
''Mbak Vii'',panggil Ruby saat Vilara hendak naik ke anak tangga.
Vilara berhenti dan menoleh''Ada apa Rub?'',tanya Vilara.
''Mbak ada yang ingin Ruby tanyakan'',ucap Ruby.
''Tentang apa?,sini duduk sini'',ajak Vii untuk duduk diundakan anak tangga.
''Tapi mbak Vii enggak boleh ketawa ya'',ucap Ruby sambil menunjuk.
Vilara mengangguk,''Ehm,itu mbak,apa setelah kita menikah mentruasi nya jadi enggak teratur ya mbak,''kata Ruby.
''Kalau mbak sebelum menikah pun datang bulan mbak enggak teratur Rub'',ujar Vilara.
''Kalau setelah menikah?'',tanya Ruby
''Sama saja setelah itu enggak datang bulan terus ada Alvian'',tutur Vii.
''Apa karena sudah berhubungan badan kali ya mbak,jadi mentruasinya takut keluar'',ucap Ruby berpikir.
''Sembarangan,''ucap Vilara membuat Ruby terkekeh.
''Siapa tau seperti itu mbak'',ucap Ruby.
''Enggak ada,tanya saja dengan mbak Key,beliaukan Dokter Obgyn,''ucap Vilara.
''Sungkan mbak,apalagi mbak Key sedang dihadapkan dengan musibah seperti ini'',ucap Ruby.
''Memangnya telat apa bagaimana sich?'',tanya Vilara.
''Kemarin itu dapet mbak,tapi pagi ini enggak keluar,noda nya pun enggak ada'',ucap Ruby.
''Tunggu sampai dua puluh empat jam,kalau memang tidak keluar berarti menstruasimu hanya satu hari,kalau masih takut periksa ke dokter saja bicarakan dengan Sobri'',ujar Vilara menasehati takut jika seperti dia yang menyepelekan suatu hal namun berdampak fatal.
''Iya mbak,terimakasih mbak'',ucap Ruby.
''Sama-sama,mbak mau keatas dulu'',ucap Vilara Ruby hanya mengangguk kemudian Vilara berdiri dan menaiki anak tangga menuju kamarnya mengambil ponsel dan mengirim pesan.
Ruby segera kedapur untuk sekedar membantu mencuci apa yang akan diolah.
''Non biar bibi saja'',ucap asisten rumah tangga yang terlihat sungkan dengan Ruby.
''Enggak apa bik,biar Ruby saja'',ucap Ruby mencuci ayam serta sayuran.
''Baiklah'',ucap Asisten rumah tangga,melanjutkan meracik bumbu.
''Ini sudah selesai bik'',ucap Ruby.
''Terimakasih non'',ucap Asisten rumah tangga sambil menghaluskan bumbu.
__ADS_1
''Ruby bisa bantu apa lagi bik?'',tanya Ruby.
''Sudah semua non,kan hanya membuat nasi goreng untuk sarapan saja'',ucap asisten rumah tangga.
''Kalau begitu Ruby ke kamar saja ya bik'',ucap Ruby.
''Iya non,dan terimakasih'',ucap ART,Ruby hanya mengangguk dan tersenyum.
Ruby berjalan menuju kamarnya,''Ruby,nak'',panggil bu Siti.
''Ada apa bu?'',tanya Ruby.
''Ibu nanti siang mau jemput Naima ke bandara,kamu ikut ibu ya'',ucap Bu Siti.
''Ruby izin dulu dengan kak Sobri bu'',ucap Ruby.
''Ya sudah sana,tapi ibu harap kamu ikut soalnya ayah mau ke pengadilan bersama Fikri serta Sobri sedang mbak Yu Khodijah sudah ke rumah sakit'',ucap Bu Siti berharap menantunya itu ikut.
''Ruby ke kamar dulu mau izin kak Sobri sepertinya sudah pulang dari tadi'',ucap Ruby.
"Iya nak,ibu tunggu loh",ucap bu Siti dan Ruby hanya tersenyim manis.
Didalam kamar
Ruby menyembulkan kepala nya kedalam kamar,''Siapin baju ku'',suara Sobri membuat Ruby terjengkit.
''Kakak mau keluar,tolong siapin baju untuk ku '',ucap Sobri mengulang perkataannya karena sang istri hanya diam sambil beristigfar berulang kali.
''Iya kak'',ucap Ruby.
''Kamu dari mana?'',tanya Sobri sambil fokus memeriksa berkas yang akan dibawa ke pengadilan.
''Dapur'',ucap Ruby singkat sambil membuka lemari memadu padankan kemeja dan dasi.
