan suaminya, dikira pemikirannya tidak sampai disitu, karna bagaimanapun juga pernikahan mereka telah terjadi.
" Tidak perlu dikembalikan uang 200 Juta
dari orang itu! Bukan aku yang mungkir, tapi dia, jadi dalam hukum adat
, uang tanda itu hangus. Kalau perempuan yang mungkir, baru didenda dua kali lipat! " Jelas Syaffana.
" Ini bukan soal adat sayang.. Ini masalah perasaanku. Aku yang mendapatkan Syaffa, tapi dia yang telah membiayainya.
Itu membuatku kefikiran terus.
" Kalau merasa ngak senang dapat makanan gratis, bayar pada yang punya warung langsung, bukan pada orang lain. " Ucap Syaffa sembari bersandar dibahu Syafir.
" Semua yang Abang punya dan Abang usahakan selama ini tentu untukmu sayang...karna semua usahaku sudah kuniatkan dari dulu untuk masa depan anak dan istri , Ada niat untuk bersamaku selamanya kan? " tanya Syafir.
" Ngak! " ucap Syaffa sembari merebahkan kepalanya dipangkuan Syafir. Syafir membelai wajah yang sudah ada dipangkuannya. " Terus mau bagaimana , mau kembali padanya? " tanyanya dengan wajah sendu.
Syaffa kembali duduk mendengar pertanyaan itu.
" Emang dikira aku panci? Bisa tukar tambah setelah bocor?" Ucapnya dengan suara meninggi.
" Kalau tidak mau denganku, mau dengan siapa lagi? " Tanya Syafir sembari menarik Syaffa dalam pelukannya lagi.
" Maksudku, tidak mau berpisah! " jelas Syaffa sembari memperdalam dekapannya. Syafir tersenyum bahagia, merasakan debaran didada mereka seirama, pria itu tak ragu dengan ucapan istrinya, toh dalam dua malam Syaffa sudah menjadi miliknya seutuhnya.
" Baiklah...Abang ganti 200 jutanya ya, terserah adik mau dikembalikan atau tidak!" Katanya kemudian.
Piut...Sebuah cubitan mendarat di pinggang
Syafir.
Aw....Sakit...." Emang polisi mencubit juga ya? Baru tahu! " Canda Syafir, sembari mengurai pelukannya.
" Ini bukan seorang polisi, ini seorang istri! " sanggah Syaffa.
" Oh ya? Kalau benar Istri, kasih cium dong...Ngak enak dicubit soalnya, tolong kasih obatnya... " Rengek Syafir sembari menatap bibir Syaffa, sedang yang dipandang pipinya sudah merona.
" Kok lama? " tuntut Syafir sembari memejamkan matanya.
" Malu...lirih Syaffa.
" Malu apa? Malam kok ngak? " tantang Syafir.
" Malam temaram sayang...ini diintip sama mentari juga. " Lirih Syaffa sembari
__ADS_1
menunduk.
Syafir menaikkan dagu istrinya, kemudian mencium- ciumi seluruh sisi wajahnya, seperti anak kucing bertemu induknya. Syaffapun tertawa karna merasa lucu.
" Kenapa tertawa? " pancing Syafir.
" Itu ciuman untuk anak bayi! " Ejek Syaffa.
" Gimana yang cium sebenarnya? Apa perlu lagi Abang bertanya pada bang Zaki? Pancing Syafir lagi.
Cup...Sebuah pagutan hangat berhasil membekap bibir Syafir, syafir membuka mulutnya dan menyambut pagutan itu lebih panas lagi, mereka saling bertukar siliva, lidah mereka saling membelit. Hngga udara disekitar samakin menipis barulah pagutan itu terurai, sedang mata keduanya sudah meredup.
" Makasih ya sayang...yang tadi pasti mentarinya takut mengintip. " bisik Syafir yang membuat pipi Syaffa kembali memerah.
Mesin mobil pun dihidupkan. " Sudah reda perasaannya? " tanya Syafir sebelum melaju.
" Tak akan pernah reda selamanya." bisik Syaffa.
" Beruntunglah diriku kalau begitu. " Gumam Syafir.
" Semoga selalu! " Seru Syaffa.
" Amiin..." Mereka berdua.
" Semoga...
Syafir tidak langsung membawa Syaffa kekontrakan sementaranya. Tapi mengajaknya kesebuah pusat perbelanjaan sederhana tapi lengkap.
" Besok baru hari pasar disini.Tapi ditoko ini lengkap. Mulai dari sembako, barang
harian, ikan dan sayur, turun dan berbelanjalah. " Ujar Syafir sembari menyodorkan dompetnya.
" Tapi disini nafkah! " Ucap Syafir pendek, tapi itu membuat Syaffa harus menerimanya.
" Syafir menunggu Syaffa belanja. Ketika ia melihat istrinya keluar dengan membawa tentengan belanjaan.Iapun segera menjeput dan menggantikan membawakannya.
