
Jou memijat pelipisnya,dia tau betul bagaimana perangai mantan mertuanya itu.
''Jou tidak mau kehilangan Keke bu'',lirih Jou memejamkan mata dan menyenderkan kepalanya dibahu ibunya.
''Kita tidak akan kehilangan Keke, Jou'',
''Tapi mama Sora pasti akan melakukan berbagai cara untuk mencapai yang ia mau bu'',ucap Jou.
''Ibu akan cari pengacara yang handal untuk mu nak'',ucap bu Halimah.
''Terimakasih bu,ibu selalu ada saat Jou merasa terpuruk dan sulit'',
''Sudah kewajiban ibu nak,sudah jangan dipikirkan ibu mau menemui calon menantu dan cucu ibu saja'',
''Jou ikut bu'',
Di Kairo.
Naima tengah berbelanja kebutuhan dapur,''Susu,tepung,minyak sayur'',gumam Naima sambil mendorong troli belanja.
Bruk,
''Sorry'',ucap Naima.
''Imran'',
''Tak apa Nai,kamu belanja?'',tanya Imran dan Nai mengangguk.
''Sendiri?'',tanya Imran melihat kanan kiri tak ada yang menempel gadia cantik ini.
Naima hanya mengangguk.
''Mau aku temani?'',
''Tidak Imran,dan terimakasih karena aku sudah selesai berbelanja'',
''Satu cup kopi untuk kamu yang menabrak ku'',ujar Imran dan Naima tampak berpikir,
''Baiklah,aku tunggu diluar'',ucap Naima,namun Imran yang bahagia mengikuti Naima.
''Bukannya kamu mau belanja,kenapa mengikuti ku,aku bilang akan aku tunggu'',ucap Naima saat menengok kebelakang mendapati Imran yang mengikutinya.
''Belanja bisa nanti,dan satu menunggu itu hal yang sangat membosankan jadi lebih baik menyegerakan bukan,karena aku juga sudah ingin minum kopi'',ujar Imran.
''Terserah'',pasrah Naima.
Kemudian Naima memesan dua cup kopi.
''Kamu naik apa kesini nya'',tanya Imran.
''Naik taksi'',jawab singkat Naima.
''Kalau begitu nanti aku antar pulang ya'',ucap Imran.
__ADS_1
''Tidak perlu Imran,itu akan merepotkanmu'',ucap Naima.
''Tidak Nai,aku tak merasa direpotkan'',ucap Imaran terus memperhatikan Naima,Naima hanya menyeruput kopinya dan menunduk sambil berbalas pesan dengan Husna agar ke minimarket tempat dia duduk dengan Imran.
''Kak Imran,ternyata disini'',ucap seorang gadis kenalan Imran mungkin.
''Iya'',jawab datar Imran.
''Kenapa tak mengabari ku,dan tak pernah membalas chat dari ku'',ucap gadis
''Aku sibuk'',jawab Imran ketus
''Pasti kakak sibuk mengejar gadis ini kan'',gadis itu menunjuk Naima.
''Hei kamu,jangan dekat-dekat dengan kak Imran,kak Imran itu sudah dijodohkam dengan ku'',ucap Melani sambil menunjuk Naima.
''Jangan dengarkan dia Nai'',ucap Imran.
''Kamu pelakor kan,saya peringatkan jangan dekati calon suami saya'',tunjuk Melani kepada Naima.
''Kau itu bicara apa sich Mel'',bentak Imran.
''Memang seperti itu kan kak'',ucap Melani lantang.
"Maaf,tuduhan anda salah nona,saya berharap hubungan kalian lancar hingga pernikahan,permisi",ucap Naima kemudian pergi.
''Naima,tunggu Nai",ucap Imran akan mengejar Naima namun tangannya ditagan oleh Melani.
"Apalagi sich Mel,"ucap Imran kesal,sambil pandangan tak lepas dari Naima yang kian menjauh dari pandangan.
"Karena kamu terlalu kekanak-kanakan dan sangat egois",ucap Imran membuat melani melepaskan lengan Imran.
"Kakak mau Mela seperti apa,apa mela harus seperti gadis tadi",ucap Melani.
"Jadilah diri mu sendiri,disaat kamu menghargai dirimu sendiri disitu akan ada pula orang lain yang akan menghargai dirimu",ucap Imran dan berlalu pergi dari tempat itu.
Lain halnya dengan Naima,dia melihat gadis yang mengejar Imran tadi teringat masa lalu nya saat dia mengejar Rinan.
