
Walau Syaffana nampak telah menerima adik tak terduganya. Namun tak dapat dipungkiri, luka dihati kecilnya tetap ada. Bahkan wanita yang sedang hamil muda itu masih terdiam dan tercenung setelah sampai dirumah mama mertua.
Syafir mengantar istrinya kekamar, setelah mereka mengecek mama Carolina dikamarnya.
Sedangkan Carolina, yang melihat menantu datang dengan ekspresi yang berbeda, dibuat bingung. Tapi orang tua itu tidak mau membuat ibu dan calon cucunya makin terbebani dengan kecerewetannya. Carolina menutup mulutnya, walau hatinya penasaran.
Syafir yang mengerti membaca cahaya muka kedua perempuan tercintanya, berusaha setenang mungkin." Sayang, Abang ketempat mama lagi sebentar ya. " pinta Syafir seraya mengecup kening istri yang sudah dibaringkan ditempat tidur.
Syaffana hanya menjawab dengan anggukan. Sedang Syafir membalas anggukan itu dengan senyuman yang lembut, berharap bisa jadi obat penawar bagi istri.
Syafir berjalan menuju kamar Carolina.
" Mama jangan tersinggung dengan diamnya dia ya, ini tidak ada hubungannya dengan aku , bibi Rahmi atau mama. Setelah dari bibi kami mampir ketempat ayah, dan masalahnya disitu. " Jelas Syafir.
Carolina menatap Syafir sejenak, lalu mengangguk, kalau hubungannya dengan
urusan Syaffana dengan ayahnya, ia tak ingin ikut campur.
" Baiklah , pergi temani istrimu cepat, jangan membiarkannya termenung sendiri, tak baik bagi orang yang lagi begitu bermenung. " Ujar mama mengibaskan tangannya.
Syafir mengecup kening Carolina yang sedang bersandar santai dikepala ranjang.
" Sana cepat, mama baik kok! " Usir Carolina, melihat Syafir masih menatapinya.
Syafir tersenyum dan mengangguk patuh, kemudian melangkah besar menuju kamar mereka yang letaknya paling belakang.
Syafir tiba dikamar dan mendapatkan istrinya sedang tersedu- sedu.
Syafir menghambur ketempat tidur, Berbaring disisi Syaffa, mengusap airmatanya, meraih puncuk kepala perempuan itu dan mengecupinya.
" Sayang, menangis tak apa, tapi jangan sampe pusing ya, Abang tak mau adik sampai sakit, ingat! Ada dia juga yang turut terpengaruh dengan kesedihan uminya. " ucap syafir lembut mengingatkan istrinya, beralih menyentuh perut Syaffa yang masih rata.
Syaffana membenamkan tubuhnya dalam pelukan Syafir. Lama mereka saling berpelukan. Saling mencurahkan dan menyalurkan kasih melalui dekapan erat. " Untuk kita, Syaffa tak mau ada hubungan dibelakang seperti yang dialami bunda. " Ucap Syaffana mengurai pelukannya, melongok kewajah suami dan menatapnya dalam- dalam.
Syafir kembali mengecup puncuk kepala Syaffana." Untuk kita semoga tiada takdir seperti itu sayang, sebab takdir semua manusia berbeda- beda. Urusan Cinta, Abang serahkan hanya pada Allah dan dirimu karenaNya. Jangan sedih lagi ya, takkan ada yang lain dihati banci Kawemu ini. " Ujar Syafir sembari
menggenggam tangan Syaffana.
Syaffa menarik tangan Syafir kebibirnya, mencium keduanya lalu menggigitnya lembut. " tidak menerima penghianatan dalam bentuk apapun! " Balasnya dengan tatapan tajam seakan ingin menerobos jantung Syafir.
__ADS_1
Syafir menarik Syaffana dan mendudukkannya dipangkuannya. " Sudahlah, jangan sedih memikirkan yang tidak- tidak. Ayah juga tidak pernah mengkhianati bunda kalau ceritanya begitu, takdirlah yang memisahkan mereka sementara sayang...Setelah ayah
sadar ia hanya mengingat bunda dan dirimu saja. Sampai bunda sudah lama tiada ia masih setia hingga hari ini, tidakkah Syaffana lihat betapa setianya ayah? Kalau ayah seorang mata keranjang, sudah sepuluh tahun lebih ditinggal bunda, mana ia akan sabar sendiri, jika cintanya tidak begitu besar?. Ustadz Tafa saja belum tiga bulan istrinya kembali, sudah menikah lagi dengan anak gadis, tapi ayah
tidak begitu, tidak pernah terdengar isu ayah menyukai siapapun. "
Syaffa terdiam sejenak. Bagaimana Abang tahu ustadz Tafa menikahi anak gadis?" tanya Syaffana yang tak mengenali yang diceritakan suaminya. Syaffa memang tidak tahu banyak dengan gosip didaerahnya, karna selama ini ia hanya sibuk dengan dinasnya.
