Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Pasangan sekarang memang aneh- aneh.


__ADS_3

Waktu berjalan begitu indah. Syafir dengan rasa bahagia karna cinta dan kasih sayang yang semakin besar pada Mama, istri dan sekaligus calon bayinya.


Syaffana dengan rasa syukur telah memiliki suami penuh perhatian yang bisa menenangkannya ketika menghadapi situasi yang berlawanan dengan keinginan hati seperti hari-hari kemarin.


Setelah membuka dan mengemaskan perangkat pakaian ibadahnya, Syaffana berjalan menuju lemari sembari berfikir, tangannya memeriksa lipatan- lipatan pakaian dengan hati- hati.


Syafir melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, memeluk wanita halalnya dari belakang. " Cari apa sih gadis? " tanya Syafir sembari menggosokkan hidungnya dipuncuk kepala Syaffana, lalu memejamkan matanya untuk menikmati aroma wangi shampo sang Istri.


" Celemek! Perasaan kemarin ada. " Jawab Syaffana terus mencari.


Syafir meraih tangan istrinya, agar wanita


itu menghentikan kegiatannya.


" Sudah, tak usah mikir mau masak, badan masih capek begini, istirahat saja dulu. " Ujar Syafir lalu membopong Syaffana menuju tempat tidur.


" Tiba- tiba aku kepengen makan masakan rumahan yang manis- manis bang.." Rengek Syaffana berbalik menghadap Syafir.


" Mau godok?


" Godok kan ada, ngak ah. " tolak Syaffana menatap kebawah dengan tersenyum.


" Umi mesum juga ya. " bisik Syafir menyentil hidung Syafana, sedang pipi Syafir sudah merona.


" Maksudku godok bi Romlah tiap pagi lewat. " Balas Syaffana berkilah.


" Trus Napa lihatnya sini. " Sungut Syafir.


He...He..." Syaffana terkikik tanpa merasa berdosa setelah membuat suaminya tersipu, hatinya puas.


" Trus mau apa dong? syafir tak mau menyampaikan pilihan lagi.


" Serabi! " Sorak Syaffana.


" Kan ada, " Syafir balas menggoda Syaffana.


"Kalau serabi satu kan buat Abang seorang. Pengennya yang banyak! " Syaffa memasang wajah serius.


" He...He...Yakin pengen makan biar dibuatin?. " tanya Syafir.


" Emang bisa? " Syaffa balik bertanya.


" Ya biasalah, Emang betul - betul mau memakannya setelah dibuat, kalau mau Abang akan buatkan sekarang. " Ujar Syafir.


Syaffa mengangguk, diulurkannya ibu jarinya pada Syafir." Janji bakalan dimakan dengan lahap. " Jawab Syaffa mantap saat Syafir menyatukan ibu jari mereka.


Syafir tersenyum lalu menunduk untuk mencium perut Syaffana. " Tunggu sebentar ya sayang, Abi ngadon bahan dulu, untuk dikembangkan. " Ujar Syafir kemudian melangkah menuju dapur.

__ADS_1


Belum beberapa langkah Syafir berjalan, Syaffa sudah menggamit tangannya.


" Istirahat saja dulu, biar dimasakin." Pinta Syafir.


Syaffana menggeleng. " Ngak, ngak bisa tidur dikamar tanpa ada Abi. " Balas Syaffana.


Syafir menggendong Syaffana lalu mendudukkannya dikursi makan." Ngak usah ikut campur, jadi mandor saja. " ujar Syafir sambil melabuhkan beberapa kecupan dipipi Syaffana.


Cup


" Semangat masak! " Ucap Syaffa setelah


menghadiahi suaminya kecupan singkat.


" Terima kasih Umi! " Balas Syafir dengan senyum mengembang, setelah mengusap bibirnya yang masih basah dan hangat bekas kecupan istri, ia mulai mencampur ragi, terigu, telur dan semua bahan. Setelah semua diaduk rata, Syafir menutup adonan dengan serbet untuk didiamkan selama 15 menit.


" Satu setengah jam lagi akan siap Serabi manis semanis bibir. " Ujar Syafir kemudian.


Tidak ada jawaban, Syafir mengernyit, ia segera menghampiri istrinya.


" Sudah tidur kiranya, untung aku cepat, kalau ngak bisa jatuh. " Gumam Syafir seraya menggendong istrinya dan membawanya kekamar mereka.


Syafir merebahkan Syaffana dikasur, setelah menyelimuti kaki istrinya, iapun rebahan sebentar. Tanpa bisa dihindari, mata Syafir ngantuk berat, iapun terlelap disisi istrinya.


Syafir melanjutkan membuat serabinya dalam mimpi, apalagi Syaffana mulai mendekapnya, Syafir makin lelap dalam tidurnya.


