
Dengan terpaksa, Aku memakai kembali make up tipis yang sudah lama tak pernah kugunakan. Dengan mengenakan kemeja panjang putih bersih. Celana dasar warna hitam, ditambah Wig dengan potongan rambut sebahu, untuk menambah kesan feminim penampilanku. Syafir tidak mau membuat marah ayah mempelai wanita atau sampai mempermasalahkan diriku sebagai perias.
" Aduh...Semoga Tuhan tidak membuat ku kehilangan jodoh hanya karna penampilanku malam ini. Lagian bikin ribet aja ni orang! Ayahnya anti ! Anaknya malah ngeyel! " batinku sembari menatap wajah didepan cermin.
" Syafir! Cepat dong! ntar mempelainya marah kau terlambat merias. Dijalan butuh 15 menit, Kau ini lama sekali! " Teriak Linlin dari ruang depan.
" Ayo kita berangkat! Jangan teriak- teriak terus, ntar urat lehermu besar, mau? " tanyaku terburu- buru menemui
Lilian sahabat sekaligus asisten itu.
" Kita naik motor saja! Motor masih diluar, ntar pake mobil makin lama! " Titah Lin bak ia Bos sebenarnya.
Aku berjalan duluan, begitu mendengar perintah asisten yang sekarang berasa naik jabatan itu.
Sebelum Menaiki motor, Lin menatap Syafir.
Aw.....!!!" pekik Linlin dengan mata melotot.
" Ada apa? Kau kejepit kala jengking? " tanyaku dengan dahi mengernyit.
" Apa kau sadar apa yang kau pakai Syafir? tanya Linlin dengan mata melotot.
" Sadar kok ..Kemeja putih celana dasar Black! Ini kostum Ujian, sekarangkan aku mau ujian, ngedandani cewek centil itu. Ada apa? katanya mau cepat, Ayo jalan!" Ucapku seraya menarik tangan Linlin yang masih terpaku menatapiku.
" Kamu yang bawa Lin... ntar Wig ku rusak." pintaku pada Lin.
" Iya! Sini aku yang bawa! Kalau Wigmu sampai rusak apalagi copot, ntar dikira kamu yang bakalan mau dikawinin! " Ujar Lin sembari menarik kasar kunci motor dari tanganku.
" Ih...Sowot Aja dari tadi, lagi PMS ya? " Ejekku.
" Bukannya lagi PMS , tapi kamunya yang bikin aku Sport jantung terus! " Ujarnya. Kemudian motor melaju menuju lokasi pesta. Linlin masih menyerepet sepanjang jalan, tapi aku tak dengar jelas apa yang dia ributkan.
Aku hanya senyum- senyum saja dibelakang tanpa merasa bersalah apapun.
Kami sampai dilokasi begitu Arloji ditanganku menunjukkan pukul 19 : 20 WIB.
Orang tua dan muda sudah ramai ditempat itu. Para ibu - ibu sibuk menyiapkan hidangan untuk perjamuan usai nikah.
Dianjuang ( Bagian depan rumah yang sengaja ditinggikan tempat tamat kaji dan pernikahan adat daerah sini ), sudah mulai berdatangan para tetua. Disana wali nikah dan mamak rumah menyambut pak penghulu.
" Untung belum datang mempelai pria dengan petugas KUA, kalau udah aku pasti dikira tidak frofesional oleh Syaffana. " Batinku terlonjak senang setelah memeriksa mimbar pernikahan itu belum lengkap terisi, dan belum ada pria muda dan tampan duduk disana.
Sampai didepan pintu, kulihat Syaffana sedang duduk gelisah didepan meja rias dengan mengenakan kimono berwarna Biru muda. Rambutnya digulung dengan handuk mini ( Cara tradisional mengeringkan rambut ) Begitu ia mengalihkan badannya menghadap pada
kami yang mengucap salam, ia langsung berdiri dan menyambutku dan Linlin.
Baru saja Fana ingin memelukku, entah karna apa. Linlin langsung mencegatnya.
" Stop! Ingat perjanjiannya, ngak boleh pegang- pegang selain tangan! " Ujar Linlin yang membuat bibir merah delima itu mengerucut. Lalu ia menarik tanganku
menuju kursi riasnya.
__ADS_1
" Cepat dandani aku! siapa tahu ia langsung tiba beriringan dengan pegawai
KUA. " Katanya dengan tersenyum tipis, entah mengapa aku merasakan ada kekhawatiran besar dari sorot matanya.
Tapi siapakah seorang Syafir? mana berani mempertanyakannya.
Aku memulai pekerjaanku, tanpa bicara. Linlin membantuku mengeluarkan semua yang kubutuhkan dari kotak make Up brand ternama yang kupakai. Membantu menyimpan yang sudah selesai digunakan. Hingga hampir satu jam aku memoles wajah cantik Syaffana, tak kunjung juga ada panggilan.
Aku tak peduli dengan perjanjian yang dibuat Linlin. Ketika begitu lama pengantin wanita dipanggil, aku sengaja berlama- lama menatap wajahnya.
Ketika memakaikan kebaya nikahnya, aku kembali berdebar, karna tak sengaja Syaffana menggenggam tanganku yang menempel dipundaknya.
" Sini aku yang kancingkan! ntar pengantin prianya gagalin nikah denganmu, melihat kau begitu mesra dengan periasmu ! " Ujar Linlin sembari menyerobot ditengah kami.
