Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Tidak Berani Lagi.


__ADS_3

Untuk pertamakalinya Elang mematuhi setiap saran dari dokter Susi iparnya hanya demi satu alasan yang tidak lain dan tidak bukan demi Elang junior. " Aku tak boleh gegabah lagi, apalagi karna takkuat menahan diri menyebabkan kesempatan memiliki calon penerus benar- benar tak ada lagi. Mana tahu ini adalah anugrah terakhir yang kami terima, kalau sampai gugur lagi, kami takkanpunya kesempatan lagi." Batin Elang mengingat istrinya yang seusia dengannya. Sebentar lagi masa suburnya akan benar- benar habis.


" Ada apa sih bang? " Tanya Suci heran mengapa sejak balik lagi dari kota S tidak menatap manik matanya.


" MHum...Ngak kok Ci...Kuminta jangan terlalunempel denganku ya, aku sengaja tidak menatapmu agar gairahku tidak bangkit. " Ucap Elang sembari membelakangi Suci ditempat tidur mereka.


" He...He...Kau percaya iparmu itu? Ia hanya mengerjaimu saja bang, ayo sini kita bermain, aku kangennn...." Rengek Suci sembari memeluk Elang dari belakang.


" Ti_ tidak! Kali ini aku percaya padanya, tak mau ambil resiko main sebelum baby kita empat bulan didalam sana, setelah kupikir- pikir ada benarnya juga anak kita sebelumnya tidak selamat,karna


kitatidak menjaga hubungan diTri semester awal."Ujar Elang menepis tangan istrinya.


" Aku mohon...Bantu aku menahan semuanya Suci...Ini semua demi calon anak kita. Siapa tahu ini kesempatan terakhir, kita tidak boleh gegabah." Balas Elang mencoba memberi pengertian pada Suci.


" Baiklah..." Ucap Suci lirih. Sebenarnya ia sangat menginginkan kehangatan suaminya, tapi apa boleh buat kalau ini memang jalan yang harus mereka tempuh.


" Kalau tahu bakal diaggurin gini, mending ia pulangnya setelah empat bulan saja, ngapain capek- capek berkendara selama 8 Jam kalau hanya buat Mompang bobok aja. " Gerutu Suci dalam hati.


" Baiklah...Tiga bulan kedepan Abang serahkan saja keamanan kalian pada Syafir, Syaffana dan Susi. Abang sepertinya lebih baik menyiapkan Usaha baru dikota S, untuk menyambut kelahiran anak kita. Sakit sekali rasanya seperti ini." Ucap Elang dengan bergumam masih membelakangi Suci.


Suci terharu, ia tahu suaminya memiliki libido yang luar biasa, hingga ia tidak berusaha menggoda lagi ketika sang suami bersusah payah menahan.


" Baiklah...Bukankah sayang tak tahannya saat menatap mata dan bibirku saja bukan, kalau begitu tak apakan malam ini aku yang memelukmu dari samping, hanya sekedar menawar rindu. Besok terserah papi DECH mau pulang atau ngak. Yang penting jangan nakal!." Ujar Suci seraya mengalungkan tangannya dipundak Elang. Elangpun mengangguk dan menyambut tangan istrinya dan mengusap - usap tangan itu sampai mereka berdua terlelap dalam posisi begitu.


* **********


Selama tiga bulan Elang tidak balik, ia hanya mengontrol keadaan istrinya melalui pesawat telfon saja. Sedang Wenni maminya Suci mendengar alasan Elang meninggalkan putrinya dikiranya demi keamanan calon pewaris, berusaha keras untuk menahan diri untuk tidak mengumpat, apalagi setiap hari suaminya memberi nasihat, kalau mereka tidak boleh terlalu ikut campur pada kehidupan putri mereka karna mereka sudah menikahkannya dengan pemuda yang tepat.


" Bukankah kau lihat menantu kita seorang yang sangat setia? Lihatlah apa yang ia lakukan sekarang." Ujar Pak Zul ketika suatu Minggu mereka mengunjungi perumahan Elang diam- diam. Disana terlihat Elang tengah sibuk berpanas- panas dengan para pekerja renovasi taman dan kolam mereka.

__ADS_1


Pasangan usia senja ini sengaja datang hanya untuk memastikan keberadaan sang menantu, karna putri mereka dengan percaya diri ditelfon mengatakan kalau suaminya sengaja tidak pulang selama tiga bulan sampai ia dan kandungannya kuat.


" Apa kamu tak cemburu, apakah kau tak pernah dengar berita pria selingkuh saat istri hamil? " Ujar Wenni ditelfon.


" Ngak sayang...Jangan dengarkan mamimu, papi yakin suamimu memiliki kadar kesetiaan diatas rata- rata. Buktinya selama ini ia tak mempan digoda sama siapapun, walau kau belum pasti bisa memberikan keturunan untuknya. Sekarang Elang tinggal menunggu kelahiran putranya, ia tidak akan bertindak bodoh.Aku sudah lama menyelidiki menantuku itu, jadi jangan pernah dengarprovokasi mamimu yang tidak benar ini nak..." Ujar Pak Zul merebut telfon semalam dari sang istri.


" Aku tahu Pi...Aku percaya suamiku. " Balas mantap Suci.


