Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Benar- benar meleset!


__ADS_3

Syafir dan Syaffana sampai dikampung D, kampung yang bersebelahan dengan kampung yang bermasalah dengan PT. Gunas Jaya, Ketika matahari sudah tenggelam diufuk barat. Lembayung senja membuat wajah cantik Syaffana semakin indah Dimata Syafir. Ia menyambut tangan Syaffa dan menariknya lembut, keluar dari mobil mereka, lalu mereka melenggang beriringan menuju sebuah kedai kecil, untuk bertanya tentang kampung ini.


Setelah mendapat penjelasan dari pemilik kedai, merekapun kembali menaiki mobil.


Syaffa memutuskan tinggal disini, karna kedua kampung ini hanya dibatasi oleh jembatan. Untuk itu mereka mencari rumah kepala kampung, sesuai petunjuk ibu pemilik kedai tadi.


Syafir membawa Syaffa melangkah mantap, turun dari Mobilio rednya yang ia parkir dipinggir jalan, didepan rumah jorong setempat. Mereka mengucap salam sampai dipintu, setelah dapat izin pemilik rumah, mereka masuk.


Setelah berbasa- basi, dan memperkenalkan diri alakadarnya. Syafir menyampaikan maksud kedatangannya, untuk melapor, sekalian mencari penginapan untuk Syaffana.


Pak Jorong membawa mereka menuju kesuatu tempat, usai sholat dan menjamu mereka makan malam, hasil olahan dapur istimewa sang istri.


Ketika berkenalan, tadinya Syaffana hendak mengenalkan Syafir sebagai suaminya, tapi Syafir sudah lebih dulu mengaku abangnya Syaffa.


Syaffa terpaksa menurut, tak ingin berbantah didepan orang.


" Aku titip adikku dikampung pak Jorong.


Begitu pekerjaannya selesai, akan Kujemput lagi. " Ucap Syafir ketika mobil sudah diparkir didepan sebuah kontrakan.


Mulyadi, membuka pintu kontrakan. Lalu masuk dan menekan saklar.


Lampu pun menyala, menerangi ruangan itu.


" Silahkan masuk pak Syafir! Disini tak ada penginapan, hanya rumah petak seperti ini. Mudah- mudahan adikmu ngak sumpek disini. Kalau soal sewa tak usah difikirkan, seharusnya saya menampung nona Syaffana dirumah saya supaya lebih layak, tapi nanti takutnya nona kurang leluasa, karna istri saya terkesan kepo orangnya. " Ujar pak Jorong sungkan, setelah membuka pintu.


Kemudian menyerahkan kunci pada Syafir.


" Lagian ngak baik juga saya nebeng rumah pak Jorong, segan sama warga juga, nanti akan banyak pertanyaan, pak Jorong jadi susah karna saya. Ini sebagai


ucapan terima kasih, bukan sewa rumah. " Ujar Syaffa sembari menyodorkan amplop pada suaminya, untuk dimasukkan kesaku pak Jorong.


Syafir yang mengerti langsung melakukannya.


" Kata adik saya , Reski tak boleh ditolak pak Jorong..." Syafir berkata dengan senyum tulus, lalu ia memasukkan Amplop dari Syaffa kekantong kemeja kepala kampung itu.


Mereka masuk kedalam, dan memeriksa kesetiap sisi ruangan itu. Pak Jorong menunjukkan kamar, dapur, hingga ruang mandi.


" Kontrakan pak Jorong tampaknya cukup nyaman, bahkan dilengkapi dengan Forniture dan isi dapur. " Puji Syaffa begitu mereka selesai memeriksa.


" Syukurlah kalau cocok, soalnya tinggal ini yang kosong, dan ini baru saja ditinggal adik saya yang kerja di PT GJ, setiap Minggu ia sekeluarga berlibur disini, sekarang ia dimutasi kedaerah PsB , PT serupa yang ada diluar daerah ." Jelas pak Jorong.


" UHM......Pantas bapak lengkapi, untuk adik sendiri! " _ Syaffa manggut- manggut.


Setelah bercerita sebentar, disofa ruang tamu sederhana itu, Pak kepala kampung


itu pamit dengan perasaan senang.


" Tolong amankan saya nompang nginap sampai pagi ya pak Mulyadi...Soalnya ngak mungkin balik malam begini, habis capek dan ngantuk. " Ujar Syafir yang membuat pak Jorong menghentikan langkahnya.