Aku terpaksa menyingkir dan duduk diranjang pengantin itu sambil menahan siliva menatap keanggunan Syaffana hasil polesanku.
Setelah Semua terpakai dengan sempurna. Tukang foto yang masih dari IO ku datang melakukan tugasnya.
Semula Fana meminta Foto dengan Lin, lalu minta berfoto denganku. Tapi entah mengapa Linlin tak protes lagi, seperti terhipnotis, ia hanya tersenyum meram melek melihat kami yang berfhoto mesra dengan berbagai gaya.
" Kalau calon suamiku tak jadi datang. Siapa yang mau menikahiku untuk menutupi Maluku ya Syafir? " tanyanya dengan berbisik ketika kami berfhoto ria disisi tempat tidur pengantinnya.
Gemuruh didadaku makin berdentuman mendengar penuturan yang tidak masuk dilogikaku itu.
Aku melepaskan pegangannya dipinggangku.
" Stop ! Udah Fhotonya! perintahku pada Hayat, fhotografer andalan WOku.
Aku melihat wajahnya mengecil. Mata indahnya berubah jadi sayu. Bibir manis yang sudah kupoles dengan lips berwarna gairah itu, mengerut.
Malam ini, aku tak melihat sedikitpun lagi keberaniannya yang waktu itu ia perlihatkan padaku dan teman- teman ketika kami diIntrogasi dikantornya.
" Siapa lelaki itu Syaffana? " tanyaku sembari mengepalkan tinju.
" Sa...sampai...menit ini dia belum menelfonku, tidak membalas pesanku, sudah kutelfon mama mertua, disana malah terdengar heboh. Camerku menangis saja Syafir. Katanya putranya belum bisa digubungi.
Siapa Syaffana? " kejarku.
" E...Elang.." ucapnya gagap.
Ser...darah didadaku rasanya terbang kelangit. Sakit hati dan kecewa menyayat- nyayat hati dan jantungku.
Kuperiksa saku celanaku, untuk mencari telfon genggamku.
" Tidak mungkin! Tidak mungkin dia. Mana mungkin mama tidak memberi tahuku kalau bang Elang menikah, pasti ada Elang yang lain, Elang didunia kan tidak satu. " Hatiku menyangkal fikiranku.
" HP ku ketinggalan Lin...Ternyata tadi aku lupa memasukkan kekantong pas mau berangkat. " Ucapku lirih, aku menggaruk kepalaku yang terasa gatal dengan tiba- tiba. Hingga tak sengaja Wigku copot.
" Mana ketehek...Salah sendiri berdandan lama! " Ujarnya cuek.
Sebelum aku memakai Wig ku lagi, terdengar kasak - kusuk dari luar.
__ADS_1
" Syaffana! Gimana ini? pak penghulu dan pegawai KUA sudah capek menunggu, kapan rombongan mertua dan calon suamimu datang? Nanti tak sabar semua pada bubar. Kemana ayah bawa muka ini? " tanya pak Islahuddin.
" Iya Fana, Jangan buat malu ayah dan pamanmu ini. " Timpal sang paman didepan pintu.
" Anu...ayah...ka..."
" Kenapa kelabakan gitu He! Cepat telfon! ayah minta sama mereka perpanjangan waktu setengah jam lagi! Kemana sih mereka, bikin jantungku mau meledak saja.. " Geram Sang Ayah kemudian melangkah kasar menuju tempat pernikahan diikuti sang paman.
Syaffana mengambil telfon genggamnya, dengan bergetar , Ia membuat panggilan. Setelah puluhan kali membuat
panggilan, tidak satu juapun yang terhubung. Iapun mulai menangis.
Melihat wajah bersimbah airmata itu aku taktahan. Tanpa peduli penampilanku,
Aku berjalan melewati orang- orang yang menatapku dengan seksama. Aku melangkah pasti menuju mimbar pernikahan itu.
" Aku mau menggantikan pengantin prianya kalau bapak setuju." ujarku tegas menyodorkan diri kedekat mimbar pernikahan Bripka Syaffana itu.
Bukankah kamu? " Ucapnya Pak Islahuddin sang wali nikah dengan tatapan sarkas.
Semua orang menatap aneh padaku, tapi aku tak peduli. Kehebohan kembali terdengar.
" Tunggu sebentar pak! aku perbaiki penampilanku dulu! " Ujarku kemudian melangkah menuju kamar pengantin.
Semua hadirin yang berkumpul untuk menyaksikan pernikahan ini menarik nafas.
" Entah apa yang akan terjadi setelah ini? " batin mereka.
" Mana mungkin putriku mau menikah denganmu! " kata bapak itu, membuat langkahku terhenti.
" Iya ya...Apa Syaffana mau menikah denganku. Dia memang mau digantikan pengantinnya, tapi tentu dengan lelaki jantan, tampan dan sepadan." Batinku.
" Aku mau menikah dengannya Ayah...
aku mau!. " Ucap pengantin cantik itu melongok didepan pintu.
Semua orang kembali bernafas. Mereka akhirnya menghempaskan nafas mereka dengan kasar.
" Syukurlah..." Ucap mereka kemudian
Gimana? Udah mampir?
Mampir kasih jejak ya yang...
Jangan lupa
Like
Fote
Komen dan faforitkan Cerita ini.
__ADS_1