Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Salah Tempat Cari Mangsa.


__ADS_3

Kadang manusia karna menginginkan sesuatuyang hanya berupa pakaian dunia terlupa kalau masih ada Keajaiban Illahi yang tidak tertandingi oleh pengetahuan apapun dimuka bumi. Manusia sering membanggakan hasil karyanya, kejayaan, keturunan ataupun Kekuatannya. Sering lupa bahwa semua itu mereka dapat hanya berupa titipan secuil saja bagi yang Maha Memiliki.


Seperti juga peristiwa apa yang akan terjadi dimasa mendatang tiada yang bisa menaksir sebenarnya. Walau kadang kita hamba merasa hebat begitu perkiraan kita menjadi kenyataan, padahal itu hanyalah kebetulan semata. Manusia tidak diberi pengetahuan lebih dari setetes air laut yang bisa menempel diujung jari telunjuk setelah jari itu kita celupkan bahkan kedasar Palung Mariana sekalipun.


Berbeda dengan Syafir yang menyadari kalau ia hanyalah seorang musyafir diatas bumi ini, yang harus berjuang keras mengumpulkan bekal untuk tempat kembali yang paling abadi.Sebab itulah tidak sulit baginya untuk mengakui keseluruhan yang ia miliki hanyalah titipan sementara dari yang Kuasa, baik itu harta, istri yang sangat cantik dan anaknya yang lima, dari dalam lubuk hatinya yang terdalam. Sebab itulah Syafir tidak pernah berlebihan memuja semua yang ia punya melebihi dari Sang pemilik aslinya.


Syafir juga tidak pernah pelit membagi rezekinya pada yang berhak untuk tempat berbagi. Namun kalau urusan anak, tentu Syafir juga sadar bukan dirinya sendiri yang bertanggung jawab pada Titipan Illahi yang Maha indah ini, untuk itulah ia tidak mau memaksa istrinya untuk ikhlas memberikan permintaan sang Abang. Keputusan itu ia serahkan pada sang istri sembari terus minta petunjuk melalui istikharah.


Syukurlah apa yang Syafir yakini sejak dulu dihatinya tidak begitu kuat.Juga prinsip hidup yang selalu bersikap tenang dalam menghadapi berbagai situasi dan rasa percaya yang besar dan penuh jika Allah akan sentiasa memberikan pertolongan disaat yang tepat pada hambanya yang merasa yakin akan Kebesaran sang Khalik selaku Sutradara terhebat dalam kehidupan mahluk. Satu hal saja yang selalu Syafir ingatkan terus pada dirinya, istri dan anak - anaknya agar tidak pernah bersikap sombong dengan apa yang dimiliki, karna kesombongan adalah musuh terbesar seorang insan yang paling nyata.


Malam ini usai menyusukan bayi kembar mereka, Syaffana mengajak Syafir untuk memeriksa anak- anak mereka dikamar masing- masing tanpa lupa mendoakan mereka agar selalu tumbuh menjadi anak yang Sholeh dan Sholehah yang akan menjadi penerang jalan menuju Syurga dunia dan akhirat pasangan itu.Mereka sadar tidak akan mudah membesarkan dan mendidik kelima buah hati yang paling tua baru berumur 6 tahun itu.Tapi sebagai orang tua mereka sangat bersyukur bisa diberi kepercayaan sebesar ini dari Allah memikul tanggung jawab besar ini. Mereka berjanji dalam hati akanmenjalani tugas berat ini dengan sebaik mungkin, bukan hanya sekedar melepas tanggung jawab belaka.


Ketika Syafir melongok kelambu Abi, ternyata bocahnya itu masih belum tidur. " Sayang...Kok belum bobok? " Tanya Syafir melihat anaknya itu menyambutnya dengan senyum.


" Abang mana bisa tidur, Abang lagi lanjutin hafalan Sulat Al_ Kahfi Ayah.. kalna Abang cedih sekali esok akan belpisah dengan adik Sila." Ucap jujur sang putra masih sedikit cadel.


" Udah! Abang tidur saja, hari sudah jam 12 malam, esok habis sholat subuh baru lanjut hafalannya sebelum berangkat sekolah. " Timpal Syaffana seraya mengecup kening sang putra.


" Tapi Umi...Bagaimana Abang bisa pelgi cekolah dihari adik sila mau dibawa oleh papi dan mami Uci. " Ucap memelas Abi.


Syafir dan Syaffana tersenyum dan saling pandang. Lalu Syafir menyampaikan kode pada istrinya untuk menyampaikan kabar gembira itu.


" Tenanglah nak...Adik Sila tidak jadi dibawa, karna Allah sudah beri adik lain untuk papi Elang bawa,


tapi papi Elang harus sabar nunggu sembilan bulan lagi." Ujar Syaffana dengan senyum mengembang.


" Umi atau mami yang Amil? " tanya Abi yang langsung terlonjak duduk menatapi ibunya dengan intens.

__ADS_1


" Tentu saja Mamilah sayang...Kalau Umikan nanti Abi ngak rela lagi adiknya dibawa. " Terang Syafir.


" Bukan ngak rela Ayah...Hanya Abang sedih saja kalau harus belpisah dengan adik. Kan adik masih kecil. Tapi sekarang Abi lega! " Ucap Abi senang, lalu bocah tampan itu melompat kebawah dan melakukan sujud Syukur dilantai Ubin.