Sobri menoleh kearah sang istri''Enggak perlu pakai dasi Rub,kakak hanya mau menyerahkan barang bukti dan berkas kepengadilan'',ujar Sobri.
''Kan biar keren kak'',jawab Ruby.
''Terserah kamu dech,asal kamu tau ya kalau kakak pakai dasi kegantengan kakak itu meningkat jadi 110 persen'',ucap Sobri.
''Narsis'',ejek Ruby.
''Beneran,dan aku tidak tanggung jawab ya bila ada cewek yang naksir apalagi nanti aku mau ke rumah sakit menjenguk bang Jou,disana pasti banyak suster-suster genit'',tutur Sobri membuat Ruby agar cemburu.
''Ish,percaya diri banget kakak,ini'',ucap Ruby menaruh baju yang ia pilih diatas tempat tidur.
''Hehe,harus dong nanti ikut ke rumah sakit tidak?'',tanya Sobri.
''Ehm kalau Ruby ikut ibu ke bandara bagaimana?boleh ya'',ucap Ruby.
__ADS_1
''Boleh,tapi hati-hati enggak boleh lirik sana sini,harus dekat terus dengan ibu gandeng ibu,pakai baju yang syari kalau perlu pakai niqob dan jangan'',ucap Sobri sudah dipotong Ruby.
''Banyak banget pesannya,boleh pergi apa enggak?''tanya Ruby.,
''Boleh,hanya mengingatkan saja sayang'',ucap Sobri.
''Kalau begitu Ruby mau ganti baju dulu'',ucap Ruby segera beranjak namun Hap,Sobri menarik tangan Ruby dan seketika Ruby duduk dalam pangkuan suaminya.
''Kak lepas'',rengek Ruby namun Sobri memeluk semakin erat sambil menggeleng.
''Ada yang ingin kakak tanyakan'',ucap Sobri
''Soal apa?,kalau Ruby bisa,Ruby akan jawab'',ujar Ruby yang merasa nyaman dengan pelukan sang suami.
''Papa mengirim pesan,beliau bertanya tentang kabar kita apa kamu tak pernah menghubunginya?'',tanya Sobri.
Ruby gelagapan,''Itu kak anu'',Ruby bingung mau jawab apa.
''Dan saat kakak hubungi papa,papa bertanya apa papa punya salah sehingga putrinya bila dihubungi tak pernah mau menjawab'',sambung Sobri.
Ruby berkaca-kaca,''Ruby tak berniat seperti itu kak,Ruby juga sebenarnya rindu dengan papa,tapi karena permintaan mama setelah Ruby menikah harus menjauh dari keluarga kak",ucap Ruby sedih dengan deraian airmata.
Sedang Sobri kaget,"Sebegitukah nasib malang istrinya diperlakukan asing oleh keluarga kandungnya sendiri",batin Sobri yang ikut sedih.
"Cup cup sudah jangan nangis lagi,kakak sudah memberitahu papa bila kita disini dan akan mengadakan syukuran,kakak mengundang orang tua mu juga kakak dan suaminya,tidak apa kan?",ucap Sobri mengelus punggung istrinya.
"Tidak apa kak,dan terimakasih",ucap Ruby.
"Terimakasih untuk apa?",tanya Sobri
"Untuk bahu yang kakak berikan diwaktu aku sedang sedih seperti ini",ucap Ruby sambil memandang wajah Sobri.
"Sudah kewajiban ku memberikan perlindungan dan kenyamanan untuk istri ku,jadi setelah ini berbagilah segalanya dengan diriku entah itu sedih atau bahagia,suka maupun duka",ucap Sobri membuat Ruby terharu dan dengan berani mengecup bibir Sobri.
"SOBRI",teriak bu Siti,Sobri dan Ruby kaget,Ruby segera turun dari pangkuan Sobri berlari menuju kamar mandi.
Bu Siti segera menutup pintu kamar anak dan menantunya syok dengan apa yang dilihat namun seketika tertawa.Sedangkan Sobri hanya senyum-senyum sendiri dengan sesekali memandang pintu kamar mandi yang tertutup.
Tak bisa dibayangkan bagaimana malunya Ruby bila nanti berhadapan dengan ibunya.
"Sungguh ajaib istri ku",gumam Sobri dengan senyum tak lepas dari bibirnya.
Didalam kamar mandi.
"Malu banget,mau ditaruh mana muka ku,apalagi nanti seharian aku dengan ibu Siti,apa aku ikut kakak kerumah sakit saja ya",gumam Ruby dengan wajah masih merona menahan malu.
"Tapi kasihan ibu,tapi aku malu dengan ibu,bagaimana ini",gumam Ruby bingung.
"Pura-pura amnesia sajalah",gumam Ruby dengan pemikiran ajaibnya.
__ADS_1