" Pasti pak Syafir! Saya akan menemui ketua pemuda. " Ucap pak Jorong sebelum berlalu..


Rumah petak milik pak Jorong D cukup bagus, bangunan semi permanen itu tampak rapi dan bersih. Syaffa senang mendapatkan ruangan- ruangan Serapi ini, walupun sederhana.


" Abang pake ngaku saudara segala sama pak Mul, kalau ngaku istri kan lebih enak. Ini kontrakan berasa penginapan , kita bisa bulan madu disini. " Ucap Syaffana serupa Omelan.


Syafir mencubit hidung Syaffana karna gemas, melihat istrinya yang suka sekali mengomel.


" Kita tidak akan berbulan madu disini sayang...Soalnya ada tetangga sebelah.


Nanti selesai misi ini, Abang bawa kesuatu tempat, tempatnya lebih nyaman dari disini. Sekarang Ayo kita bersih - bersih dulu , habis itu sholat dan bobok. Bukankah capek sekali? " Ajak Syafir dengan senyum termanisnya.


Syaffa sebenaryna ingin protes, tapi teringat mereka belum pernah istirahat, maka iapun mengangguk patuh.


Sementara Syaffa bersuci, Syafir menutup mobilnya dengan mantel, setelah memastikan semua aman, ia masuk dan mengunci pintu.


" Usai Sholat mereka tidur diranjang, dengan menggunakan satu guling untuk bisa sebantal berdua.


" Ini agar lebih mesra, biar tak ada penghalang kita. " Ucap Syafir sembari menarik selimut sampai pinggang. Kemudian Ia mengecup kening Syaffa.


" Mat bobok adik cantik..." Bisiknya lembut lalu memejamkan mata, sedang Tangan kanannya mendekap Syaffa.


Posisi mulut dipuncuk kepala istrinya.


Angin malam seakan mengayun kelopak mata Syaffana yang memiliki balu yang panjang itu. Hingga mata itupun menjadi berat. Tidak berapa lamapun ia terlelap.


Malam semakin larut, dan udara semakin

__ADS_1


menusuk tulang.


Sebenarnya, Syafir sudah terbiasa dengan udara malam, karna ia seorang petualang pesta. Tapi untuk bermalam dikampung lereng bukit, dengan udara sedingin ini, ini baru Syafir rasakan, ditambah lagi tubuhnya kelelahan, istirahat kurang, membuat tubuhnya menggigil dipertengahan malam ini.


Syaffa terbangun merasakan goncangan disisinya. Matanya membulat melihat suaminya menggigil kedinginan.


" Bang....Syaffa mengusap wajah suaminya. Memeriksa keadaannya.


" Ya ampun...Ia demam..." Gumam Syaffa.


Syaffa teringat dulu saat ia kecil, kalau ia menggigil seperti ini, bundanya pasti memandikannya dengan air yang dimasak dengan memasukkan serai dan batang kunyit. Apalagi ini malam Jumat,


Kata bundanya demam datang malam Jumat tak boleh diabaikan, itu akibatnya fatal. Ayah Syaffa sering berselisih pendapat dengan sang bunda tentang kepercayaan kunonya itu. Tapi setiap Syaffana diterapi dengan obat tradisional


ala bunda, Insya Allah ia sembuh.


Syaffa melepaskan tangannya dari pelukan Syafir, kemudian ia beranjak menuju dapur.


" Alhamdulillah...Ada dandang juga disini. " Seru hatinya.


Syaffa mengisi air kedalam dandang. Teringat tadi ditaman depan ada tanaman kunyit dan serai, ia mengambil pisau dapur, dan berjalan menuju depan rumah.


Setelah mendapat semua yang dibutuhkan, iaburu- buru masuk mengunci pintu. Bergegas menuju dapur.


Syaffa menghidupkan kompor, memasak air dengan segera. Setelah matang, menyalinnya keember, membawanya kebilik mandi. Syaffa mencampur air dengan air dingin.


" Sayang...Kita mandi ya..." Ajak Syaffa yang membuat Syafir yang kedinginan bergidik ngeri.


" Iw....nnn nngak...I...ingin Bu....bunuh a...aku...k..kan? " tanyanya dengan tubuh yang makin bergoncang.


Syaffa mengecup bibir yang bergetar itu, agar hangat.


