Jodoh Dalam Doa

Jodoh Dalam Doa
81


__ADS_3

Diruang rawat


Sobri menggenggam erat tangan Ruby,''Bos,mertua bos ada didepan'',ucap Ferdi


''Hem'',Sobri hanya berdehem tanpa menoleh kearah Ferdi.


Ferdi keluar ruang rawat istri bos nya,''Maaf tuan,non Ruby sedang istirahat tidak bisa diganggu'',ucap Ferdi sopan,kepada papa Adi.


''Aku hanya ingin melihat putri ku,apa bos mu tak mengizinkannya?,aku ini mertuanya'',ucap papa Adi.


''Bukankah putri tuan yang satu nya juga dirawat dirumah sakit ini,silahkan anda melihat keadaan nona Safira dahulu,bila nanti nona kami sudah bangun saya akan mengatakan kepada tuan'',ucap Ferdi.


Pak Adi hanya menghela nafas,(Ceklek).


"Pa",ucap Sobri mendekat dan mencium punggung tangan papa mertuanya."Bagaimana keadaan Ruby?'',tanya papa Adi.


"Kenapa bisa terjadi?,bagaimana keadaan cucu ku?'',tanya papa Adi.


''Ruby mengalami kram perut,kondisi mereka berdua baik,ini terjadi karena papa masih membiarkan orang yang perlahan-lahan menghancurkan kehidupan papa masih bebas berkeliaran,''ucap Sobri.


''Bila papa tak bisa bertindak tegas biarkan aku yang melakukannya'',ucap Sobri.


''Kita harus punya bukti yang kuat nak,dia itu manusia licik'',ucap papa Adi.


''Aku sudah mempunyai buktinya'',ucap Sobri.


''J-jadi kamu sudah tau orangnya?'',tanya papa Adi,Sobri mengangguk.


Papa Adi hanya menghela nafas,'Kalau seperti itu papa akan memberitahu Furqon agar menjaga Safira dengan lebih ketat,papa juga akan memberi pengawalan kepada Safira juga Ruby'',ucap papa Adi pasrah.


''Dan papa juga harus menjaga mama dengan ketat juga'',ucap Sobri membuat papa Adi mengangguk.


''Atau lebih tepatnya memberi pengertian,''batin paoa Adi,''Boleh papa masuk melihat Ruby?'',


''Silahkan pa'',ucap Sobri perlahan membukakan pintu rawat perlahan.


Papa Adi dibiarkan masuk,sedang Sobri mengikuti dari belakang dan hanya menunggu agak jauh untuk memberikan ruang ayah dan anak.''Sehst-sehat sayang'',lirih papa Adi sambil mengecup kening putrinya,mengusap pucuk kepalanya,dan menggenggam sayang jemari Ruby.


''Jaga Ruby lebih lagi'',pesan papa Adi kepada Sobri sebelum keluar kamar.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian,Ruby terbangun dari pengaruh obat tidur nya,''Kak'',panggil Ruby kepada Sobri.


''Mau sesuatu?'',


''Peluk'',


''Apa ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan?'',


''Maaf,aku melanggar perintah suami ku'',


''Aku hanya ingin menjaga istriku dan juga calon anak ku,apa itu terlalu mengekangmu,?'',tanya Sobri,Ruby menggeleng.


''Maaf'',


''Apa itu terlalu berlebihan bagimu?'',tanya Sobri sekali lagi,Ruby menunduk dan menggeleng'',Maaf'',lirih Ruby.


Sobri memeluk kembali istrinya,''Jangan selalu membuatku takut'',ucap Sobri,Ruby mengangguk.


''Mau makan sesuatu?'',tanya Sobri mengalihkan pembicaraan.


''Aku ingin makan nasi kebuli'',ucap Ruby.


''Oke,akan aku pesankan'',ucap Sobri,''Dengan rendang jengkol juga'',tambah Ruby,Sobri terdiam sesaat menatap sang istri kemudian tersenyum geli,setelah itu mengirim pesan kepada karyawan restorannya,untuk membawakan pesanan sang istri.


''Iya'',


Dikediaman Fikri terjadi kehebohan pasalnya,setelah mengantar ayah Imam dan ibu Siti ke bandara,ada beberapa orang datang menaruh bingkisan kado,serta perabotan yang lainnya.


''Kenapa banyak sekali bingkisan?'',tanya Fikri bingung,kemudian sebuah mobil box datang menurunkan barang dan bermacam bunga,seperti tukang dekorasi ruangan.


''Itu siapa lagi?''.


''Aku tidak tau bang'',


''Ini dari siapa?,dan untuk siapa?'',


''Maaf nona,ini baju kebaya nya mau ditaruh kemana?'',


''Kebaya?,ini sebenarnya dari siapa sih?'',

__ADS_1


''Kami diperintahkan oleh calon pengantin lelaki untuk mengirim ini semua dan nona Naima serta keluarga hanya menerima saja tanpa harus menyiapkan biarkan kami yang menyiapkan semuanya'',


''Ini maksudnya apa lagi?'',ucap Fikri semakin bingung.


''Nai,coba kamu hubungi Imran'',ucap Vilara sambil mengambil alih baby Al dari tangan Fikri.


''Imran?'',tanya Fikri.


''Iya mas,sepertinya ini imran yang melakukannya,seperti akan mengadakan pesta pernikahan'',ujar Vilara.


''Nai,apa kamu tau rencana ini?'',tanya Fikri.


''Tidak bang,Nai tidak tau apa-apa'',ucap Naima juga bingung,kemudian datang kembali beberapa wanita menenteng tas makeup.


''Maaf nona kami sedikit terlambat,mari nona kami akan merias nona'',ucap seorang wanita.


''Tunggu dulu ya mbak,saya mau hubungi seseorang dulu'',


''Baik nona'',


''Hallo,Assalamualaikum'',


''Waalaikumsalam,aku sudah dalam perjalanan menuju rumah mu'',


''Imran apa ini ulah mu?,''


''Iya,karena aku sudah membereskan urusan dengan melani jadi aku ingin segera menghalalkan mu,apa kamu suka surprise dari ku?'',


''Imran,kami sedang bersedih sekarang,kenapa kamu melakukan kekonyolan ini'',


''Bersedih?'',


''Iya,istri dari bang Sobri masuk rumah sakit,ayah dan ibu juga baru saja kesana,dan kamu membuat seisi rumah abang ku bingung'',


''Maaf nona,mari saya rias karena sebentar lagi mempelai pengantin lelaki akan segera datang'',


''Asstagfirullohaladzim,nanti dulu mbak'',


''Imran,batalkan rencana mu,''ucap Naima tegas.

__ADS_1


''Sureprise mu diwaktu yang tidak tepat Imran.'',sambung Naima kemudian mematikan ponselnya


''Aku akan tetap mekaksanakan rencana ku Nai'',gumam Imran dengan senyum misterius.


__ADS_2