
Melelahkan sekali setelah menjadi raja dan ratu sehari semalam. Kurenggangkan badanku yang bersakitan
Usai Shalat Isya jelang pertengahan malam itu .
Rasa syukur yang begitu besar pada Allah yang maha kuasa,Yang telah menyelamatkanku dari rasa malu dan sakit hati, dengan memberikan Syafir menggantikan dia disisiku.
Tak ada satupun cacat dan cela diresepsi pernikahan kami. Bahkan begitu banyak pujian yang terdengar ditelingaku.
Music berhenti setelah jam sepuluh malam. Aku cukup puas dengan kerja bagus Tim WO yang dimiliki suamiku ini.
" Inilah pengantin paling serasi tahun ini! aku sudah pergi ketujuh pesta yang sedang berlangsung sekota ini, karna semua mengundang, dan baru inilah pasangan yang ngak bisa buat mata teralihkan dari mereka. Kencang sekali pemanis pasangan ini, hingga kita pun tak mau pergi sebelum memberikan hadiah terbaik." Ucap seorang tamu sembari memasukkan amplop tebal ke Angpao, setelah memberikan hadiah berbentuk kado. Yang dapat anggukan dari tamu yang lain.
" Syukurlah...Ternyata rezekiku dengannya juga baik. " Batinku.
Tempat tidur kami penuh dengan kado, nyaris tak ada lagi tempat untuk menebeng diatasnya. Sedangkan Angpao padat dengan Amplop tebal, tadi sebelum pergi sudah disalin Lin Dan dimasukkan kedalam lemari.
Sekarang tinggal kami berdua dikamar ini. Keheningan mengisi ruang ini.
Kutatapi cincin Berlian yang melingkar indah dijari manisku.
" Bahkan aku tak pernah bermimpi, mendapatkan cincin seindah ini sebagai maharku. " Batinku sembari mengecup cincin di jari manisku.
Kupandang wajah suamiku yang dari tadi
Sibuk berdoa. Entah apa yang ia minta pada Tuhan, hingga tak kunjung beranjak dari Sajadahnya.
Wajah suamiku Semakin menggemaskan ketika ia sedang berdoa. Bagaimana bisa ada lelaki yang lebih mulus dari wanita seperti dirinya. Tiba- tiba setan kejantanan berbisik- bisik dikupingku, menggoda iman Seorang Syaffa untuk mencoba bagaimana rasanya bibir merah muda yang berkedut- kedut cantik
melafaskan doa itu.
" Ya Tuhan...Mengapa suamiku begitu menggemaskan. Mengapa lama sekali mendoanya? Waktu cutiku tinggal dua hari lagi. .Sekarang malam pertama kami.
Aku sudah menjaga diriku selama ini, tak ingin aku menahannya lagi terlalu lama, gimana rasanya berciuman, sebagaimana yang bang Elang sering minta, tapi aku tak pernah mau memenuhinya.
Bagaimana akan memulainya, kalau ia terus berdoa seperti itu? Ih...Pengantin lain pasti memegang kepala istrinya dimalam pertama, setelah itu membaca doa. Ini dia malah sibuk berdoa sendiri! Sampai kapan? " resah hatiku
Untuk mengatasi suasana hatiku, kuturunkan kado- kado itu dan kususun disisi kanan tempat tidur. Sudah capek menyusun kado sampai selesai, tapi suamiku masih saja komat- Kamit berdoa.
Aku sudah tak sabar lagi. Kututup pintu kamar pengantinku ini. Aku mulai menghitung mundur.
5... 4... 3... Sengaja kuucapkan dengan keras, seperti kami menghitung hukuman
sendiri ketika kami melakukan kesalahan saat pendidikan dulu.
__ADS_1
Dalam hitungan kedua ia menghentikan doanya dan menatapku.
" A...ada apa? " tanyanya gugup yang membuat salivaku sampai kudegup.
Sinilah...Kadonya sudah kuamankan, tubuhku penat- penat, bisa mintak tolong dipijat sebentar? " Kataku membuat alasan. Lalu aku berbaring telentang ditempat tidur, dengan menyusun dua bantal agar posisi kepalaku lebih tinggi.
Kulihat ia tersenyum, dengan kaki gemetar, ia melangkah menghampiriku ditempat tidur. Begitu ia duduk disisiku,
Kutatapi matanya dengan intens. Ia menundukkan pandangannya, begitu beradu dengan seringai centilku.
Hap...Bagai cicak melahap nyamuk
secepat kilat aku duduk dan menangkap bibir merah delima suamiku. Aku menggigit dan mengesapnya bagai Singa
betina yang tak makan seminggu, kumakan bibirnya,hingga tubuh itu gemetaran, keringat dinginnya bercucuran. Walau begitu, ia membalasnya, ia menekan tengkukku dengan tangan kanannya, untuk memperdalam ciuman balasan untukku.
