
Hari ini berlalu tidak begitu buruk bagi Suci. Setidaknya bayangan akan mendapat penolakan keras dari keluarga suami tidak terjadi.
Suci menarik nafas lega. Ternyata mertuanya tidak menghujatnya, seperti menantu yang tak diinginkan dalam sinetron- sinetron yang sering ia tonton.
Suci juga berkali- kali mengucap syukur dihatinya, karna perempuan yang bernama Syaffana itu juga sudah menikah malam itu juga. Setidaknya, ancaman CLBK tidak akan menghantui rumah tangga suci kedepannya. Itu kesimpulan sementara dihati gadis itu.
Menikah dengan lelaki yang tidak menyukai kita dengan memaksa sang pria seperti ini, sudah jelas akan membuat suci harus sadar diri, bahwa tidak akan mudah baginya meraih hati Elang. Jangankan mendapatkan hatinya, menghentikan kemarahannya saja , itu akan membutuhkan proses.
Suci termenung ketika matahari akan menyembunyikan wajahnya diufuk barat.
Disinilah hatinya mulai gundah. Memikirkan akan berhadapan dengan Elang dikamar tidur, karna tidak mungkin juga mereka tidur dengan kamar terpisah dirumah mertuanya ini. Mau tidak mau ia harus siap menghadapi tatapan sinis sang suami.
Kemudian sebuah suara membuyarkan lamunan panjangnya.
" Jangan bermenung suci...Bukankah adik sendiri yang merencanakan pernikahan jebakan ini? Apapun yang ia katakan, terimalah dengan hati yang lapang. Kami bisa menerimamu saja itu karna Syaffa calon adik ipar sudah mendapatkan pengantin penggantinya malam itu. Andai wanita itu gagal nikah dan tenggelam dalam kesedihan, akupun pasti ikut mengutukimu, bukan hanya Elang saja! " Ujar Mia menyintak hati Suci.
" Ma...maaf kak...Aku mungkin terlalu egois.." Ucap suci terbata dengan pandangan memelas.
Ia cukup terkejut, mendapat sentilan dan teguran sekeras ini.
" Kakak tidak mengatakan kau Egois Suci..Tapi coba kalau kejadian ini terjadi pada dirimu sendiri, Calon suami yang jelas kekasihmu sendiri, pergi menikahi wanita lain dimalam pernikahanmu, Apa yang akan kau lakukan? Tidakkah kau akan gila karnanya? "
Suci tercekat, Airmatanya mengalir deras. Mau berkatapun, seakan semua kata tertelan kedalam tenggorokannya, karna apa yang dikatakan Mia tak bisa disangkal.
" Apapun alasanmu menikahi adikku, maka jangan sampai kau menjadikannya sebagai pelepas obsesimu saja! Cintai dia dengan seluruh kekuatan yang kau punya. Jangan jadikan kekuasaan keluargamu untuk mengikatnya, tapi mantapkan hatimu untuk meraih cintanya. Ia sudah mengorbankan Cintanya, hanya untuk memenuhi keinginanmu dan keluargamu. Kalau ia marah itu hal yang wajar, bersabarlah menghadapinya. Apa kau dengar Itu? " Ucap Mia mengintimidasi.
" Ya...kak...Suci akan meraihnya dengan Cinta.." Gumam suci lirih, nyaris tenggelam dalam Isak tangisnya.
Mia menatap Suci dalam- dalam, berenang leluasa kedalam telaga bening yang mengalir deras itu.
" Maaf..." Ucapnya lagi, kemudian menarik nafas panjang, lalu menatap Suci lebih dalam.
" Aku tidak bermaksud sengaja membuatmu menangis. Hanya ingin menyampaikan pandangan sebagai sesama perempuan. Bagaimanapun juga kau dengan sengaja sudah membuat perempuan lain dalam masalah.
Sekarang hadapi suamimu dengan tanggung jawab, karna pada dasarnya semua anak lelaki dirumah ini orang yang
baik, walau Elang membencimu saat ini, ia takkan pernah mengasarimu."
" Ya kak...aku tahu, dan suci akan mendengarkanmu." Jawab Suci lirih.
Suci menatap Mia penuh penyesalan, kemudian pamit ingin berlalu.
Baru beberapa langkah suci berjalan,
Mia menarik suci kembali, kemudian Menepuk pundak gadis itu.
__ADS_1
" Aku juga tahu kau tidak hamil Suci..Ini cuma sandiwaramu untuk menipu keluargamu dan adik iparku. Tapi tenanglah aku akan tutup mulut, asal kau dapat pastikan, jika kau dan keluargamu akan memperlakukan adik iparku dengan baik." Bisik Mia sembari meremas lengan Suci.
" Ya Ampun Dari mana kak Mia tahu aku pura- pura hamil untuk memaksa papa dan bang Elang. " tanya hati suci.
Ia merasa Mia lebih menyeramkan dari suaminya, tidak mungkin suaminya cerita ,karna dari tadi Mia hanya bersama
Suci dan mama Karolina. Dan ia tahu Elang bukanlah seorang penggosip.
