Jodoh Dalam Doa

Jodoh Dalam Doa
69


__ADS_3

''Hei kau mengataiku'',hardik Fikri,Imran memukul pelan mulutnya,''Maaf bang bukan bermaksud mengatai'',


''Tadi Nai ditemani bibi bang,tapi bibi dipanggil sama bang Sobri untuk membantu didapur'',ujar Naima.


''Masuklah kedalam temani Vilara,biar cecenguk ini abang yang temenin'',


''Iya bang'',ucap Naima patuh


''Rokok bang'',tawar Imran


''Tidak,terimakasih'',tolak halus Fikri,hening hanya siara jangkrik itu pun samar-samar hingga Fikri memecah keheningan.


''Sudah lama kenal Naima?'',tanya Fikri.


''Belum bang,tapi saya serius dengan Naima bang'',ujar Imran.


''Oh'',ucap Fikri.


''Kok cuma ''oh'' aja bang?'',tanya Imran.


''Terus aku harus bilang wow begitu'',ucap Fikri malas.


''Hahaha,abang ternyata lucu juga ya'',tawa Imran seketika Fikri menatap tajam.


Imran berhenti tertawa''Maaf bang'',ucap Imran.


''Keputusan ada pada Naima sendiri,dia menerima atau menolak itu hak dia kami hanya mendukung'',ucap Fikri


''Jadi saya tak bisa bersekutu dengan bang Fikri ya'',ucap Imran


''Tergantung'',ucap sinkat Fikri.


''Tergantung apa bang?'',tanya Imran penasaran.


''Tergantung Naima jelasnya'',ucap Fikri sambil menyunggingkan senyum licik.


''Adik abang itu terlalu sulit untuk didekati,susah banget mengambil hatinya, jangankan hati sedikit perhatiannya saja sulit'',ucap Imran curcol.


''Kalau sulit lepaskanlah,dan carilah yang mudah'',ucap Fikri.


''Tapi aku maunya Naima bang'',kekeh Imran,Fikri berdecak.


''Kalau begitu berjuanglah,namun aku ingatkan kembali jangan memaksa bila Nai tak mau,berjuang,berusaha dan berdoalah,''ucap Fikri menasehati.


''Apa artinya abang mendukung ku?'',tanya Imran berbinar.


''Tidak,aku kan sudah bilang tergantung Naima'',ucap Fikri,melihat Imran seperti melihat dirinya dulu yang dengan gigih memperjuangkan Vilara.


''Ah,jadi rindu istri'',batin Fikri.


Imran menghela nafas,''Kalau begitu aku pulang dulu bang'',ucap Imran lemas.


''Pulanglah,daritadi aku menunggumu mengucapkan kata itu'',ucap Fikri.


''Abang ipar kejam'',desih Imran sambil mencium punggung tangan Fikri,


''Salam untuk Naima ya bang'',ucap Imran


''Iya'',ucap Fikri.

__ADS_1


''Terimakasih makan malamnya bang,bila diundang lagi pasti saya akan datang'',ucap Imran sebelum melangkah lagi.


''Hush,hush,udah sana pulang'',usir Fikri.


Imran pun melangkah pergi menuju mobilnya,sedangkan Fikri segera masuk kedalam rumah untuk menemui keluarga besan


paman Imam.


Ruang keluarga mendadak tegang,''Nak Fikri selamat atas kelahiran putranya'',ujar papa Adi,sambil menyalami Fikri.


''Selamat ya bro'',ucap Furqon,bergantian menyalami Fikri.


''Kalian saling kenal?'',tanya papa Adi.


''Iya pak,kebetulan istri saya dengan adik Furqon itu bersahabat'',ujar Fikri


''Ternyata dunia ini hanya selebar daun kelor ya'',ujar ayah Imam.


''Benar Mam,dari kita sahabat menjadi besan dan ini yang hanya kenal jadi saudara juga'',ucap Adi.


''Pa,ayo kita pulang'',rengek Safira.


''Sebentar papa temui Ruby dulu,Furqon antar istrimu ke mobil'',perintah papa Adi.


''Furqon juga mau menemui Sobri dulu pa'',ucap Furqon.


''Terserah,ayo ma kita tunggu didalam mobil'',ucap Safira menarik tangan mama Ratih.


Papa Adi dan Furqon hanya menghela nafas panjang melihat kelakuan istri mereka,malu tentu saja.


''Kalau begitu,Fikri tinggal dulu pak'',ujar Fikri.


''Ayo nak Furqon dan Adi,saya antar kekamar Sobri'',ajak ayah Imam.


Mereka berjalan menuju kamar Sobri,''Sobri,papa dan kakak ipar mu mau berpamitan ini'',ucap ayah Imam dengan suara sedikit lebih keras.