" Bagus! Papi pasti akan bantu jaga tuh menantu, walau sebenarnya ia tak butuh dijaga, karna ia pandai menjaga hatinya sendiri." Balas Zul sebelum


mengakhiri panggilan yang menyebabkan istrinya mengerucut sempurna.


" Kau tak Yakin jua...Besok kita buktikan! Mulai sekarang jangan meruncing hubungan anak, sebaiknya kita membuat hubungan mereka lebih baik, bukan seperti yang kau lakukan barusan." Ujar Zul dengan penuh penekanan. Ia tak habis fikir mengapa istrinya tidak memilih mengamankan hati putri mereka, malah memanasi dengan sengaja, itulah mengapa Zul begitu kesal malam ini.


" Cik, kepercayaan dirimu sama kayak putrimu, baiklah...Aku akan menarik semua ucapanku dan membujuk diriku dan putriku sabar sampai bulan Oktober ini jika besok kau bisa membuktikan menantumu itu tidak balik kesana tidak untuk melakukan yang bukan- bukan." Ujar Wenni.


Inilah sebabnya mereka datang mengendap- endap hari ini kekediaman Elang.


" Papi....Mami...Ngapain disana saja, Ayo kedalam! " Ajak Elang yang entah kapan sampai didekat kedua orang tua itu.


" Eh Copot!...." Pekik Wenni yang terkejut, tidak menyangka Elang sudah ada disamping mereka, padahal barusan ia dengan jelas melihat sang menantu masih sibuk bekerja dengan para pekerja bangunan itu.


" A_ Anu...nak Elang...kami masih betah melihat nak Elang dan yang lain sibuk bekerja, padahal cuaca cukup gerah." Balas Zul gelagapan.


" Iya nak...Mami teringat antar makan siang buat Elang, karna semalam Suci bilang kalau nak Elang sudah sebulan ngak kembali kesana hari Minggu." Ujar Wenni tersenyum malu, karna tadi sempat ngomong aneh saking terkejut dengan kehadiran tiba- tiba Elang memergoki mereka. Tak lupa Wenni menunjukkan tentengan yang ia bawa dan menyerahkannya pada Zul.


" He...He...Makasih...Semoga tidak merepotkan. Kalau begitu Ayo kita masuk Mi...Pi...Sepertinya para pegawai tamanku juga sudah pulang untuk ISOMA." Ujar Elang santai. Ia sudah dari tadi melihat kedua orang tua itu mengintip, tapi ia biarkan mertuanya itu menikmati apa yang sedang mereka lakoni terlebih dahulu, sampai jam istirahat tiba, barulah ia membubarkan pekerjanya dan datang menghampiri kedua orang tua itu.


Elang mengulurkan kedua tangannya pada mereka bergantian. Zul dan Wenni menyambut salam sang menantu dengan senyum- senyum dikulum.

__ADS_1


Detik berikutnya Elang sudah merangkul sang papi mertua untuk membawanya kerumahnya. Sedang Wenni mengikuti kedua pria dengan tersenyum lega.


" Ternyata Suci tidak salah mempercayai suaminya, Elang sungguh calon ayah yang baik." Dia sudah menyiapkan desain taman seindah ini untuk menyambut istri dan calon anaknya." Batin Wenni hingga tanpa sadar ia tersandung batu.


" Auww...." Jerit Wenni tertahan, tapi tetap saja didengar oleh Elang dan Zul yang sudah sampai diteras, keduanya sama- sama berbalik dan mengejar Wenni.


" Ada apa mi? " Ucap mereka serempak.


" Tak apa...Aku hanya tersandung batu." Lirih Wenni.


Cepat papi gendong mami kedalam biar diobati." Ujar Elang segera mengambil alih tentengan dari tangan pak Zul.


" Ngak! Ngak perlu...mami sudah tak apa, cuma lecet dikit ibujarikakinya, masih bisa jalan kok. " Tolak Wenni malu, ia bergegas berdiri dan mencoba berjalan.


Grep...


Satu kali sintakan Zul sudah menggendong istrinya. " Beginilah cara menantuku memanjakan putriku kalau sedang bersamanya. Masih berani ngatain dia yang bukan- bukan? " Seringai Zul dengan berbisik.


Wenni menggeleng dan membenamkan wajahnya dibalik dada sang suami.


Wenni hanya diam dalam kekeguman yang begitu besar, saat ia diobati oleh Zul dari kotak obat sang menantu.


" Kalau tidak tahu Elang seorang pegawai kantor pemerintahan, orang tentu aku mengira ia seorang mentari, melihat begitu lengkap obat dirumahnya." Batin Wenni. Sejak saat itu ia tidak berani lagi berfikiran buruk tentang Elang.


Bersambung....


Maaf sekali lagi pembaca semua, masih terus late Up, kali ini penulis sakit, berantem dikit sama motornya. Sekali lagi maaf, cerita ini Insya Allah tamatnya happy Ending kok, walau peminatnya lumayan. Maksudnya lumayan ngak ada. He...He....


Kalau udah pulih benaran, kedua cerita bakal dilanjut dan tamat semestinya, tapi sekarang masih pusing bangat say...Sabar ya...🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2