
Telfon dari Amin membuat Syafir cepat- cepat menyelesaikan sarapannya, walau sebenarnya ia kurang yakin dengan panggilan Amin yang mendadak ini.
Selama ini, kalau ada masalah yang berhubungan dengan perdagangan, paling laporannya sama Elang, kenapa hari ini tiba-tiba malah dia, hatinya penuh tanda tanya, tapi mengingat hubungannya dengan Elang yang masih belum baik dihatinya, ia malas menanyakan perihal bisnis. Setelah pamit pada Mama, Syafir segera banting stir menuju gudang papa.
Amin tersenyum simpul begitu Syafir datang. Amin sedang bertugas di apotek
sebelah gudang.
" Silahkan duduk bos muda! Sebentar akan saya ambilkan minuman untuk kita." Ujar Amin.
" Tak usah merepotkan istrimu, aku kesini
cuma ingin tahu, mengapa kau buru - buru memanggilku dan mengatakan ada masalah? Bukankah selama ini yang mengurus perhitungan usaha ini bang Elang. " Jejar Syafir.
Amin masih saja tersenyum, iapun membuka kulkas.
" Kalau ini kurasa tidak akan merepotkan istriku. Tenanglah sebentar Bos termuda, sempatkanlah waktumu sehari saja memeriksa usaha peninggalan bapak ini, bukankah sekarang pesta sedang diliburkan? " Ucapnya dengan senyum sumrik.
" Kalau begitu kuminta lasegar kaleng rasa jeruk saja! IOku memang libur karna tak ada pesta Min, tapi bukan berarti aku juga libur, aku punya kebun yang perlu juga ku survey keadaannya, selama sibuk pesta hanya perpanjangan tangan saja yang mengurus, entah itu ada kemalingan, atau hasil yang diseludupkan, aku tidak tahu, mudah- mudahan aman- aman saja." Ujar Syafir.
Amin menyodorkan minuman kaleng itu pada Bos mudanya. Lalu mengarahkan karyawan apotek yang baru tiba untuk berjaga, agar tak lupa memulai hari dengan senyuman.
" Lita...Refi...Jangan lupa Keep Smile ( Jaga senyuman ) dan layani pembeli dengan baik! " Titah Amin pada kedua gadis berhijab itu.
" Oke Bang Min! Seru kedua gadis itu tak lupa curi pandang pada Syafir."
Amin yang memiliki mata jeli langsung memperingatkan.
" Ini Bos kita, pemilik usaha ini, jangan lirik- lirik, ia sudah ada yang punya, seorang polwan cantik! " ujar Amin yang
membuat kedua perempuan muda itu menunduk pada Syafir sembari tersenyum malu mereka mengulurkan tangannya.
" Sudahlah...Tak usah salaman, dan jangan sungkan segitunya, Amin memang agak kebangatan, Kalian bekerja saja lagi ya... Assalamualaikum..." Ucap Syafir lembut, melihat kedua gadis itu jadi canggung.
" Waalaikum salam...Baik bang.." Seru mereka kembali terdengar centil menurut Amin.
" Abang- Abang! Bos! Ingat Bos!!!" Ujar Amin sembari geleng- geleng kepala.
" Maaf Bos..." Ucap Lita mewakili.
" Tak apa...Abang juga tidak masalah, aku tidak gampang terpengaruh hanya karna dipanggil Abang. "
" Kalau yang punya badan tidak keberatan, bagiku juga tak salah. " Tukas Amin. Kemudian duduk dihadapannya Syafir.
" Saya fikir Bos benar- benar libur. Ternyata punya usaha yang lebih besar.
Berapa luas lahan sawitnya Bos Syafir? " tanya Amin dengan mata berbinar.
" Hanya sedikit, luas bersih 40 HA, dengan penghasilan maksimal selama ini 80- 100 ton perbulannya. Akhir- akhir ini kata mereka buah Trek, penghasilan bulanan bahkan hanya 75 ton bulan kemaren. " Jelas Syafir.
__ADS_1
" 75 ton, tapi harga dua kali lipat dari biasa. Aduh Bos, betapa beruntungnya dirimu, ternyata Bos sudah persiapkan semua kemungkinan, kapan Bos dapatkan kebun seluas itu? " tanya Amin dengan penuh kekaguman.
