
Naima tengah menatap awan-awan yang sedang terlewat begitu saja.
''Nai,kamu mau minum?'',tawar Imran.
''Tidak,terimakasih'',ucap Naima tanpa menoleh.
''Nai,''panggil Imran dan Naima menoleh namun Imran hanya tersenyum.
Naima menghela nafas,''Ada apa?'',tanya Naima.
''Kita seperti mau pergi bulan madu ya,naik pesawat berdua'',ujar Imran.
''Kita tak hanya berdua Imran,lihatlah sekitar mu kau anggap apa mereka'',ucap Naima kesal.
''Hehe,iya ibaratkan saja mereka bukan penumpang hanya angin lalu saja",bisik Imran.
Naima hanya berdecak,sedangkan Imran merasa bahagia pakai banget hingga senyum dibibirnya selalu menghiasi wajah tampannya.
Di Rumah sakit.
Sebelum ke pengadilan Sobri dan Fikri mampir menjenguk kakak iparnya yang sudah sadar sambil mengantar Ibu Khodijah serta Keke.
"Nenek jadi ayah Keke sudah sembuh kan?",
"InshaAllah sudah sayang",
"Yeeaay,jadi Keke sudah bisa bobo dengan bunda dan ayah kan nek",
"Iya,tapi jangan keseringan bobo dengan ayah dan bunda mu ya",ucap Sobri.
"Memang kenapa om?",tanya Keke.
"Katanya mau dede bayi seperti dede Al jadi biar ayah dan bunda Keke yang buat",sambung Fikri.
"Tapi kata Aunty Vii yang bikin dede bayi nya onty Ruby saja bukan bunda dan ayah om",jawab Keke.
"Benarkah?terus onty Ruby jawab apa?",tanya Sobri yang penasaran.
"Sudah jangan berisik",sela bu Khodijah,Sobri dan Fikri hanya tersenyum.
Setelah sampai depan kamar rawat Jouhari,"Assalamualaikum",salam semua saat membuka pintu.
"Waalaikumsalam",jawab Bu Halimah,Ketsha serta Jou.
Jouhari menatap gadis kecil yang digandeng bu Khodijah.
"Assalamualaikum anak bunda,bunda kangen banget",ucap Keysha segera memeluk anak sambungnya.
"Waalaikumsalam bunda,Keke juga kangen banget dengan bunda",ucap Keke namun sorot mata nya tak lepas dari sang ayah yang berbaring diatas ranjang rumah sakit.
"Salam dulu dengan ayah",ucap Keysha mengerti pandangan sang anak.
"Assalamualaikum ayah",ucap Keke mendekati brankar Jouhari.
__ADS_1
"Waalaikumsalam nak",ucap Jouhari membuat Keke hanya menatap Jouhari heran.
"Ayah sudah sembuh?'',
''Sudah dong'',ucap Keysha memangku Keke dan duduk dekat brankar.
Jouhari memperhatikan Keke dan Keysha bergantian,''Anak ku sudah besar tapi kenapa aku tak mengingatnya?'',batin Jouhari.
''Ayah'',
''Ayah'',
''Eh,iya sayang'',ucap Jouhari saat tersadar dari lamunan,sedangkan Keysha memberi kode Fikri,''Ayah,Keke mau bobo dengan ayah dan bunda boleh?'',tanya Keke.
''Boleh tapi tunggu ayah diperbolehkan pulang oleh dokter ya,''ujar Keysha.
"Kalau kita bobo disini saja bagaimana bunda,Keke ingin sekali bobo disini",ujar Keke sedih karena sudah beberapa hari ini dia tidur bersama nenek-nenek nya.
"Ini rumah sakit sayang,tunggu ayah sehat dulu ya baru nanti kita bobo bareng,sementara ini Keke bobo dengan nenek dulu ya",ucap Keysha mencoba membujuk.
"Ehm,Keke sudah kangen peluk ayah juga bunda",lirih Keke.
"Sabar sayang,ayah janji setelah dokter izinkan ayah pulang kita langsung bobo bertiga",ucap Jouhari yang tak tega melihat raut sedih putrinya.
''Yeeaaay,Keke sayang ayah dan bunda'',ucap Keke bahagia sambil memeluk Jou dan Keysha bergantian dan tak luput dari rekaman Fikri.
"Keke duduk sini dulu bunda mau bicara dengan om Sobri sebentar ya",ucap Keysha
"Baik bunda",ucap Keke duduk disamping ayahnya.
