
Sore hari Ruby mendapat pesan dari mama Ratih agar menunggu di cafe depan kampus nya.
''Tumben mama kirim pesan'',batin Ruby,dan teringat saat dimana mama Ratih tiba-tiba mengajaknya kemudian berujung Furqon dan Safira dinikahkan.
''Aku harus waspada,''gumam Ruby,tapi otaknya meralat lagi.
''Tapi apa pantas aku merasa was-was dengan mama ku sendiri,ibu kandung ku,aaarrrgghh pusing aku,''batin Ruby.
Ruby yang berjalan sambil memikirkan itu,tak menyadari bila ada yang menemaninya berjalan.
''Rub,kita mau kemana?'',ucap Rizal membuat Ruby kaget.
''Asstagfirulloh,''Ruby kaget.Rizal tengok kanan dan kiri.
"Kenapa?",
"Gue kira setan dari mana,enggak tau nya setan kampus yang sok cool",ujar Ruby dan melanjutkan melangkah.
"Rub,tadi pagi gue cariin loe,kata teman loe yang somplak itu loe belum datang gue bilang sama mereka agar loe temuin gue diparkiran gue tunggu tapi loe enggak datang kecewa gue",ucap Rizal panjang lebar.
"Gue tadi pagi sibuk dan kesiangan,kecewa nya loe bukan masalah gue",ucap Ruby berjalan cepat agar jauh dari Rizal.
"Rub,gue belum selesai ngomong",teriak Rizal saat Ruby sudah menjauh.
"Eehheeemm,ngomongnya sama gue saja",ucap Santi santai namun aura yang dirasakan Rizal berbeda.
"Gue enggak ada urusan sama loe",ucap Rizal
ketus dan meninggalkan Santi.
Rizal menoleh kebelakang dan Santi masih menatap dengan aura yang mengerikan.
"Gila tu cewek saiko",gumam Rizal bergidik.
Santi masih diam kemudian Rara serta Maya menghampiri.
"San,Ruby tadi mau kemana?",tanya Maya.
"Katanya nyokapnya datang",ucap Santi dan diangguki Rara serta Maya.
Sedang didalam Cafe.
"Assalamualaikum ma",ucap Ruby dan menyalami sang Mama.
"Waalaikumsalam",ucap mana Ratih.
"Ada apa ma?",tanya Ruby.
Kemudian Mama Ratih meletakan amplop coklat diatas meja.
"Tumben mama kasih Ruby uang jajan",batin Ruby.
"Apa maksud mu ini?",tanta Mama Ratih.
''Kamu mau jadi pelakor'',ucap mama Ratih
"Maksud mama apa?",tanya Ruby bingung segera meraih amplop dan membukanya.
Ruby kaget bukannya ini kejadian tadi pagi,tapi siapa kira-kira yang memata matainya.
"Mama salah paham,ini tak sedekat seperti yang ada difoto",jelas Ruby.
"Mama enggak mau tau,kamu harus menjauhi Furqon dan Safira kalau perlu jauhi kami",ucap mama Ratih.
Jlleebbb.
Seperti ratusan pisau yang menghujam hati,sakit tapi tak berdarah mungkin kalau berdarah lebih dari satu kontainer sangking sakitnya hati Ruby.
Ruby menghela nafas dan tersenyum kecut.
"Baiklah Ruby akan menjauh,sudah kan hanya itu yang dibicarakan Ruby pamit'',ujar Ruby yang sudah tak tahan.
''Tunggu,kamu juga harus menerima perjodohan dengan anak sahabat papa,karena menjauh belum tentu menjamin kamu tidak merusak rumah tangga Safira'',ucap mama Ratih tanpa memikirkan ucapannya bisa menyakiti Ruby.
''Asstagfirullohalazim,mama ku sendiri mengucapkan hal serendah itu untuk ku'',batin Ruby sedih.
Bila orang lain yang mengatakan mungkin tak berpengaruh besar bagi kita tapi ini keluarga,orang terdekat bahkan mama ibu kandung,serasa hancur sudah dunianya.
''Ruby akan menerima nya,tapi dengan dua syarat''ucap Ruby pasrah.
__ADS_1
''Apa syarat itu,?''tanya Mama Ratih.
''Pertemuannya harus diadakan dikota ini,sedang Syarat yang kedua akan Ruby katakan setelah acara perjodohan tersebut'',ucap Ruby tanpa menoleh mama Ratih dan meninggalkan mama Ratih.
''Gadis licik'',gumam Mama Ratih.
Ruby berjalan menuju tempat parkir kampus dimana para sahabatnya menunggu dengan berjalan cepat Ruby menyeka air mata yang akan menetes dengan tangan,sesekali menengadahkan kepalanya agar air mata tak menetesi pipi.