" Aku tidak melihat lagi Cicanya suamiku. " batin Syaffa bersyukur.
Tak terasa hari sudah menunjukkan pukul
sepuluh pagi. Ketika Syaffana sudah menyusun hidangan dimeja makan, terdengar ketukan dipintu.
" Siapa yang datang? Ini masakan pertamaku, siapa yang datang berarti rezekinya sungguh mujur, tolong bantuin nyiapkan piring ya bang, biar Syafa yang buka, kalau nanti warga sini, tak mau mereka salah faham. " Kata Syaffa sembari berjalan kedepan.
" Siap komandan! " Seru Syafir sembari hormat menirukan adegan hormat pasukan baret Merah TNI AD.
Aw...Ha...ha..tawa Syafir menggema.
Bagaimana mengurus piringnya, kalau dibuat sampe kebelet begini. " Protes Syafir, karna Syaffa menggelitikinya. Sampai terdengar ketukan lagi dipintu barulah ia kembali kedepan.
Begitu pintu terbuka, mata Syaffa membulat.
" Kalian kok Cepat kali? Sampe Napak Ngak keretanya tadi? Kayak ngak punya anak yang bakal tinggal dan sengsara aja kalau kalian mati! " Cerocos Syaffana pada tamunya
" Hhem...Sudah disuruh datang jauh- jauh , bukannya disuruh masuk, malah dicerepeti. Sejak kapan mulut bawelnya Syafir pindah ke lou Sa? " keluh Lin.
Mendengar suara Lin, Syafir langsung keluar. " Lari berapa kau bawa keretaku Her? Ya ampun, lari 80 ditikungan yang tajam- tajam seperti itu, minta ampun aku, ngak jatuhkan? Syukurlah keretaku baik- baik saja. " Ujar Syafir setelah memeriksa sepeda motor barunya.
__ADS_1
" Ini lagi! Dasar CILIT! Bukannya mensyukuri keselamatan kami, malah lebih mementingkan keretanya! " Ling mengerucut.
Syaffa menaikkan alisnya sebelah, lalu menatap Lin dengan bingung. " Apa itu CILIT Lin? " tanyanya kemudian.
" Cina Elit. Jawab Lillin cuek, kemudian ia masuk kerumah dan menghempaskan bokong padatnya disofa sederhana itu.
Heripun mengikuti Lin, duduk dikursi sebelahnya.
" Kalian benar - benar tuan rumah yang tidak punya hati, masak kami datang atas
permintaan kalian, malah didepan pintu sudah dihajar dengan berbagai pertanyaan, ngak tahu dicapek orang. Pantas berjodoh! Sama- sama sadis! " Cerepet Linlin, setelah menghela napas.
Syafir menatap Heri tajam, kemudian beralih pada Linlin.
"Habis kamu disuruh datang sendiri malah pake bawa mantan! Sudah jelas aku aja udah segan sama tetangga berpasangan di kontrakan ini, datang pula kalian berpasagan, ngak lihat tetangga sebelah pada menyorot tadi?. "
" Lihat Sih..Emang kalian ngak bilang Suami istri ya ? " Tanya Linlin.
" Bilang sih akunya. Tapi dianya bilang sama pak Jorong kami bersaudara.
Ini jadinya susah. " jelas Syaffa.
Lin Angkat bahu, tapi tenang saja, biar dia pulang bersama suamimu, agar suamimu tak pulang sendiri. " Lin menatap Syaffa yang diduk dikursi samping kanannya, kemudian menepuk pundaknya.
" Karna tadi sudah diniatkan, sebelum buka pintu, siapapun tamu yang datang, bakal diajak makan, walau kalian pasangan Abnormal, kita makan yuk...Itu sudah janji istriku." ucap Syafir menimpali
" Enak aja bilang kami pasangan Abnormal, kalau pasangan belum halal baru diterima! " Sanggah Linlin.
" Intinya ngak baik, jalan berdua kayak kalian lakukan ini! " Syafir mengingatkan.
" Lain kali balikan dulu baru jalan bareng." ujar Heri girang.
" Fikir dulu seribu kali ya! Belum kering luka dihatiku...
Luka bekas kau goreskan dulu...
" Ya udah tak usah ribut! Apalagi nyanyi, jangan mengundang keramaian! He...He..." Kekeh Syafir.
" Untuk menembus kemarahan kami, Ayo kita makan segera , siap itu baru pada pergi para lelaki sebagai solusi."
" Oh ya, ini masakan pertamaku sejak menikah, tolong diapresiasi ya. " pinta Syaffa setelah mereka tiba berhadap- hadapan dimeja makan bundar itu.
Belum selesai mereka makan, terdengar pula ketukan dipintu.
Tok...tok...tok...
Ya Tuhan...ramekanlah lapak ini... Jangan seperti jaringan yang lelet disini.Hi...hi....
Bagi yang datang jangan lupa kasih jejak ya say...
Like,
Fote,
Komen,
Hadiahin
__ADS_1
Tambahkan kerak buku dengan menekan love.