" Aku akan membuatmu seperti dendang burung Cici padi! kalau dingin bawa mandi, panas dibawa berjemur." Ucap Syaffa tersenyum nakal.


Sebelum sempat Syafir membantah, Syaffa sudah mengangkat tubuh suaminya kekamar mandi.


Tentu ia bisa melakukannya, karna kekuatan Syaffa sebanding dengan lelaki


tangguh.


Syaffa menyiram tubuh suaminya secara manual dengan menggunakan gayung.


Air suam- suam kuku yang mengguyur tubuhnya, membuat tubuh Syafir


menghangat. Ia melupakan tubuhnya yang hanya memakai boxer , karna sensasi hangat yang memanjakan itu. Aroma dari air itu juga membuat fikirannya jadi tenang.


Syafir memandang istrinya bak Dewi turun dari khayangan.


Ia yang nyaris tak pernah dimanjakan seperti ini oleh sang mama, merasakan kebahagian yang meluap didada, hingga tak terasa matanya berkaca- kaca.


Setelah selesai, Syaffa membalut tubuh Syafir dengan handuk.


" Buka! " katanya kemudian.


" Apa? " tanya Syafir, kini suaranya sudah normal.


Tanpa menunggu jawaban suami, Syaffa membukakan Boxer basah itu. Tak Ayal tentu benda pusaka yang mengerucut dibalik sana, menjadi berdiri karna Syaffa menyentuh paha Syafir untuk melorotkan Boxernya.


Syafir menggigit bibir bawahnya, ketika benda itu menegang sempurna, karna gesekan kepala Syaffa ketika menunduk


hendak mengutip pembungkus oncong- oncong dibawah kaki suami.


Sekarang Syafir menarik istrinya untuk berdiri. Tanpa kata ia membawa Syaffa kedalam pelukannya.


" Masih dingin ya? " tanya Syaffa polos.


" Uhu....Hanya suara itu yang keluar. Detik


berikutnya bibir mungil Syaffa sudah berada dalam bekapannya.


Bagai penari ular mereka berjalan berpilin- pilin, kaki mereka berjalan berirama menuju tujuan yang sama. Kamar yang letaknya tidak jauh dari situ.


Sekarang mereka sudah diatas ranjang besi dengan kasur kapas asli itu.


Entah dapat kekuatan dari Dewi kamaratih sang Dewi cinta, atau ketangkasan dari Malaikat Mikail, tak ada


lagi lutut bergoyang yang seperti malam itu.

__ADS_1


Dengan Gagah dan berani, Syafir melucuti pembalut tubuh istrinya, kemudian ******* bibirnya sampai nafas mereka sesak, mengintari seluruh inci tubuh Syaffa dengan bibir dan lidahnya. Hingga sekarang Syaffalah yang menggigil menahan hasrat.


Bagai cacing kepanasan, Syaffa menari- nari dibawah tubuh Suami, karna tak tahan dengan sentuhan- demi sentuhan


mautnya.


Aghhhh.......Aghhhh..............


A...Aku akan mati, kalau kau tidak bisa melakukannya sekarang. " Kalimat hiperbola tiba- tiba terucap diujung lenguhan panjang Syaffa, saat Syafir memainkan lidahnya dilembah basah yang ditumbuhi rumput halus dibawah sana.


Karna tak tahan lagi, Syaffa menarik Syafir, agar menghadap kewajahnya yang


sudah merah itu.


" Sayang...Ak..aku...Mau boleh? " tanya Syafir.


Syaffa melebarkan paha mulusnya, agar Syafir tahu ia menerimanya.


Kali ini, Syafir berusaha menempuh jalannya, walau jalan itu sangat sulit ditembus, ia berusaha keras untuk masuk kegoa Syaffana. Syaffa menggigit


bibir menahan perih, saat senjata pungkas Syafir berhasil menembus, dan meleset kedalam miliknya. Detik berikutnya mereka mulai menari ditempat tidur, dengan


ritme lembut, sedang, hingga ritme cepat. Bibir tak lagi bicara, tapi mata, hati dan jiwa mereka saling membungkus menjadi satu. Detik berikutnya tubuh mereka mengejang, lalu terdengar lenguhan panjang, kedua insan itu telah mencapai Nirwana dunia bersama.


Syafir mengecup pipi istrinya dengan penuh kasih sayang, sedang Syaffa tersenyum sembari mendekap erat tubuh


suaminya.