" Abang yang mengatur pestanya dengan perempuan pengganti itu. Ia bahkan baru merasa malu dan menyesal, setelah akan
dihias jadi pengantin. " Ujar Syafir.
He...He...Dosa lho gosipin Klien sendiri. " Goda Syaffana yang moodnya sudah berubah.
Syafir melahap bibir yang sudah berani menggodanya itu. Mengesap dan merematnya sampai nafas mereka tersegal- segal, barulah ia melepas pagutan itu. Syafir menyentil bibir yang sudah membengkak akibat perbuatannya itu. " Kalau istri sudah baikan, Abang akan memilih main iya- iya ketimbang bergosip yang katanya dosa." Bisik Syafir
mulai melepaskan resleting blus Syaffana.
" Kan sudah jam tiga, sebentar lagi Ashar. " Syaffana mencoba mengelak.
" Tidak menerima penolakan! " Balas Syafir menirukan nada bicara Syaffana.
" Tidak akan lama, apalagi pemanasannya hot, paling cuma sepuluh menit sudah meledak, kan ini sudah kepenuhan. " Ucap syafir lembut mulai melancarkan serangan pemanasan.
Syaffana tak mau tinggal diam, ia beriya- iya pula meraih dan memainkan apa saja yang dipandangnya menggoda dari suami. Pemanasan tiga puluh menit membuat keduanya benar- benar siap untuk melenggang lenggok. Begitu magnet batang itu ditancapkan, langsung melengket dan mengikat kutup lawannya. Tidak terlalu lama berpacu, kedua insan itu sudah mengerang bersama.
Keduanya tersenyum bahagia setelah pencapaian itu. Seperti perkiraan Syafir, Azan Ashar berkumandang setelah itu. Sisa selai dibersihkan oleh Syafir dari dirinya dan pasangannya dengan tisu. Kemudian pria itu menarik sarung untuk menutupi tubuhnya, lalu mencari Bokser yang sudah terbang entah kemana.
Setelah memakai Bokser dan handuk , ia mengumpulkan pakaian kotor dan memasukkan keranjang pakaian kotor disudut ruangan.
Syaffana masih bergolek manja dibalik selimut , menyaksikan kelincahan suaminya dalam berkemas.
Masih menikmati sisa- sisa keindahan tadi sembari menatap langit- langit kamar. Syaffana merasakan tubuhnya melayang. Syafir menggendongnya ala bridal style. Syaffa mengalungkan tangannya dileher Syafir seraya menatapi
suaminya dengan kasih.
" Hey...jangan menggoda lagi, waktu Ashar singkat sekali. " Bisik Syafir.
Syaffa menggeleng dengan pipi memerah karna malu.
__ADS_1
***
Sementara Dikota S. Elang dan Suci juga sudah makin lengket. Tapi bedanya sucilah yang memanjakan Elang.
" Mandinya dicampur air hangat ya, zaman sekarang ngak boleh yang serba mentah. " pinta Elang.
" Oke' Sayang, sudah siap kok." Jawab Suci kemudian menutup tubuh suaminya dengan kain sarung, untuk kekamar mandi.
Berikutnya terdengar gemericik air dikamar mandi rumah dinas Elang.
" Nanti malam lagi ya, kan besok Abang ada perjalanan dinas seminggu ke Ibukota dengan pak wali. " Ujar Elang.
" Astaga, berarti aku ditinggal nih. " keluh suci dalam hati.
" Kenapa? capek ya? " tanya Elang mengernyit melihat istrinya diam sembari mengeringkan tubuh Elang dengan handuk.
" Oke sayang, sampai pagi! I am for you ( Aku untukmu ). " Balas Suci setengah bersorak.
Elang tersenyum senang. " Gitu dong! Makanya kalau berani mendekati Elang, harus siap menjadi mangsa setiap siburung kelaparan. " Seringai Elang.
" Mudah- mudahan laparnya cuma disini. " Batin Suci.
" Cepat wudhu, Waktunya sudah mepet! " Titah Elang melihat suci masih bermenung.
" Eh...Ya, Wait momen ( tunggu sebentar )" Balas Suci segera berwudhu.
Kedua pasangan suami istri itu sama- sama berjamaah ditempat dan daerah yang berbeda. Mereka sama- sama menyerahkan diri pada Tuhan pemilik hati manusia. Berharap kedepannya cinta
mereka akan semakin indah.
Terserah siapa yang mencintai dan dicintai. Yang jelas, ikatan pernikahan akan menunjukkan kekuatannya mengikat dua hati menjadi satu.
Intinya dalam sebuah hubungan harus ada tarik ulur, jika seorang berang, yang satu harus tenang. Andai yang satu lambek, pasangannya harus tegas, Bila satu pelan, kasihnya lebih gesit, tidak boleh saling merendahkan, jadilah saling melengkapi kekurangan masing- masing.
Mudah- mudahan langgeng.
Pilih dicintai atau mencintai?
Mhem...Bersambung.
__ADS_1