Saat sampai diparkiran kampus,Ruby diam tanpa menyapa.
''Rub kamu baik-baik saja?'',tanya Rara.
''Iya,ayo kita ke basecamp sekarang agar pekerjaan cepat selesai,''ucap Ruby dan yang lain menurut.
Sesampainya ditempat kerja Ruby,Santi,Maya dan Rara segera memegang apa yang perlu dihandle.
''Rub loe yang check customer apa packing?'',tanya Rara.
''Yang mana saja'',ucap Ruby dan larut dalam kerjaan hingga melupakan sejenak tentang sakit hati yang dirasa.
Mama Ratih setelah menemui Ruby dia segera menemui putri sulungnya,tanpa memberitahu bila dia akan datang agar mama Ratih tahu kehidupan Rumah tangga anaknya.
Mama Ratih masih didalam mobil melihat dari jauh interaksi Safira dan keluarga besannya.
Safira tengah mengobrol dengan seorang wanita berhijab dan memangku bayi.
mama Ratih masih memperhatikannya wanita berhijab itu.
''Kenapa aku teringat Ruby,ah tidak-tidak Ruby permata papa,Safira adalah permata ku'',gumam mama Ratih.
Kemudian Furqon datang dan ikut bergabung dengan istri serta Sanah adik Furqon.
Mama Ratih melihat senyum dibibir Safira,senyum bahagia senyum alami tanpa rekayasa atau paksaan.
''Nyonya kita jadi kesana apa tidak?'',tanya pak Sopir.
''Kita pulang saja pak'',ucap mama Ratih.
''Baik nyonya'',ucap pak Sopir.
Diperjalanan mama Ratih diam dia teringat senyum Safira dan wajah sendu Ruby secara bersamaan.
Flashback on.
Mama Ratih dulu dia kehilangan anak pertama nya yang berjenis kelamin laki-laki,anaknya meninggal setelah dilahirkan padahal anak itu yang ditunggu-tunggu oleh keluarga besarnya yang akan digadang-gadang menjadi penerus dan pewaris kekayaan kakeknya.
Sekitar satu tahun kemudian mama Ratih mengandung lagi dan melahirkan Safira,karena berjenis kelamin perempuan seperti tak dianggap oleh keluarganya karena berpikiran kolot apa lagi mendiang kakeknya yang berpikiran bahwa anak perempuan itu tak bisa memimpin,perempuan kodratnya dibawah laki-laki jadi tak bisa dibanggakan.
Mama Ratih hanya bisa menatap Safira sendu,dan bertekad akan menjadikan Safira gadis yang bisa bersaing dengan kaum adam,khususnya para saudara laki-laki dari keluarganya.
Setelah kakeknya meninggal selang tiga tahun mama Ratih melahirkan Ruby,ayahnya berpesan bila cucu laki-laki atau perempuan sama saja akan mendapat hak yang sama,Ruby saat dari lahir hingga menginjak usia sekolah dicurahkan kasih sayang dari setiap pihak keluarga.
Mama Ratih dari situ berpikir bahwa Ruby sudah banyak yang menyayangi sedang Safira hanya dia dan suaminya yang menyayangi.jadi mama Ratih mencurahkan kasih sayang yang lebih untuk Safira.
Pemikiran mama Ratih ini membuat Ruby yang kala itu sudah masuk sekolah dasar melihat kedekatan mama dan kakak nya menjadi iri,suka mencari perhatian hingga dibilang nakal agar sang mama melihatnya.
Namun mama Ratih tak menghiraukan dan tetap dengan pendiriannya,hingga dimana Safira menjelma menjadi yang diinginkan,cerdas,cantik,dan selalu dipuja,setiap pertemuan keluarga mana Ratih selalu memuji putri sulungnya saat ada yang bertanya dimana Ruby pasti mama Ratih akan bilang.
"Entahlah aku pusing dengan kenakalan yang selalu di buat Ruby jadi dia bersama papanya,beda sekali dengan Safira yang penurut",
Sanak keluarga dari situ mulai sering membanding-bandingkan mulai dari tak ada anak nya sampai nyinyir langsung didepan Ruby serta Safira.
Dengan sikap mama Ratih yang seperti itu dan melihat kondisi psikis Ruby yang mulai terganggu,papa Adi yang menyadari segera merangkul sang putri bungsu berbicara dari hati ke hati bila masih ada papa yang menyayangi Ruby.
Lambat laun Ruby dan Safira bagai langit dan bumi,Safira yang keras kepala menurun dari sang mama,dengan ambisi apa yang dia mau harus dia dapat,sedangkan Ruby menurun sifat papa Adi menjadi mandiri dan mengenali sifat seseorang sebelum benar-benar akrab.
Flashback off.