"Dulu aku seperti itu juga,ternyata sungguh memalukan",gumam Naima menertawakan dirinya yang dulu.
"Namun walau dulu aku membuntuti kak Rinan tak sekali pun dia membentak ku,dia hanya menghindar tak seperti Imran tadi,sungguh bod*h gadis tadi bukannya Imran jelas-jelas menolaknya tapi tetap saja kekeh",gumam Naima menjadi gerutu.
Namun dia kembali tersenyum",Berarti aku dulu juga bodoh",batin Naima sambil terus tersenyum.
Kenangan tak harus dibuang dari pikiran,jadikanlah kenangan buruk itu sebagai lelucon agar suatu saat kita mengingatnya tak terlalu berat dan menyakitkan.
Diruang kerja Sobri masih mengukir senyum dibibir,diakui saat berdua dengan Ruby konsentrasinya hanya terfokus pada sosok istrinya itu,berkas yang ia baca dari tadi tak ada yang ia pahami.
Maka dia menjahili Ruby supaya istrinya itu keluar ruangan nya tanpa dia usir dan dia bisa mengerjakan semua pekerjaannya dengan cepat agar bisa berduaan lagi dengan sang istri.
''Alhamdulilah selesai'',ucap Sobri seusai mengecek satu berkas.
''Istri ku tadi pergi kemana ya'',gumam Sobri dan beranjak dari duduknya mencari keluar ruangan menoleh kanan kiri mencari sosok yang dari tadi malam membuatnya dirinya merasakan berbagai rasa,nano nano lah pokok nya.
__ADS_1
''Pak bos cari bu bos ya'',ujar salah satu pegawai yang tadi mengantar pesanan istri bosnya.
''Iya,kamu tau istri saya tadi kemana?'',tanya Sobri.
''Bu bos ada dipojok sebelah sana pak bos'',tunjuk pegawai.
''Terimakasih'',ucap Sobri segera menemui istrinya.
''Wah tumben dapat ucapan terimakasih'',ucap pegawai.
Sobri melangkah perlahan saat mendapat sang istri tengah menyantap makanan tanpa mengajaknya.
Ruby seolah menikmati makanannya,sesekali jarinya sambil menggeser layar ponsel yang dia taruh diatas meja.
''Bill nya bu'',ucap Sobri mengagetkan Ruby,Ruby mendongak menatap sebentar dan melanjutkan makan.
''Nanti bilang saja dengan pemilik restauran ini berapa jumlahnya,karena dia yang akan membayarnya'',ucap Ruby santai.
''Memang anda siapa nona?'',tanya Sobri sambil tersenyum.
''Ck,kamu tidak tau siapa aku?,aku istrinya pemilik restauran ini'',ucap Ruby angkuh.
''Oowh,ternyata anda nyonya Sobri Hidayat'',ucap Sobri seakan kaget.
''Betul'',ucap Ruby kembali mengunyah makanannya.
''Sepertinya enak'',ucap Sobri sambil menelan saliva saat bibir tipis Ruby terus bergerak mengunyah.
''Enak,kakak tau tidak yang aku makan ini apa?'',tanya Ruby.
''Tau,itu ayam fillet kan'',tebak Sobri.
''Bukan sekedar ayam fillet biasa,ini ayam fillet DADA BESAR'',ucap Ruby dengan penekanan kata memotong kembali dan memakannya,sedang Sobri hanya tersenyum.
''Aku mau dada besarnya'',ucap Sobri membuat Ruby seketika menatap tajam suaminya.
''Ruby tak punya yang kakak ingin'',ucap Ruby kesal,Sobri tersenyum belum genap sehari Ruby menjadi istrinya namun sudah membuat ribuan senyum terukir dibibirnya.
''Kalau begitu kakak buat besar mau tidak'',bisik Sobri menggoda Ruby.
Bugh bugh bugh,lengan Sobri jadi ajang pukul-pukulan Ruby.
''Kakak nyebelin'',ucap Ruby berdiri akan pergi.
''Mau kemana?'',
''Mau cari suami yang tidak suka dada besar'',ucap Ruby ketus.
''Hahaahaa,''Sobri tertawa mendekat merapatkan ketubuh Ruby memeluk istrinya itu.
''Kakak mau apa?',tanya Ruby menutup keningnya dengan telapak tangan.
Sobri masih terkekeh melihat tingkah istrinya kemudian mencium bibir Ruby.
__ADS_1
Cup
''Aku mencintaimu'',batin Sobri,