" Apa ia tabib cinta?
" Baik kak...Aku berjanji...Aku akan menembus dosaku ini. Mulai hari ini, aku takkan menggunakan nama ayahku lagi.
Aku hanya akan menjadi diriku sendiri
untuk mencinta. " Ucap Suci lirih,
kemudian ia megusap airmatanya dengan lengannya.
" Jangan tersinggung dengan semua ucapanku, aku tahu kita sama- sama menantu dikeluarga ini. Aku hanya ingin memastikan semua adik- adik bahagia.
Kalau kau bisa membahagiakan Elang, barulah aku mengacungkan jempol padamu. " Ujar Mia mulai melembut
dan menyunggingkan senyuman.
" Insya Allah kak...Semoga ia akhirnya menerimaku, akupun takkan menyia- nyiakan cintanya. " Ucap Suci dengan membalas senyum Mia.
*****
Usai makan malam dan sholat berjamaah
yang diImami oleh Elang atas permintaan
mama Carolina. Mia mendapat telfon dari suaminya, hingga iapun segera membawa telfonnya menuju kamar mereka dilantai atas. Karna Suami ingin menyapa baby Zia.
" Ajak istrimu istirahat dikamar Lang.. Kasihan ia sudah mengantuk, dan udara sangat dingin. " pinta Carolina pada putra tengahnya.
" Ia tidak akan merasa dingin ma, karna udara disana jauh lebih dingin dari saat hujan badai disini. " sanggah Elang kemudian pergi kekamar sendiri tanpa menatap suci.
Karolina hanya menarik nafas kasar, melihat penolakan putranya, karna mengerti perasaan Elang, ia tak bisa berbuat banyak lagi.
" Pergilah tidur nak..Ikuti suamimu..." Ucap mama lembut pada Suci.
Sucipun mengikuti suaminya, walau ia harus menghadapi tatapan tajam dari suami. Ia kuatkan hatinya.
Tak ada suara lagi yang keluar dari mulut Elang, ia mengambil bantal dan selimut, lalu tidur di karpet. Sucipun melakukan hal yang sama, ia mengambil bantal dan tidur didekat Elang, walau lelaki itu tak menatapnya sedikitpun.
__ADS_1
******
Sementara Syafir dan Syaffana menginap
disebuah rumah makan yang diatasnya penginapan.
" Maafkan Abang ya cantik! Karna Abang salah omong sama pak Jorong, kita jadi tak leluasa bersama dikontrakkan itu lagi . " Ucap syafir sembari mengecup pipi Syaffana.
Syaffa menatap Syafir seperti ingin menelannya bulat- bulat
" Sudah terlanjur...Lain kali jangan pernah
menutupi hubungan kita. " Balas Syaffa sembari meremas rambut Syafir.
" Ya...Lain kali Abang akan diam, biar adik
duluan yang beraksi. " ucap Syafir.
Syaffa tersenyum mendengar kata aksi yang terucap dari bibir Syafir. Iapun menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua sampai leher, karna dingin, Lalu tangan nakalnya mulai beraksi mengusap tubuh bawah suami dibalik selimut.
Syafir yang kedinginan, merasakan hangat karna sentuhan Syaffa. Iapun tak dapat mengabaikan aksi dibalik selimut tebal itu. Syafir mulai merangkak diatas tubuh seksi bidadari dalam selimutnya. Setelah saling melucuti, merekapun mulai main serang - serangan.Tak ada yang bisa mengintip, saat Syafir mulai menembus benteng Syaffa.
mengayunkan pedang panjangnya dengan garang , hingga lagu kemenangan menggema dari bibir mereka berdua, saat bendera mereka berdua berkibar dipuncak menara.
" Masih sakit sayang? " tanya Syafir sembari meniupi bekas pedang panjang nya.
Syaffa menatap suaminya dengan intim, lalu tersenyum padanya.
" Sakit! " Ucap Syaffa memelas.
" Benarkah? Ya Ampun Maaf..." Sesal Syafir.
" Sakit sekali kalau sampai ngak dapat lagi." Ucap Syaffa sembari mengecup bibir suami.
" Ahhhh...Sayang..." Lenguh Syafir seperti kerbau disembelih, ketika Syaffa mengalih kendali.
Detik berikutnya desas- desus dibalik selimut itu bergema lagi dibawah kendali istri. Dinginnya malam membuat Syafir lupa ajaran Guru cintanya ustadz Zaki.
Ia terlena dengan permainan istrinya,
tenggelam dalam goa cinta yang lembab dan hangat. Kekenyangan melahap kedua pepaya gantung yang ranum itu
sembari meliuk- liuk dengan senam irama dibalik selimut. Keringat mereka mengucur, hati, jiwa dan tubuh mereka melebur, terbang keNirwana.
" Sayang...Besok Abang pulang ya..." Ucap Syafir setelah pertarungan itu.
__ADS_1
" Kan ngak kerja, disini Aja ya...Plis.... " rengek Syaffa.