Dua hari setelah bertemu dengan mama Ratih Ruby nampak tak konsentrasi saat mengikuti kelas.
Hingga mendapat teguran dari dosen karena kedapatan melamun,selesai mengikuti mata kuliah.
Malam harinya Ruby mempersiapkan diri untuk bertemu dengan calonnya,tapi calon apa?calon khitbahnya mungkin.
Ruby nampak beberapa kali menghela nafas sebelum papa Adi menjemputnya.
"Sudah siap nak?",tanya papa Adi kepada Ruby,hanya anggukan dan senyuman yang Ruby tunjukan kepada papa Adi.
"Jangan gugup,ada papa disini",ucap Papa Adi.
__ADS_1
"Iya pa",ucap Ruby.
"Pa anak sahabat papa kira-kira seumuran siapa?",tanya Ruby agar tak gugub.
"Ehm,nanti kamu lihat sendiri ya nak,"ucap Papa Adi
Saat berada disebuah restoran di hotel dimana Ruby serta kedua orang tuanya akan bertemu keluarga Imam Wijaya merasakan degub jantungnya semakin cepat.
"Itu mama",tunjuk papa Adi,mereka bertiga menuju meja dimana pak Imam dan istrinya menunggu.
"Assalamualaikum",ucap Adi,''Waalaikumsalam",ucap Imam dan saling memeluk.
"Perkenalkan ini Ratih istri ku dan Ruby putri bungsu ku",ucap Papa Adi,mama Ratih menyalami begitu juga Ruby mencium punggung tangan pak Imam dan bu Siti.
"Ini Istri ku Siti,putra ku masih dalam perjalanan kesini",ucap Imam.
"Ayo duduk kita ngobrol sambil menunggu putra mu",ucap Papa Adi.
"Saya dengar putri sulungnya baru menikah ya jeng,saya ucapkan selamat ya dan maaf tak bisa hadir waktu itu",ucap bu Siti.
"Iya jeng,enggak apa-apa",ucap mama Ratih tersenyum.
"Nak Ruby ini masih kuliah jurusan apa?",tanya bu Siti
"Jurusan management bisnis bu",ucap Ruby sopan.
"Putri jeng ini cantik banget",ucap bu Siti memandang wajah ayu Ruby,Ruby hanya menunduk.
"Tapi masih cantik kakak nya jeng",ucap mama Ratih spontan,dan mendapat deheman papa Adi.
"Oh,iya sayang enggak datang ya dan sudah menikah",ucap bu Siti merasa canggung,sedang Ruby kalian bisa sendiri bagaimana perasaannya.
"Maaf saya terlambat",ucap Sobri yang baru datang.
"Ini dia yang kita tunggu,Adi ini putra ku Sobri Hidayat",ucap ayah Imam memperkenalkan putranya,
Ruby menunduk saat mendengar nama anak sahabat papa sambil berpikir,"Ini Sobri yang sama atau hanya sama nama",batin Ruby.
Sedang wanita paruh baya yang datang bersama Sobri memperhatikan gadis berhijab yang menunduk.
"Dan ini kakak perempuan istri ku",belum selesai memperkenalkan bu Khodijah sudah heboh.
"Ruby",pekik bu Kodijah membuat Ruby segara mengangkat kepalanya.
Deg.
Mata Ruby beradu dengan mata Sobri,Sobri tersenyum tipis.
"MashaAllah nak ini beneran kamu?,ibu seneng banget",ucap bu Khodijah melangkah memeluk Ruby.
Mama Ratih dan bu Siti terheran.
"Jadi bagaimana keputusannya?",tanya bu Khodijah.
"Belum ada keputusannya mbak yu",ujar Imam.
"Ck,kalian ini,nunggu apa lagi mereka sudah saling kenal",ujar Bu Khodijah semangat.
Pak Adi dan ayah Imam memandang putra putri mereka dan dijawab anggukan kecil.
"Nah,iya kan,kalau begitu langsung saja",ucap bu Khodijah enggak sabaran.
"Ini beneran kakak jeng Siti?",bisik mama Ratih heran.
"Iya jeng kakak kandung",jawab bu Siti dan mama Ratih hanya manggut-manggut.
"Jangan terlalu buru-buru,biarkan mereka yang menentukan",ucap Imam.
"Bagaimana Sobri kamu terima perjodohan ini?",tanya ayah Imam.
"Saya menerima nya ayah",ucap Sobri mantab.
"Kalau kamu Ruby,putri papa?",ucap Papa Adi.
"Jelas diterima kan Ruby",ucap bu Khodijah dan Ruby mengangguk.
"Alhamdulilah",ucap Semua yang ada disana.
"Tapi Ruby punya syarat",ucap Ruby lirih membuat semua orang mengerutkan dahi.
__ADS_1