Keke bercerita tentang ini dan itu kepada Jouhari,sedangkan Keysha dan Sobri keluar dari ruangan.
"Ada apa mbak?",tanya Sobri.
"Tunggu disini dulu",ujar Keysha yang berlalu kearah ruangan,sedang Sobri duduk dibangku tunggu.
Beberapa saat Keysha datang membawa sesuatu,"Setelah dari pengadilan segeralah pulang dan berikan ini kepada Ruby",ucap Keysha memberikan sekantong plastik.
"Apa ini mbak?",tanya Sobri penasaran ingin melihat namun dicegah oleh Keysha,"Jangan dihat simpan dulu dalam kantong mu,ini hanya vitamin agar istrimu tak tertular tengil sepertimu",ujar Keysha.
"Ck,ada-ada saja",ucap Sobri berdiri dari duduk.
"Sudah sana pergi dan menangkan perkara ini untuk mbak mu yang cantik ini",ujar Keysha.
"InshaAllah mbak,mbak terima beres saja'',ucap Sobri penuh percaya diri akan memenangkan kasus hak asuh anak ini.
''Segeralah kesana,setelah semua beres segera hubungi mbak,ajak Fikri sekalian",ucap Keysha dan Sobri mengangguk patuh.
Di dalam mobil Ruby tengah mengatur nafas,antara malu dan takut bila sang ibu mertua menyinggung kejadian tadi.
"Nak,kamu tak apa?,kenapa dari tadi diam saja?'',tanya bu Siti khawatir.
''Eh,enggak apa bu,hanya memikirkan Keke'',ucap Ruby beralasan.
__ADS_1
''Tenang,pasti semuanya beres karena Ferdi sudah mempunyai banyak bukti,Sobri dan Fikri pasti akan memenangkan kasus ini,Jouhari juga sudah membaik dan dia orang tua tunggal untuk Keke,ibu yakin hak asuh akan dimenangkan kubu Jou bukan mantan mertuanya itu'',ucap bu Siti.
''Iya bu,agar mbak Keysha bisa segera bahagia mengarungi bahtera rumah tangganya'',ucap Ruby.
''Ibu juga berharap seperti itu,''ucap bu Siti dan Ruby hanya mengangguk hingga tak terasa mereka sudah sampai dibandara.
''Sudah sampai ayo kita turun,''ajak bu Siti kepada menantunya.
Di kota X
Rara dan Maya tengah membuat laporan orang hilang.''Namanya?'',tanya petugas.
''Santika pak'',ucap Maya.
''Hilang sejak kapa?'',
''Sejak dua hari yang lalu pada kecelakaan'',
''Anda sanak keluarganya?'',
''Kami hanya sahabatnya,dan tak tau sanak keluarganya'',
''Ada fotonya'',
''Ada,ini sudah kami cetak juga beberapa lembar'',ujar Rara dan meletakan dimeja.
''Baik kami akan segera melakukan penyelidikan'',
''Terimakasih pak'',ucap Maya dan Rara kemudian meninggalkan kantor polisi.
''Akh,nasib-nasib walaupun masih lajang tetap dipanggil pak,sungguh mematikan pasaran tapi memang sudah pekerjaan'',desah sang petugas yang diketahui bernama David Saputra.
''Ra gue langsung cabut ya'',
''Ok,thanks May mau nemenin gue'',
''Santi juga sahabat gue kali,biasa aja seperti sama siapa loe ini,kita itu berteman dari masih ingusan sampai gue cantik badai begini,jadi enggak usah sok seperti baru kenal dech'',
''Iya,iya Maya yang cantik badai'',ucap Rara.
''Gue cabut ya,Assalamualaikum'',
''Waalaikumsalam,salam buat nyokap loe'',ucap Rara dan Maya hanya mengisyaratkan dengan ibu jari sebelum masuk mobil.
Setelah Maya pergi Rara juga meninggalkan kantor polisi berjalan dengan merogoh tasnya mencari kunci mobil tanpa memperhatikan jalan.
Bruuukk.
''Aww,sakit'',ucap Rara mengelus keningnya seperti tertabrak batu beton.
''Kalau jalan pakai mata!!'',seruan suara barinton membuat Rara menelan salivanya.
''M-ma,maaf '',cicit Rara memberanikan diri mendongak melihat siapa gerangan yang ditabrak tak mungkin kan tembok beton bersuara.
__ADS_1
''WOW'',batin Rara