" Tentu hasil bersihnya tidak segitu, hampir dari sepertiga bagian untuk biaya
pengelolaan dan perawatan."
" Tetap saja Bos beruntung memiliki kebun itu, bagaimana bisa dapat seluas itu satu hamparan." Tanya Amin lagi.
" Aku belinya pertama 20 dari tuan tanah daerah A itu. Mendengar Abang Doni menjual kebunnya, tetangga disekitar ikut menjual, jadi Ada 5 sertifikat kebunku itu sekarang. " Kenang Syafir.
" Wah...Bos muda lebih kaya dari yang lainnya kayaknya, bahkan dari para Abang yang Pegawai Negara. " Ujar kagum Amin.
" Mana mungkin begitu Min..Kamu yang benar saja, Mereka juga sudah pada beli kebun kok, mereka punya gaji yang tetap, sedang aku hanya mengumpulkan yang datang sedikit- sedikit. " ujar Syafir merendah tak mau dibandingkan dengan kedua abangnya.
" Sedikit- sedikit jadi bukit! Hingga Bos muda yang paling unggul, mereka punya kebun baru sepuluh HA, itupun sudah menggunakan uang modal yang dari bapak, tidak seperti Bos, yang sampai hari ini belum mencairkan sepersenpun warisan dalam bentuk uang itu. " Ucap Amin keceplosan.
" Gimana Kamu tahu aku belum menggunakan uangnya? Mereka sudah? " tanya Syafir dengan tatapan penuh selidik.
" Aku membobol saver beberapa Bank yang Kusuka, sekedar iseng, apa Bos lupa aku seorang Hacker? Bahkan sejak kecil bapak sudah membelikan perangkat untukku untuk mengambangkan hobbyku itu. Kemudian Bapak juga menguliahkanku di IT. Bos karna ngak mau saja kuliah waktu itu, sedang aku anak angkat dikuliahkan."
" Kau beruntung Min..Bersyukurlah, dan kembangkanlah usaha Almarhum ini dengan baik. " Ujar Syafir menepuk pelan pundak Amin.
" Aku hanya pengelola bos, tetap saja Bos yang punya. Semua Aset bapak sudah dibagi dengan Ibu dan kalian
semua, pengacara Almarhum akan datang pagi ini, itulah sebabnya Bos kuminta kesini. " Jelas Amin.
" Bagaimana dengan kalian anak asuh papa?"
" Ya Min...Aku sih maunya begitu, ingin semua anak papa bahagia, dan tidak lupa mendoakan beliau." Syafir memandang penuh harap.
" Insya Allah...semoga sesuai dengan namaku bos muda. Akupun tak lupa mendoakan bapak. Amiiin..." gitu Lho. He...He..
Sedang asyik tertawa dan saling melempar pandang , pengacara datang.
Amin menyambutnya, mereka bertiga pun masuk kedalam ruangan khusus Amin.
Setelah duduk diruangan Amin, sang notaris menyalami Syafir, Syafirpun mencium tangan lelaki paruh baya itu.
" Begini nak Syafir! Kemarin Zahran menghubungi bapak dan meminta bapak menemui nak syafir, untuk penyerahan Dokumen pembagian harta untuk nak Syafir. Karna nak Syafir dan Elang sudah menikah, maka bapak sudah selesai tugas menyimpan dokumen keluarga Pak
Almarhum Haji. Sesuai perjanjian saya dulu dengan Almarhum, begitu kalian semua pada menikah, disitu surat Aset ini diserahkan, sedang pembagian nak Zahran sudah lebih dahulu ada padanya. " Jelas Pak H. Anam.
Syafir menerima dan memeriksa surat- surat tanah yang diwariskan padanya.
Berarti ini gudang dan apotek atas nama saya? " tanya Syafir tak percaya.
" Ya.. Timpal Amin, mulai sekarang pemilik Syah usaha kita yang ini adalah Bos muda. Kebun dan sawah punya bang Elang. Sedang peron sawit dan rumah petak disekitarnya punya bang Zahran. "
" Rumah besar punya Ibu Carolina Rahman, berikut kebun sawit seluas 4 HA." Jelas lanjut pak Anam.
__ADS_1
'
" Baiklah pak... Bagaimana dengan gaji bapak selama ini? apa kurang puas? " tanya Syafir sembari menatap intens pengacara ayahnya.