" Maaf...Aku khilaf..." Katanya kemudian yang membuat Syaffa terkikik geli.


Syafir mencabut miliknya karna geli juga dengan gelitikan sang istri. Namun ketika


ia melihat setetes darah menodai seprai putih itu. Ia lalu berteriak.


" Ini pasti sakit sekali ! aku sudah melukaimu! Air mata Syafirpun tak dapat dibendung, ia benar- benar merasa bersalah.


" Hik...hik...Aku ingkar janji...Aku telah melukaimu dirumah sewa ini...Hik.


hik...aku sungguh jahat! Tetangga sebelah pasti dengar. Maaf ya..." ucapnya dengan tatapan memelas disela isaknya.


Syaffa tak kuasa menahan senyum, ketika melihat suaminya menangis


sesugukan.


" Seharusnya aku yang begitu, karna mahkotaku yang sudah terenggut. Tapi malah ia yang menangis.


Ya Kumis...ya kumis....Tolonglah tumbuh diatas bibir suamiku, biar wajahnya tak sepolos ini lagi. " Batin Syaffana.


Kemudian, terbitlah fikiran nakal dibenaknya.


" Ini...Sangat sakit! Ini tak ada obatnya kecuali satu. " Ucapnya sembari tersenyum licik.


" Apa? " tanya Syafir tanpa curiga.


" Colokin lagi itunya!" Ujar Syaffa bernada perintah. Kemudian ia mengusap senjata biologi itu.


"Ta...tapi kata pak ustadz harus dibersihkan dulu, Wudhu Sunnah, sebelum nambah. " ujar Syafir menepis lembut tangan istrinya. Kemudian ia turun dari tempat tidur.


" Kan sudah belajar sampe disitu? ngapain pake nangis segala Abang ganteng? " tanya Syaffa kemudian duduk, menggser tubuhnya dan turun. Ketika ia hendak berjalan, ia meringis menahan perih, dipangkal pahanya. Syafir langsung berbalik dan menangkap tubuh Syaffa.


" Kan ia Sakit! " Ucapnya kemudian berjongkok untuk meniupi bagian sensitif Syaffana.


" Sayang...Udahlah...aku kebelet pipis, ntar nyemprot kesana. " rengeknya dengan gaya Duckface ( menunjuk dengan mulut ) kearah mulut Syafir.


" Abang ganteng gendong kekamar mandi ya, adik cantik! " Ucapnya kemudian mengangkat Syaffana sebelum Syaffa sempat protes.


" Pak Ustadz Zaki tidak bilang bakal berdarah dan sakit begitu, kalau dia bilang begitu, takkan Abang buat!, Maaf ya... Pak Ustadz ngajar setengah- setengah, Abang jadi gagal faham, Adik cantik jadi korbannya, katanya membahagiakan istri dengan berhubungan badan dengan lembut dan penuh kasih sayang, tapi nyatanya luka begitu! " Omel Syafir sampai kekamar mandi.


" Pak Ustadz tidak salah kok Abang ganteng..." Tadi Abang lakukannya lembut, sakitnya sebentar saja, karna yang pertama memang begitu, nanti kalau sudah nambah pasti ngak sakit lagi. " Ujar Syaffa sembari bersih- bersih.


" Berarti adik cantik belum pernah ya! Artinya Abang dapat yang Asli! Maaf kalau semula Abang mengira adik sudah biasa, karna tidak malu mulai duluan. " ucap Syafir jujur.


Syaffa memeluk Syafir, sembari berbisik dikupingnya." Habis adik takut, Abang tak punya itu, makanya adik intipin, nyatanya sangat besar dan ganas, sampai ini sakit sekali karenanya. Ayolah cepat kita kedalam, biar ditambah lagi, agar sakitnya hilang, itu pelajaran yang tidak disampaikan Ustadz itu.


" Tapi bagi lelaki, itu ternyata sangat enak. Mungkin itulah sebabnya, papa tak pernah marah ketika diomeli mama, ternyata jadi perempuan itu sakit , apalagi soal begitu. " Kata Syafir lagi, kali ini berhasil membuat Syaffa tertawa terpingkal- pingkal sampai terpipis kembali.


" Suamiku benar- benar meleset! Tapi aku senang memilikinya. " Batin Syaffana.

__ADS_1


__ADS_2