Sobri segera keluar dari kamar diikuti ibu Siti,''Ruby nya mana nak?'',tanya papa Adi kepada Sobri.


''Ruby dikamar pa,''ucap Sobri.


''Apa Ruby sakit?'',tanya Papa Adi khawatir.


''Tidak besan,menantu ku baik-baik saja,yang sakit itu sepertinya istri dan putri sulung mu,sakit akidah tepatnya'',ujar bu Siti sinis.


''Ibu'',tegur Ayah Imam,papa Adi dan Furqon hanya tertunduk dan menghela nafas,Sobri hanya bersikap datar.


''Saya hanya tak ingin melihat menantu saya diperlakukan seperti tadi yah,walaupun Ruby itu hanya mantu dikeluarga kami,tapi kami memperlakukan dia seperti putri kami sendiri pak Adi,tapi dikeluarganya sendiri,Ruby ku direndahkan dan bahkan dilukai hatinya,jadi didiklah kembali istri dan putri mu agar mereka bisa melihat antara yang hak dan bathil'',ujar bu Siti menggebu,saat mengingat kaki menantunya bengkak.


''InshaAllah bu,saya akan mendidik kembali istri saya '',ucap Furqon,''Aku harus segera membawa Safira menemui umi Mutiah'',batin Furqon.


''Boleh,saya menemui menantu ibu'',tanya papa Adi.


''Ruby,baru saja istirahat'',ucap bu Siti.


''Saya hanya ingin melihat nya saja'',ucap papa Adi.


''Bu,izinkan Adi untuk melihat putrinya,menantu ibu dan ayah'',pinta ayah Imam.


Kemudian bu Siti membukakan pintu kamar secara perlahan,nampak wajah Ruby terlelap,papa Adi tersenyum,''Begitu damai saat melihat mu tidur nak'',batin papa Adi.

__ADS_1


''Pa,bisa bicara sebentar'',ucap Sobri membuyarkan lamunan papa Adi.


''Bisa nak'',


''Sob,aku pamit dulu'',ucap Furqon menyalami Sobri.


''Iya terimakasih,dan selamat atas kehamilan istri mu'',ucap Sobri menarik tangan Furqon dan merangkulnya.


''Terimakasih kembali'',hawab Furqon senang.


''Aku yang terimakasih karena kamu telah menjaga jodoh ku selama ini'',bisik Sobri disertai tepukan dipunggung Furqon,Furqon hanya mengangguk dan tersenyum.


''Pa,aku tunggu dimobil'',


''Iya nak'',


''Adi,aku tinggal dulu'',


''Iya Mam,dan terimakasih atas jamuan nya'',


''Duduk dulu pa'',


''Apa yang ingin kamu tanyakan nak?'',


''Siapa Santika pa?,''


''Dia bodyguard yang aku suruh untuk menjaga Ruby'',


''Siapa yang ingin melukai istri ku pa?,papa pasti sudah tau pelakunya kan?',


Papa Adi hanya diam,''Bila papa tak mau memberitahu,aku akan mencari tahu sendiri,dan jangan salahkan aku bertindak sedikit keras kepada siapa pun yang akan menyakiti istri ku,siapa pun itu'',ucap Sobri santai namun penuh penekanan.


''Jangan bertindak gegabah nak,aku mengizinkan kamu menikahi Ruby karena aku yakin kamu bisa melindunginya,bersikaplah sabar seperti namamu,bila kau sudah tau pelakunya bertindaklah seperti singa saat mengintai mangsanya,karena mangsa mu itu licik seperti rubah'',pesan papa Adi.


''Hari semakin larut,papa pamit dulu,salam untuk Ruby'',sambung papa Adi,Sobri hanya mengangguk.


Ditempat lain.


''Ra,gue tadi lihat Santi'',ucap Maya dalam sambungan telepon.


''Dimana?'',


''Di sebuah perumahan,sepertinya dia tinggal disana dech'',


''Bukan May,kata pak polisi Santi itu ada disebuah Villa'',


''Polisinya tau darimana?'',


''Dari penyelidikanlah'',


''Iya,tapi belum ada 1x24jam kenapa sudah tau saja itu polisi'',


''Ya,mungkin polisinya handal'',


''Jadi loe besok ikut gue kan?'',


''Tapi pak polisinya bagaimana?'',


''Masha Allah Rara,tinggal loe pilih lah,mau ikut gue apa pak polisinya'',ucap Maya menahan kesal.

__ADS_1


''Gue bingung May,pilih pak polisi nanti loe ngambek padahal polisinya ganteng loh,kalau pilih loe,nanti dikira jeruk makan jeruk,aku kan masih normal'',tutur Rara.Maya memutar bola matanya malas mendengar ucapan ngelantur Rara,''OMG RARA,serah loe dech Ra,gue sekarang capek mau tidur bye'',ucap Maya mengakhiri panggilan.


__ADS_2