Lutut bergoyangnyapun semakin berkurang.
Nafas kami tersegal- segal, udarapun menipis, baru kami saling melepas pagutan bibir manis itu.
Aku tak mau melepaskannya, kutatap matanya dalam- dalam. Ia sudah berani menentang mataku. Detik berikutnya Kubuka kancing piyama tidurnya.
Ia pun menatapku dengan tatapan curiga.
" Jangan Curiga begitu...Aku hanya tak mau kau kepanasan dan keringatan begini. Sekarang tolong bukakan bajuku, lalu pijiti aku! " Ujarku kembali mempermainkan perasaannya dengan menyerigai licik.
Kulihat Syafir menarik nafas lega, aku tersenyum semanis mungkin. Setelah ia hanya bersinglet saja, akupun melucuti singletnya. Ia menutup dada bidangnya yang bebas bulu itu dengan tangannya, karna canggung dengan tatapanku.
Kutarik lembut kedua tangannya dan kuarahkan dadaku. Dengan gugup, ia membuka satu persatu kancing itu.
Sekarang kami impas, Sama - sama seperti ratu dan raja dizaman primitif.
Aku mulai berbaring, dengan menarik kedua tangannya, hingga ia terjatuh diatasku.
Dada kami saling berhimpitan. Bunyi gendrang perang berkecamuk didalam dada kami berdua.
" Ya Tuhan.... Apakah istriku sudah biasa melakukan ini? Mungkinkah pria itu sudah menyudahimu? " Gumamnya yang membuat hatiku panas.
" Apa? Kau mengira aku sudah sering bercinta? Mungin iya, bahkan sekarang aku sedang mengandung anak pria itu! sekarang aku sedang mengidam, aku tidak bisa tidak mendapatkannya malam ini, Lusa aku balik tugas, aku tak mungkin memintanya pada orang lain! Lebih baik aku memintanya padamu? Bukankah kau sudah berani menikahiku? Maka harus berani memenuhi hasrat ku. " Ujarku dengan kegusaran yang besar, hingga segera membuka sendiri sisa terakhir penutup tubuhku.
Sekarang aku menarik tangannya, untuk bermain didua gunung saljuku.
Aku sungguh marah dengan tuduhan itu, tak peduli ia yang bergetar, aku mulai mengelus pisang panjang dibawah sana.
__ADS_1
Kucoba menggenggam benda tumpul yang mengeras itu, hatiku sebenarnya bergidik ngeri, genggaman tanganku tak bisa bertemu karna besarnya benda itu. tapi kekesalanku menepis semua rasa takutku.
Ketika ia masih gemetaran didadaku, aku kembali ******* bibirnya, turun keleher, menjilatinya bagai induk kucing memandikan anaknya.
Aku tidak menggigit leher itu, karna tak mau menodai leher bersih suamiku
Kuturunkan ciumanku hingga singgah didadanya, disanalah aku menggila membuat banyak stempel.
Tangan kiri ku tetap saja bergelayut disenjata rahasianya, yang sekarang sudah nyata didepan mataku.
Ia menggelinjang menahan hasrat, aku tak beri kendor, aku terus mencari titik lemah ditubuhnya, hingga akhirnya pertahanannya roboh. Ia mulai melawanku, mengesap dan menghisap gunung saljuku.
" Sa....sayang...Ini kok belum ada pentilnya? " tanyanya polos dan bergetar.
" Buatlah...biar nanti anakku bisa menyusu dengan senang, tugasmu membuat pentilnya! " Bisikku penuh tekanan dikupingnya.
Lebih setengah jam ia mengusap seluruh tubuhku, ia memperlakukan semuanya sangat lembut, hingga aku kehilangan kemarahan ku. Aku semakin resah dan gelisah dibawah kungkungannya.
Kami kembali menyatukan bibir kami, sebelum ia menatapku dengan tatapan penuh damba.
" Apa Boleh? " tanyanya lembut.
" Aku tersenyum sembari mengangguk.
Sudah beberapa kali ia mengarahkan pisang tanduk yang sudah dikubak itu.
Hingga keringatnya menitik, benda itu belum juga berhasil menembus pintu Syurganya.
" Sa...mengapa susah sa...Katamu kau tidak perawan lagi. Kenapa kecil dan tak mau masuk?
" Karna kau tadi belum baca doa! " tuduhku.
" Sudah kok... didalam hati." katanya seperti anak kecil yang polos.
" Itu karna ngak kuat bacanya sayang...Kalau kau bacanya kuat, tentu itu juga akan kuat! " kataku seperti menipu anak TK.
Memang seperti anak TK, dengan patuh ia melafaskan doa itu dengan Kuat.
Aku tersenyum geli, hingga kebelet pipis.
" Bang... tunggu bentar ya..Kebelet.." Ucapku dengan senyum dikulum.
Hhem...banyak tamu akhir pekan, Autor gantung dulu ya...
__ADS_1