" Cyukullah...Abi masih diberi tanggung jawab menjaga semua adik Abi hingga meleka becan nanti Ya Allah..." Ucap Abi didalam wujudnya.


Syafir dan syafana sekali lagi saling pandang dan tersenyum bahagia.


" Alhamdullillah...Ikatan persaudaraan keturunanku


sudah nampak kuat, walau mereka masih kecil ya Allah...Mohon berikan selalu berkah, Rahmah, keselamatan dan kasihMu bagi keturunan hamba hingga hari kebangkitan kelak Ya Robb." Ucap Syafir penuh harap.


" Amiin...Syaffana dan Abi mengaminkan.


Tanpa diperintah lagi sang anak menuju tempat tidurnya.


" Ngak mau buang air dulu? "


" Ngak, kan udah tadi Wuduk, cekalang waktunya tidul. Assalamu'alaikum Ayah dan Umi!." Balas bocah itu lalu menutup mata sembari membaca doa sebelum tidur dengan khusuk dan suara lembut.


Syafir dan Syaffana kembali terpaku sejenak.


Detik berikutnya mereka berdua membalas salam sang putra.


Syafir lalu memeriksa kamar putri Savina dan terakhir bocah lelaki mereka yang berusia 4 tahun lebih.


Usai membetulkan selimut putra putri didalam kelambu masing- masing. Pasangan ini berjalan bergandeng tangan menuju kamar mereka. Keduanya lalu menuju kamar mandi begitu tiba dikamar. Keduanya membersihkan diri untuk sholat

__ADS_1


malam, walau ini bukan tahajjud namanya. Hanya sholat Sunnah malam menjelang tidur sebagai ungkapan rasa Syukur.


Keduanya lalu menaiki tempat tidur terhangat didunia . Setelah mengatur bantal dan selimut, keduanya berbaring dengan berpelukan mesra. Syafir mulai memejamkan matanya, tak ingin meminta percintaan panas malam ini, karna ia hanya ingin merayakan rasa Syukur dihati yang tak terhingga ini dengan memeluk istrinya saja, sebelum Sifa dan Sila terbangun pula untuk meminta perhatian Umi dan ayahnya.


Kurangnya tidur bukanlah hal yang perlu dikeluhkan oleh pasangan ini. Bukankah itu sudah merupakan bagian dari pengorbanan yang wajib diikhlaskan bagi setiap manusia memiliki keluarga dan anak? Memang malam diciptakan Tuhan untuk Ibadah dan beristirahat dan siang untuk bekerja mencari nafkah. Tidak salah juga sedikit menyita jam istirahat itu untuk bekerja atau beribadah. Bukankah mengasuh anak dengan sebaik- baik mungkin merupakan bagian dari ibadah juga, maka kita ikhlaskan semuanya karna Allah.


" Sayang...Kok belum tidur, bukankah besok bekerja pula. " Ucap Syafir begitu merasakan nafas Syaffana didalam dekapannya masih belum beraturan.


Syaffana tidak menjawab, malah dengan gemas mencium leher Syafir tepat dijakun sang suami.


" Sayang...Menggoda ya? Jangan salahkan kalau Ayah jadi naik karna ini " Ujar Syafir membuka matanya kembali dan menatap sang istri yang tersenyum nakal padanya.


Syafir bermaksud melihat jam dinding, khawatir akan malam yang terlalu larut.


" Jangan lihat jam itu, mereka tidak akan berhenti berputar selagi daya batrainya masih ada. " Ucap Syaffana mulai menciumi kening dan mata sang Suami


.


" Ta_ " Ucapan Syafir tertelan kembali bersamaan dengan berikut bibirnya yang sudah dilumat oleh sang istri.


" Dalam sejarah para pemikir, dan para Ahli didunia baik dibidang agama atau Sains tidak akan ada yang kebanyakan tidur ketimbang bekerja. " Ujar Syaffana setelah mengatur nafas usai ciuman panas mereka.


Syafir tersenyum sembari mulai mengungkung istrinya." Baiklah sayang...Kita kerja keras dulu sebelum tidur. " Ucapnya sebelum meneruskan cumbuan penuh gairah dan kasih sayang pada sang istri. Akhirnya rencana berpelukan saja merayakan malam bahagia berganti skenario dalam sekejap, Karna sekarang nafas keduanya sudah memburu dengan tatapan makin sayu.Lalu yang ada kemudian mereka melewatkan malam panjang ini dengan berbagi peluh.


Keduan insan yang sudah rindu bergulat ditempat tidur itu berkali- kali melenguh bersama.Bahkan nyamuk- nyamuk diluar kelambu menatap iri pada dua sejoli yang tak ada bosannya merengkuh keindahan haqiqi pasangan halalnya ini.


" Sayangnya kedua bayi mereka dikasih kelambu terbagus dan kuat, kalau tidak sudah pasti kugigiti agar kedua orang tuanya berhenti bermain enak- enakan. " Ujar sang nyamuk betina pada sang nyamuk jantan.

__ADS_1


" Jangan salahkan mereka, salah kita sendiri salah tempat cari mangsa. Polisi buk.. Orang lain saja diamankan, apalagi anak sendiri! " Balas sang nyamuk jantan.


__ADS_2