Syafir terbangun dan mengerjapkan matanya, ketika Indra penciumannya mencium aroma selai santan, gula merah dengan daun pandan yang sedang menguap.


" Bibi! Serabinya sudah masak? mampus aku! Syaffa mintanya masakanku. " Ujar Syafir dengan menepuk jidat, menatap lesu pada dua puluh kue serabi yang sudah jadi didalam talam.


" Tak apa sayang...kan tadi yang ngadon Abi." Ujar Syaffana seraya memeluk pinggang suaminya dari belakang.


" Tetap mau makannya? " tanya Syafir tak


percaya, karna yang sering ia baca dan dengar dicerita- cerita, wanita hamil itu sering ngotot hanya mau makan apa yang sesuai dengan requesnya saja.


" Anak kita ngak egois kali kok sayang, Ila kan sudah maksa Abi nemanin bobok, masak bisa masak sambil bobok. " Ucap Syaffana lembut, teringat tadi ia bilang tak bisa tidur sendiri dikamar.


" Tadi lanjut masak kok sayang, tapi ternyata cuma dalam mimpi. " Ujar Syafir tersenyum malu.


Sedang bibi juga turut senyum, seraya menuang kuah dari panci Kemangkok besar.


" Dah beres, tinggal dihidangkan ambil piring sendiri- sendiri." Ucapnya riang, merasa pekerjaannya tidak disalahkan.


Syafir menghidang serabi dua mangkuk.


" Pake kuah kan? " tanyanya menatap istri penuh kasih.

__ADS_1


" Iya, buat mama juga sama, kami sama- sama penyuka serabi. " Jawab Syaffana yang langsung tahu kalau Syafir menghidang dua mangkok untuk dirinya dan mama Carolina.


" Abang tahu, kalian berdua mama mantu yang sudah lama saling akrab. " Ujar Syafir sedikit lemah.


" Jangan mulai cemberut ya bi, kan Umi ngenal nenek sejak lama, ujung- ujungnya


buat Abi juga. " Ucap Syaffana memerankan bayinya.


Syafir tersenyum kecut, mengingat istrinya sudah saling sayang lama dengan mama karna hubungannya dengan Elang, hati syafir masih sedikit entah gimana, karna itu sekaligus mengingatkannya, kalau ia mendapatkan Syaffana dari abangnya, gadis yang sudah dijaga oleh Elang untuk menjadi miliknya, malah ternyata jodoh Syafir.


Syafir melanjutkan menyendok kuah serabi Syaffa dan mama, ia tak ingin terlihat menyedihkan didepan Syaffana.


" Bi antar yang ini untuk mama. " pintanya


pada bibi.


" Baik Nak Syafir " Jawab bibi segera meletakkan mangkok dimampan. Kemudian mengantarnya kekamar Carolina.


Tinggallah Syafir dan Syaffana didapur.


" Suapin ya bang..." rengek Syaffa melihat suaminya mulai memotong Serabi, dan meriup- riupkan kuah biar dingin.


Syafir menarik kursi dan mendudukkan istrinya. Kemudian ia duduk dikursi satunya lagi.


" Buka mulutnya..." Pintanya menyodorkan sesendok kemulut Syaffa.


Syaffa menggeleng pelan, dan menutup rapat mulutnya.


" Aduh...Katanya tadi mau sekarang nolak.Ternyata semua perempuan hamil itu sama saja ya. " Sungut Syafir didalam hatinya. Tapi Syafir berusaha untuk tetap tersenyum.


" Kan tadi katanya serabi rasa bibir, adik pengennya yang rasa itu. " Ujar Syaffana kembali dengan merengek.


" Ma- maksudnya? " Syafir bingung tak mengerti.


U...UM...UM...Syaffana memperagakan dengan bibirnya.


Syafir menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dengan ragu ia mulai menyendok serabi itu kemulutnya sendiri, kemudian menyuapi Syaffa dengan bibirnya.


" Manis ngak? " tanya Syafir disela kegiatan makan Absurt itu.


" Maniiiiiiiiis bangat. " Jawab Syaffana seraya menarik sendok dari suami.


Kemudian giliran ia yang menyuapi Syafir.


" Ternyata manisnya menang nambah berlipat- lipat. " Balas Syafir.


Tatkala bibi sudah mendekati dapur, matanya membulat melihat pasangan itu berbagi isi mulut.

__ADS_1


" Ihh..." Gidik bi Imah yang merasa geli. Zamannya mana ada orang melakukan hal seperti itu. Perempuan itu langsung balik kanan, keinginan untuk makan serabi langsung hilang lenyap setelah menyaksikan pertunjukan gratis Syafir dan Syaffana.


" Pasangan sekarang memang aneh- aneh. " Gumamnya kemudian kembali kekamarnya.


__ADS_2