" Sudah ditransfer nak Amin tiap bulannya, sesuai nominal kontrak kesepakatan kami dengan pak Haji dulu
ditambah kenaikan UMP tahunan.
Tapi karna saya sudah berhenti bertugas hari ini, saya agak sedih juga. Kalau ada bonus tidak masalah...He...He..."
Syafir mengeluarkan ponselnya, dan meminta Asistennya Andre mengirimkan sejumlah uang pada nomor rekening pak Anam.
Begitu notifikasi pesan masuk diHPnya, pak Anam membuka pesan Banking tersebut, iapun tersenyum lebar. Makasih
nak Syafir! Ini sungguh diluar perkiraan saya, saya fikir hanya sebulan gaji. " ucap Pak H. Anam SH senang menerima nominal 20 juta itu.
" Tidak masalah pak...terima kasih sudah menjaga amanah papa selama ini, nanti kalau ada persoalan perdata, saya yang lain, saya tidak akan segan menghubungi bapak." kata Syafir.
" Senang sekali kalau nak Syafir masih ingin melanjutkan hubungan kita. " Ucap pak Anam sembari mengulurkan tangannya dan berpamitan.
Merekapun keluar dari ruangan itu. Syafir dan Amin mengantar pak Anam sampi kedepan.
Syafir kembali duduk dikursi depan meja kasir. Ia menunggu apoteker datang.
Begitu pak Rahmat sang apoteker sudah tiba, apotek makin ramai, maklum sekarang cuaca ektrem, menyebabkan banyak yang terserang penyakit yang diakibatkan oleh melemahnya daya imun tubuh.
Biasanya pelanggan akan datang sesuai dengan jadwal kerja apoteker setengah baya ini. Orang - orang dikota ini sepertinya sudah hafal dengan jadwal pak Rahmat, hingga sebelum pak Rahmat masuk kerja, paling yang belanja diapotek hanya tetangga untuk membeli telon, Pampers dan minuman dingin.
Sampai jelang sore syafir disana. Ia sudah mengintari seluruh isi gudang, menyaksikan truk yang dimuat pembawa bahan baku itu kekota besar. Setelah puas bercerita banyak dengan Amin, Syafir pamit setelah sholat Azhar.
Syafir menghungi Ustadz Zaki, begitu duduk dibelakang kemudi.
" Bang? Gimana kalau aku buatkan sumber air bersih didaerah- daerah sulit air bersih wilayah sekitar kita, yang diniatkan untuk papa? tanya Syafir setelah salamnya terjawab.
" Kalau kau bisa melakukan itu, itu sangat bagus, sedekah air adalah sedekah yang sangat berharga." Jawab riang Zaki dari sebrang. Kemudian ia berkata lagi."dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, “Suatu saat ada seorang laki-laki berjalan dan di tengah-tengah perjalanan ia mengalami kehausan. Kemudian, ia mendapatkan sebuah sumur, lalu turun ke dalamnya dan minum darinya. Lantas ia keluar dan tiba-tiba ada seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya menjilat-jilat tanah karena kehausan, lalu orang itu berkata, ‘Anjing ini benar-benar telah kehausan seperti saya tadi juga kehausan.
Ia pun turun ke sumur lagi dan mengisi sepatunya dengan air sampai penuh. Kemudian, ia menggigit sepatunya sehingga ia naik ke atas dan memberi minum anjing itu. Allah pun memuji perbuatan orang itu dan mengampuni dosanya.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kalau kita menolong binatang juga mendapatkan pahala?” Beliau menjawab, “Menolong setiap makhluk yang mempunyai limpahan yang segar itu mendatangkan pahala.”
Syafir terdiam mendengar ceramah sepupunya ditelfon itu.
" Kenapa kau diam Syafir? apa aku kebanyakan omong? Kapan terfikir olehmu ide sumber air itu? " tanya desak Zaki.
" Aku barusan terfikir itu bang...Lirih Syafir.
" Jalankan niatmu segara, semoga Allah memberikan kemudahan. " Ujar Zaki dari sebrang.
" Amiin...Ucap Syafir sembari menghidupkan mesin. Kemudian meluncur menuju suatu tempat.
__ADS_1
Bersambung..